Ringkasan Khotbah : 5 Mei 2002

Kuasa Penebusan Allah terhadap Kehidupan Manusia

Nats: : Mazmur 90

Pengkhotbah : Ev. Solomon Yo

 

Mazmur 90 merupakan doa Musa (ay. 1a), yang ditulisnya ketika ia sudah tua dan menyaksikan kefanaan hidup manusia. Allah telah memakai dia memimpin umat Israel keluar dari perbudakan Mesir dengan maksud membawa mereka masuk ke tanah Kanaan. Tapi harapan tersebut pupus oleh pemberontakan yang terus mereka lakukan sehingga mengakibatkan murka Allah atas diri mereka. Sebagai hukumannya mereka tidak diizinkan masuk ke Kanaan, dan keturunan merekalah yang mewarisi  tanah perjanjian itu. Maka selama empat puluh tahun Musa menyaksikan ratusan ribu orang Israel yang bersamanya keluar dari Mesir hanya berkeliling di padang gurun, sampai mati semuanya. Sebagai bapa rohani yang begitu mengasihi bangsanya ini, namun sekarang harus menyaksikan mereka menjalani kehidupan yang terhukum: di bawah bayang-bayang kesulitan, penderitaan dan kesia-siaan, hal ini sangat menyedihkan hatinya. Adakah pertolongan dan harapan bagi hidup manusia? Inilah yang mendorong dia menghampiri Allah dalam doa: “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” (Mzm 90:12) Seperti apakah memiliki hati bijaksana dalam menjalani kehidupan ini? Hati yang berbijaksana setidaknya memiliki tiga hal yang akan saya sharingkan ini:

 I.  Menghadapi realitas kehidupan secara realistis dan bukannya menghindarinya karena itu sulit

Tuhan mencipta manusia untuk memuliakan Dia, dan bersama itu mereka akan berbahagia. Maka wajar jika setiap orang memiliki dorongan untuk mendapatkan kebahagiaan. Tapi kenyataannya berapa banyak orang yang sungguh-sungguh berbahagia? Kehidupan dalam dunia ini, ada begitu banyak masalah (berskala internasional, nasional atau pribadi): kesukaran, bencana, penyakit, ketidakadilan, kekerasan, kejahatan dan kematian. Dapatkah kita menutup mata dan berpura-pura bahwa semua masalah ini tidak pernah ada dan menyetujui bahwa satu-satunya tujuan hidup manusia ialah untuk bersenang-senang? Mungkin orang yang memiliki hidup yang lancar akan berpikir begitu. Tetapi kita yang sadar bahwa ada begitu banyak orang yang menghadapi masalah yang menggoncangkan jiwa mereka, seperti: kesehatan yang terancam, anak yang cacat atau bermasalah, kesulitan ekonomi, hubungan keluarga yang rusak, menghadapi teror orang jahat, bencana dan kematian, maka kita mau tidak mau harus mengakui bahwa ada yang tidak beres dengan dunia ini, dan ini harus membawa kita datang kepada Allah untuk mendapatkan jawaban yang tuntas atas pertanyaan hidup ini.

Dalam fabel Watership Down, dikisahkan suatu koloni kelinci liar yang dicabut dari habitatnya dan ditempatkan bersama sekelompok kelinci peliharaan yang besar, cantik dan bersih. Bagaimana kamu dapat hidup demikian enak? Tanya kelinci liar itu, tidakkah kamu mengusahakan makananmu? Kelinci peliharaan menjelaskan bahwa makan disediakan bagi mereka. Hidup ini nyaman dan indah. Namun setelah beberapa hari, kelinci liar memperhatikan kelinci-kelinci yang gemuk menghilang satu persatu. O, itu memang kadang-kadang terjadi, jelas kelinci peliharaan. Tetapi jangan biarkan itu mengganggu hidupmu. Ada banyak hal menyenangkan untuk dinikmati. Kelinci liar itu menemukan di tempat itu ada banyak bahaya yang mengancam nyawa mereka. Tetapi kelinci peliharaan demi menikmati hidup yang menyenangkan telah menutup mata dari kenyataan bahaya kematian yang mengancam mereka. Fabel ini mau menyampaikan ajaran moral. Seperti kelinci gemuk itu kita mau mempercayai bahwa satu-satunya tujuan hidup di dunia ini adalah kesenangan dan kenyamanan. Dan banyak orang yang mempercayainya. Tetapi ada banyaknya penderitaan dan ketidakadilan membuat gaya hidup demikian harus dipertanyakan. Orang bukannya tak tahu dunia ini abnormal, mereka juga memikirkannya, tetapi karena sulit mendapatkan makna kehidupan ini, maka mereka pun menyerah, dan mengabaikannya. Hidup ini sudah sulit, masih ditambah dengan berpikir hal-hal yang sulit, menyusahkan diri saja. Lebih baik lupkan saja dan carilah hiburan dan nikmatilah hidup selagi masih bisa, karena nanti kita akan mati. Demikianlah orang-orang zaman sekarang mengabaikan kebenaran hanya mencari kesenangan.

