Ringkasan Khotbah : 24 Maret 2002

Doktrin Roh Kudus (2)

Nats: Yohanes 14: 15-17

Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno

 

Dalam Yoh 14:17, Tuhan menjelaskan, “Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.” Roh Kudus tak dapat dispekulasikan karena melampaui seluruh indera manusia. Tuhan menggunakan kata ‘akan’ karena Ia belum kembali ke rumah Bapa. Maka Penolong lain belum diperlukan. Setelah Penolong sejati pergi, umat Allah tak dibiarkan ‘yatim piatu’ atau terlantar di tengah dunia. Kristus mengirimkan Roh Kebenaran.

Luk 4:1 mengenai pencobaan di padang gurun mencatat, “Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun.” Dengan kata lain, Roh Kudus memimpin Tuhan ke sana. Kalimat tersebut memang sulit dimengerti oleh banyak orang pada saat ini yang mengaku penuh dengan Roh Kudus. Orang semacam itu takkan pernah mengajarkan bahwa Roh Kudus sanggup memimpin manusia masuk ke dalam penderitaan dan pencobaan berat. Padahal, pengertian tersebut sebenarnya berasal dari Alkitab.

Khotbah kali ini akan membahas mengenai tugas dan karya Roh Kudus yang dicerminkan melalui atribusi dalam namaNya. Tiap kali orang Kristen mencoba mengerti tentang Allah, Ia pasti menyatakan Diri dengan menunjukkan sifat, citra dan integritas dalam seluruh atributNya. Jadi, ketika Ia menyatakan Diri sebagai Yehowah Jireh, itu bukan sekedar nama melainkan terkandung atribusiNya yang menunjukkan karyaNya di tengah dunia. Sebelum istilah ‘Roh Kebenaran’ muncul di ayat 17, telah disebutkan 1 nama dalam ayat 16 yaitu ‘Penolong yang lain’. Sedangkan dalam Yoh 14:26 dipakai istilah ‘Penghibur’. Dengan demikian, atribusi Roh Kudus dinyatakan dengan namaNya agar orang Kristen dapat mengenal Dia yang sesungguhnya.

Istilah ‘Penolong’ (parakletos) muncul hanya 2 kali yaitu dalam Yoh 14:16 yang mengacu pada Roh Kudus dan 1 Yoh 2:1 yang menunjuk kepada Kristus. Dalam Yoh 14:16 dipakai istilah ‘Penolong yang lain’ (the other Comforter), berarti ada Penolong pertama (the Comforter) yang sejati yaitu Tuhan Yesus (1 Yoh 2:1). Dengan kata lain, melalui Yoh 14:16, Kristus hendak menunjukkan bahwa Ialah the true Comforter.

Sepanjang hidup, Tuhan menjalankan the mission of the Kingdom of God (Misi Kerajaan Allah) yaitu menghadirkan Kerajaan Allah ke tengah dunia. Jadi, Kristus datang dengan berita utama yaitu bahwa Kerajaan Allah sudah dekat maka manusia harus segera bertobat. Setelah Kristus, pekerjaan tersebut akan dilanjutkan oleh Roh Kudus. Dengan demikian, pekerjaan Kristus dan Roh Kudus tak mungkin lepas dari pekerjaan total yang Bapa kehendaki.

Banyak orang dunia mencoba memandang Kristus tapi terlepas dari misi Kerajaan Allah. Akibatnya, Ia dimanipulasi untuk menjalankan kerajaan dunia sesuai keinginan manusia berdosa. Dengan kata lain, demi kenyamanan, kenikmatan, kesejahteraan, kesehatan, kesenangan dan kepentingan manusia. Bahkan ada orang yang bersedia percaya kepada Kristus jikalau menguntungkan. Inilah kesalahan fatal dalam pelayanan Kristen. Dalam konsep semacam ini telah terjadi pembalikan struktur dimana Tuhan dijadikan budak hingga manusia merasa berhak memerintahNya.

