![]() |
Ringkasan Khotbah : 7 April 2002 Dinamika Iman Saul Nats: : 1 Samuel 9:17; 10:1, 8; 11:1-2,6,14; 12:13-14; 13:1-14; 15:24 Pengkhotbah : Ev. Thomy J. Matakupan |
Saul adalah raja pertama yang Tuhan bangkitkan dari kalangan Israel karena rakyat mulai berteriak meminta seorang raja untuk memimpin mereka berperang melawan bangsa lain di tanah perjanjian. Dengan demikian, ia telah memperoleh anugerah sangat besar. Ia memulai hidup, pekerjaan serta pelayanan tersebut dengan indah dan agung sekali karena sudah termasuk orang cukup terpandang yang berasal dari suku Benyamin dan dilahirkan di keluarga berada. Secara fisik, 1 Sam 9:2 memaparkan, “…dari bahu ke atas ia lebih tinggi daripada setiap orang sebangsanya.” Maka berdasarkan penampilan luar, ia tampak sangat ideal untuk dijadikan pemimpin. Ia juga memiliki banyak potensi.
Kemudian Allah menetapkan pilihan kepada Saul dan berpesan pada Samuel, “Besok kira-kira waktu ini Aku akan menyuruh kepadamu seorang laki-laki dari tanah Benyamin; engkau akan mengurapi dia menjadi raja atas umatKu Israel dan ia akan menyelamatkan umatKu dari tangan orang Filistin.” (1 Sam 9:16) Ketika bertemu dengannya, Samuel mengatakan, ”Engkau akan memegang tampuk pemerintahan atas umat Tuhan.” (1 Sam 10:1) Selain itu, Allah memerintahkan untuk memberitahu bahwa di perjalanan, ia akan menjumpai beberapa tanda yang kokoh meneguhkan panggilan Tuhan atas dirinya (ayat 2-7). Selanjutnya, ayat 9 mengatakan, “Dan segala tanda-tanda yang tersebut itu terjadi pada hari itu juga.”
Sejak saat itu, Saul menduduki posisi sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di Israel dan segala keputusannya harus dijalankan. Ia termasuk sangat pandai menyusun strategi perang hingga berhasil menaklukkan banyak suku lain di tanah perjanjian. Misalnya, 1 Sam 11 mencatat bahwa ia menyelamatkan Yabesy dari Nahas, raja Amon yang mengatakan, “Dengan syarat inilah aku akan mengadakan perjanjian dengan kamu, bahwa tiap mata kananmu akan kucungkil; dengan demikian aku mendatangkan malu kepada segenap orang Israel.” (ayat 2) Mendengar berita tersebut, ayat 4 mencatat bahwa Israel menangis dengan suara nyaring. Lalu ayat 6 mengatakan, “Ketika Saul mendengar kabar itu, maka berkuasalah Roh Allah atas dia, dan menyala-nyalalah amarahnya dengan sangat.” Ia segera bertindak dan akhirnya raja Amon berhasil ditaklukkan. Sungguh, Tuhan memberi kemenangan bagi Israel melalui dirinya.
Setelah dipilih Tuhan, Saul menjadi orang yang sangat bijaksana. Pada awalnya, ia sungguh memegang hukum Allah karena memang tak boleh bertindak sesuka hati. Ada kitab yang telah disampaikan oleh Tuhan bagi raja Israel yaitu Ul 17:14-20. Prinsip tersebut wajib dimengerti oleh raja sehingga ia dapat dipakai sebagai sarana Tuhan untuk menunjukkan bahwa Allah itu sungguh adil, maha suci dan tak mudah berkompromi.
Allah memberkati Saul melalui minyak yang dicurahkan ke atas kepalanya oleh nabi Samuel. Itulah tanda penyertaan Tuhan. Lalu Roh Allah berkenan hadir dan memimpin dalam dirinya. Setelah mengurapinya, Samuel memerintahkan, “Engkau harus pergi ke Gilgal mendahului aku, dan camkanlah, aku akan datang kepadamu untuk mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan. Engkau harus menunggu tujuh hari lamanya, sampai aku datang kepadamu dan memberitahukan kepadamu apa yang harus kau lakukan.”(1 Sam 10:8) Kemudian Samuel mengerahkan seluruh rakyat ke hadapan Tuhan di Mizpa untuk melihat pembaharuan jabatan raja pada diri Saul. Dan ia segera menjalankan perintah Allah melalui nabi Samuel. Tindakan tersebut menunjukkan bahwa ia mendengarkan dan dengan jelas mengerti akan kehendak Tuhan.
