![]() |
Ringkasan Khotbah : 14 Juli 2002 Kehidupan yang Ditopang oleh Anugerah Allah Nats: Amos 4:11; Za 3:2; Yes 44:26; 1 Kor 15:10 Pengkhotbah : Ev. Solomon Yo |
Amos 4:11 dan Zakharia 3:2 memberikan kepada kita gambaran mengenai ‘puntung yang ditarik dari perapian. Yesaya 44:26 memberikan gambaran “reruntuhan yang akan didirikan kembali". Ini adalah gambaran mengenai anugerah Allah kepada mereka yang sudah tidak berpengharapan.
Dalam pengamatan saya, salah satu hal yang menonjol dalam kehidupan manusia ialah realita kesulitan yang harus dihadapi semua orang. Inilah presaposisi utama dari Buddhism. Hal yang sama juga dikatakan oleh Musa, jika kita bertanya kepada Musa, apa yang dapat dibanggakan oleh manusia dalam hidupnya? Maka ia akan menjawab, “kesukaran dan penderitaan” (Mz 90:10); ini juga yang dikatakan oleh Yakub kepada Firaun, “tahun-tahun hidupku itu sedikit saja dan buruk adanya.” Musa menyaksikan kehidupan umat Israel yang tragis sebagai budak di Mesir dan tersia-siakan di padang gurun; Yakub menjalani kehidupan sebagai pelarian yang jauh dari rasa aman sejahtera, orang yang mengasihan karena h arus ditipu oleh anak-anaknya sendiri.
Bagaimana dengan kehidupan orang Kristen di masa kini? Jemaat Kristen sendiri tidak lepas dari kesulitan. Pasangan yang secara terang-terangan dikhianati dan dimusuhi, disaksikan oleh anak-anaknya yang masih kecil, pastilah bukan hidup yang mudah untuk dijalani. Memiliki pasangan yang berkepribadian tidak dewasa pasti merupakan pengalaman yang tidak menyenangkan. Memiliki keluarga yang tidak harmonis dan tidak sehati pasti merupakan beban tersendiri. Dan ada begitu banyak orang yang menjalani kehidupan yang penuh kerikil tajam, selalu berkekurangan, diterpa berbagai penyakit dan kemalangan. Bagaimana dengan mereka yang bertumbuh tanpa kasih sayang, mereka yang memiliki kepribadian yang rapuh dan selalu merasa tidak aman dan tertekan. Siapa tahu berapa banyak orang yang kita temui di gereja, saat menjawab salam kita dengan senyum yang manis sebenarnya menyimpan beban masalah yang begitu menekan, seperti masalah fisik/penyakit, finansial, masa depan yang tidak jelas, baik yang menimpa dirinya, anaknya, saudaranya, atau orangtuanya.
Jika orang-orang yang di dalam gereja saja memiliki banyak kesulitan dan beban yang berat, bagaimana dengan anak-anak jalanan, para pengemis, pelacur, sampah masyarakat yang dilemparkan ke berbagai lembaga masyarakat. Bagaimana dengan mereka yang tidak beruntung, dan yang menjadi korban ketidakadilan? Dari mereka yang tinggal di lorong-lorong rumah reot sampai di perumahan mewah berapa banyak orang yang benar-benar berbahagia?
Semua ini menimbulkan pergumulan eksistensial dalam diri saya. Saya tidak boleh karena telah memiliki hidup yang bahagia di dalamTuhan, lalu menutup mata terhadap realita kesulitan yang menimpa demikian banyak orang lain. Mereka pasti bergumul dan bertanya kepada Allah. Adakah makna bagi hidup mereka? Sebagai hamba Tuhan apa jawaban yang dapat saya berikan kepada mereka? Apakah imanku kepada Allah itu benar? Apakah Allah yang saya percaya juga dapat mereka percaya? Apakah Allah yang saya percaya adalah Allah yang sanggup memberi jawaban bagi mereka. Jadi, permasalahan orang lain mau tidak mau juga menjadi permasalahan saya.
