![]() |
Ringkasan Khotbah : 28 Juli 2002 Dinamika Iman Barak & Debora Nats: Hak 4:1-21; 5:8; 14-17 Pengkhotbah : Ev. Thomy J. Matakupan |
Hak 4 dan 5 menceritakan kisah yang sama tapi dengan 2 model penuturan berbeda. Pasal 4 merupakan catatan sejarah yang Alkitab paparkan terkait dengan peranan Debora sebagai hakim serta Barak dan tentaranya mengalahkan pasukan Sisera, panglima perang Kanaan. Di pasal 5 Debora kembali mengungkapnya dalam bentuk puisi.
Saat itu Israel berada pada masa tak ada hakim. Ehud yang baru meninggal ialah hakim terakhir. Pola kitab Hakim-Hakim yaitu ketika hakim meninggal, bangsa tersebut merasa terbebas atau terlepas dari ‘kungkungan’. Di Hak 21:25 tercatat, “Pada zaman itu, tidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri.” Dengan kata lain, mereka jadi sangat liar. Terlalu banyak standard hidup sesuai keinginan sendiri. Jadi, tak ada aturan lagi.
Biasanya segala diatur oleh hakim yang juga adalah pemimpin Israel. Hakim ialah orang yang dipanggil oleh Tuhan untuk menyatakan dan menegakkan hukumNya. Maka seluruh rakyat harus tunduk melaksanakan perintahnya. Sehari-hari atau ketika ada perdebatan, perselisihan dan perbedaan pandangan, mereka harus bertemu lalu bertanya padanya. Sepertinya hidup mereka dikurung oleh peraturan sangat ketat.
Karena jadi liar, Tuhan menghajar Israel dengan mengirim bangsa lain untuk menyerang, menjajah, mengintimidasi, menekan dan menaklukkan mereka. Akibatnya, mereka dengan hati terdalam berseru minta pertolonganNya. Allah mendengar lalu membangkitkan hakim baru yang akan memegang tampuk kepemimpinan. Maka suasana jadi aman dan teratur. Tanpa hakim, pola lama mulai lagi. Mereka mengabaikan, meninggalkan dan hidup tanpa Dia. Akibatnya, peristiwa tak mengenakkan terulang kembali. Demikian seterusnya.
Di Hak 4:3 tercatat, selama 20 tahun kekosongan kepemimpinan, Israel ditindas oleh Kanaan. Yabin, raja Kanaan memberi mandat khusus pada Sisera untuk menyerbu mereka. Keadaan sangat mengerikan. Di Hak 5:8 Debora dalam nyanyiannya mengatakan, “Ketika orang memilih allah baru, maka terjadilah perang di pintu gerbang.” Firman tak pernah datang pada mereka. Itulah konsekuensinya. Sebelumnya, Firman selalu datang untuk memberi arahan, memerintah, mengatur dsb lalu mereka mengikutiNya.
Setelah kematian Ehud, Debora memerintah sebagai hakim atas Israel. Itulah cara Tuhan tak terpikir sebelumnya oleh mereka (an unexpected way) karena biasanya hakim adalah pria. Mereka mengharapkan sosok yang pernah dilatih tempur atau memerintah suatu bangsa.
Di Hak 4:6 Debora berkata pada Barak, “Bukankah Tuhan, Allah Israel, memerintahkan demikian: Majulah, bergeraklah menuju gunung Tabor dengan membawa sepuluh ribu orang bani Naftali dan bani Zebulon bersama-sama dengan engkau, …” Perintah militer tersebut sungguh mengejutkan karena diucapkan oleh perempuan. Barak mungkin berpikir, ia dan para tentaranya sudah terbiasa perang bahkan mengetahui strateginya secara detail. Tapi ia tetap harus mengakui posisi Debora.
Menurut pandangan, kebiasaan serta budaya Israel saat itu, perempuan ialah warga negara kelas 2 yang kehadirannya sungguh dipandang sebelah mata dan tiap perkataannya harus berulang kali diuji kebenaran, validitas serta otoritasnya. Contoh, ketika Maria Magdalena menceritakan kubur kosong dan kebangkitan Tuhan, para muridNya ragu.
Walaupun non-Kristen, ternyata Sisera juga memiliki ‘iman’ tapi worthless (tak bernilai) karena tak percaya kepada Allah Yahwe melainkan pada 900 kereta besi dan kekuatan militernya. Ia dan kereta besinya berulang kali disebut di Hak 4. Ia memiliki perlengkapan teknologi tempur sangat canggih pada jaman itu yang sungguh menciutkan hati Israel. Kemampuan perang dan kredibilitasnya sebagai pemimpin juga tak diragukan lagi. Tapi di ayat 7 melalui Debora, Tuhan berkata pada Barak, “Aku akan menggerakkan Sisera, panglima tentara Yabin, dengan kereta-keretanya dan pasukan-pasukannya menuju engkau ke sungai Kison dan Aku akan menyerahkan dia ke dalam tanganmu.” Dengan kata lain, mereka akan ditunggangbalikkan atau dihancurkan di gunung Tabor untuk menunjukkan kekuasaanNya pada Sisera dan Yabin.
