![]() |
Ringkasan Khotbah : 4 Agustus 2002 The True Faith Nats: Yoh 14:29-31 Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno |
Di Yoh 14:29 Kristus menyampaikan kesimpulan terakhir sekaligus menekankan semua aspek yang telah dikatakanNya dengan sangat serius yaitu bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem untuk mati lalu dipermuliakan dan naik ke Surga meninggalkan para murid tapi kelak akan kembali menjemput mereka. Semua itu diungkap bukan demi kepentinganNya tapi justru “…supaya kamu percaya, apabila hal itu terjadi.” Jadi, ada hal sangat luar biasa yang hendak dinyatakanNya pada mereka yaitu inti kehadiranNya di dunia. Seluruh misiNya sulit dipahami karena untuk mengerti impact atau dampaknya terhadap hidup orang Kristen dibutuhkan pola pikir terbalik dan beda dengan pikiran manusia. Maka terjadi perdebatan sangat sengit antara Tuhan dan para murid yang selama 3,5 tahun bersamaNya. Tapi Ia tetap harus memberitahu dan mencoba merubah mereka.
Paradigm shift atau pergeseran paradigma harus terjadi dalam kehidupan iman orang Kristen. Menggeser iman memang sulit tapi sangat mutlak diperlukan. Namun untuk menggeser implikasi iman mudah. Ketika jadi orang percaya, yang bergeser seharusnya bukan paradigma umum melainkan paradigma dasar. Maka kesulitan terbesar terjadi ketika harus mencabut paradigma dasar.
Banyak orang Kristen jaman sekarang sengaja menggeser kata ‘percaya’ dan memasukkan konsep lain yang salah. Akibatnya, mereka tak masuk ke dalam objek iman tapi kepercayaan hanya sekedar sarana. Mereka menganggap tak perlu mempersoalkan doktrin, berargumentasi atau memiliki ketajaman pengertian. Yang penting hanya percaya kepada Yesus agar selamat masuk ke Surga. Mereka sangat mungkin belum diselamatkan karena Tuhan dijadikan sarana egoisme pribadi dan sasaran terakhir imannya ialah keinginannya masuk ke Surga. Persis seperti yang tercatat di Mat 19:16, “Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk mempeoleh hidup yang kekal?” Maka diperlukan perombakan seluruh paradigma dasar kepercayaan. Inilah tuntutan Tuhan. Ada 3 hal sangat menyulitkan:
Pertama, “Dan sekarang juga Aku mengatakannya kepadamu sebelum hal itu terjadi, supaya kamu percaya, apabila hal itu terjadi.” (Yoh 14:29) Inilah prinsip utama mengenai nubuat dalam Kekristenan. Perkataan Tuhan mutlak terjadi dan tak dapat digagalkan. Tapi nubuat dijalankan bukan demi kepentingan manusia melainkan menyatakan who God really is dan menunjukkan kedaulatan serta kemampuanNya yang melampaui ruang dan waktu sehingga sanggup mengungkap sejarah mulai dari titik alfa (dunia dicipta) hingga omega (dunia berakhir). Maka nubuat sejati tak mungkin dilaksanakan secara tepat kecuali oleh Allah Pencipta alam semesta sekaligus Pemilik sejarah namun tak terlibat dosa.
Dunia modern mencoba melangkah di depan sejarah agar sama seperti Tuhan. Salah satu oknum paling suka mempermainkan sejarah ialah Iblis. Ia berupa roh sehingga dalam aspek tertentu sedikit lebih cepat daripada manusia. Maka ia dapat membohongi orang seolah-olah lebih hebat. Ia dapat mengetahui lebih dulu tapi bukan sungguh mengetahuinya. Ia hanya mendapat informasi lebih cepat daripada manusia yang hidup di era komunikasi.
Manusia selalu ingin tahu dan sangat suka bernubuat atau ikut berbagai aliran yang banyak membicarakan tentang masa depan. Mereka pergi ke peramal untuk mengetahui peruntungan. Tapi perkataan 1 peramal dan yang lain beda. Dan orang lebih suka berita bagus.