Blaise Pascal berusaha menyadarkan orang-orang dari kebodohan ini. Ia mengatakan bahwa kita semua tahu suatu hari kita akan mati, kita tidak dapat menghindari ini. Namun kita tidak tahu kemana ia akan pergi, apakah ia akan lenyap selamanya atau jatuh ke tangan murka Allah  yang akan menghukum dosa kita. Keadaan ini harus membuat kita berusaha menemukan jawaban nasib kekal kita itu. tidak ada hal yang lebih penting dari ini, tetapi apakah kita lakukan. Kita menghabiskan waktu kita untuk mengerjakan hal-hal yang remeh, atau bahkan yang penting, tetapi hal yang paling penting bagi keberadaan kekal kita ini, kita abaikan. Bukankah ini merupakan suatu ketertiduran rohani yang mengerikan sekali. Tuhan mengizinkan berbagai kesulitan dalam kehidupan ini untuk menyadarkan dunia yang tuli supaya mereka tergugah dan boleh menengadah hati mereka ke atas dan menemukan Allah, satu-satunya yang dapat menyelamatkan mereka. Orang Kristen perlu waspada supaya tak jatuh ke dalam sikap hidup hedonisme dan pragmatisme sehingga kita terobsesi hanya mencari kesenangan untuk memuaskan hati yang kering dan bukannya mencari kebenaran yang akan memberikan kemerdekaan sejati kepada kita.

 II.  Berusaha menemukan jawaban yang sungguh-sungguh dapat mengatasi per­masalahan hidup ki­ta ini walaupun itu sulit dan pahit, dan bukannya melarikan diri ke dalam khayalan

Kebenaran seringkali menyakitkan. Tetapi jika hanya itu yang dapat menyembuhkan kita maka mau tidak mau kita harus menerimanya walaupun itu menyakitkan dan harus membayar harga yang mahal. Jika kita sadar akan nilai keberadaan kita dan keseriusan masalah yang kita hadapi, maka biarlah kita berusaha menemukan jawaban kita dalam kebenaran dan bukannya dalam dongeng-dongeng yang menyesatkan. Kita adalah makhluk yang kekal, karena itu kita membutuhkan pertolongan dari Allah sejati yang kekal. Dan jika kita datang kepada Allah sejati, biarlah kita mengakui otoritas Dia untuk berfirman kepada kita, dan bukannya mengatur apa yang mau kita dengar. Dan karena harapan pertolongan hanya datang dari Allah, maka walaupun Ia berbicara dengan keras kepada kita, kita tetap harus mendengarkan Dia. Apalagi kita mengerti bahwa Allah yang baik tidak bermaksud menghempaskan kita dalam keputusasaan, melainkan untuk menyembuhkan kita. Bahkan sekalipun Ia menghukum, itu bukan untuk membinasakan, melainkan untuk menyucikan dan menyelamatkan kita.

Biarlah dengan sikap batin yang benar ini kita mendengarkan apa yang mau dikatakan Allah kepada kita mengenai kehidupan di planet bumi ini:

(1) kehidupan ini ketika diciptakan oleh Allah, baik adanya; kejahatan adalah diakibatkan oleh dosa dan bukan kesalahan Allah. Jika kita masih da­pat menjalani kehidupan dan menikmati banyak kebaikan di dalam dunia ini, itu adalah anugerahNya kepada kita yang berdosa.

(2) Permasalahan kehidupan yang begitu banyak ini mau meng­ingatkan bahwa kita sedang hidup di bawah bayang-bayang murka Allah. Inilah masalah serius yang harus kita selesaikan.

(3) Karena kehidupan abnormal ini adalah akibat kesalahan manusia dan bukan maksud Allah, berarti kehidupan ini dapat ditebus. Orang Kristen patut bersyukur bahwa Allah telah menjanjikan untuk melakukan penciptaan kembali dunia ciptaanNya ini. Seluruh ciptaan menantikan hari itu.

(4) Kehidupan ini harus kita jalani dengan segala masalahnya. Tidak ada janji Allah bahwa semua masalah akan disingkirkan, sekali umatNya, tidak akan terkecuali. Namun Ia memberikan kuasa penebusan sehingga kita dapat memiliki hidup yang berkemenangan di tengah-tengah dunia ini.

Dengan pengertian demikian, Musa datang kepada Allah dalam doa, 14Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setiaMu, supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita semasa hidup kami. 15Buatlah kami bersukacita seimbang dengan hari-hari Engkau menindas kami, seimbang dengan tahun-tahun kami mengalami celaka.” (90:14-15). Dari Tuhanlah ia mengharapkan kuasa penebusan bukan menurut cara dan maunya sendiri, tetapi menurut hikmat dan kedaulatan Allah. Orang Kristen sejati takkan memaksa Allah mengerjakan semua permohonannya melainkan mengakui Allah memiliki hak penuh untuk memperlakukan dia menurut apa yang baik dalam pandanganNya.                

