![]() |
Ringkasan Khotbah : 31 Maret 2002 The Triumph of Christ Nats: Yohanes 20: 30-31 Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno |
Tujuan Firman khususnya Injil Yohanes dicatat bukan sebagai kumpulan mukjizat Tuhan di dunia. Demikianlah penjelasan tegas John Calvin. Injil hendaknya memimpin manusia pada 2 hal: (1)mengerti dan kembali kepada Kristus; (2)supaya beroleh hidup kekal dalam namaNya.
Salah satu inti terpenting iman Kristen ialah keselamatan. Namun keselamatan telah diputar oleh dunia hingga menjadi citra keegoisan yang sulit diubah. Itulah konsep agama dunia yang membuat banyak orang hanya mencari kepentingan pribadi. Setelah itu, ia masih mencarinya di dunia sesudah kematian karena takut akan kesusahan.
Salah satu terobosan besar dikerjakan oleh Anthony Hoekema dalam buku ‘Saved by Grace’ (Diselamatkan oleh Anugerah). Ia mengatakan bahwa mempelajari Soteriologi, yang terpenting ialah paradigma atau orientasi teologisnya untuk masuk ke dalam pengertian iman Kristen sejati. Konsep tersebut sangat benar dan tajam jika dibandingkan dengan pendapat Louis Berkhof dan John Murray (‘Redemption, Accomplished and Applied’).
Dalam Yoh 20:30-31, Yohanes menegaskan bahwa Injil ditulis bukan untuk menawarkan format yang menyenangkan keinginan manusia. Tapi, ia hendak memaparkan cara berpikir terbalik supaya orang Kristen mengenal Yesus sesungguhnya dan kembali berpaut kepadaNya.
Paskah yang memperingati kemenangan Kristus atas kuasa maut merupakan puncak penerobosan pola pikir paradoks. Orang Kristen bahkan bangsa Yahudi telah diajar supaya jangan berpikir secara duniawi melainkan paradoksikal yaitu melihat hidup dari sudut pandang Tuhan meskipun realitanya konkret di tengah sejarah dunia. Cara berpikir semacam itu memang sulit karena manusia telah berdosa hingga tak mampu mengerti essensi dan kondisi kenyataan hidupnya.
Alkitab tak pernah mengatakan bahwa orang Kristen boleh hidup secara duniawi dan mengikuti keinginan daging (carnal). Dengan demikian, orang semacam itu meskipun mengaku Kristen tetap bukan Kristen karena pertobatan atau perubahan dasar konsep pemikirannya belum terjadi secara total. Orang Kristen sejati justru harus bertumbuh mengikuti Roh walaupun belum sempurna. Bahkan Rm 12:2 mengatakan, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu.”
Mzm 73 merupakan bentuk paradoks Perjanjian Lama yang terdiri dari 2 plot: (1)ayat 1-20, (2)ayat 21-28. Mzm 73:1 adalah kesimpulan plot 1 sedangkan ayat 2-16 ialah fakta flashback (sorot balik) dan solusinya ada di ayat 17-20. Pemazmur melihat bahwa bukan realita dunia yang berubah. Justru dirinyalah yang mulai berubah. Ketika ia hampir hancur, Tuhan malah membawanya keluar dari jebakan realita yang sekedar fenomena. Setelah itu, ia baru dapat melihat perbedaan antara pandangannya dulu dan saat ini. Namun cara pandang tersebut tak membalik atau bahkan menipu realita.
Orang Kristen tak diajar seperti positive thinkers yang selalu menutupi atau memalsukan realita lalu bermain dengan ilusi dan imajinasi. Ia harus tetap realistik tapi tak lagi memandangnya dari ketenggelaman manusia di dunia. Ketika Perjanjian Lama menggumulkan dan melihat sepertinya orang fasik akan dihancurkan serta dibinasakan, tindakan tersebut masih merupakan pandangan iman karena fakta puncak kemenangan total belum nampak.
