Ringkasan Khotbah : 18 Agustus 2002

Kemerdekaan di dalam Kristus

Nats: Yoh 8:30-36; Gal 5:1; 13; 1Ptr 2:16

Pengkhotbah : Ev. Solomon Yo

 

Dalam suatu dialog interaktif di radio beberapa hari yang lalu, saya mendengar seorang peserta memberi komentar yang bernada keluhan; katanya walaupun kita adalah negara merdeka, tetapi pada kenyataannya kita berada di dalam bentuk kolonialisme baru, kita diatur habis oleh IMF; dalam ekonomi global ini, kita bukan hanya berada di pinggiran; tetapi bahkan tidak mampu mengatur dan membuat perencanaan untuk membangun diri kita sendiri.

Setelah meraih kemerdekaan melalui pengorbanan para pahlawan, ternyata selama ini, sebagai bangsa kita gagal untuk menata diri dan membangun diri sebagai satu bangsa yang merdeka dan sejahtera. Kita gagal mendayagunakan sumber daya manusia dan alam dengan benar, tetapi justru membodohi / memanipulasi dan mengeksploitasinya; kita gagal membangun suatu kehidupan berbangsa dan bernegara yang takut akan Tuhan, yang menjunjung kebenaran, berkeadilan dan beradab; kita gagal membangun satu wawasan berkebangsaan yang mampu mempersatukan kita sebagai bangsa yang bhineka tunggal ika, dan membiarkan pertikaian kelompok berusaha mencabik-cabik negeri ini menjadi negara yang kacau, miskin, bingung dan lemah. Jangan heran jika akhirnya kita harus mengemis kepada negara-negara kaya lainnya dan dikendalikan mereka.

Dalam renungan hari ini, saya akan mengajak kita memikirkan beberapa aspek dari kemerdekaan Kristen sebagaimana yang diajarkan oleh Alkitab.

Pertama. Kemerdekaan memiliki dimensi yang luas. Setelah dosa-dosa kita diampuni saat kita percaya kepada Yesus Kristus, ada kemungkin kita jatuh ke dalam berbagai perbudakan lain. Jika tidak hati-hati, kita bisa diperbudak oleh berbagai ajaran tradisi dan filsafat manusia yang menyesatkan. Seperti jemaat Galatia, mereka berada dalam bahaya untuk dibawa kembali ke dalam perbudakan hukum Taurat, maka rasul Paulus dengan serius menasehati mereka untuk tidak membiarkan diri mereka kembali diperbudak, sebaliknya mempertahankan kemerdekaan mereka dalam Kristus (Gal 5:1).

Tanpa pengertian akan Injil anugerah yang utuh, kita dapat hidup di bawah perbudakan dosa, yaitu dengan menyalahgunakan ajaran kemerdekaan Kristen kita menjadikannya sebagai kesempatan untuk berbuat dosa. Kita berargumentasi bahwa roh memang penurut, tetapi daging lemah. Kita tidak mungkin dapat melakukan perintah Allah dengan sempurna, karena itu, kalau kita berdosa Allah sudah menyediakan pengampunan dalam Kristus. Dengan demikian, kita tidak merasa perlu untuk sungguh-sungguh bertobat dan cendrung terus berbuat dosa dengan enteng. Alangkah memalukan jika kita yang membanggakan iman Kristen kita dan menganggap telah mendapat anugerah yang lebih dari orang lain, tetapi didapati berprilaku lebih buruk daripada orang-orang non-Kristen. Kepada kita, Paulus menasehati supaya kita jangan mempergunakan kemerdekaan kita itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih (Gal 5:13; 1Pet 2:16)

Keselamatan Kristus lebih luas daripada sekedar masuk sorga; itu adalah suatu kuasa yang memerdekakan kita secara menyeluruh, yang memungkinkan kita untuk hidup berkemenangan dalam semua aspek hidup di dunia ini (Gal 1:4). Tetapi sayang, dalam kehidupan kita, ada banyak hal buruk yang masih menguasai kita untuk melakukan kehendaknya yang buruk. Kita melihat orang  Kristen yang masih dikuasai oleh dendam dan tidak mampu mengampuni; saling menghina; saling membenci;  melakukan  berbagai  kecurangan;  menjadi  tamak  harta dan mengejar kuasa dan keuntungan pribadi; dan menjadi hamba kesenangan. Bahkan Martin Luther, salah seorang tokoh Kristen yang paling penting setelah rasul Paulus, juga tidak lepas dari kesalahan ketika ia menunjukkan sikap yang sangat antipati kepada orang Yahudi; Demikian juga Martin Luther King, Jr. salah satu tokoh Kristen besar pada abad ke-20 memakai tulisan orang lain tanpa mengakui namanya untuk mendapatkan kebesaran bagi dirinya sendiri. 

