Ringkasan Khotbah : 11 Agustus 2002

The Owner

Nats: Yoh 15:1-8

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Di Yoh 15 Tuhan menggambarkan the exclusive relation between God and His people hanya pada para muridNya yang sejati. Ia juga dengan sangat tegas menjelaskan perananNya dan tugas orang Kristen di dunia. Ia memulai dengan metafora/ilustrasi/perumpamaan tentang pokok anggur karena relasi tersebut tak bersifat riil/duniawi melainkan menyangkut spiritualitas atau totalitas hidup orang percaya. Sebelum pasal tersebut, Ia tak pernah mengajarkannya pada orang lain karena ajaran itu akan banyak dimanipulasi kalau jatuh ke orang yang tak sungguh dalam Tuhan.

Pdt. Stephen Tong membuat eksposisi perikop tersebut dalam buku ‘Hidup Kristen yang berbuah’. Konsep tersebut dikenal sebagai union with Christ. Berulang kali Tuhan mengatakan, “Aku di dalam kamu dan kamu di dalam Aku.” Persatuan tersebut unik, utuh dan menggambarkan ikatan sangat dekat/intim.

Kalau kalimat tersebut tak dimengerti dan dikomposisikan dengan tepat lalu direposisi atau ditafsir secara humanis, dapat menimbulkan kesalahan logika. Konsep tersebut juga ditunggangi seolah-olah manusia dapat mengalami elevasi/peningkatan mistik hingga jadi Allah. Ada orang berpendapat, kalau ia berada dalam Kristus dan Tuhan ada dalam dirinya berarti keduanya jadi 1 maka perkataannya boleh dianggap Tuhan sendiri yang bicara. Secara logika masuk akal tapi kesimpulan tersebut salah. Ada pula yang berpikir, ketika ia bersatu dengan­Nya, seperti blended jadi campuran hingga tak kelihatan beda antara keduanya. Alkitab mengatakan, walaupun bersatu, Tuhan adalah Tuhan dan manusia tetap manusia.

Di Yoh 15:1 Tuhan berkata, “Akulah pokok anggur yang benar …” Bagi Calvin istilah tersebut dapat berarti 1 batang atau 1 kebon anggur. Ia cenderung memahaminya sebagai keseluruhan kebon anggur yang berpusat kepada Kristus. Alasannya, anggur tak punya batang pertama yang berdiri kokoh. Ia juga mengatakan, sebaiknya tak perlu diperdebatkan karena 2 pengertian tersebut dapat dipakai.

Lalu dilanjutkan, “dan BapaKulah pengusahanya (the Owner).” Istilah tersebut bukan berarti Ia yang mengerjakan melainkan Dialah the Landlord berdaulat penuh dan mutlak. Maka Ia tak perlu terus menerus exist di kebon anggur. Meskipun memakai banyak pekerja, Ia selalu menjaga, consider, mempedulikan dan sangat menentukan perkembangan. Sedangkan yang dimaksud dengan “ranting” di ayat 2 yaitu orang Kristen. Para pekerja apalagi “ranting” tak berhak protes terhadap keputusanNya.    

Sebelum konsekuensi ditegaskan, Tuhan mereposisi 3 oknum yang berperan. Allah berada di posisi pertama sedangkan yang terutama ialah Kristus. Tapi posisiNya harus kembali kepada Bapa di Surga yang menata dan menyediakan segalanya. Jadi, tiap bibit yang ditanam di kebon anggur tersebut termasuk pilihan. Gerakan Allah yang purposeful telah menarik orang kepada Tuhan. Hanya sebagian kecil di antara berjuta orang. Sungguh anugerah besar sekaligus indah. Kebon tersebut juga dikelola dengan sungguh dan sedang ditunggu hasilnya yang terbaik secara kuantitas dan kualitas. Tujuan terakhirnya, Bapa semakin dipermuliakan. Konsep tersebut ketika dimengerti secara tepat, akan menimbulkan sikap/respon yang sangat indah karena hidup jadi meaningful.

Orang beriman sejati mengetahui secara jelas hubungannya dengan objek iman dan berjalan di dalamNya. Kalau objek imannya lepas berarti hubungan tersebut sebenarnya palsu.  Ia tak sungguh percaya kepada Allah. Iman sejati muncul dari hati yang sadar, bukan sekedar emosi atau ambisi rohani melainkan kesadaran who God is. Hanya kedaulatan­Nya sanggup menyembuhkan orang sakit hampir mati sekalipun. Sedangkan ambisi manusia seringkali justru kontra dengan kehendakNya serta mengacaukan positioning karena Allah dipermainkan dan dituntut untuk tunduk padanya.

Allah menghendaki orang Kristen/the chosen people beserta seluruh pekerjaannya sungguh kembali ke dalam persekutuan dengan-Nya dan mencapai maksud­Nya. Yang taat akan diberkati sedangkan yang melawan akan dihukum mati. Pengajaran tersebut sangat dilawan oleh dunia.

