![]() |
Ringkasan Khotbah : 12 Mei 2002 Immanuel Nats: : Yohanes 14:18-20 Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno |
Ketika Tuhan memberitahukan kepergianNya, semua murid merasa ketakutan karena posisi mereka sangat critical (kritis). Seperti anak yang hendak ditinggal oleh orangtuanya. Dalam kehidupan pelayanan bersamaNya selama 3,5 tahun, keadaan secara fenomena manusia bukan semakin nyaman melainkan tegang walaupun merupakan wadah rohani terindah. Padahal pertama kali mengikutiNya, mereka melihat sepertinya semua baik dan indah.
Tapi makin Tuhan berbuat kebaikan, mengadakan mukjizat, mengajar, menegur kehidupan dosa serta mengajak bertobat, orang Farisi dan ahli Taurat semakin benci dan marah. Puncaknya yaitu ketika Ia membangkitkan Lazarus. Mereka langsung menyatakan perang dan Ia harus mati. Semua tercatat di Yoh 1 – 11.
Para murid mulai bertanya-tanya siapa yang akan menang jikalau Tuhan harus berperang melawan ahli Taurat dan orang Farisi serta pemerintah Romawi. Tapi kenyataan justru terbalik dan mereka harus berhadapan dengan kekuatan besar.
Di tengah situasi seperti itu, Tuhan hendak memberi comfort (penghiburan) dan kekuatan untuk menyadari bahwa realita tak sesederhana yang mereka lihat. Terkadang manusia berpikir hanya dalam keterbatasan otaknya serta yang dunia bicarakan dan ajarkan. Inilah kefatalan dalam iman Kristen dan kegagalan menerobos beyond (melampaui) realita dunia.
Kekristenan tak diajar untuk terkunci pada segala yang terjadi di sekeliling. Secara manusia memang wajar tapi kondisi tersebut tak sesuai kehendak Tuhan. Ia ingin umatNya menerobos keluar sehingga tak terjebak fenomena empiris sebatas panca indera dan logika. Maka dalam Yoh 14:18-20 terdapat beberapa hal dapat dipelajari:
Pertama, Tuhan mengajak umatNya kembali mengingat akan Imanuel (Allah menyertai kita). Sesungguhnya, 600 tahun sebelum Ia datang ke dunia, Yesaya telah mendapat nubuat bahwa kelak akan lahir Sang Juruselamat yaitu Imanuel. Malaikat juga memberitahukannya pada Yusuf (Mat 1:20-24).
Banyak orang Kristen mengerti “Allah menyertai kita” dalam konteks seperti Tuhan beserta para murid tiap hari muka dengan muka, makan, memberitakan Injil dsb bersama. Meskipun harus pergi, dalam Yoh 14:18 Ia berjanji, “Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu.” Dengan demikian, prinsip God of Immanuel tak berhenti pada indera penglihatan, fenomena dan materi. Ia pasti menjaga umatNya selamanya dalam seluruh keberadaan secara materi maupun spiritual. Inilah prospek yang dinyatakanNya dengan 2 terobosan langsung atau pandangan ke depan:
(1)”Aku datang kembali kepadamu.” (Yoh 14:18) KepergianNya akan membawa kembali penyertaan hidup yang takkan pernah dilepas. Itulah pertama kali kebangkitanNya diberitakan sebelum Ia sungguh bangkit. Setelah kebangkitanNya, dalam ruang tertutup Ia datang dan berkata, “Damai sejahtera bagi kamu!” (Yoh 20:19) Dengan demikian, kebangkitanNya merupakan bukti penyertaan pertama.
(2)Setelah itu, Ia harus naik ke Surga. Sebelumnya, Ia menyuruh para murid menunggu di Yerusalem karena Roh Kudus akan turun ke atas mereka dan memberi kuasa untuk bersaksi hingga ke Yudea, Samaria dan ujung bumi (Kis 1:4-5, 8). Banyak orang beranggapan bahwa yang dimaksud “kuasa” ialah otoritas. Padahal sesungguhnya yaitu kekuatan penginjilan yang mampu mengalahkan Setan. Dalam berita terakhirNya, Ia memberi amanat agung yang tercatat di Mat 28:19-20.