Dari sudut pandang manusia, bangsa Yahudi terutama orang Farisi dan ahli Taurat tidaklah bodoh. Maka strategi mereka pasti sangat accurate (teliti) serta tak mungkin gagal dengan mudah. Secara faktual, semua tindakan yang mereka set up (atur) sukses total. Cara penangkapan Tuhan sangat halus sehingga tak menggemparkan seluruh dunia termasuk para pengikutNya. Mereka menginginkan dalam waktu 1 malam Ia harus dihukum mati dengan cara disalibkan maka merencanakannya tepat sebelum Paskah. Saat itu hanya ada 2 kemungkinan yaitu Yesus atau mereka yang menang. Itulah pemikiran linier orang Aristotelian. Sebelumnya, ketika Ia masuk ke Yerusalem, semua orang menghamparkan pakaian di jalan dan mengelu-elukanNya (Mrk 11:8). Inilah titik critical. Jikalau mereka menang, diharapkan semua pengikutNya dapat diredam dan kembali mengikut Taurat.
Secara manusiawi, Yesus memang kalah dalam kesengsaraan. Hingga saat ini, banyak orang bahkan beberapa tokoh Kristen terutama yang liberal masih beranggapan bahwa Ia sebenarnya adalah pahlawan, tokoh moral serta pejuang masyarakat kelas bawah yang baik dan penuh kasih, penolong orang miskin, pemberi makan mereka yang kelaparan, penyembuh mereka yang sakit dan tak sanggup berobat. Tapi, perjuangan sosial yang sangat murni berakhir dengan kekalahan total dan kehancuran karena fitnah dan kebencian ahli agama serta musuh kedaulatan. Bagaimanapun juga, jiwa sosialNya perlu dilanjutkan. Sebagian orang liberal juga mengatakan bahwa Ia sebenarnya adalah calon raja yang belum memupuk kekuatan militer tapi terlalu cepat populer. Akibatnya, seluruh ide politisNya kandas.
Sesungguhnya, orang Farisi dan ahli Taurat menang tapi akhirnya kalah. Sedangkan Tuhan kalah tapi menang. Inilah paradoks. Mereka berharap dengan membunuh Yesus, ajaranNya dapat dihentikan sehingga pengaruhNya tak ada lagi. Namun kebangkitanNya justru membuat pemikiran banyak orang serta pengajaranNya berkembang pesat dan menyebar ke seluruh dunia. Sedangkan ajaran Yahudi walaupun telah dipertahankan, malah menjadi alat politik belaka. Maka tindakan tersebut merupakan kesalahan fatal.
Seandainya, Tuhan tak mati dan malah dibiarkan saja maka ajaranNya mungkin takkan berkembang. Alkitab takkan memiliki kekuatan. Selain itu, Petrus takkan berkhotbah, “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kis 4:12) Dengan demikian, inti kemenangan Kristen ada pada Soteriologi. Orang Farisi berpikir, dengan menyalibkan Yesus maka semua orang di dunia akan melihat kejelekanNya. Kenyataannya, kepala prajurit yang berada di bawah salib malah mengatakan, “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!” (Mrk 15:39) Ia justru menunjukkan keanggunan dan keagunganNya. Seluruh kalimat dan pembuktianNya tak terabaikan serta kemenanganNya tak terpatahkan. Banyak orang sulit bertobat. Maka, Alkitab mengatakan bahwa keselamatan membutuhkan anugerah Tuhan karena memerlukan terjadinya kehancuran dan kerendahan hati serta ketaatan yang sungguh untuk dididik olehNya.
Yesus mulai direncanakan untuk dibunuh sejak Lazarus dibangkitkanNya. Saat itulah kematian seolah-olah terkalahkan. Ketika Ia membuat banyak mukjizat, orang Yahudi hanya mengawasiNya. Namun mukjizat membangkitkan orang mati, bagi mereka merupakan show yang sudah keterlaluan sehingga harus dilawan karena tak sanggup melakukannya. Mereka berpikir bahwa kebangkitan Lazarus merupakan puncak kekuatan dan kekuasaan Kristus di tengah dunia. Padahal, suatu hari ia tetap harus mati lagi.