Semakin mencoba memuaskan nafsu duniawi, akhirnya manusia pasti binasa dalam kenikmatannya dan tak tertolong lagi. Dengan demikian, maksud dosa jadi makin nyata karena diberi kesempatan. Orang dunia sebenarnya menyadari hal tersebut hingga selalu bersikap waspada karena takut akan kematian. Tapi, ia tetap tak mau bertobat. Sebaliknya, ia malah mencari cara untuk melarikan diri dari dosa.

Dunia yang semakin maju ini sedang menuju pada destruksi (kehancuran) total. Khususnya abad 20 (1900-2000) telah membuktikan bahwa dunia telah runtuh secara drastis jika dibandingkan dengan 5000 tahun sebelumnya. Sepanjang sejarah mulai dari zaman Mesir kuno hingga 1900, dunia terasa sangat stabil karena pengrusakannya secara halus. Itulah alasan serius mengapa Tuhan merasa perlu menjaga dan memimpin umat­Nya. Orang Kristen hidup seharusnya dengan konsep dan cara pandang berbeda total dari dunia. Perbedaan tersebut membuatnya sangat sulit jikalau mau berada di tengah dunia dengan tepat. Maka Tuhan mengatakan, “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat 28:20) Jadi, mengapa Kristus bersedia menjadi Penolong dan mengirim Roh Kudus juga sebagai Penolong orang Kristen hingga saat ini?

Pertama, orang Kristen harus menyadari bahwa tiap manusia itu lemah, termasuk dirinya sendiri. Maka hendaknya tak pernah merasa mampu mengerjakan segala sesuatu sendiri. Saat ini, dunia mencoba menerpa Kekristenan dengan filsafat palsu yaitu positive thinking. Apapun yang dipikir dan diinginkan pasti dapat dikerjakan dan dicapai. Memang, manusia selalu ingin jadi superman. Padahal, sebenarnya tak memiliki daya terlalu besar. Akhirnya, ia kembali pada supernatural power.

Ada 2 jenis kekuatan supranatural yaitu dari Tuhan atau hantu. Di antara kedua jenis tersebut, terdapat perbedaan cara. Kalau ikut hantu, rasanya manusia yang jadi superman tapi harus pay back. Itulah prinsip kerja hantu yaitu win-win solution dengan bargain (tawar menawar) karena tak mau rugi. Akibatnya, manusia harus mati dalam dosa. Contohnya, untuk memperoleh kekayaan, sebuah keluarga harus rela mengorbankan anak. Sebaliknya, jikalau bersedia kembali kepada Tuhan, manusia tetap lemah karena Tuhan tak pernah menipu tapi justru menunjukkan realita sesungguhnya yaitu bahwa manusia sebenarnya adalah mahluk relatif dan terbatas dalam segala hal walaupun sudah dilatih.

Karena anak Tuhan seringkali mengalami kesulitan untuk bertahan dalam menghadapi tantangan dunia yang sangat berat maka Kristus mengatakan, “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya.” (Yoh 14:16) Ketika orang Kristen sadar bahwa masih membutuhkan pertolongan Tuhan maka saat itulah Roh Kudus bekerja.

Manusia termasuk orang Kristen seringkali mengeluh kecewa dan marah terhadap Tuhan. Padahal seringkali ia mengatur, menganalisa, menentukan pilihan dan keputusan berdasarkan perasaan yang terlintas dalam hati serta segala macam teori. Sebenarnya, ia tak mampu berjalan sendirian di dunia karena pikiran dan kapasitas analisanya terlalu terbatas. Maka seharusnya ia berhubungan, bersandar dan tunduk kepada pimpinan Tuhan. Ironisnya, banyak orang Kristen merasa tak butuh pertolongan.

