Ringkasan Khotbah : 25 Agustus 2002

Hal Mengeraskan Hati

Nats: 2 Tim 3:16; Kel 5, 7-14

Pengkhotbah : Ev. Thomy J. Matakupan

 

Di 2 Tim 3:16 dijelaskan 4 fungsi Firman yaitu “… untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” Di Alkitab terdapat tulisan mengenai prinsip hidup orang percaya maupun berkenaan dengan orang tak percaya sehingga orang Kristen belajar menghindari dosa. Bagi Tuhan, hidup semua orang membawa kemuliaan bagiNya.

Di Kel 14:15-25 ada kalimat menyatakan, Tuhan mengeraskan hati orang Mesir termasuk Firaun. Allah menutup semua kemungkinan sehingga ia tak beroleh anugerah. Ia juga menghalangi jalannya ke pertobatan. Tapi Ia bertindak semacam itu setelah Firaun memutuskan untuk mengeraskan hati di hadapan­Nya. Berarti, ia tak mau mendengar perkataan-Nya. Tindakan tersebut meremehkan Tuhan. Ia masuk ke dalam pilihan yang sebenarnya menakutkan dan berpengaruh, baik pada Israel maupun Mesir termasuk dirinya sendiri. Keputusannya menentukan nasib/masa depan semua orang yang berada di bawah kekuasaannya.

Kel 5 adalah catatan pertama kali Tuhan mengutus Musa dan Harun ke Mesir untuk memberitahu Fi­raun supaya melepas Israel dari perbudakan dan membiarkan mereka pergi beribadah kepadaNya di padang gurun. Inilah berita utama yang mewarnai tiap pertemuan mereka. Tujuannya yaitu agar Israel jadi umatNya dan Tuhan menjadi Allah mereka. Selain itu, supaya Firaun menyaksikan kebesaran dan kemuliaanNya lalu menghormatiNya. \

Di Kel 5:2 tercatat reaksi Firaun, “Siapakah Tuhan itu yang harus kudengarkan Firman­Nya …? Tidak kenal aku Tuhan itu …” Ia sangat marah. Menurut kebiasaan saat itu, raja dianggap sebagai titisan dewa. Akibatnya, pekerjaan Israel diperberat (ay. 9). Keadaan Israel sangat sulit hingga mereka teriak minta tolong kepada­Nya.

Selanjutnya, Tuhan memerintah Musa dan Harun untuk mengadakan mujizat, “… Harun melemparkan tongkatnya di depan Firaun dan para pegawainya, maka tongkat itu menjadi ular.” (Kel 7:10) Di ay. 11-12 tercatat, “Kemudian Firaunpun memanggil orang-orang berilmu dan ahli-ahli sihir; dan merekapun, ahli-ahli Mesir itu, membuat yang demikian juga dengan ilmu mantera mereka. Masing-masing mereka melemparkan tongkatnya, dan tongkat-tongkat itu menjadi ular; …” Lalu ay. 13 menyatakan, “Tetapi hati Firaun berkeras, …” Maka Mesir dapat hukuman dariNya.

Tulah pertama: air jadi darah (Kel 7:14-25). Di ay. 14 tercatat, “… Firaun berkeras hati, …” Mujizat tak merubah sikap dan keputusannya.

Tulah kedua: katak (Kel 8:1-15). Ketika katak bermunculan meliputi Mesir, Firaun mengajak berunding denganNya. Di ay. 8 ia berkata pada Musa dan Harun, “Berdoalah kepada Tuhan, supaya dIjauhkan­Nya katak-katak itu daripadaku …” Tapi permintaan tersebut tak didasari dengan kesediaan membebaskan Israel. Di ay. 15 tercatat, “Tetapi ketika Firaun melihat, bahwa telah terasa kelegaan, ia tetap berkeras hati, …” Motivasinya juga bukan karena mau bertobat.

Tulah ketiga: nyamuk (Kel 8:16-19). Harun memukulkan tongkatnya ke tanah lalu debu menjadi nyamuk (ay. 16). Para ahli sihir Mesir tak mampu melakukannya (ay. 18). Mereka mengakui, “Inilah tangan Allah.” (ay. 19) Di ayat tersebut juga tercatat, “Tetapi hati Firaun berkeras, dan ia tidak mau mendengarkan mereka  ….”