Di jaman sekarang, orang Kristen juga menghadapi tantangan dan menjalani kehidupan iman yang sama. Ketika situasi aman dan segala terjamin, kebanyakan orang takkan berpikir tentang yatim piatu. Tapi ketika encounter moment tiba, orang dunia tak tahu pada siapa ia bersandar paling kokoh. Seperti anak yang hidup nyaman tanpa tantangan, takkan berpikir membutuhkan orangtua. Tapi ketika ancaman, kesulitan dan penderitaan terjadi, ia mulai bingung mencari pertolongan mereka. Jikalau tak mendapat jawaban maka saat itu jadi sangat mencekam dan ia mulai frightened (takut), dan lonely karena merasa tak ada yang memelihara, melindungi serta memperhatikan. Demikian pula bayi akan trauma jika tak ada orang yang mendekatinya. Setelah itu, ia jadi acuh tak acuh dan tak takut apapun bahkan siapapun. Selanjutnya, ia tumbuh jadi pemberontak. Di Eropa, orangtua sangat membanggakan anak yang supermandiri. Padahal sikap tersebut merupakan bukti ia trauma hingga tak mau berelasi. Itulah orang humanis murni. Ia beranggapan tak seorang pun dapat diharapkan dan diandalkan. Maka ia berjuang keras sendirian karena menganggap diri sangat tough. Ketika putus asa, yang dipikirkannya hanya bunuh diri. Tak heran banyak anak remaja yang suicide.
Kondisi nyaman juga dapat membuat manusia merasa tak butuh Tuhan. Tapi ketika berada dalam kondisi terjepit dan sangat susah, ia baru memanggil Tuhan. Jikalau tak ada jawaban maka that’s the most terrible condition (kondisi paling menakutkan) sepanjang hidup. Namun Ia tak seperti itu. Ia tak pernah mengecewakan. Sebenarnya, kehidupan paling nyaman bukan ketika dapat berbuat dan mengatur apapun sekehendak hati. Sebaliknya, hidup semacam itu paling susah karena tak tahu rencananya akan berjalan atau tidak. Hidup nyaman justru ketika tunduk perintahNya karena Ia janji akan memimpin sekaligus memberi jaminan kepastian. Tindakan tersebut bukan sekedar kerelaan hati melainkan atribusi dan statusNya. Kesulitan, penderitaan dan pergumulan terkurangi dengan kembali bersandar kepadaNya.
Kedua, dalam Yoh 14:19 dengan 2 perbandingan, Tuhan mengatakan, “Tinggal sesaat lagi dan dunia tidak akan melihat Aku lagi.” Hingga saat itu, para murid masih hidup di realita pertama sehingga hanya dapat melihat di wilayah material. Padahal ada realita kedua, “tetapi kamu melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamupun akan hidup.” Ayat tersebut merupakan kekuatan sekaligus evaluasi tiap orang percaya.
Hingga di bagian tertentu, perspektif Kristen dan dunia mungkin sama tapi di bagian lain beda total. Hidup melampaui materi. Mati berarti unsur hidup berhenti lalu diproses terbalik. Semua yang di alam semesta pasti berproses. Mahluk hidup mengalami pembaharuan sedangkan benda mati proses pengrusakan pelan tapi pasti. Berarti, tiap benda mati tak statis melainkan pasif. Tapi mahluk hidup takkan membiarkan diri rusak melainkan terus berubah dan bertumbuh. Sel rusak akan langsung diganti yang baru. Kalau tak demikian, berarti sudah dekat kematian.
Alkitab mengatakan bahwa realita hidup terpecah menjadi 2: (1)realita dalam kematian, (2)realita dalam kehidupan. Keduanya tak dapat diperspektifkan sama. Perspektif realita kematian berhenti hanya pada aspek materi dan terkunci di wilayah dunia. Padahal dalam hidup, manusia dapat memikirkan sesuatu yang tak di depan mata tapi riil. Contoh, suami yang berada jauh dari rumah selama beberapa minggu, dapat merasa kangen pada istri dan anaknya karena hidup mereka berelasi personal. Relasi tersebut melampaui ruang, waktu dan batasan indera manusia. Kalau tak demikian, berarti orang tersebut sebenarnya sudah mati walaupun masih hidup.