1 Sam 9-12 sungguh menceritakan keindahan, keagungan dan kemuliaan kerajaan Saul. Lalu di pasal 13 terdapat problem yang tragis sekali. Saat itu, Saul dan seluruh pasukan baru selesai berperang. Ayat 2 menjelaskan, “Saul memilih tiga ribu orang dari antara orang Israel; dua ribu orang ada bersama-sama dengan Saul di Mikhmas dan di pegunungan Betel, sedang seribu orang ada bersama-sama dengan Yonathan di Gibea Benyamin, tetapi selebihnya dari rakyat itu disuruhnya pulang, masing-masing ke kemahnya.” Kemudian Yonathan, anak Saul, mengambil tindakan berani dengan memimpin pasukannya ke Geba untuk berperang melawan sekelompok tentara Filistin. Ayat 3 mencatat bahwa ia berhasil menaklukkan mereka.
Berita tersebut terdengar oleh raja Filistin dan membuatnya sangat marah. Ia langsung mengumumkan bahwa Filistin harus membalas dendam pada Israel. Tentara Filistin segera dikumpulkan dan 1 Sam 13:5 mencatat bahwa jumlah mereka sebanyak 3000 kereta, 6000 pasukan berkuda serta pasukan berjalan kaki sebanyak pasir di tepi laut. Sungguh perbandingan kekuatan yang sangat jauh. Karena itu, Israel menjadi sangat takut dan gemetar lalu mulai berusaha menyelamatkan diri dengan cara bersembunyi (ayat 6). Mereka kehilangan kekuatan dan semangat tempur. Sementara itu, pasukan musuh telah berkemah di Mikhmas (1 Sam 13:11). Hari demi hari, mereka makin mendekat dan menunggu saat yang tepat untuk menyerang namun Samuel belum muncul juga. Akibatnya, Saul mulai gelisah.
Berusaha membangkitkan semangat para tentara, Saul melanggar perjanjiannya dengan Samuel yang adalah titah Tuhan. Ia segera mempersembahkan korban bakaran di hadapan Tuhan karena sudah tak sabar menunggu kedatangan Samuel. Padahal, Allah tak pernah terlambat. Akibatnya, ia kehilangan pamornya sebagai raja. Alasan Saul dalam 1 Sam 13:11-12 menunjukkan bahwa ia takkan berani berperang sebelum mempersembahkan korban bagi Allah karena itulah kebiasaan Israel untuk menghindari terjadinya kekalahan. Tapi kali ini, tindakan tersebut justru merupakan awal kejatuhan dan keruntuhan kerajaan Saul serta kehancuran hidup rohaninya.
Mungkin, sebelumnya Saul pernah melihat Samuel sebagai imam menjalankan tugas persembahan. Saat itu, Israel juga sedang dikepung oleh Filistin. 1 Sam 7:9-10 mencatat, “Sesudah itu Samuel mengambil seekor anak domba yang menyusu, lalu mempersembahkan seluruhnya kepada Tuhan sebagai korban bakaran. Dan ketika Samuel berseru kepada Tuhan bagi orang Israel, maka Tuhan menjawab dia. Sedang Samuel mempersembahkan korban bakaran itu, majulah orang Filistin berperang melawan orang Israel. Tetapi pada hari itu Tuhan mengguntur dengan bunyi yang hebat ke atas orang Filistin dan mengacaukan mereka, sehingga mereka terpukul kalah oleh orang Israel.” Berdasarkan pengalaman tersebut, Saul berani bertindak tanpa kehadiran Samuel dan berharap dapat mengulang peristiwa itu.
1 Sam 13:10-11 mengatakan, “Baru saja ia habis mempersembahkan korban bakaran, maka tampaklah Samuel datang. Saul pergi menyongsongnya untuk memberi salam kepadanya. Tetapi kata Samuel::“Apa yang telah kauperbuat?” Kemudian, ia menjelaskan bahwa dirinya baru saja mempersembahkan korban bakaran. Ia mengira Samuel akan memberi dukungan. Ternyata, Samuel malah menghardiknya dengan sangat keras, “Perbuatanmu itu bodoh.” (ayat 13) Sungguh, kondisi dalam pasal 13 sangat berbeda karena tak tercatat sekalipun bahwa ia dikuasai oleh Roh Tuhan melainkan berulangkali mengatakan “aku” terutama di ayat 11-12. Akibatnya, dalam ayat 13, Samuel berkata, “…sebab sedianya Tuhan mengokohkan kerajaanmu atas orang Israel selama-lamanya. Tetapi sekarang kerajaanmu tidak akan tetap. Tuhan telah memilih seorang yang berkenan di hatiNya (yaitu Daud) dan Tuhan telah menunjuk dia menjadi raja atas umatNya, karena engkau tidak mengikuti apa yang diperintahkan Tuhan kepadamu.”
