![]() |
Ringkasan Khotbah : 17 Maret 2002 Ketergantungan Manusia kepada Allah & Arti Percaya kepada Tuhan Nats: 1 Raja-raja 18:21; Yesaya 29:13 Pengkhotbah : Ev. Solomon Yo |
Kita sudah mempelajari bahwa dalam diri setiap orang diberikan oleh Tuhan natur untuk mengasihi diri dan merawat diri sehingga setiap orang bertanggung jawab mengusahakan apa yang baik bagi dirinya sendiri. Ini merupakan karunia yang harus kita syukur. Betapa mengerikan jika hal ini tidak kita miliki. Dalam Rasa Sakit sebagai Karunia (The Gift of Pain), Dr. Paul Brand menceritakan suatu kasus penyakit yang ditemui pada seorang gadis kecil bernama Tanya – ia berusia empat tahun ketika dibawa menemui Dr. Brand. Ibunya menceritakan bagaimana saat Tanya berusia tujuhbelas bulan, dengan terkejut dia melihat Tanya ditinggal di baby box sedang menggambar dengan jarinya yang berdarah. Rupanya ia telah menggigit ujung jarinya dan bermain-main dengan darahnya sendiri. Masalah pada anak ini ialah ia menderita cacat genetik di mana ia tidak dapat merasa sakit.” Syaraf-syaraf di tubuhnya [dapat] mengirimkan pesan-pesan mengenai perubahan tekanan dan suhu – ia merasakan sesuatu ketika ia membakar dirinya sendiri atau menggigit-gigit jarinya – namun pesan yang diterimanya tidak mengisyaratkan suatu ketidaknyamanan. Tanya tidak memiliki kesadaran mental tentang rasa sakit. Akibatnya, dia tidak memiliki insting untuk melindungi dirinya sendiri.
Ketika ia mulai belajar berjalan, kakinya penuh luka karena ia menginjak paku payung dan tidak mau repot-repot menyingkirkannya. Sering ada saja luka baru yang ditemukan, belum lagi masalah lain muncul di pergelangan tangan dan kakinya, akibat perilakunya yang mengakibatkan kerusakan pada tubuhnya sendiri. Ketika berusia sebelas tahun ia telah menjalani kehidupan yang menyedihkan di sebuah panti perawatan. Ia kehilangan kedua kakinya karena diamputasi, ia hampir saja kehilangan seluruh jari tangannya. Kedua sikunya berubah letak. Ia menderita karena infeksi kronis yang disebabkan oleh luka-luka pada tangannya dan bekas amputasi di kakinya. Lidahnya penuh dengan luka dan goresan-goresan karena kebiasaannya mengunyah lidah. Inilah suatu contoh ekstrim tentang orang yang tidak memiliki kesadaran akan rasa sakit sehingga kehilangan insting untuk melindungi dirinya dari bahaya.
Orang yang apatis patut dikasihani karena mereka sudah putus asa terhadap hidup dan dengan menjadi mati rasa terhadap rasa sakit dan senang, mereka tidak peduli lagi terhadap malapetaka yang mengancam mereka atau kebahagiaan yang disediakan bagi mereka. Mereka tidak takut terhadap ancaman sehingga tidak merasa perlu menghindari tindakan yang destruktif, mereka juga tidak dapat dibujuk untuk melakukan hal-hal yang dapat membawa dia untuk memiliki kehidupan yang lebih baik dan bahagia. Orang yang sudah mati rasa terhadap kengerian penderitaan tidak lagi memiliki rasa takut terhadap murka Allah maupun neraka, karena itu mereka tidak peduli jika mereka hidup secara berdosa dan melawan Allah dan menumpuk murka Allah atas diri mereka karena tidak memiliki insting untuk melindungi diri mereka dari bahaya mereka terus menerus merusak diri mereka dengan hebat.