Konsep dekonstruksi modern menginginkan bukan Allah yang menekankan proposisi. Dalam pergerakan filsafat agama, narative theology telah memasuki Kekristenan. Theologi tersebut mengatakan, Kekristenan tak berhak menyatakan proposisi pada jemaat. Pernyataan bahwa orang Kristen harus bertobat, tak boleh diungkap karena terlalu kasar dan kaku. Pernyataan bahwa harus percaya kepada Kristus sebagai Juruselamat karena kalau tidak, akan masuk ke Neraka, juga tak diperbolehkan. Pernyataan tersebut dianggap terlalu memastikan.

Dunia modern dalam nuansa global sekaligus relativistik menginginkan allah yang lebih lembut dan open menerima berbagai konsep. Tiap pribadi dianggap memiliki human right maka tak mau ditentukan oleh yang lain. Ia tak ingin orang lain lebih berotoritas.

Sekitar 40-50 tahun lalu, manusia modern mengasihani mereka yang percaya kepada Tuhan meskipun belum pernah melihatNya. Kepercayaan tersebut dianggap sangat primitif dan banyak larangan. Di Eropa sekarang mungkin masih ada orang semacam itu yang sangat marah ketika diajak diskusi mengenai Allah dan menganggap diri tak membutuhkanNya padahal hidupnya makin kering.

Di jaman praRenaisance, Kekristenan sangat kuat. Ketika humanis muncul hingga masa pencerahan (enlightment), mereka melawan Kekristenan. Tapi hati nurani manusia terus berbisik, Allah ada. Ketika menjelang ajal, mereka baru mengaku akan menghadap Tuhan. Saat harus menghadapi momen eksistensial, mereka sadar tak mampu melarikan diri. Maka modernisme yang berjalan sejak abad 17-19 mulai goncang di abad 20, khususnya ketika manusia merasa hebat lalu berperang hingga banyak orang terbunuh dan dunia jadi rusak. 

Di jaman postmodern dan new age ini banyak orang mau percaya tuhan, dewa, ilah dan setan. Manusia pun mampu jadi allah. Mereka merasa membutuhkan tuhan yang dapat diajak shake hand/dealing. Jadi, format postmodern god yaitu allah yang sangat familiar, friendly dan tak terlalu mengatur apalagi memaksa karena sekarang jaman dialog. Ada ajaran mengatakan, tuhan bagaikan teman. Maka kalau tak suka, manusia berhak memakinya dan mencari win-win solution. Itu bukan Tuhan versi Alkitab. Allah sejati pasti marah ketika manusia jatuh ke dalam dosa. Ia akan membuang orang berdosa tanpa tawar-menawar. Ia juga tak tergantung budaya.

Di Yoh 15:2 Tuhan berkata, “Setiap ranting padaKu yang tidak berbuah, dipotongNya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkanNya, supaya ia lebih banyak berbuah.” Ayat tersebut bukan bicara mengenai keselamatan dapat hilang atau tidak melainkan essensi umat Allah sejati.

Karena dosa, Kristus harus pergi ke Yerusalem lalu dipukuli, diludahi hingga mati disalib di Golgota untuk menebus umatNya. Sesungguhnya Ia tak perlu melakukan semua itu karena memang bukan kesalahanNya. Tapi Ia tetap taat menjalankannya karena cintaNya kepada Bapa. Seharusnya Ia berhak mendapat pujian karena telah mengerjakan yang terbaik hingga jadi berkat bagi banyak orang. Sepanjang hidup, Ia selalu melakukan yang benar, rela berkorban, meskipun tak pernah kaya atau punya kedudukan/status tapi sanggup memberi makan ribuan orang. Ia memiliki pengharapan sangat besar bagi orang percaya. Kalau manusia difitnah dan diperlakukan tak adil pasti sangat marah padahal kemungkinan bersalah. 

Orang dunia kerja keras tapi akhirnya sia-sia belaka. Semuanya tak berharga. Maka Tuhan menghendaki tiap anakNya memiliki makna hidup jelas, bukan mengejar hal sekunder melainkan primer. Dialah yang memberi nilai.

Menurut pandangan manusia, kasus Ayub menyakitkan padahal sebenarnya justru sangat mulia. Ia telah dipertaruhkan oleh Allah demi kebesaran namaNya. Dignity dan harkat hidupnya sangat luar biasa. Di Ayb 1:8 Tuhan berkata pada Iblis, “Apakah engkau memperhatikan hambaKu Ayub? Sebab tiada seorangpun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.” Lalu Setan jawab, “Apakah dengan tidak mendapat apa-apa Ayub takut akan Allah? Tetapi ulurkanlah tanganMu dan jamahlah segala yang dipunyainya, ia pasti mengutuki Engkau di hadapanMu.” (ayat 9 & 11) Ia kelihatan sengsara tapi peranannya sangat kritis dan tanggung jawabnya amat besar.

Di Yoh 15:15 Tuhan menyebut orang percaya sebagai sahabat, bukan lagi hamba. Banyak orang Kristen bangga sekali dengan ayat tersebut. Sesungguhnya mereka gentar karena Ia mempercayakan sesuatu yang sangat besar. Kalau sampai mempermalukanNya, betapa celakanya karena posisi sudah dinaikkan tapi tetap tak tahu diri. Maka pola pikir harus direposisi. Dengan demikian hidupnya akan diproses jadi penuh makna di dalam tangan­Nya. Amin.?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhot­bah)