Ringkasan Khotbah : 30 Juni 2002

I Will Come Back

Nats: Yoh 14:28-29; Luk 22:14-20

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Yoh 14:28-29 masih termasuk berita atau pengajaran sangat exclusive dari Kristus tentang jalan hidup Kristen. Bagian tersebut merupakan penekanan yang sebenarnya telah dibukaNya sejak pertama kali pengajaran exclusive.

Tuhan belum pernah membicarakan dengan orang lain mengenai misi utama kehadiran­Nya di dunia. Ia baru mengatakan hanya pada murid sejati. Memang ketika memberitakan bahwa DiriNya harus pergi ke Yerusalem menanggung banyak penderitaan, keduabelas murid mendengar. Itulah fakta sejarah bahwa Mesias, Juruselamat manusia atau Anak Allah yang hidup harus mati lalu bangkit pada hari ketiga. Tapi belum dijelaskan karena hanya dapat diterima oleh umat pilihan yang telah diubahkan atas anugerah-Nya.

Ketika hendak mengerti kebenaran Firman, logika manusia yang telah dikunci oleh dosa dan konsep sekuler, tak mudah menerimanya. Yang mudah diterima seringkali bukan kebenaran sejati melainkan konsep yang ada di dunia berdosa lalu dimodifikasi hingga langsung sesuai hati dan pikiran manusia. Contoh, orang dunia pasti setuju dengan berita, “Berbahagialah kamu yang kaya dan celakalah kamu yang miskin” atau “Anak Tuhan yang baik pasti diberkati dan kaya. Kalau tak kaya berarti belum diberkati.” Tapi ketika naik ke atas bukit, Tuhan berkhotbah,  “Berbahagialah, hai kamu yang miskin, … Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu … Tapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, … Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; …” (Luk 6:20, 22, 24 & 26) Para murid mulai kesulitan dan merasakan perbedaannya. Mungkin sebagian orang Kristen juga tak suka membacanya. Bahkan Petrus tak mengerti malah membantah pemberitahuan Kristus tentang penderitaan­Nya kelak, “Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” (Mat 16:22)

Pemberitaan Tuhan mengenai kepergianNya (Yoh 13:31 s/d Yoh 14) menimbulkan perdebatan rumit di antara para murid. Semakin dibahas, konsep mereka makin kacau. Lalu Ia jelaskan sepanjang pasal 14.

Setelah itu, Tuhan kembali ke topik pertama, “Kamu telah mendengar bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada BapaKu …” (Yoh 14:28) Dengan kata lain, Ia menunjukkan bahwa sebenarnya para murid tak rela melepaskan­Nya pergi. Prinsip mereka sangat egois. Sejak dulu mereka mengharapkan-Nya jadi Mesias, lebih tepatnya Pendiri sekaligus Penguasa Kerajaan Daud. Sehingga mereka mendapat posisi sebagai perdana mentri, mentri, panglima, kepala militer, kepala departemen dsb. Semua orang harus tunduk pada kekuasaan mereka. Pemikiran semacam itu salah dan terlalu duniawi maka Ia mengajak untuk melihat pengharapan hidup Kristen yang tak terkunci dalam kesementaraan.

Banyak orang Kristen memiliki target hidup serta cara mengambil keputusan, attitude (sikap) dan tindakan yang sangat duniawi. Kunci seluruh relasi mereka berhenti di format dunia yang sangat material. Tak harus berbentuk uang tapi semua aspek berorientasi pada materi karena mereka tak mampu menerobos pada kekekalan.

Menurut Mzm 90:10, “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, …” Kalau hidup orang Kristen sudah diserahkan untuk melayani dan setia beriman maka ketika tiba saatnya pergi bertemu Tuhan, ia harus dilepaskan karena dunia bukan tempat enak melainkan menimbulkan stres, tegang dan susah. Paulus di Flp 1:21-22 me­nga­takan, “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah (bertanggungjawab dan jadi berkat bagi orang lain).” Justru ketika semua tugas selesai, itulah saat terindah. Sebaliknya kalau belum bertobat, sebaiknya tak segera pergi karena ia pasti sengsara dan binasa di Neraka selamanya. Sedapat mungkin ia dipertahankan dan diinjili agar kembali kepada Tuhan. 

Banyak orang mengira kekekalan (eternity) sama seperti dunia yang sementara. Padahal sesuatu yang kekal takkan berubah. Perubahan membutuhkan proses dan waktu. Sedangkan kematian bersifat selamanya. Semua sejarah, agama bahkan hati nurani menyadarinya. Fakta tersebut tak dapat ditolak. Sekali masuk ke Surga atau Neraka, manusia takkan bisa pindah. Pendapat yang mengatakan bahwa di sana dapat terjadi perpindahan, termasuk kebodohan illogical pemikiran orang yang tak tahu essensi kekekalan.

Kebanyakan orang termasuk yang Kristen hanya memikirkan diri. Mereka mempertahankan orang lain demi kepentingan sendiri. Melepas kepergian pun mungkin disebabkan karena biaya sudah terlalu banyak. Inilah jiwa berdosa.