Banyak orang yang hidup tidak sebagaimana seharusnya yang dikehendaki Allah. Karena kita masih dikuasai oleh begitu banyak kebodohan, kesalahan, dsb. Dalam hidup kita ada ba­nyak musuh, seperti yang dikatakan dalam lagu kita, mereka adalah: si aku sendiri; si setan; dan dunia ini. Apakah kita betul-betul telah dimerdekakan dari sifat-sifat buruk dalam diri kita; Apakah kita masih berada di bawah tipu daya Iblis dan dunia ini, atau sebaliknya kini kita telah hidup kemerdekaan sejati di dalam kebenaran Kristus ( Yoh 8:31-32). 

Kedua. Adalah suatu kesalahan jika kita mengerti kemerdekaan hanya secara negatif, yaitu kemerdekaan dari kejahatan yang menjerat kita. Real freedom is not only freedom from, but freeedom for (Kemerdekaan sejati bukan hanya kemerdekaan dari, tetapi kemerdekaan untuk). Kita yang telah dimerdekakan oleh Yesus dari dosa, maut, dan kehidupan yang sia-sia, dimaksudkan untuk mengisi kemerdekaan itu dalam suatu kehidupan yang benar mulia, dan penuh makna”.

Rabindranath Tagore memberi ilustrasi yang baik untuk menolong ktia mengerti hal ini. Ia me­ngatakan, “Saya memiliki seutas senar biola di meja saya. Ia bebas. Saya memelintir ujungnya dan ia meresponi. Ia bebas. Tetapi ia tidak bebas untuk melakukan apa yang diharapkan darinya sebagai seutas senar biola  yaitu menghasilkan musik. Maka saya mengambilnya, memasangnya pada biola itu, menyetemnya. Dan baru setelah itu ia bebas untuk berfungsi sebagai senar biola”

Kehidupan seperti apakah yang diharapkan Allah dari kita? Itu adalah kehidupan yang berkelimpahan, yang menghasilkan buah bagi kemuliaan Allah. Tujuan hidup kita bukanlah untuk menjadi pandai atau menjadi kaya atau bahkan menjadi bahagia. Tujuan hidup kita adalah untuk menemukan tujuan Allah bagi kita dan menjadikannya sebagai tujuan kita. Tujuan hidup kita adalah untuk belajar cara-cara mengasihi Allah di atas segala sesuatu dan mengasihi sesama seperti mengasihi diri kita sendiri; dan mencari kerajaan Allah di atas semua yang lain (Mt. 6:33).

Banyak orang yang ingin masuk sorga, tetapi masih membawa serta semua sifat buruk dan keinginan duniawi mereka. Sorga tidak akan berguna bagi orang-orang demikian, jika kita tidak memiliki kesukaan untuk berdekat pada Allah, maka sorga tidak akan menjadi tempat yang menyenangkan bagi kita, dengan kata lain, kita tidak cocok untuk sorga. Menjadi orang yang akan menikmati kehidupan kekal bersama Allah di sorga berarti melatih selera kita untuk proyek ini.

Ketiga. Kemerdekaan yang bertujuan positif dan mulia itu hanya bisa kita dapatkan melalui proses disiplin ilahi yang kita terima dengan hati yang taat. Seperti dalam olah raga, seni musik, karya sastra dan oratori (ilmu pidato), demikian juga, hanya setelah melalui proses latihan yang penuh disiplin, seseorang baru bisa mencapai suatu kemampuan yang membanggakan. Hanya setelah melalui disiplin yang tekun seorang penari balet bisa dengan bebas memperagakan suatu gerakan yang indah mempesona; hanya setelah melalui latihan yang penuh disiplin diri, seorang pianis atau solois dapat menyanyikan suatu lagu dengan ekspresi yang begitu hidup, indah dan menyentuh jiwa. Tanpa penggemblengan diri, tidak ada kebebasan untuk menghasilkan semua prestasi itu.