2. Kesadaran akan diri dan dorongan untuk mengasihi diri dengan benar adalah suatu karunia Tuhan yang baik. Tetapi dalam kehidupan banyak orang kita melihat ini telah diselewengkan dalam suatu kehidupan yang egosentris. Perhatian dan cinta diri telah menjadi begitu berlebihan sehingga menjadi kecenderungan yang destruktif dalam diri mereka. Mereka begitu memikirkan diri sendiri, mementingkan diri sendiri, hidup hanya untuk diri sendiri sampai rela mengorbankan orang lain. Akhirnya mereka terjebak dalam penjara egosentris mereka diri. Mereka tidak mengerti bahwa menjadikan diri sebagai fokus dan tujuan adalah jalan menuju ketidakbahagiaan dan kehancuran. Manusia telah diciptakan oleh Tuhan untuk mencapai pemenuhan dan makna hidupnya bukan di dalam dirinya tetapi di luar dirinya, yaitu di dalam Sesuatu yang lebih besar dari dirinya, yaitu Tuhan.
Jika dalam suatu keluarga setiap orang hanya memikirkan diri sendiri, pasti semuanya akan menderita; ketika suatu masyarakat setiap orang hanya memikirkan keuntungannya sendiri, walaupun yang kuat untuk sementara akan lebih nyaman, tetapi pada akhirnya semuanya akan hancur. Inilah gambaran masyarakat Indonesia. Hidup yang saling mengasihi akan menolong semuanya untuk lebih berbahagia, bahkan di tengah-tengah penderitaan mereka.
Dalam novel Silas Marner, dikisahkan perubahan yang dialami oleh seorang yang hidup tanpa kasih dan persekutuan dengan orang lain menjadi salah seorang yang paling berbahagia, ketika ia mulai mengalihkan perhatiannya dari diri kepada orang lain. Silas Marner pindah ke suatu desa, dengan menyimpan kepahitan karena pengkhiatan temannya dan fitnahan kecurangan. Karena itu, ia menjauhi pergaulan dengan orang lain, dan hanya sibuk bekerja mengumpulkan uang. Suatu hari, uangnya ludes dicuri orang. Di tengah kesedihannya itu, ia menemukan seorang bayi perempuan mungil yang ditinggal mati oleh ibunya saat dalam perjalanan bersalju di dekat rumahnya. Silas memungut anak tersebut dan merawatnya hingga dewasa. Bayi itulah yang membuka interaksi Silas dengan penduduk desa itu. Ibu-ibu mengajari dia cara merawat bayi, memberikan baju bekas untuk si bayi, dan mulai berteman dan pergi ke gereja. Sejak itu, ia merasa sangat bahagia, walaupun kehilangan seluruh uangnya, tetapi kini ia memiliki sesuatu yang lebih berharga, yaitu Eppi, anak angkatnya. Setelah dewasa, ayah kandung Eppi yang kaya memperkenalkan diri dan meminta Eppi untuk tinggal bersamanya, tetapi Eppi memilih untuk tinggal bersama orang tua angkatnya yang telah menyelamatkan dan mengasihi dengan tulus.
Kehidupan Silas Marner yang suram dan pahit diubah menjadi penuh arti dan kebahagiaan karena ia mengasihi orang lain. Ketika kita mengasihi dan menolong orang lain, bukan dia saja yang mendapat berkat, tetapi kita sendiri juga diberkati. Ketika menolong orang lain, tanpa disadari kita sedang menolong diri kita sendiri. Pengalaman Sadhu Sundar Singh yang ketika menolong orang yang sedang kedinginan di bawah hujan salju justru menyelamatkan dirinya sendiri. Kita tidak dapat hidup sendiri, kita memerlukan orang lain, tetapi di atas semuanya kita memerlukan Tuhan.