Mereka sebenarnya takut peristiwa buruk terjadi maka mencoba menghindar atau merubahnya. Kalau bisa diubah, berarti ramalannya bohong. Mereka seharusnya siap hati menerima masa depan meskipun menyakitkan karena Tuhan tak memperkenankan manusia tahu.
Banyak bidat berulang kali meramalkan kiamat tapi gagal. Seharusnya pemimpin mereka dihukum karena menipu tapi malah dibiarkan bahkan masih ada pengikutnya. Contohnya, saksi Yehova. Russel, pemimpin mereka sebenarnya tukang bohong sepanjang hidupnya. Istrinya yang dulu mendukung, akhirnya minta cerai dan menuntutnya di pengadilan karena manipulasi. Di sidang pun ia dengan tegas mengaku mahir berbahasa Yunani sekaligus menerjemahkan Alkitab Yunani. Padahal alkitab mereka buatan sendiri. Ketika diminta membaca 1 kutipan dari Alkitab Yunani, terbukti ia tak mampu. Penerjemah alkitab mereka sebenarnya juga tak mengerti bahasa Yunani dan Ibrani. Buktinya ketika diminta membaca 4 ayat pertama Kitab Kejadian, ia tak mampu. Jadi, ketika orang memiliki 1 paradigma meskipun salah, ia takkan percaya saat diberitahu yang benar. Ia tetap meyakini kepercayaannya benar.
Tuhan hendak menunjukkan, konsep para muridNya mengenai Mesias, keselamatan, kerajaan dan masa depan sesungguhnya salah. Setelah seluruh sejarah terjadi dan Roh Kudus mencerahkan pikiran, di Kis 1 mereka baru mampu menginterpretasi dan mengerti maksud Kristus dan mulai percaya penuh.
Orang Kristen sering ditipu dan Setan berkesempatan membelenggu pikiran hingga tak mampu melihat konsep yang jelas salah. Reformed Theology selalu menyinggung masalah tersebut untuk menunjukkan kesalahan lalu mengajak bergumul, berproses serta belajar kembali kepada Alkitab. Itulah Christian Epistemology yaitu pengharapan orang Kristen ketika mencari kebenaran sejati. Anak Tuhan seharusnya tak hanya disuapi. Reformed sendiri selalu siap terbuka terhadap kritik jujur dan objektif. 50 tahun terakhir, mayoritas orang Kristen berhenti serius belajar. Maka Pdt. Stephen Tong mendobrak dengan mengadakan SPIK. Kekristenan mulai kembali diajarkan dengan keras.
Kedua, “Tidak banyak lagi Aku berkata-kata dengan kamu, sebab penguasa dunia ini datang dan ia tidak berkuasa sedikitpun atas diriKu.” (Yoh 14:30) Tanpa cara pikir tepat, kalimat 1 dan 2 tersebut terasa tak berhubungan. Kalau kalimat 2 muncul seharusnya yang 1 tak perlu ada. Masalahnya, secara penampilan luar, penguasa dunia kelihatan sangat powerful sekaligus arrogant hingga Tuhan dipermainkan, dipukul, diludahi namun tetap rela, tak melawan dan akhirnya mati disalib karena kelicikan mereka. Tapi tak seorang pun disalahkan. Iblis merasa menang tapi justru Itulah titik kekalahan terfatal. Para ahli Taurat dan orang Yahudi juga merasa hanya dengan 30 keping perak mampu membasmi Kekristenan yang dianggap mengganggu. Menurut logika manusia, penguasa pasti berkuasa. Tapi yang dimaksud olehNya ialah penguasa tak berkuasa. Yang tampak kalah dan hancur justru berkuasa. Kekristenan memang unik hingga orang dunia tak mampu mengerti. Maka muncul banyak teori yang mencoba menghindarkanNya dari kematian di kayu salib. Namun Kekristenan makin berkembang sedangkan agama Yahudi semakin menghilang.
Salah satu kesulitan orang untuk percaya kepada Kristus yaitu paradigmanya terkunci dengan logika Aristotle. Seluruh pengetahuan diperoleh hanya dari 2 sumber: (1)logika, (2)empiris/panca indera yang terbatas. Maka manusia terkunci logika dasar bersifat sebab-akibat murni disikapi dengan konsep sangat duniawi.