Banyak orang ingin hidup benar, sabar, murah hati dan berbelas kasihan  karena ini merupakan kerinduan yang ditanamkan Allah ke dalam diri setiap orang, walaupun sebagian besar orang telah menyerah  tetapi ketika kita berbicara, betapa sering perkataan kita justru melukai hati orang lain. Karena itu, adalah tidak cukup hanya mengetahui dan memiliki keinginan mulia untuk memiliki kata-kata yang penuh anugerah dan menjadi berkat, kita perlu melalui proses disiplin yang mungkin menyakitkan dan menguras tenaga, namun justru setelah itulah kata-kata kita bisa menjadi musik yang indah bagi jiwa orang lain dan memuliakan Allah. Sebagai makhluk yang terbatas dan penuh kelemahan, kita memerlukan anugerah Allah yang bekerja dalam diri kita, untuk menghasilkan kualitas hidup yang indah; dan itu membawa kita kepada penyerahan diri yang penuh ketaatan kepada Allah.

Bertolak belakang dengan Fredreich Nietzsche yang menolak kebergantungan manusia kepada Allah, ia mengajarkan supaya  orang memiliki suatu mentalitas tuan yang mandiri, tidak bergantung pada suatu kuasa lain, yang kuat  dan keras. Namun ajaran Nietzsche ini gagal total, karena ia sendiri hidup secara rusak dan mati sebagai seorang gila.  Kekristenan menegaskan bahwa manusia bukanlah makhluk yang self-independence. Manusia hanya memiliki independence yang relatif, artinya ia adalah pribadi bebas yang dapat membuat keputusan moral, tetapi kebebasannya adalah kebebasan ciptaan, karena itu ia selalu bergantung kepada Allah dan anugerah-Nya untuk dapat melakukan apa yang benar dan baik. Kita telah diciptakan untuk bergantung kepada Allah, jika kita menolak Allah, jangan berpikir kita telah bebas, karena tanpa sadar kita telah menyerahkan diri kita menjadi budak setan. Orang yang betul-betul merdeka, bukanlah orang yang bebas tanpa kekangan, itu mungkin merupakan suatu keliaran, dan hanya di dalam kebenaranlah, orang benar-benar bebas merdeka.

Kebebasan dalam pengertian positif yang dimaksudkan oleh Allah bagi kita hanya diperoleh melalui proses disiplin ilahi, karena itu hanya ketika kita menerima Ketuhanan Kristus dalam hidup kita, baru akan dihasilkan buah-buah Roh di dalam hidup kita. Inilah Paradoks yang harus kita mengerti, seperti yang terungkap dalam puisi George Matheson ini: Make me a captive, Lord, / And then I shall be free; / Force me to render up my sword, / And I shall conqueror be./ I sink in life’s alarms, / When by myself I stand; / Imprison me within Thine arms, / And strong shall be my hand. (Taklukkan aku ya, Tuhan, / Baru aku akan menjadi bebas; / Paksalah aku untuk menyerahkan pedangku, / Maka aku akan menjadi sang penakluk. / Aku tenggelam dalam kengerian hidup, / Ketika aku mencoba berdiri di atas kaki sendiri. / Kendalikan aku di balik lenganMU, / Maka tanganku pun menjadi kuat.)

Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Kemerdekaan dalam Kristus adalah kemerdekaan yang tidak sekedar melepaskan kita dari tirani dosa dan kebinasaan, tetapi untuk memulihkan tujuan semula Allah menciptakan kita, yaitu supaya kita hidup dalam kebenaran, kebajikan, dan mencari kerajaan Allah dan kemuliaan-Nya di atas segala sesuatu. Tetapi kita yang telah dilemahkan oleh dosa dan cenderung kepada ketidaktaatan dapat menjadi benar-benar menjadi manusia merdeka yang hidup bagi Allah dalam kebenaran dan kekudusan, diperlukan suatu proses penaklukan diri yang berdosa ini untuk dapat diubah menjadi manusia baru yang terus diperbaharui dalam keserupaan dengan Sang Khalik. Kiranya Tuhan menolong kita mencapai kemerdekaan kita yang sejati dalam Kristus. Amin! ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhot­bah)