Saya bersyukur telah diperlengkapi dengan wawasan Alkitab yang menolong saya tidak terjerumus ke dalam jawaban yang salah, seperti sebagian orang yang tidak dapat mempercayai Allah karena melihat penderitaan dalam dunia ini. Alkitab menjelaskan bahwa dunia yang kita hidupi sekarang ini adalah “dunia puntung berasap dan reruntuhan”, dunia yang telah dirusak oleh dosa. Tetapi ada anugerah Allah yang dapat mentransformasi hidup yang rusak ini menjadi bermakna dan bahagia. Dalam renungan ini saya akan mensharingkan beberapa prinsip penting bagaimana kita dapat hidup dengan benar dalam dunia yang penuh masalah ini, antara lain:
Pertama, mengakui realita bahwa kita hidup di dalam dunia yang telah dirusak oleh dosa. Ini bukan dunia ideal seperti yang dirindukan setiap orang, ini adalah “dunia puntung berasap dan reruntuhan”, dunia yang abnormal. Dengan tangisan dunia ini kita masuki dan dihantar oleh tangisan pula dunia ini akan kita tinggalkan.
Semua orang tahu dalam dunia ini, kita tidak akan mendapatkan kebahagiaan sempurna dan keadilan yang penuh. Namun ketika menghadapi keadaan yang tidak menyenangkan kita tidak dapat menerimanya dan mulai menyalahkan Tuhan. Inilah kontradisinya: kita berharap bisa memiliki kehidupan yang ideal di dunia yang tidak ideal; di satu pihak kita mengaku tidak bisa berharap banyak dalam dunia berdosa ini dan mengakui kesulitan merupakan bagian dari kehidupan di dunia ini, tetapi dalam prakteknya, kita tidak berlaku konsisten, ketika susah kita menjadi seperti cacing kepanasan dan memberontak kepada Tuhan.
M. Scott Peck, memulai bukunya The Roadless Traveled dengan perkataan ini: “Hidup itu sulit.... Begitu kita mengetahui bahwa hidup itu sulit setelah kita memahami dan menerimanya maka hidup menjadi tidak sulit lagi.” Selama orang belum menerima fakta bahwa kesulian merupakan bagian yang tidak terhindarkan dalam hidupnya, ia tidak akan pernah siap menjalani kehidupan ini yang memang banyak kesulitan ini, dan akan selalu menjadi orang yang rapuh dalam menjalani hidup ini.
C.S. Lewis mengajakan suatu sikap batin yang bijaksana dalam menyikapi kehidupan ini. Ia mengatakan: “Bayangkan sekumpulan orang yang tinggal di suatu bangunan yang sama. Sebagian memikirkan itu sebuah hotel, sebagian yang lain memikirkannya sebagai penjara. Mereka yang berpikir itu sebagai hotel merasa kondisi yang mereka terima itu sangat tidak patut, sedangkan mereka yang berpikir itu penjara adalah mungkin akan menganggap keadaan mereka itu sudah cukup nyaman. Jadi apa yang tampaknya sebagai doktrin yang buruk ternyata akhirnya memberi penghiburan dan kekuatan kepada anda. Orang yang berusaha berpegang kepada pandangan dunia yang optimistik akan menjadi orang yang pesimis; sebaliknya orang yang berpegang pada pandangan dunia yang keras justru akan menjadi optimis.”
Kedua, mengakui kebergantungan kita kepada anugerah Allah. Tiap kebaikan yang kita nikmati tidak boleh dianggap memang harus demikian (take it for granted), sebenarnya kita tidak berhak menerima semua kebaikan itu, setelah kita berdosa kepada Tuhan, hanya karena kemurahan Allah semata kita masih diberikan anugerah kesehatan, kemampuan intelek, rezeki, keamanan, perlindungan keluarga. Semua ini harus kita syukuri. Bahkan ketika mengalami banyak kesulitan, ada begitu banyak kebaikan Tuhan yang diberikan untuk menopang hidup kita, sehingga selalu ada alasan bagi kita untuk bersyukur, masalahnya ialah kita suka mengabaikan kebaikan Allah yang penuh kemurahan dan hanya memperhatikan semua keinginan yang belum kita miliki.
Tuhan tidak pernah kurang baik kepada kita, bahkan setelah kita berdosa kepadaNya, hanya mata kita yang kurang baik untuk melihat segala kebaikanNya yang melimpah dalam hidup kita. Jika kita telah belajar untuk menghitung setiap berkat Tuhan dalam hidup kita, seperti dikatakan dalam lagu “Hitung Berkat Tuhan”, niscaya kita akan takjub atas kemurahan Allah yang begitu mengasihi kita. Orang yang menutup mata terhadap kebaikan Tuhan dan hanya sibuk memikirkan apa yang belum dia miliki, dengan penuh iri hati kepada orang lain, dia adalah orang yang menjerumuskan dirinya ke dalam kesulitan yang ia ciptakan bagi dirinya sendiri.