3. Orang yang betul-betul memikirkan kebaikan bagi dirinya dengan benar, pasti akan datang kepada Tuhan. Karena sebagai mahluk yang begitu kecil di tengah alam semesta yang begitu dahsyat dengan kuasa destruktifnya, kita membutuhkan Pribadi yang memiliki kuasa tertinggi untuk menopang hidup kita. Adalah suatu kekacauan dalam diri kita, jika kita yang menginginkan hidup yang bahagia justru menolak Tuhan. Masyarakat masa kini yang telah melihat dampak-dampak buruk modernisme sadar bahwa mereka membutuhkan suatu kuasa ilahi di atas diri mereka untuk mengisi hati mereka yang kosong. Dalam masyarakat postmodern kita melihat kesadaran akan pentingnya spiritualitas, dan maraknya kegiatan keagamaan.
4. Tetapi apakah itu berarti orang sudah menemukan Allah sejati? Belum tentu! Karena ketika orang datang kepada Tuhan ia mungkin mencari Dia dengan sikap yang salah ini:
(i) Ia mencari Allah yang dapat ia manipulasi / peralat. Ia percaya kepada Tuhan karena ada maunya, yaitu untuk mendapatkan uang, kesehatan, kekasih, kesejahteraan dan lain-lain yang umunya bersifat kedagingan. Dan Allah tidak pernah dengan sungguh-sungguh diakui sebagai Pribadi tertinggi yang berdaulat atau berotoritas penuh atas hidupnya. Allah sejati pasti tak mau diperlakukan demikian. Ia menghendaki kasih yang tulus dari umatNya. Inilah rahasia rohani yang besar. Ayub adalah bukti masih adanya umat Tuhan yang mau mengasihi dan mengabdi kepada Tuhan bukan karena berkat-berkat Tuhan. Dengan demikian, Iblis telah dipermalukan. Allah sendiri telah memberi kepada kita teladan mengenai mengasihi tanpa syarat.
Orang mungkin akan bertanya: jika bukan untuk mendapatkan sesuatu dari Allah lalu untuk apa kita percaya kepadaNya? Orang yang memperalat Allah untuk mendapatkan sesuatu yang dianggapnya lebih utama dari Tuhan melakukan penghinaan terhadap Tuhan. Ia tidak sadari bahwa tanpa Tuhan, semua berkat itu sia-sia dan dapat menjadi kutuk baginya. Sebaliknya, orang yang mengutamakan Tuhan justru adalah yang paling berbahagia, karena Allah dalam kasihNya memberikan segala berkatNya yang terbaik demi kebaikan kita.
(ii) Ia mencari Allah yang ia sukai, yang sesuai dengan selera dan kepribadiannya, yaitu allah yang dapat ia atur. Inilah penyesatan dan penipuan diri yang sering kita lakukan. Allah semacam ini pasti tidak akan membawa kita ke dalam transformasi menuju kemuliaan, seperti yang direncanakan Allah dalam Kristus bagi kita. Sebaliknya, justru akan membiarkan kita di dalam kebusukan pribadi kita.
Mengapa dua cara mendekati Tuhan ini salah dan bodoh? Karena allah yang dapat kita manipulasi dan atur, pasti bukan allah sejati yang memiliki kuasa tertinggi untuk menopang hidup kita dan memberi jaminan bagi hidup kita sekarang dan kehidupan yang akan datang. Orang yang waras dan bijaksana akan mencari Allah sejati, walaupun itu berarti Tuhan mengatur dia menurut standar-Nya yang sempurna, bukan Tuhan yang diatur oleh dia. Ia mau menerima otoritas Allah ini karena hanya Allah sejati saja yang sanggup menopang hidup kita dan memberikan berkat sejati bagi kita untuk selama-lamanya.