Kristus harus turun ke dunia bukan untuk pekerjaan ringan. Ia datang di kandang gelap, penuh jerami kotor dan bau. Ialah Anak Allah Pencipta sekaligus Pemilik alam semesta yang tak dibatasi oleh waktu dan ruang tapi harus lahir dalam rupa bayi, bukan sebagai anak raja atau orang kaya melainkan tukang kayu. Orang yang berkemampuan ketika tiba-tiba lumpuh, ia jadi sangat stres. Apalagi Tuhan yang berkemampuan luar biasa, jadi tak bisa makan, jalan dsb layaknya bayi. Ia sangat menderita tapi manusia tak menghargai­Nya. 600 tahun sebelumnya, Yesaya mengungkapkan, “He is the Man of sorrow.” (Yes 52:13 s/d Yes 53) Sejak kecil Ia kerja keras tiap hari menghidupi keluarga. Hingga dewasa, Ia tak punya kedudukan, uang, rumah dll. Di Mat 8:20, Ia berkata pada para pengikutNya, “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala­Nya.” Namun para murid tak memikirkan penderitaan­Nya. Sesungguhnya Ia tak bersalah tapi seluruh dunia menjepit lalu menyiksa, melecehkan, menghina dan membunuhNya. Yang melakukan semua itu justru orang beragama dan politik. KataNya pada para murid di Luk 22:18, “… mulai dari sekarang ini Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai Kerajaan Allah telah datang.” Padahal Ia telah mengajar dengan hebat, memberi sangat banyak berkat dan menyembuhkan orang. Ketika mengadakan perjamuan malam terakhir, Ia berpesan, “… perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” (Luk 22:19)   

Kesengsaraan dunia sesungguhnya merupakan essensi dosa. Namun orang tak menyadari bahwa dunia telah rusak, meskipun secara logika seharusnya tahu. Fakta tersebut diputarbalikkan dengan mengatakan bahwa dunia ini menyenangkan dan manusia pada hakekatnya baik. Dosa hanyalah kelemahan manusia. Sebenarnya dunia mempromosikan keberdosaan. Semakin orang berpendapat atau bertindak, makin membuktikan dosa ada. Masalah tersebut tak terselesaikan walaupun dengan segala upaya karena memang tak dimungkinkan.

KTT Bumi di Denpasar menyatakan bahwa perjuangan selama 10 tahun hopeless karena dunia makin tak nyaman. Saat ini terjadi krisis energi. Selain itu, pencemaran mencapai tingkat menakutkan. Moral dan ekonomi juga hancur total karena filsafat utilitarianisme serta permainan saham yang menguasai trading. Kepentingan kaitan globalisasi sangat mengerikan karena ekonomi, politik, militer dan sosial jadi molding yang complicated sekali. Mungkin cara penyelamatan ekonomi dunia yang kelak dijalankan yaitu perang agar business senjata berkembang pesat. Jadi, perang bukan sekedar pertengkaran antar negara. Ada pengaturan dan perencanaannya karena membutuhkan biaya sangat besar. Manusia seharusnya sadar kalau berdosa dan mawas diri. Itulah titik awal perubahan.

Target terakhir perjuangan hidup (the real purpose) ialah kembali kepada Bapa di Surga yang lebih besar daripada Kristus (Yoh 14:28). Yang dimaksud bukan dalam arti status tapi Ia mengajak para murid memandang kepada Bapa sebagai Raja di atas segala raja di seluruh alam semesta. Itulah hidup sejati. Sedangkan mati bukan sekedar nafas berhenti. Kematian sejati yaitu terpisahnya manusia dari Allah. Di Kej 2:17 Tuhan berkata pada Adam, “… tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” Sejak melanggar perintah tersebut, hubungannya dengan Allah putus. Ia dan istrinya diusir dari taman Eden. Lalu Kristus menebus dan menyelamatkan sehingga manusia dapat bersekutu kembali bahkan boleh memanggil-Nya Bapa. Meskipun memperoleh seluruh dunia tapi akhirnya nyawa binasa, semua tak berarti lagi.

If you do something, you should know exactly the purpose. Sehingga bersemangat ketika mengerjakannya. Tanpa tujuan jelas, tak perlu dikerjakan karena percuma saja dan buang waktu. Dunia management mengajarkan organizing, planning, dsb. Tapi mereka tak tahu tujuan akhir hidup. Tuhan menghendaki sasaran hidup orang Kristen jelas.

Bagian akhir dari Yoh 14:28 tak boleh dimengerti menurut versi saksi Yehova yang menipu seolah-olah lebih mengerti. Orang Kristen tak boleh menghakimi mereka yang bernubuat tapi di Alkitab ada 2 macam nabi yaitu asli dan palsu. Nubuatan nabi palsu takkan terjadi karena bukan dari Allah, seperti tokoh saksi Yehova yang 5x bernubuat bahwa Yesus akan datang. Nabi Tuhan harus dihormati dan ditaati karena bernubuat atas nama­Nya. Tapi hukuman bagi yang palsu ialah dirajam mati untuk menghargai integrity Allah. Demikian pula mereka yang berzinah supaya kesucian dan kebenaranNya tak dipermainkan. 

Banyak orang kerja keras tapi hidup mereka dibuang. Tanpa memikirkan Tuhan, berjuang di dunia jadi susah. Dengan memikirkanNya bukan berarti jadi tak susah. Seluruh perjuangan perlu dievaluasi kembali, masih terkait dengan Surga atau kelak dibuang sia-sia total. Hingga saat ini, negara maju sekalipun tak mampu menghindari banjir dan badai besar. Maka manusia harus bersandar kepadaNya karena hidupnya rentan dan berdosa. Cara berpikirnya harus diubah, bukan mengikat diri dengan dunia tapi menerobos ke atas dan melihat kehendak Tuhan. Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhot­bah)