Tulah keempat: lalat pikat (Kel 8:20-32). Firaun tampak mulai memberi kelonggaran, “Pergilah, persembahkanlah korban kepada Allahmu di negeri ini.” (ay. 25) Musa berkata, “Tidak mungkin kami berbuat demikian, sebab korban yang akan kami persembahkan kepada Tuhan, Allah kami, adalah kekejian bagi orang Mesir. Apabila kami mempersembahkan korban yang menjadi kekejian bagi orang Mesir itu, di depan mata mereka, tidakkah mereka akan melempari kami dengan batu?” (ay. 26) Di ay. 32 tercatat, “Tetapi sekali inipun Firaun tetap berkeras hati; …”

Tulah kelima: penyakit sampar pada ternak (Kel 9:1-7). Ay 6 menyatakan, “… segala ternak orang Mesir itu mati, tetapi dari ternak orang Israel tidak ada seekorpun yang mati.” Di ay. 7 tercatat, “… Tetapi Firaun tetap berkeras hati …”

Tulah keenam: barah (Kel 9:8-12). Di ay. 12 tercatat, “Tetapi Tuhan mengeraskan hati Firaun, …”

Tulah ketujuh: hujan es (Kel 9:13-35). Firaun tampak menyadari kesalahannya, “Aku telah berdosa sekali ini, Tuhan itu yang benar, tetapi aku dan rakyatkulah yang bersalah.” (ay. 27) Perkataan tersebut ternyata bukan pengakuan melainkan manipulasi rohani. Ia mencoba berkelit dan mencari jalan lain untuk mempertahankan Israel. Di ay. 34-35 tercatat, ia tetap berkeras hati.

Tulah kedelapan: belalang (Kel 10:1-20). Musa berkata, “Kami hendak pergi dengan orang-orang yang muda dan yang tua; dengan anak-anak lelaki kami dan perempuan, dengan kambing domba kami dan lembu sapi kami, ...” (ay. 9) Firaun berkompromi, “… kamu boleh pergi, tetapi hanya laki-laki, …” (ay. 11) Di ay.16 ia tampak rohani sekali, “Aku telah berbuat dosa terhadap Tuhan, Allahmu, dan terhadap kamu.” Di ay. 20 tercatat, “Tetapi Tuhan mengeraskan hati Firaun, …”

Tulah kesembilan: gelap gulita (Kel 10:21-29). Tawaran Firaun berubah, “Pergilah, beribadahlah kepada Tuhan, hanya kambing dombamu dan lembu sapimu harus ditinggalkan, juga anak-anakmu boleh turut beserta kamu.” (ay. 24) Di ay. 27 tercatat, “Tetapi Tuhan mengeraskan hati Firaun, …” Setelah itu, dijedah dengan perintah tentang perayaan Paskah (Kel 12:1-28) lalu masuk ke dalam tulah terakhir.

Tulah kesepuluh: anak sulung mati (Kel 12:29-42). Sebelumnya, Tuhan memberitahu melalui Mu­sa, “Pada waktu tengah malam Aku akan berjalan dari tengah-tengah Mesir. Maka tiap-tiap anak sulung di tanah Mesir akan mati, …” (Kel 11:4-5) Ia juga memerintah Israel untuk membubuhkan darah domba/kambing persembahan pada ambang pintu rumah (Kel 12:7 & 22) sebagai tanda agar tak kena tulah (ay. 13 & 23). Di ay. 30 tercatat, “Lalu bangunlah Firaun pada malam itu, bersama semua pegawainya dan semua orang Mesir; dan kedengaranlah seruan yang hebat di Mesir, sebab tidak ada rumah yang tidak kematian.” Termasuk anak sulung Firaun (ay. 29). Maka di ay. 31-32 ia berkata pada Musa dan Harun, “Bangunlah, keluarlah dari tengah-tengah bangsaku, baik kamu maupun orang Israel; pergilah, … Bawalah juga kambing dombamu dan lembu sapimu, seperti katamu itu, tetapi pergilah! Dan pohonkanlah juga berkat bagiku.”

Beberapa waktu kemudian Firaun tersadar dan berkata, “Apakah yang telah kita perbuat ini, bahwa kita membiarkan orang Israel pergi dari perbudakan kita?” (Kel 14:5) Lalu di ay. 7-8 tercatat, “Ia membawa 600 kereta yang terpilih, ya, segala kereta Mesir, masing-masing lengkap dengan perwiranya. Demikianlah Tuhan mengeraskan hati Firaun, raja Mesir itu, sehingga ia mengejar orang Israel. …”

Orang percaya bahkan para murid Tuhan pun pernah mengeraskan hati terhadap perkataan-Nya. Ada 6 karakteristik hati mulai mengeras:

(1)Berlangsung dalam waktu cukup lama. Semua tulah tersebut terjadi selama 1 tahun. Tulah tersebut makin hebat tapi Firaun semakin melawan Tuhan. Ia tak merasa perlu bertobat. Semua tulah tersebut mengkonfirmasi bahwa Tuhan membuang dia.

Bagi orang percaya, Firman melembutkan, membentuk dan membongkar hati yang rusak. Peringatan­Nya menunjukkan belas kasihan. Tapi bagi orang tak percaya, peringatan­Nya menunjukkan konfirmasi penghakiman bahwa ia tak berhak/layak dapat anugerah. Keadilan-Nya harus dinyatakan.