Alkitab mengajarkan untuk memandang secara iman. Sebenarnya Tuhan sanggup terus menyertai para murid di dunia karena kematian tak dapat merenggutNya. Ia mampu memberitakan Injil dari Yudea, Samaria hingga ke ujung bumi selama bertahun-tahun sampai saat ini sekalipun. Tapi Ia malah pergi karena tak mau mereka terikat olehNya dengan batasan inderawi. Suatu saat semua orang percaya akan berelasi denganNya bukan sebatas materi melainkan relasi yang bersifat hidup.
Orang Kristen yang sadar bahwa dirinya ialah mahluk hidup, takkan mau dikunci oleh dunia materi. Apalagi dalam Yoh 14:19 dikatakan bahwa tiap orang yang sudah dalam Tuhan secara rohani akan tetap hidup agar dapat berelasi dengan Kristus secara personal. Itulah jaminan iman Kristen.
Banyak agama merelasikan Allah dan manusia sebatas hukum dan aturan. Kierkegaard menekankan relasi tersebut dalam ajaran eksistensialisme. Nietzsche juga seorang eksistensial sejati tapi aspek rohaninya sangat berbeda dengan Kirkegaard yang berpikiran bagaimana ia secara pribadi berhadapan dengan Allah sendiri sehingga terjadi personal encounter (pertemuan pribadi) antara keduanya yang hidup.
Kehidupan Gereja tak boleh lepas dari unsur hidup. Pelayanannya juga bukan sekedar activity melainkan hubungan denganNya. Jadi, orang Kristen melayani bukan karena kesediaannya melainkan Tuhan memintanya sehingga ia harus merelakan diri mengerjakannya dengan sungguh. Keinginannya belum tentu sama dengan kehendakNya. Itulah konflik kepentingan yang perlu selalu digumulkan. Ia hendaknya mengerti isi hati Allah dan menjalankannya. Inilah hubungan pribadi dan hidup dalam persekutuan denganNya.
Ketiga, “Pada waktu itulah (saat kebangkitan Kristus) kamu akan tahu, bahwa Aku di dalam BapaKu dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.” (Yoh 14:20) Dengan demikian Kristus jadi mediator sehingga hubungan Allah dan manusia tak lagi jauh. Inilah mistical union yang pertama kali diungkap dalam exclusive teaching of Christ. Dengan semua orang, Ia berhubungan secara dunia. Tapi hanya dengan umat pilihanNya, Ia bersekutu secara essensial dan sangat dekat. Istilah mistical union (kesatuan mistik) tak boleh dimengerti secara duniawi. Dalam pengertian Theology, istilah tersebut berarti hubungan supranatural unik antara Allah kekal dalam rupa Roh dengan manusia yang sementara karena terdiri dari tubuh dan roh.
Dalam konsep agama, yang terjadi malah penyamaan natur. Contohnya, New Age berpendapat bahwa manusia sebenarnya ialah allah. Tubuh yang terlihat hanyalah semu. Aslinya, tiap orang merupakan bagian universal power/mind. Dengan kondisi demikian barulah manusia dan Allah dapat bersekutu. Konsep tersebut logis tapi salah karena terjadi pengrusakan natur dan penyelewengan yang membuat manusia tak kenal diri sendiri.
Kunci pengertian tersebut tak boleh lepas dari konsep Imago Dei yaitu manusia dicipta menurut gambar dan rupa Allah (Kej 1:27). Dalam Rm 8:29 baru dijelaskan bahwa manusia dicipta serupa gambaran AnakNya. Maka Kristus jadi pattern (model) manusia meskipun beda kualitas. Lalu kemungkinan persekutuan Kristus dan umatNya dikatakan, “menjadi yang sulung di antara banyak saudara.”
Relasi tersebut berimplikasi bahwa iman Kristen tak mengapung di atas realita dunia. Maka orang Kristen bersatu dengan Kristus bukan hanya ketika merenung, meditasi, kebaktian atau berada dalam nuansa rohani di Gereja. Konsep Kristen sejati tak membatasi seperti itu. Total life orang Kristen sesungguhnya ialah hubungannya dengan Tuhan. Amin. ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)