![]() |
Ringkasan Khotbah : 26 Mei 2002 The True Peace Nats: : Yohanes 14:27 Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno |
Selain menjanjikan Roh Kudus, Tuhan memberi janji lain yang juga sangat exclusive, “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahteraKu Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” (Yoh 14:27) Situasi yang sulit dan kritis memang wajar kalau membuat para murid takut, kuatir dan panik. Sepanjang surat Yohanes sebelum ayat tersebut, Ia belum pernah membicarakan damai sejahtera yang bermakna sangat mendalam karena memang diberikan khusus bagi muridNya.
Ada perbedaan kualitatif antara peace yang dari Tuhan dan dunia. Damai sejahtera yang dibicarakan oleh dunia tak berisi. Sedangkan yang daripadaNya merupakan buah Roh sebagai tanda keunikan para muridNya. Damai tersebut diberikan agar mereka yang telah dihidupkan dalam Roh atau menikmati penebusan Kristus tetap menjalankan kehendakNya dengan sungguh. Lebih jelasnya, qualitative differences tersebut akan dijabarkan sebagai berikut:
Pertama, damai sejahtera Kristus itu riil/sejati karena tak tergantung pada segala situasi. Yoh 14:27 menunjukkan bahwa realita tak berubah. Damai sejahteraNya juga tak meniadakan realita. Para murid tetap dalam bahaya sedangkan Tuhan akan dianiaya dan disalibkan.
Orang Kristen seringkali menginginkan damai yang dari dunia melalui perubahan situasi. Maka ia takkan merasa damai dalam keadaan ketakutan dan terancam atau di tengah penganiayaan. Itulah damai versi sekuler. Damai yang dari luar hanya virtual atau palsu. Damai semacam itu merupakan akibat perubahan di luar diri. Ketika ancaman tak ada, ia baru merasa damai. Sebenarnya itu hanyalah suatu kebetulan tak ada ancaman. Kalau ancaman kembali datang, ia merasa tak damai lagi. Jadi, lingkungan membuatnya damai atau tidak.
Damai sejahtera sejati seharusnya memampukan tiap anak Tuhan untuk keluar dari segala situasi sehingga tak mudah dipermainkan oleh kondisi yang makin bergolak sekalipun. Damai tersebut sanggup melampaui semua itu karena tergantung pada Allah sebagai Sumber kekuatan.
Seorang pelukis hendak menggambarkan damai sejahtera sejati. Ia melukis seekor merpati putih yang dengan tenang hinggap di batu karang besar di tengah laut bergelombang hebat. Burung tersebut merasa tak perlu takut karena batu karang itu cukup memberi rasa aman.
Damai sejahtera orang Kristen dimungkinkan mempunyai stabilitas karena adanya the real peace. Kekuatannya bersama pimpinan Allah yang hidup menjadikannya tak mudah diganggu ketika melangkah, berjuang dan menerobos di tengah dunia. Sedangkan orang dunia pasti terbawa ketika lingkungan sekitarnya kacau karena damai sejahtera tergantung pada perasaan hati.
Kedua, the inner peace yaitu damai sejahtera yang muncul dari dalam diri sendiri. Tapi beda dengan damai yang keluar dari hati secara duniawi. Ketika hendak melakukan kehendakNya, timbullah damai sejahtera Allah yang akan menyertai dan memenuhi hati. Ketika harus berhadapan dengan kesulitan dan tantangan dalam mengerjakan tugas pelayananNya, damai sejahtera sejati segera meluap keluar. Inilah perbedaan antara anak Tuhan sejati dengan orang dunia yang egois.
Ketika memberitakan Injil, Paulus dipukul, disesah lalu dipenjarakan. Kebanyakan orang menduga ia akan marah terhadap Tuhan. Tapi ia justru menyanyi, memuji dan bersyukur kepada Allah. Akhirnya, semua sendi penjara terbuka. Dan kepala penjara langsung bertobat. Damai sejahtera sejati membuatnya memiliki sikap, cara pandang dan berurusan dengan dunia yang sangat berbeda.
