Ringkasan Khotbah : 07 Juli 2002

Essensi Iman

Nats: Yoh 14:29

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Yoh 14:29 termasuk pergumulan kesimpulan dari seluruh pembicaraan (Yoh 13:31 s/d Yoh 14:28). Ada 2 aspek keunikannya. Ayat tersebut termasuk prinsip nubuatan yaitu berita dinyatakan terlebih dahulu lalu ditunggu waktunya hingga akhirnya digenapi dan menghasilkan iman. Sebelum masuk ke konsep tersebut, intinya harus diperdalam.

Injil Yohanes ditulis sekitar 40-50 tahun setelah Injil Matius, Markus, Lukas yang mengungkap sejarah keberadaan Kristus di dunia, beredar. Ketiga Injil tersebut mempunyai tujuan dan sasaran masing-masing maka kronologinya beda. Maksud penulisan Injil Yohanes merupakan essensi pemberitaan pasal 14 dan juga menjadi target Tuhan yaitu supaya banyak orang percaya. Itulah prinsip terakhir semua tindakan dan perkataanNya. Sedangkan Yoh 20:30-31 merupakan kesimpulan Injil tersebut. Selain kronologi, ada penataan topikal yang diharapkan tercapai. Juga diperlukan multidimensi untuk melihat kehadiranNya sehingga tak cukup hanya 1 Injil dengan 1 segmen sudut pandang karena dimensi pengertian Injil jadi sangat terbatas. Injil Yohanes justru memberi wawasan sangat beda yang diungkap bukan secara kronologis melainkan Theologis (prinsip iman sejati).

Yoh 14:29 sepintas seperti sekedar urutan logis. Sebenarnya ayat tersebut merupakan essensi kehidupan terutama yang Kristen. Dalam hidup, kepercayaan dasar atau iman sangat serius hingga mempengaruhi tingkah laku, perkataan, pilihan dan keputusan. Tiap orang pasti memilikinya dalam diri dan memutlakkannya tanpa mempertimbangkan kebenaran. Maka ketika orang lain mulai mengusik isi hatinya terdalam yang disembunyikan dengan sangat rapi, ia marah. Dalam kondisi terdesak, akhirnya keluar modal terakhir yaitu ‘pokoknya …’. Setelah itu sebaiknya lawan bicara tak bertanya lagi dan diskusi segera diakhiri karena akan menimbulkan pertengkaran.

Sosiolog Erich Fromm mengatakan, “Don’t ask whether they have faith or not, but please ask what kind of faith they have.” Mungkin 80 % manusia di dunia tak menggumulkannya secara serius. Orang Kristen juga belum tentu sejati imannya. Di jaman sekarang, iman berada dalam kondisi sangat rumit. Dulu selalu timbul protes dan konflik jikalau ada yang pindah agama. Setelah tahun 60, peristiwa semacam itu tak terjadi. Apalagi dengan trend postmodernisme relativisme, para anak muda memiliki filosofi sangat beda dengan orang berusia 50-70 tahun. Mereka dapat beriman Kristen sekaligus atheist, humanist, Buddhist hingga berani menyatakan percaya semua aliran dan agama yang sebenarnya saling kontradiksi dan takkan  bersatu. Dalam pengertian mereka terjadi dan terbiasa dengan kondisi multilayers of faith (iman berlapis-lapis). Sebenarnya mereka menutupi iman sejatinya. Kondisi semacam ini paling bahaya.

Pengalaman para murid tak terlalu beda dengan kondisi di atas. Dalam pembicaraan Yoh 14 mereka telah mengikut Tuhan selama 3,5 tahun, menjelang penganiayaan, penyaliban, kematian dan kebangkitanNya. Pembicaraan tersebut telah mencapai kondisi advance dan kalau ditanya, mereka pasti tegas menyatakan percaya kepada Yesus, Sang Mesias, Anak Allah yang hidup. Itulah statement of faith dari Petrus di Mat 16:16. Tapi mereka belum sungguh percaya melainkan masih dalam dualisme konsep karena iman tak sederhana.