Ketika Tuhan disalib, para murid mungkin berpikir kalau Ia berkuasa seharusnya sanggup mengalahkan Herodes, Pilatus sekaligus Kaisar Agustus. Di Mat 27:40 tercatat, “mereka (orang yang lewat di sana) berkata: “…, selamatkanlah diriMu jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib Itu!” Di ayat 42 juga tercatat, “Orang lain Ia selamatkan, tetapi diriNya sendiri tidak dapat Ia selamatkan!” Kristus hendak menunjukkan agar mereka tak terjebak oleh fenomena tanpa mengerti essensinya yaitu numena. Ia harus mati agar dapat bangkit mengalahkan kuasa dosa dan maut sekaligus keselamatan bagi orang percaya diperoleh serta iman mereka dibangun. Itulah kemenangan terbesar dan paling tuntas yang tak mungkin dialami dunia.
Seandainya saat itu tak dihukum mati, Tuhan mungkin hanya berkeliling sekitar Galilea. Pauus juga mungkin tak bertobat. Para murid mungkin masih berharap Ia jadi raja. Ia takkan berkuasa karena hanya sebagai manusia biasa tanpa kuasa politik, agama dll.
Dalam Kekristenan, penerobosan terbesar yaitu ketika anak Tuhan mengaitkan hidupnya dengan kekekalan sehingga kuat karena Allah berintervensi memeliharanya. Pdt. Stephen Tong perah share, ketika menjalankan pekerjaan Tuhan, kunci pertamanya ialah taat mutlak kepadaNya. Maka pekerjaanNya akan digenapkan melalui dan di dalam diri orang percaya. Sungguh anugerah terbesar! Terkadang manusia tak rela dirombak olehNya padahal bukan demi keburukan melainkan bermaksud menata supaya lebih baik meskipun kadang menyakitkan. Seringkali jemaat justru ingin ‘aman’ selama pelayanan.
Para murid harus mengalami ketakutan karena ditinggal oleh Tuhan. Mereka sepertinya dibiarkan tanpa pertolongan, back up, dsb. Mereka harus berjalan sendirian. Akhirnya Petrus, Stefanus, Paulus, Yohanes, Andreas dll muncul karena dipakaiNya untuk memberitakan Injil.
Ketiga, “Tetapi supaya dunia tahu, bahwa Aku mengasihi Bapa dan bahwa Aku melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepadaKu.” (Yoh 14:31) Inilah kunci motivasi dan komitmen hidupNya. Ia datang ke dunia bukan untuk mencapai ambisi pribadiNya. Di Mat 20:28 tercatat, “sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Semua dilakukanNya karena Ia mencintai Bapa.
Sedangkan manusia hanya menunjukkan cintanya pada diri sendiri. Itulah orientasi hidupnya. Padahal ia takkan pernah puas seumur hidupnya. Sebaliknya, ia hanya merasa lelah karena mengejar fatamorgana. Ketika merasa puas, ia justru hancur karena kehilangan daya untuk memperkembangkan lagi. Seharusnya ia meneladani Kristus dimana semua dikerjakan demi cintaNya kepada Bapa meskipun terkadang harus berkorban. Dan saat itu juga, berkat terlalu besar akan diberikan. Allah pasti takkan membiarkannya terbuang. Di Mat 10:39 Tuhan berkata, “Barangsiapa mempertahankan nyawanya,ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” Inilah logika paradoks. Ia menghendaki semua anakNya hidup dengan nilai tertinggi. Ketika orang percaya hidup bagiNya, itulah kehidupan ternyaman.
Seringkali Reformed sangat menekankan kedaulatan Allah tapi melupakan bagian 2 dari panggilan hidup Kristen yaitu yang dinyatakan di Westminster Shorter Catechism, “Tujuan terakhir hidup manusia adalah untuk memuliakan Allah dan menikmati Dia selamanya.” Maka sebaiknya anak Tuhan kembali ke jalanNya yang sanggup memberi kesegaran, hidup penuh dinamika dan kenikmatan dalam Dia tapi tak dipermainkan oleh dunia. Amin. ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)