Orang Farisi dan ahli Taurat berpikir bahwa dengan kekuatan kematian, mereka dapat menguasai Kristus beserta kedaulatanNya. Maka Ia dijepit dari segala segi kehidupan, baik sosial, budaya, agama dan politik. Semua orang dibuat setuju untuk menyalibkanNya. Ia juga dianggap sebagai pemberontak. Alkitab mencatat bahwa ketika Ia diajukan ke pengadilan, di sana telah dipersiapkan banyak saksi dusta. Namun Ia tak banyak bicara atau memberi reaksi karena bagaimanapun juga pasti tetap kalah. Maka tak ada lagi perlawanan yang dapat dilakukan. Akhirnya, semua orang yang terlibat dihancurkan secara rohani oleh Setan. Yudaspun mati bunuh diri.
Dalam Kis 4:19, Petrus, nelayan yang dianggap bodoh, berani berkata, “Silahkan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau kepada Allah” di hadapan Mahkamah Agama. Kekuatan kuasa kebangkitan telah menerobos hingga membuatnya memiliki pandangan paradoksikal. Sesungguhnya, tak ada kekuatan di dunia secara hakekat mampu menjepit anak Tuhan. Ketika dicurangi, Alkitab mengatakan bahwa jikalau merasa diri benar maka sebaiknya orang Kristen berdoa dan memberikan hak pembalasan kepada keadilan Allah. Tapi, bukan berarti menjadi anti terhadap dunia. Dengan cara pikir paradoksikal, orang Kristen sejati akan melihat kelemahan, keterbatasan dan kerusakan dunia karena hatinya telah dibuka, pikirannya dicerahkan hingga melihat dari sudut pandang Tuhan.
Jikalau orang Kristen berpikir bahwa menjadi anak Tuhan itu menyusahkan, berarti paradigmanya masih duniawi. Memang, ia takkan pernah lepas dari penderitaan. Namun walaupun secara kasad mata tak mendapat kelimpahan, sebaliknya malah menderita dan terbuang, ia sesungguhnya mampu menaklukkan realita dunia dengan ‘kacamata’ berbeda. Kebangkitan Kristus telah membuat para pengikutNya tak berhenti pada sudut pandang orang Yahudi tapi memandang kepada rencana Allah yang digenapkan dalam diri manusia.
Kebangkitan Kristus menghancurkan kuasa kematian. Berarti, itulah kekuasaan terbesar. Jikalau Ia berhasil ditaklukkan di bawah kuasa kematian maka selesailah sudah. Ia dibawa ke pengadilan supaya dijatuhi hukuman mati. Namun Pilatus malah menawarkan, “Tidak ada suatu kesalahanpun yang kudapati padaNya, yang setimpal dengan hukuman mati. Jadi aku akan menghajar Dia, lalu melepaskanNya.” (Luk 23:22)
Ternyata, kuasa kematian hanyalah kuasa tertinggi kedua. Namun orang Yahudi tak mau mengerti walaupun secara teologi dapat menerimanya. Orang Farisi percaya akan kebangkitan namun tak pernah terlintas akan segera terjadi. Maut pun harus mengakui kekalahan fatal. Sebelumnya, kematian memang tak terkalahkan. Tapi setelah bangkit, Kristus takkan mati lagi. Dengan demikian, kebangkitan tak dapat dicengkeram oleh kematian. Maka Paulus dapat berkata, “Hai maut, di manakah sengatmu?” (1 Kor 15:55)
Di tengah dunia, manusia mengalami banyak hal hingga kadangkala tampaknya tak terselesaikan. Tapi, Kekristenan memandang kematian bukan sebagai akhir karena yang sanggup membunuh tubuh tak mampu membunuh jiwa. Sejarah mengatakan bahwa di mana ada anak Tuhan sejati dibunuh maka di sana akan tumbuh benih baru iman Kristen. Fakta tersebut menunjukkan bahwa musuh Kristen tak mengerti cara pandang dan tindakan Tuhan. Kuasa kematian justru membawa anakNya pada kekekalan. Dalam Flp 1:21, Paulus mengatakan, “Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu.” Amin.
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)