Ada orang beranggapan, yang penting dan mendasar bagi keselamatan hanyalah percaya kepada Tuhan. Kalau demikian, sama dengan Setan percaya kepadaNya. Seharusnya beda. Matius 7:21-23 mengatakan, mereka yang memanggilNya Tuhan tak jadi masuk ke Surga melainkan dibuang ke Neraka. Padahal telah membuat banyak mukjizat hebat. Kadangkala manusia memudahkan istilah ‘percaya’.

Maka di Yoh 14:29 Kristus mengatakan, “Dan sekarang juga Aku mengatakannya kepadamu sebelum hal itu terjadi, supaya kamu percaya, apabila hal itu terjadi.” Kalau Ia tak memberitahu lebih dahulu, para murid pasti sulit percaya. Mereka terus mendebatNya sepanjang pembicaraan tersebut, merupakan bukti belum percaya. Kalau sungguh percaya, jawaban mereka seharusnya sangat simple yaitu amin. Iman bukan kalimat yang boleh sekedar diungkapkan lalu dianggap selesai. Namun iman Kristen sejati belum terjadi hingga saat ini. Dalam pergumulan Yoh 14 ada beberapa hal untuk merefleksi dan mengevaluasi iman tiap orang Kristen:

Pertama, kaitan iman dan realita. Fakta dan iman beda. Para murid mengetahui fakta Tuhan mengadakan mukjizat dan mengajar lalu akhirnya harus pergi ke Yerusalem. Namun semua realita tersebut tak membuat mereka percaya.

Kadang dalam situasi tertentu orang Kristen harus menerima fakta karena memang tak mampu menolaknya. Banyak orang dihadapkan dengan fakta dunia jahat, rusak dan hancur, seperti penyakit, penderitaan, kematian dll karena manusia berdosa. Ada pula dosa tak dianggap kejahatan. Meskipun terpaksa dan hati berontak, mereka harus mengakui fakta tersebut.

Ketika orang Kristen menyadari berdosa, tindakan tersebut bukan sekedar logis tapi iman yang mengaitkan realita ke dirinya. Seharusnya penginjilan dan pertobatan mulai dari kondisi seperti itu. Tapi banyak yang tak melampauinya. Tak ada pertobatan yang sungguh terjadi.

Sesungguhnya manusia hanyalah sampah karena terlalu melawan Tuhan. Ia tak punya kapasitas, kehebatan, keistimewaan dan ketaatan untuk dibanggakan di hadapan Allah berdaulat. Seharusnya realita tersebut masuk ke dalam hati jadi kepercayaan.

Paulus juga mengatakan demikian. Dulu ia bangga sebagai orang Yahudi asli dengan otak Farisi. Kemampuan dan semangat kerjanya tak meragukan. Maka ia berhak merasa something. Tapi setelah mengenal Kristus, semua itu jadi sampah. Ia mengungkapkannya dengan keras. Itulah nuansa iman, bukan rasionya. Iman timbul setelah ia dihancurkan oleh Tu­han. Maka Saulus berganti nama jadi Paulus untuk mengekspresikan essensi imannya.        

Iman para rasul tak seperti itu. Mrk 9:34 mencatat bahwa mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar. Bahkan di Yoh 18:10 tercatat, Petrus menghunus pedang dan memutus telinga kanan Iman Besar. Padahal mereka belum pernah berlatih perang. Pikiran mereka terlalu jauh karena merasa dekat dengan Tuhan. Ketika Ia harus pergi, mereka jadi merasa nothing meskipun sulit menerima realita tersebut.