III.  Mengalami kuasa penebusan Allah dalam kehidupan kita

Hikmat sejati tidak berhenti di otak hanya sebagai pengetahuan untuk menjadi bahan diskusi, tetapi berakar di hati. Tujuan mendapatkan pengetahuan iman sejati ialah untuk kita hayati, kita hidupi, kita  integrasikan dalam kehidupan kita sehingga kebenaran itu memerdekakan kita. Ciri-ciri kehidupan Kristen yang mengalami penebusan Allah akan ditandai dengan kemerdekaan Kristen berikut ini:

(1) Kuasa penebusan Kristus memerdekakan kita dari jerat dosa dan melepaskan kita dari murka Allah. Inilah kebutuhan kita yang terutama karena tanpa kelepasan dari kutuk, ia takkan pernah memiliki kebahagiaan dan damai sejahtera sejati. Seseorang non-Kristen pernah mengungkapkan bahwa apa yang iri dari orang Kristen ialah karena mereka memiliki satu Pribadi yang mengampuni mereka, sedangkan ia tidak memiliki satu pun yang dapat mengampuni dia. Biarlah kita yang telah mendapatkan kesempatan untuk mendengarkan injil keselamatan, bahkan yang berbagian dalam pelayanan gerejawi, betul-betul mengalami kuasa pembaharuan Allah yang menjadikannya kita anak-anak Allah yang sejati.

(2) Kuasa penebusan Allah merubah hidup yang terjerat oleh kefanaan dan kesia-siaan menjadi hidup yang bermakna dan bernilai kekal. Biarlah kuasa penebusan Allah melepaskan kita dari banyak kebodohan dan tipu daya dunia yang akan menghanyutkan kita dalam kehidupan yang hanya berbuahkan penyesalan. Biarlah kemerdekaan Kristen mengarahkan pandangan kita ke Sorga. Tetapi kemerdekaan dari jerat dunia tidak menjadikan kita bersikap negatif terhadap ciptaan Allah. Kebalikan dari diperbudak oleh dunia ialah dimampukan untuk menjadi tuan yang bijaksana atas segala karunia Tuhan. Orang yang duniawi berpikir dengan meninggalkan Tuhan ia dapat menikmati hidup, tetapi sebaliknyalah benar, hanya dengan mengutamakan Tuhan kita baru betul-betul menikmati setiap karunia dalam dunia ini.

(3) Kuasa penebusan Allah memampukan kita untuk menghadapi setiap situasi hidup kita yang tidak menentu ini dengan berkemenangan, dan bukannya menjadi korban situasi dan lingkungan yang seringkali sangat kejam. Dengan bersandar kepada Tuhan yang memberi kekuatan kepada kita, kita dapat menghadapi apa saja yang menghadang kita (Flp 4:13): tidak dihanyutkan oleh kelimpahan dan tidak dihempaskan oleh kesulitan; dan dapat bersyukur kepada Allah atas segala sesuatu, dan tahu bahwa segala sesuatu yang terjadi hanya akan mendatangkan kebaikan bagi kita (Rm 8:28)

(4) Kuasa penebusan Allah merubah kehidupan kita dari kehidupan yang rusak menjadi kehidupan yang penuh kasih karunia dan kebenaran (Yoh 1:17). Gabungan kedua hal ini dalam diri kita akan menghasilkan kehidupan terindah. Inilah teladan Tuhan Yesus. Biarlah orang lain melihat dapat keindahan Kristus yang hidup dalam diri kita: suatu kehidupan yang menarik sebagai alternatif bagi dunia yang kecut, membusuk dan kejam.

Dalam kehidupan Gereja, mungkin sekali terjadi bahwa kita saling melukai dan berlaku sangat kejam satu sama lain. Biarlah kita tidak menjadi orang Kristen yang kaku, keras dan tanpa belas kasihan; juga tidak menjadi orang Kristen mengabaikan kebenaran dan membolehkan apa saja. Kasih karunia dan kebenaran adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Kasih karunia tanpa kebenaran bukanlah ka­ih karunia, melainkan sentimentil yang menjijikkan; dan kebenaran tanpa kasih karunia bukanlah kebenaran, melainkan farisiisme yang kejam. Dua macam kegagalan ini selalu terjadi dalam gereja. Biar­lah oleh kuasa penebusan Allah, kita dijadikan orang Kristen yang bertulangkan kebenaran (teguh, tegas, dan tanpa kompromi dalam hal kebenaran), tetapi sekaligus memiliki hati dan daging yang penuh kasih karunia yang berasal dari kasih Kristus. Tetapi siapakah yang telah mencapainya? Keseimbangan ini bukan sifat alamiah kita, tetapi kita dipanggil untuk menuju ke situ. Dan keseimbangan kasih karunia dan kebenaran ini baru kita terbentuk di dalam diri kita, ketika kuasa penebusan Allah memperbaharui kita. Amin.?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhot­bah)