Barak berarti memberi cahaya (lightening) dan juga mempunyai pengertian sesuai peranannya sebagai pemimpin Israel. Tapi imannya cenderung ragu atau plin-plan. Di Hak 4:8 tercatat reaksinya pada Debora, “Jika engkau turut maju akupun maju, tetapi jika engkau tidak turut maju akupun tidak maju.” Ia mengajukan tawar-menawar. Dua puluh tahun tanpa hakim, menimbulkan semacam keraguan karena kebiasaan mendengar Firman telah hilang. Sehingga ketika Firman datang kembali, terdengar asing sekali. Selain itu, ia berusaha menjadikan Debora sebagai bemper di depan untuk membuktikan kebenaran perkataannya. Kalau jadi kenyataan, ia akan mengakui dan memberi penghormatan pada Debora. Kalau salah, ia tak mau disalahkan. Sebaliknya, kesalahan akan dilempar ke Debora karena mungkin banyak tentara mati di medan perang. Upaya tersebut sangat licin hingga tak jelas terlihat seperti orang tak beriman. Sedangkan Debora berarti honey bee (tawon madu) yang ketika menyengat, menimbulkan bengkak. Mungkin tutur katanya terlalu tajam menusuk hati.
Di Hak 4:9 tercatat jawaban Debora terhadap syarat Barak, “Baik, aku turut! Hanya, engkau tidak akan mendapat kehormatan dalam perjalanan yang engkau lakukan ini, sebab Tuhan akan menyerahkan Sisera ke dalam tangan seorang perempuan.” Padahal perempuan seharusnya memandang pria sebagai sosok lebih tinggi maka harus takluk mutlak padanya. Tapi bukan berarti Debora ingin mengambil alih posisi pria. Sebaliknya, Barak telah meninggalkan hak istimewanya. Perempuan yang dimaksud ialah Yael. Ia tak berkaitan dengan perdebatan tersebut.
Cara mati Sisera mengenaskan. Ternyata Yael cukup kejam. Di Hak 4:21 tercatat, “Tetapi Yael, istri Heber, mengambil patok kemah, diambilnya pula palu, mendekatinya diam-diam, lalu dilantaknyalah patok itu masuk ke dalam pelipisnya sampai tembus ke tanah sebab ia telah tidur nyenyak karena lelahnya maka matilah orang itu.”
Hak 4:6-7 berindikasi, Debora melaksanakan perintah Tuhan. Dengan kata lain, imannya berespon positif. Ia menyadari kehadirannya sebagai penyambung lidah Allah. Tak banyak catatan mengenai dia, kecuali di pasal 4-5. Ialah hakim, pemimpin politik sekaligus nabiah. Ketiga jabatan tersebut jarang dipegang oleh 1 orang saja, kecuali Samuel dan Debora.
Mungkin termasuk pengalaman baru sekaligus sangat urgent dan signifikan bagi Debora untuk menyaksikan penggenapan Firman yang datang padanya, sebagai konfirmasi atas panggilannya. Pergi ke medan perang merupakan pertaruhan imannya. Padahal ia hanyalah perempuan biasa. Tapi kehadirannya cukup membangkitkan moral para pasukan. Sedangkan Barak membutuhkan sosok hamba Tuhan karena memberi damai dan tenang. Maka ia pasti dijaga oleh special force (pasukan khusus). Allah memakainya untuk menunjukkan, sungguh Dialah Allah yang hidup dan sanggup menghukum Israel.
Di Hak 4:6 tercatat hanya 2 suku Israel pergi berperang. Di Hak 5:16 Debora mengatakan, “Mengapa engkau tinggal duduk di antara kandang-kandang sambil mendengarkan seruling pemanggil kawanan? Di pihak pasukan-pasukan suku Ruben ada banyak pertimbangan!” Padahal mereka diajak berperang. Di ayat 17 ia berkata, “Orang Gilead tinggal diam di seberang sungai Yordan; dan suku Dan, mengapa mereka tinggal dekat kapal-kapal? Suku Asyer duduk di tepi pantai laut, tinggal diam di teluk-teluknya.” Mereka hanya menunggu sambil melihat pergerakan politik. Kalau angin baik atau situasi menunjukkan positif, mereka baru maju perang. Padahal iman ialah sesuatu yang tak terlihat tapi dapat dijadikan pegangan. Tapi masalahnya, yang memerintah adalah perempuan. Lebih baik menikmati pemandangan daripada menghiraukan perkataannya. Debora masih lembut hati dengan tak menghukum melainkan harus membenahi iman mereka. Sedangkan suku Naftali dan Zebulon langsung berespon. Itu menunjukkan mereka mau belajar memegang perkataan Debora sebagai pertaruhan iman. Mereka percaya akan janji Tuhan. Secara logika, seandainya mereka kalah perang, hanya 2 suku Israel dikorbankan. Tapi dari sudut pandang Tuhan, itu termasuk kegagalan sangat besar karena hanya 2 suku maju perang.
Ketika Gideon jadi hakim, ia juga mengajak semua suku untuk berperang. Tapi suku Efraim tak bersedia. Setelah perang, kemenangan berhasil diperoleh. Di Hak 8:1 tercatat, “Lalu berkatalah orang-orang Efraim kepada Gideon: “Apa macam perbuatanmu ini terhadap kami! Mengapa engkau tidak memanggil kami, ketika engkau pergi berperang melawan orang Midian?”
Iman dalam kondisi menyimpang atau porak poranda dan bengkok sekalipun, Allah akan memperbaiki, memulihkan dan menolong umatNya memiliki iman yang lurus. Walapun harus melalui keadaan krisis. Iman manusia memang sangat rapuh (fragile). Tapi kalau ia belajar menyerahkannya ke dalam tangan Tuhan maka Ia akan pelihara. Amin. ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)