1 Sam 15 menceritakan bahwa Saul mengulangi ketidaktaatannya. Di ayat 3, Tuhan memerintahkan melalui Samuel, “Pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai.” Tapi setelah berperang, ayat 9 mencatat, “Tetapi Saul dan rakyat itu menyelamatkan Agag dan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dan tambun, pula anak domba dan segala yang berharga: tidak mau mereka menumpas semuanya itu.” Lalu ia menjelaskan pada Samuel, “Semuanya itu dibawa daripada orang Amalek, sebab rakyat menyelamatkan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dengan maksud untuk mempersembahkan korban kepada Tuhan, Allahmu; tetapi selebihnya telah kami tumpas.” Maka Tuhan mengatakan melalui Samuel, “Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik daripada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik daripada lemak domba-domba jantan. Karena engkau telah menolak firman Tuhan, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja.” (ayat 22-23)
1 Sam 31 mencatat tragisnya kematian Saul. Sebelum mengakhiri hidupnya, ia bertanya pada arwah yang adalah Setan karena Tuhan tak berbicara atau memberi tanda, baik melalui mimpi, Urim maupun dengan perantaraan nabi (1 Sam 28:6). Dalam peperangan terakhir, keadaannya tak tertolong lagi dan sangat putus asa. Kemudian ia mengambil pedang dan menjatuhkan diri ke atasnya (ayat 4). Dari kisah tersebut, orang Kristen dapat mempelajari 4 point:
Pertama, problem akan terus menerus bermunculan jikalau manusia tak memiliki sense of God’s calling. 1 Sam 8-10 menceritakan tentang bagaimana Allah memanggil Saul. Ketika ia hidup dalam panggilan tersebut, pasal 9-12 mencatat bahwa Tuhan memberkatinya dengan segala kegemilangan. Tapi, pengertiannya tak tahan lama hingga mulai menginterpretasi ulang panggilan Allah (1 Sam 11-12) yang sebenarnya sangat serius karena Ia menghendaki manusia terutama semua orang Kristen terlibat dalam pelayanan dan pekerjaan bagi KerajaanNya. Maka tiap jemaat pasti memiliki pengalaman specific God’s calling yang membuatnya berani mengaku percaya kepada Kristus dan melakukan kehendak Allah. Tapi, masih ada kemungkinan ia kehilangan sense tersebut yang mendorongnya bertindak ceroboh. Kerapkali ia malah beradu argumen denganNya. Setelah merasakan akibat, barulah ia minta ampun kepadaNya.
Kedua, perintah Allah merupakan alat atau tolok ukur untuk menguji iman dan ketaatan orang Kristen. 1 Sam 10:8 dengan jelas mencatat perintah Samuel pada Saul yang tak memakai kalimat philosophical melainkan cukup sederhana sehingga tak membuatnya bingung. Kenyataannya, Saul malah merubah perintah tersebut. Pasal 13 merupakan puncak ketidaktaatannya. Tindakan bunuh diri juga confirm bahwa ia tak beriman. Tanggapan dan komitmen orang Kristen terhadap perintah Allah sungguh menunjukkan ketaatan dan keimanannya.
Ketiga, berbagai hal mendesak bukanlah pengecualian untuk tidak taat. 1 Sam 13:9 menceritakan bahwa Saul berani mengambil alih peran Samuel. Padahal sebentar kemudian Samuel tiba. Tampaknya, seringkali Allah bekerja pada saat mendesak tanpa memberitahukannya terlebih dulu. Allah memberi pertolongan selalu tepat pada waktunya. Sungguh, pengecualian bukanlah alasan untuk merubah kehendakNya.
Keempat, konsekuensi dan penghakiman Allah yang tegas telah diberitahukan sebelum terjadi. 1 Sam 13:13-14 merupakan penghakiman Allah terhadap Saul. Sedangkan dalam pasal 12 & 14, Ia telah menyatakan konsekuensi jikalau mereka melanggar titahNya. 1 Sam 12:14 merupakan pengumuman Allah pada Saul di awal pemerintahannya. Tuhan telah mengijinkan orang Kristen menikmati pergaulan denganNya dan memberitahu bahwa jikalau taat maka akan ada berkat terbaik dan damai sejahteraNya. Tapi, jikalau melanggar atau mengabaikan maka akan ada hukuman yang pasti digenapkan meskipun tampaknya ditangguhkan. Sejak awal Kitab Kejadian, Ia telah menetapkan dan konsisten memelihara prinsip tersebut. Firman bukan untuk dipertimbangkan dan Ia tak pernah membiarkan DiriNya yang adil, suci dan penuh kasih dipermainkan. Yoh 3:36 mengatakan, “Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.” Allah dalam Kristus sanggup menjamin keselamatan dan pengampunan dosa manusia. Amin.
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)