Ringkasan Khotbah : 2 Juni 2002

Dosa & Keselamatan

Nats: Roma 3: 23-24

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Di dunia modern, ketika orang belajar banyak pengetahuan, mendalami realita dan berjuang dengan biaya research sangat besar, justru masih ada yang terlewat. Alkitab dengan tegas dan jelas membukakan realita yang exclusive yaitu, “Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” (Rm 3:23) Statement Paulus tersebut seringkali bukan dimengerti sebagai realita yang seharusnya diterima tapi justru ditolak oleh banyak orang. Padahal pernyataan itu bukan tuduhan yang dibangun dengan fanatisme. Ia membangun argumentasi dengan sangat teliti mulai dari konsep general (umum) mengenai dosa dalam Rm 1 hingga Rm 3:20 agar manusia akhirnya sadar.

Dalam Rm 1 Paulus menegaskan 2 statement terpenting mengenai realita hidup yaitu  bahwa dunia sedang dikuasai oleh kondisi fasik dan lalim. Fasik ialah sikap sengaja melawan Allah bukan karena tak tahu akan keberadaanNya. Ketika diajar tentang Dia, dalam hati manusia selalu timbul sensus divinitas yaitu perasaan atau kesadaran bahwa ada penguasa lebih besar dari dirinya. Setelah mati atau berbuat kejahatan, ia harus berhadapan dengan pengadilanNya. Ia sangat tergantung kepadaNya. Kekristenan di Indonesia menyebutNya Allah sedangkan agama atau bangsa lain memakai nama berbeda. Namun yang terpenting bukan istilah melainkan personifikasi atau konsepnya mengacu pada yang lebih tinggi dari manusia.

Sensus divinitas bukan semakin dikembangkan tapi justru makin ditekan karena essensi dosa mencengkeram hingga manusia sengaja memberontak dan tak mau tunduk pada otoritas di atasnya. Ia menyatakan dirinya tertinggi maka yang lain harus tunduk. Inilah essensi dosa yang pertama yaitu sengaja menolak dan tak menghormati Allah. Ia makin dewasa semakin keras dan otoritatif hingga ingin selalu jadi pemimpin. Jiwa semacam itu tak baik karena sebenarnya ia yang relatif dan bisa salah tak berhak memiliki otoritas tertinggi.

Lalim ialah sengaja menentang kebenaran dan dengan segala dalih, cara, alasan mencoba mengalihkan, membenarkan atau seolah boleh mentolerir. Manusia juga diberi konsep righteousness (kebenaran keadilan) yang ditanam dalam hati. Maka tak ada pencuri yang tak tahu bahwa tindakannya tak diperbolehkan.

Sejak lahir, bayi langsung mampu menilai. Jangan berpikir ia tak mengerti hingga bisa dibohongi. Ia mungkin lebih peka daripada orang dewasa. Ia bisa tiba-tiba mempertanyakan soal keadilan. Tapi ketika memiliki pengertian, ia justru tak menjalankannya. Ia juga sangat egois hingga selalu berusaha menutupi kesalahan sendiri. Padahal ia tak pernah diajar berbohong. Tiba-tiba ia melakukan kesalahan. Setelah itu, ia jadi malu dan ketakutan karena tahu akan menghadapi kesulitan. Tapi ketika ditanya, ia berani menyangkal. Padahal kebohongan terlihat dari wajah dan tingkah lakunya.

Dalam Rm 2 Paulus mengargumentasikan bahwa tak ada toleransi atau alasan bagi o­rang Atheis yang tak percaya akan adanya Allah sehingga ia berhak melawanNya lalu tak mau mengaku dosa. Pengetahuan tentang keberadaanNya telah ditanam dalam hati terlebih dulu. Jadi, bukan karena rasa ingin tahu manusia. Tapi pengetahuan tersebut tak dikembangkan untuk mencari dan mengetahui Allah sejati.

Di Eropa, banyak orang tak mau mengaku diri Atheis karena terlalu negatif. Sebagai gantinya, mereka menggunakan istilah “free-thinkers” (pemikir bebas). Padahal konsep yang dipikirkan muncul dari diri. Maka otoritas tertinggi di tangannya sendiri. Mereka menolak keberadaanNya supaya bisa jadi allah. Mereka sebenarnya merasa terancam dengan adanya Oknum di atas yang kelak mengadili. Inilah penyataan Nietzsche, filsuf abad 20 awal. Ia juga menyatakan telah membunuh Allah (the Death of God Theology). Itulah thesisnya dalam buku “Ecce Homo” dan “Thus Spake Zarathustra” yang sangat disukai di seluruh dunia karena mewakili kesenangan mereka.

Paulus mengatakan bahwa ketika manusia tak mau memikirkan Allah, keberadaanNya bukan menjadi tak ada. Ia tetap exists. Sesuatu bersifat faktual atau realita sejati tak mungkin diadakan atau ditiadakan oleh pikiran orang. Contoh, seseorang dengan susah hati terus memikirkan anaknya yang telah mati. Walaupun demikian, anak itu takkan hidup kembali. New Age Movement justru mencampurkan virtual (ilusi) dan reality.

Paulus juga mengatakan bahwa ketika manusia melawan kebenaran Allah, hatinya tetap tak dapat ditipu dan akan terus membisikkan Dia ada. Konon ada cerita tentang pemimpin komunis yang ketika mendekati ajal, tiba-tiba dengan gentar mengatakan bahwa ia harus menghadap Tuhan. Pa­dahal seumur hidup ia tak pernah memikirkanNya. Saat itu ia harus berhadapan dengan momen eksistensial. Ia mulai sadar bahwa realita tak mungkin dipungkiri. Alkitab mengatakan suatu saat semua orang harus bertekuk lutut dan tundukkan kepala lalu mengaku bahwa Yesus Kristus ialah Tuhan, entah dengan ucapan syukur atau ketakutan.