Dengan bersandar kepada anugerah Allah, kita bahkan bermegah dalam kesulitan, karena tahu Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita. Orang yang mengalami banyak hambatan, seperti Fanny Crosby, Joni Erickson dapat mengaku Allah itu baik dan berbahagia, maka tidak ada alasan bagi yang lain untuk tidak bersyukur dan bahagia.
Ketiga, mengarahkan hidup dan perjuangan kita kepada pengharapan sorgawi yang kekal. Karena dunia ini adalah “reruntuhan” yang tidak tertolong lagi, sehingga Allah harus melakukan pembaharuan total dengan menciptakan langit dan bumi yang baru, maka kita tidak akan menaruh harapan kita kepada dunia yang fana, mengecewakan dan tidak berprospek ini.
Bahkan dari perspektif orang yang bahagia, dunia ini sangat mengecewakan. Mengapa? Kebahagiaan menginginkan kekekalan, orang yang berbahagia ingin hidup selama-lamanya. Tetapi apa yang ia dapati ialah perubahan dan kemerosotan. Hambatan, penuaan, penyakit, kematian datang tanpa dapat ia kontrol, akhirnya merusak dan merenggut kebahagiaannya. Orang yang menginginkan kebahagiaan sejati tidak akan puas dengan dunia ini; orang yang terlalu berharap pada dunia akan berakhir di dalam kekecewaan.
Dalam 2Kor 4:16-17 Paulus berkata, “Kami tidak tawar hati,... Sebab penderitaan ringan sekarang ini mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar daripada penderitaan kami.” Pengharapan sorgawi yang mulia akan menjadikan segala kesulitan yang kita alami terlihat ringan. Karena tahu bahwa penderitaan kita dapat mengerjakan dalam diri kita kemuliaan kekal, maka kita akan termotivasi untuk menanggungnya dengan tabah. Orang Kristen yang menjadi hancur dan putus asa karena kesulitan dunia ini, mungkin berharap terlalu banyak terhadap dunia ini dan kurang mengharapkan sorga. Jika sorga adalah harapan yang mulia maka kita tidak akan mudah dikecewakan oleh di dunia ini. Perspektif kekekalan seharusnya mendorong orang Kristen untuk mengejar perkara yang kekal, yaitu mengutamakan kerajaan Allah dan kebenarannya di kenyamanan hidup kita (Mt 6:33).
Keempat, dalam realita kehidupan yang penuh masalah, Allah memanggil kita untuk menjadi saluran berkatNya bagi mereka yang bersusah. Kepada setiap orang Tuhan memberikan karunia yang berbeda, ada yang menerima lebih banyak, ada yang lebih sedikit. Perbedaan ini menjadikan kita tergantung satu sama lain dan saling membutuhkan. Tujuan pemberian karunia adalah supaya kita saling melayani, terutama dari yang lebih kepada yang kurang atau lemah. Tidak pernah karunia Allah dimaksudkan untuk kita pakai secara egoistis, berdosa dan tidak berguna. Semua karunia ini harus kita pertanggungjawabkan.
Ketika orang dalam kesulitan, mereka berseru kepada Allah dan mengharapkan jawaban Tuhan. Sebagai anggota tubuh Kristus, kitalah yang akan dipakaiNya untuk menjawab mereka. Kita bersalah kepada Allah jika mengabaikan tanggung jawab pelayanan kita, dan memakai karunia pemberian Allah hanya untuk kepentingan sendiri secara jahat dan bukannya menjadi hamba setia yang melayani sesama yang susah (Luk 12:42-46). Dalam hidup yang penuh kesulitan ini, biarlah kita yang telah menerima anugerah Allah, juga menjadi penyalur anugerah Allah kepada yang memerlukan. Demikianlah kita melawan akibat dosa dalam kehidupan dunia ini, dan layak disebut sebagai anak-anak Allah.
Kiranya doa Fransiskus dari Asisi juga menjadi doa kita: Lord, make me an instrument of Thy peace/ where there is hatred, let me sow love/ where there is injury, pardon/ where there is doubt, faith/ where there is despair, hope/ where there is darkness, light/ and where there is sadness, joy/ O Divine Master/ grant that I may not so much seek/ to be consoled as to console/ to be understood as to understand/ to be loved as to love/ for it is in giving that we receive/ it is in pardoning that we are pardoned/ and it is in dying that we are born to eternal life. Amin.?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)