Jean Paul Sartre mengungkapkan bahwa manusia harus memilih satu dari dua pilihan ini: (1) Allah sejati itu ada, dan Ia memberikan aturanNya kepada kita dan berotoritas atas hidup kita, tetapi dengan tunduk kepadaNya hidup kita menjadi bermakna dan bahagia; atau (2) tidak ada Allah, dan tidak ada yang berhak mengatur semua. Karena itu, setiap orang menjadi allah bagi dirinya sendiri, dan dapat berbuat sesuka hatinya, tetapi itu berarti kekacauan kehancuran. Nabi Elia menantang kita: “Kalau Tuhan itu Allah, ikutilah Dia, dan kalau Baal, ikutilah Dia” (1 Raj 18:21). Kita harus memilih.
Respon manusia yang paling buruk ialah bersikap indifference (tak acuh), bahkan setelah kebenaran diungkapkan kepadanya. Orang semacam itu tak mau banyak pikir bersusah payah mencari kebenaran. Ia membiarkan hidupnya dihanyutkan oleh arus kesesatan. Dan jika ia kebetulan percaya kepada Allah sejati, ia selalu bercabang hati dan mengkhianati Tuhan.Tidak ada kasih dan ibadah yang tulus. Seperti yang ditegur oleh Yesaya: “bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh daripadaKu, dan ibadahnya kepadaKu hanyalah perintah manusia yang dihafalkan.” (29:13)
Kalau kita sadar bahwa kita membutuhkan Allah lebih dari apa pun, biarlah kita mencari Allah yang sejati, dan mendekati Dia dengan sikap yang benar. Dan percaya kepada Allah bagi kita berarti:
a. mengaku bahwa kita adalah milik Tuhan. Dialah yang telah menciptakan kita, menopang hidup kita, dan yang menyelamatkan kita dengan sempurna. Seluruh keberadaan kita: nyawa, harta, kesehatan, talenta, orang-orang yang kita kasihi, semua adalah milik Tuhan. Ia yang memiliki hak dan otoritas penuh untuk mengatur bagaimana semua itu dipakai bagi kemuliaanNya. Pada diri kita, dan semua yang dipercayakan Tuhan itu, seharusnya diberi cap ROFGU (Reserved Only for God’s Use, artinya “dikhususkan hanya untuk digunakan bagi tujuan Allah”.
b. menerima kedaulatanNya yang mutlak atas hidup kita. Dia adalah Tuhan kita di kantor, di rumah, di mana saja. Dia berotoritas penuh atas seluruh hidup kita. Terhadap pertanyaan esensial ini: Who is really in charge of my life – God or me? jawaban kita adalah jelas, yaitu: God. Allah adalah Tuhan dan Pemimpin yang berotoritas penuh atas hidupku. Hidupku adalah untuk menjalankan perintahNya. Dia yang menetapkan programNya untuk kita jalani, bukan kita yang mengatur Allah. Apapun juga jalan hidup yang ditetapkan Allah bagi kita, apakah harus bersabar seperti Abrham, diperlakukan dengan tidak adil seperti Yusuf, mengalami penderitaan seperti Ayub, kita hanya dapat menerima ketetapan Allah dengan ketaatan. Always say Yes to God dan say No to sinful self
c. memberikan tempat yang terutama dalam hati kita hanya bagi Allah. Kita tidak membiarkan adanya suatu berhala, apapun itu dalam hati kita (Kel 20:3) Orang beriman lebih mengutamakan Allah daripada bapa atau ibunya, anaknya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sekalipun (Mat 10:37). Walaupun sangat mengasihi Ishak, tetapi Abraham mempersembahkan kepada Tuhan, sesuai perintah Tuhan, karena ia lebih mengutamakan Tuhan dan mentaati Dia. Karena itu, Ia dan keturunannya diberkati. Orang yang mengutamakan anaknya, dirinya, hartanya lebih dari Tuhan akan menemukan semua yang dikasihinya itu akan hancur dan membawa dia kepada kehancuran. Hanya dengan menempatkan Tuhan sebagai yang utama dan pemimpin hidup kita, seluruh hidup kita akan mendapatkan tatanan yang akan membawa kita kepada kesejahteraan. Amin.