(2)Firaun mengeraskan hati menunjukkan kemarahan sekaligus tantangan kepada Allah Yahwe. Bagi Firaun, perintah-Nya untuk membebaskan Israel, mengusik kedudukannya. Ia curiga sekaligus takut. Tapi ia tak mau tunduk kepada-Nya. Sebaliknya, ia menunjukkan kekuasaannya atas Mesir yang saat itu merupakan kerajaan cukup besar dan kuat sekali.

(3)Tetap memungkinkan orang bertindak rohani. Berulangkali Firaun mencoba negosiasi dengan Tuhan. Padahal para pegawainya pernah berkata, “Belumkah tuanku insaf, bahwa Mesir pasti akan binasa?” (Kel 10:7) Inti strateginya yaitu untuk menaklukkan Allah. Ia mampu menutup diri hingga orang lain tak tahu pergumulannya.

Ada orang Kristen tak memandang Firman sebagai bagian yang Allah hendak katakan padanya secara pribadi. Ada pula yang menyimpan dendam karena kecewa terhadap-Nya. Tapi ia tak berani menunjukkannya. Ia tetap datang ke Gereja, memuji Tuhan, memberi persembahan dan berdoa khusuk. Inilah pola rohani Firaun.

(4)Kekerasan hati Firaun ditunjukkan dengan perlawanan nyata terhadap Allah (Kel 14:1-14). Sebelumnya ia bertindak perlahan dan secara halus. Sejak awal ia merasa lebih kenal diri sendiri, mengerti secara jelas kelemahan dan kelebihannya hingga tak mau diatur karena privacynya terganggu.

Ada pemuda dengan sangat jelas menyatakan tak membutuhkan Tuhan. Ia menganggap­Nya sebagai perampok dalam hidupnya.

(5)Menganggap melakukan kehendak Tuhan merupakan kebodohan. Di Kel 12:31-32 sebenarnya Firaun telah tunduk menjalankan kehendak Tuhan. Tapi di Kel 14:5 ia menganggapnya sebagai kesalahan bodoh.

Ada orang tak mau ikut kebaktian di Gereja karena takut (sebenarnya tak rela) kalau Firman akan menggerakkannya untuk berkomitmen. Ia juga tak mau ikut KKR karena takut bertobat. Setelah bertobat, Tuhan akan menuntut banyak darinya dan merampas kesenangannya.

(6)Mungkin dilakukan oleh orang percaya dan non-percaya. Di Mrk 6:52 dan 8:17 tercatat, para murid Tuhan ternyata memiliki kedegilan hati. Ada orang Kristen menanggapi Firman secara sinis. Firman dianggap sebagai ancaman. Ada pula yang mengabaikanNya.

Di perjalanan, Israel harus menghadapi laut Teberau. Tuhan berfirman pada Mu­sa, “Dan engkau, angkatlah tongkatmu dan ulurkanlah tanganmu ke atas laut dan belahlah airnya, …” (Kel 14:16) Malaikat-Nya memimpin di depan dengan tiang awan dan api (Kel 13:21-22). Lalu, “… orang Israel berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering; sedang di kiri dan di kanan mereka air itu sebagai tembok bagi mereka.” (Kel 14:22) Setelah Firaun dan pasukannya menyusul, “Kemudian bergeraklah Malaikat Allah, …, lalu berjalan di belakang mereka; dan tiang awan itu bergerak dari depan mereka, lalu berdiri di belakang mereka. Demikianlah tiang itu berdiri di antara tentara orang Mesir dan tentara orang Israel; … sehingga yang satu tidak dapat mendekati yang lain, semalam-malaman itu.” (ay. 19-20) Keesokan pagi setelah orang Mesir sampai ke tengah laut, Allah berfirman pada Musa, “Ulurkanlah tanganmu ke atas laut, supaya air berbalik meliputi orang Mesir, meliputi kereta mereka dan orang mereka yang berkuda.” (ay. 26) Jadi, Tuhanlah yang berperang melawan Mesir.

Bagi Tuhan, laut merupakan sarana penghukuman bangsa Mesir untuk menunjukkan keadilan sekaligus kasih setia-Nya. Bagi Israel, laut merupakan sarana untuk memperoleh kebebasan.

Hingga saat ini, yang menjadi tiang penengah bukan awan dan api melainkan salib Kristus karena di sanalah Allah menunjukkan murka dan penghakimanNya bagi orang bebal. Maka salib jadi lambang penghukuman. Yoh 3:18 mengatakan, “… barang­siapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.” Tapi mereka yang menerima-Nya, berada dalam kasih sayang dan belas kasihan­Nya. Salib juga menentukan kehidupan atau kebinasaan kekal.

Orang Kristen hendaknya peka sehingga teguran Tuhan yang paling lembut dapat membuatnya langsung bertelut dan mengaku dosa. Jangan menunggu Ia memukul dengan keras karena penundaan akan membawa pada proses pengerasan hati. Biarkan Allah menjaga hatinya karena ia sendiri memang tak mampu. Amin.?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhot­bah)