Kedua, di tengah dunia, orang Kristen tak mungkin berjalan dengan aman. Dunia berdosa selalu merongrongnya supaya ikut berdosa. Bahkan di tengah Kekristenan dapat terjadi demoralisasi. Dalam waktu 1 abad (1900-2000), telah terjadi pengrusakan moral yang lebih parah daripada ribuan tahun sebelumnya disertai dengan perang mengerikan hingga jatuh korban terbanyak. Sungguh, tantangan dunia terlalu berat untuk dapat hidup kudus dan benar. Maka tiap orang Kristen hendaknya giat berdoa agar Roh Kudus senantiasa memelihara hidupnya. Ia disebut Roh Kudus karena memimpin manusia pada kekudusan. Selain itu, Ia juga disebut Roh Kebenaran karena memimpin pada kebenaran.

Ketiga, orang Kristen juga berada dalam dunia yang penuh dengan dampak dosa. Roh Kudus terus menerus mendorong tiap anak Tuhan untuk maju. Dalam hidup, banyak aspek dialami oleh manusia, seperti penderitaan, kesusahan, kepedihan, sakit penyakit, kematian, kegagalan dan sebagainya. Jikalau disebabkan oleh dosa maka semua itu wajar terjadi. Pdt. Stephen Tong selalu mengatakan bahwa jikalau seseorang menderita karena telah berbuat dosa, itulah upah setimpal yang harus dinikmati. Takkan ada pahala ataupun pertolongan. Bahkan ada peringatan keras untuk tak menolong orang yang berada dalam pukulan Tuhan karena pertolongan justru menggagalkan dan melawan kehendakNya. Sehingga jikalau mungkin, ia dapat bertobat di hadarapan Tuhan. Allah yang sangat mencintai manusia juga bersifat adil, bukan kejam. Maka Ia takkan pernah memukul dan mematikan orang benar. Seringkali ketika dipukul oleh Tuhan, orang berdosa belum tentu bertobat. Orang semacam itu hopeless. Jikalau tak demikian, tidak akan ada Neraka.

Di seluruh dunia, sebenarnya manusia sangat mengharapkan keadilan. Tapi, justru orang Kristen seringkali tak menyukainya karena takut menjadi victim (korban) keadilan Tuhan yang sangat baik dan tepat. Orang pasti sangat jengkel jikalau hukum tak ditegakkan. Orang yang berbuat dosa malah dibiarkan saja. Tapi, ketika hukuman jatuh atas diri sendiri sebagai akibat dosa, ia malah bersungut-sungut. Padahal dosa menuntut adanya penghakiman sedangkan kesalahan menuntut hukuman. Keadilan Allah tak pernah meniadakan hukuman.

Adapula orang yang setia menjalankan misi Kerajaan Allah tapi malah mengalami penderitaan. Sebenarnya oknum penyebab penderitaan bukan hanya diri manusia berdosa. Ada oknum luar yang dengan sengaja menginginkan anak Tuhan menderita supaya jatuh imannya dan meninggalkan bahkan mengutuki Allah. Ialah Setan. Contoh konkretnya yaitu Ayub. Bahkan isterinya malah berkata, “Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah.” (Ayb 2:9) Yang terjadi di dunia memang merupakan permainan Setan yang berusaha merusak iman Kristen dan menghancurkan umat Tuhan saat mencoba untuk hidup benar. Tapi, Ayub justru Tuhan jaga hingga survive dengan kemenangan. Selain Ayub, Tuhan Yesus juga mengalami hal yang sama.

Dengan hidup baik, belum menjamin orang Kristen tak tersentuh kejahatan dan intrik dunia karena Setan terus menyerang. I Ptr  5:8 mencatat, “Sadarlah dan berjaga-jagalah. Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” Maka orang Kristen perlu meminta pimpinan Tuhan supaya berjalan sesuai kehendakNya dan bukan keinginan pribadi. Ia mengarahkan umatNya agar menjadi pekerja-pekerja yang indah dalam misi KerajaanNya. Amin.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)