Doa Tuhan di Yoh 17 juga sangat exclusive, “Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepadaKu, sebab mereka adalah milikMu.” (ayat 9) Lalu dikembangkan lagi di ayat 20, “Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepadaKu oleh pemberitaan mereka.” Selain itu, Ia juga berdoa, “Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka daripada yang jahat. Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firmanMu adalah kebenaran. Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia.” (ayat 15-18)
Ketika Tuhan disalibkan bukan karena berdosa melainkan difitnah dan diperlakukan sangat tak adil, orang banyak malah mengejek, “Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diriNya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah.” (Luk 23:35) Kalimat tersebut menyakitkan. Tapi damai sejahteraNya justru melimpah keluar dengan berkata, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Luk 23:34)
Damai sejahtera yang melimpah keluar dari hati justru membuat orang percaya berani melangkah dalam kebenaran Tuhan meskipun mendapat serangan dari luar. Sebaliknya, dunia berusaha memberikan kondusif atmosfer. Semua diorientasikan pada kepentingan manusia. Maka mereka akan merasa tak damai jikalau dirugikan. Tapi ketika merugikan atau menjatuhkan orang lain, mereka merasa damai sejahtera karena mendapat keuntungan.
Ironisnya, banyak orang Kristen juga memakai istilah damai sejahtera dari dunia yaitu ketika keinginannya tercapai atau kebutuhannya terpenuhi. Mereka baru merasa damai kalau memiliki persekutuan yang indah atau mendapat dukungan dari banyak teman. Ketika berdosa lalu ditegur, mereka marah karena tak damai lagi.
Dunia saat ini berada dalam 2 tegangan besar. Di satu pihak, sepertinya mengglobal dalam relativitas relasi. Dulu, seseorang yang perlu bicara dengan orang lain harus pergi menemuinya karena tak ada sarana komunikasi. Sejak telpon diciptakan, komunikasi jadi lebih mudah tapi tak bisa melihat mimik wajah lawan bicara. Sekarang, internet membuat relasi makin luas hingga menjangkau seluruh dunia. Tapi relasi tersebut hanyalah virtual (maya) reality. Sepertinya kenal namun sesungguhnya tidak karena belum pernah bertemu. Yang diajak bicara sebenarnya ialah layar komputer. Istilah virtual reality bersifat paradoks karena realita itu riil bukan semu. Hal tersebut makin tak disadari. Akibatnya, dunia makin individual dimana tiap orang lebih suka menyendiri di depan komputer dan tak lagi mau peduli pada orang lain. Tanpa komputer, ia merasa kehilangan relasi. Akhirnya, di tengah tekanan atau depresi berat ia tak tahan lalu lari ke tindakan ekstasi seperti narkoba. Sesungguhnya, tak perlu menuntut orang lain untuk memberikan damai sejahtera.
Ketiga, the divine peace yaitu damai sejahtera ilahi dari Roh Kudus. Damai sejahtera merupakan atribusi Allah. Maka tak mungkin terjadi konflik. Damai tersebut menyatu integral dengan semua sifat ilahi lainnya seperti kebenaran, keadilan, kesalehan, kesucian, keagungan dsb.
Damai dunia terkait dengan ego dan direkayasa oleh manusia. Maka damai yang muncul dari dunia sekuler itu tak sesuai atribut dan citra ilahi sejati. Di dunia, orang cenderung mencari damai palsu dan immoral yang merusak serta meracuni pikiran dan saraf. Misalnya, perokok takkan merasa damai tanpa rokok. Akibatnya, semakin mengejar damai, dunia makin berdosa dan liar. Semakin rusak, mereka juga makin tak damai. Maka kerusakan yang terjadi semakin parah. Demikian seterusnya hingga mereka mati. Seharusnya mereka kembali kepada Tuhan agar diberi the divine peace. Ketika memperoleh kesempatan tersebut, jangan biarkan lolos. Kalau tidak, betapa ruginya karena mereka akan terus hidup dalam kegalauan dan takkan pernah tenang selamanya.
Tuhan menghendaki tiap anakNya memiliki nuansa Surga di tengah dunia. Maka Ia memberi banyak perlengkapan. Situasi yang dialami oleh orang percaya memang tak beda dengan dunia. Mungkin juga menikmati damai yang sama. Asalkan bersedia kembali bertobat, tunduk, mengaku dosa, minta dibasuh dengan darahNya, tinggal dalam Dia dan seumur hidup menjalankan kehendakNya maka the true peace akan berada bersama setiap anakNya. Amin.?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)