Dalam Rm 3 bagian awal, Paulus berargumen tentang mereka yang percaya pada tuhan tapi bukan Tuhan Yesus. Allah yang dipercaya masih belum jelas. Ia mengatakan bahwa percaya kepadaNya belum tentu tak berdosa karena essensi dosa tak tergantung pada kepercayaan. Banyak orang berpikir kepercayaan menyelesaikan dosa. Orang Reformed juga seringkali beranggapan bahwa yang penting ialah percaya kepadaNya sehingga dosa takkan mengganggu jaminan masuk ke Surga. Padahal cara berpikir semacam itu malah membawanya ke Neraka. Dalam Rm 6:23 Paulus mengatakan upah dosa ialah maut. Maka fakta dosa harus dimengerti dengan tepat oleh tiap orang termasuk yang beragama. Realita tersebut tak boleh diabaikan karena memang tak dapat dilepaskan dari hidup di dunia.

Konsep beragama dan iman sejati sangat berbeda. Ada orang dengan sesuka hati memilih agama yang menguntungkan dan dapat memenuhi keinginan pribadi. Ini teori bisnis. Kalau selama mengikut tuhan yang dipilih, dirasa tak mendapat banyak berkat atau malah merugikan maka ia segera cari penggantinya. Sebenarnya yang dicari ialah pembantu supranatural. Seharusnya Tuhanlah yang berdaulat memerintah dan mengatur manusia. Sebagai ciptaan, ia harus taat dan menjalankan kehendakNya. Adapula yang mempunyai konsep tuhan mudah disogok dan diajak dealing. Misalnya, ketika diberi ayam putih seharga Rp 50.000,-, ia langsung memberi berkat sebesar Rp 100.000,-.

Di dunia, banyak konsep agama tak sejati karena menjadi refleksi atau cerminan keinginan manusia. Inilah pemikiran Ludwig Feuerbach, filsuf Jerman yang sangat sinis terhadap semua agama termasuk Kekristenan padahal backgroundnya juga Kristen karena ia anak Pendeta namun akhirnya jadi Atheis. Sebelumnya, ia berbeban dan dipanggilNya untuk menjadi Pendeta. Ia masuk ke sekolah Teologi liberal. Tapi karena salah sekolah, imannya rusak. Ia berpendapat bahwa Tuhan yang ada di dunia merupakan ciptaan manusia menurut gambar dan rupanya sendiri. Jadi, bukan manusia diciptakanNya oleh Allah menurut gambar dan rupaNya. Maka tak ada guna percaya kepadaNya. Orang dunia pada hakekatnya seringkali berkonsep demikian. Ada anak remaja berpendapat Ia kejam karena di Perjanjian Lama dikisahkan sekian banyak orang, baik pria, wanita dan anak-anak yang melawanNya langsung dibunuh. Allah seharusnya penuh cinta kasih dan tak boleh marah. Selain itu, Ia semestinya tua dan bijaksana, memiliki rambut serta janggut panjang dan putih.

Di dunia telah muncul keterbalikan konsep agama. Maka Paulus berpendapat bahwa semakin manusia taat beragama, ia makin berdosa karena menciptakan tuhannya sendiri dan menolak Tuhan sejati. Kesimpulannya tercatat di Rm 3:23. Ironisnya, di jaman sekarang banyak orang merasa diri baik. Seharusnya mereka menyadari diri berdosa hingga tak ada jalan keluar selain berhadapan dengan murka Allah. Tak ada usaha yang dapat dilakukan untuk kembali ke jalurNya. Berita tersebut tak disukai karena membuat tertekan dan tegang. Maka dunia lebih suka narkoba. Dengan demikian, mereka dapat melupakan kesulitan hidup. Tapi hanya sementara. Kalau overdosis maka langsung pergi ke Neraka.

Iman Kristen mengabarkan bahwa Tuhan membuka jalan, “oleh kasih karunia (anugerah Allah) telah dibenarkan (memperoleh keselamatan) dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” (Rm 3:24) Paulus berani menulis kalimat tersebut berdasarkan pengalaman hidupnya. Di Yoh 3:16 dicatat, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Hutang tak mungkin mendadak lunas kecuali orang lain bersedia menggantinya. Ketika hutang makin besar tapi ia semakin bangkrut maka tak mungkin mampu melunasinya. Demikian pula dengan dosa. Namun tak seorangpun rela berkorban menanggung beban orang lain kecuali ia sangat mencintainya. Apalagi hutang nyawa. PenebusanNya sangat tuntas dan merupakan pembayaran termahal bagi jemaatNya meskipun sesungguhnya tak ada tuntutan dan keharusan untuk itu. Seharusnya, Ia menghukum seluruh umat manusia.

Alkitab menyatakan bahwa Allah menghendaki manusia bertobat dengan sungguh dan Ia dikembalikan pada posisi yang seharusnya dalam hatinya. Inilah yang menjamin ketika selesai dengan perjalanan sejarah, umatNya takkan dibuang melainkan kembali bersama Dia. Maka kebahagiaan sejati yaitu ketika hidup dalam pimpinanNya. Ia senantiasa memelihara umatNya sehingga tak terus menerus terjebak dosa. Itulah kehidupan terindah. Tapi orang yang hidup menurut keinginan sendiri, setelah selesai pun Ia melepaskannya karena tak pernah bersekutu denganNya. Tuhan yang mengasihi juga adil. Ia menyediakan Surga sekaligus Neraka. Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhot­bah)