Fakta dan iman seringkali senjang dalam hidup manusia. Ketika sadar bahwa dirinya nothing, realita sejati jadi bagian dari iman. Hanya iman sejati membuatnya bersandar pada objek iman sesungguhnya yaitu Kristus. Mereka yang merasa something hanya mampu menjalankan keinginan dunia. Justru di tengah reruntuhan hati yang hancur, Tuhanlah yang akan membentuk dan menata kembali.

Kedua, iman membentuk kacamata hidup. Ketika melihat, memperhatikan dan menanggapi sesuatu, seseorang tak pernah mengerti secara plain (terbuka) tapi selalu dengan kacamata tertentu. Maka realita tersebut tak sejati melainkan hasil interpretasi. Kacamata iman sangat menentukan.

Di Yoh 14:29 Tuhan berkata demikian karena menginterpretasi realita tak mudah. Kesuksesan seseorang mungkin menurut kacamata orang lain jadi kegagalan. Demikian pula sebaliknya. Kadang juga terlalu cepat mengambil kesimpulan. Contoh, orang kaya belum tentu sukses. Sulit untuk mencapai orang kaya yang sukses. Mungkin 95% orang kaya termasuk gagal. Lebih baik hidup enak tapi miskin daripada kaya tapi susah. Kalimat tersebut paradoksikal dan sulit dimengerti karena kacamatanya bermasalah. Tapi itulah Firman Tuhan. Manusia cenderung melinierkan jadi ‘kaya itu enak’.

Bagi banyak orang, kepergian Tuhan dan Paulus ke Yerusalem termasuk kebodohan karena mereka akan disiksa dan dibunuh di sana. Tapi itulah jalan kesuksesan mereka karena pimpinan Allah. Kalau Paulus tak ke sana, ia takkan menembus ke Roma. Tak ada cara lain. Ia berkewarganegaraan Roma maka berkapasitas menghadap Kaisar. CaraNya memakai manusia memang sangat unik.

Orang juga memandang Yusuf bodoh karena sebagai anak kesayangan Yakub, ia malah dibuang oleh saudaranya. Tapi akhirnya ia memberi kesimpulan sangat tepat yaitu Kej 50:20 yang menunjukkan adanya 2 kacamata: (1)saudaranya, (2)Firman Allah. Kalau ia memakai kacamata saudaranya maka mereka harus dihukum karena mencelakakannya. Tapi ia justru memilih kacamata Tuhan (ayat 21).

Tuhan mempersiapkan para murid (Yoh 14:29) supaya cara pandang mereka beda dengan dunia yang memandang penyalibanNya sebagai kegagalan fatal total. Ia pergi ke Yerusalem justru untuk memenangkan semua pertentangan dan menghancurkan kuasa Iblis. Namun banyak orang Kristen tetap memakai kacamata selain yang Kristus berikan.

Ketiga, iman harus untuk tujuan terakhir. Kristus menghendaki umatNya percaya bahwa Ialah Mesias, Juruselamat, Penebus dan Anak Allah yang hidup. Kepercayaan yang salah sebaiknya mulai dibongkar dan dihancurkan. Sebagai ganti, ia harus kembali kepada Allah. Tindakan tersebut memang sangat sulit tapi harus dijalankan sebelum terlambat.

Ketika Tuhan akan pergi, para murid ketakutan karena berpikir harus mengatasi hidup mereka sendirian. Saat ini juga banyak orang ketakutan karena tak bersandar mutlak kepada­Nya. Padahal prinsip dunia seringkali tak sesuai dan malah merusak iman Kristen. Contoh, konsep positive thinking membuat orang tak menyandarkan hidup kepadaNya. Namun planning manusia dapat dibatalkan olehNya. Maka seharusnya digumulkan dan menunggu pimpinan Al­lah jelas agar resiko tak terlalu besar. Banyak orang berpikir, hidup menurut jalan­Nya sangat susah. Seharusnya justru lebih ringan meskipun memang tak mudah menjalankan pekerjaan-Nya. Tapi hidup yang tak mengandalkan-Nya pasti jauh lebih susah. Amin.?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhot­bah)