Ringkasan Khotbah : 10 Maret 2002

Doktrin Roh Kudus (1)

Nats: Yohanes 14: 15-17

Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno

 

Yoh 14:15 menunjukkan bahwa kasih memotivasi dan menuntut ketaatan setiap anak Tuhan, “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintahKu.” Ketaatan yang dimaksud bukan sekedar karena adanya tekanan (pressure) hukuman atau ancaman terlalu berat tetapi justru karena cintakasih. Memang, perintah tersebut tidaklah mudah untuk dijalankan.

Banyak orang dunia terpaksa taat karena takut. Jadi, bukan karena keinginan pribadi. Perlakuan seperti itu melatih ketaatan munafik dan bukan karena the understanding of truth and love (pengertian akan kebenaran dan cintakasih). Ketaatan semacam itu dapat menjadikan seseorang bersikap jahat hingga masuk ke dalam ikatan Setan yang akhirnya mencengkeramnya. Maka orang Kristen harus mengerti format dimana keadilan dan cintakasih dijalankan secara bersama.

Orang beragama termasuk Kristen seringkali giat melayani dengan alasan karena takut kelak masuk Neraka. Jiwa semacam itu sangat rendah dan bukan berdasarkan prinsip Kristen. Para bidat selalu menjalankan movement (gerakan) melalui fanatisme atau tekanan ketaatan yang keras hingga membuat jemaatnya sangat giat, serius dan bersemangat. Contohnya, mereka mengancam jemaat jikalau tak mau taat maka akan dikutuk oleh Tuhan hingga hidupnya hancur atau dikeluarkan dari Gereja dan segala macam ancaman mengerikan. Bahkan mengancam akan membunuh anggotanya yang tidak taat.

Tuhan justru menunjukkan sifatNya yang anggun dan agung dengan taat melakukan segalanya secara sungguh berdasarkan motivasi cinta. Konsep tersebut hanya muncul dalam iman Kristen yaitu kembalinya manusia kepada kasih Allah. Jadi, ketika berlimpah kasih ilahi sejati, muncullah ketaatan pada kehendakNya karena dorongan cinta akan Tuhan hingga takkan mau mengecewakan dan menyakiti hatiNya. Selain itu, ia takkan melakukan apapun yang tak berkenan kepadaNya, apalagi yang mempermalukanNya. Dengan kata lain, ia pasti melakukan yang terbaik bagiNya.

Konsep sejati tersebut kemudian diturunkan dalam relasi pernikahan. Alkitab mengajarkan bahwa istri harus tunduk mutlak pada suaminya karena cinta, seperti jemaat kepada Kristus. Ia selalu ingin menyenangkan suaminya. Maka keluarga semacam itu pasti sangat indah. Dunia justru berusaha membalik nuansa tersebut. Akibatnya, ketika hendak menjalankannya, orang Kristen mengalami kesulitan karena ego dan kejahatan pikiran manusia serta tekanan filsafat dunia yang rusak. Ketika manusia tak bersedia kembali kepada Tuhan dan mencintaiNya dengan sungguh, tak mungkin ia mampu mencintai seperti itu di tengah dunia. Maka orang dunia iri terhadap Kekristenan karena tak mampu walaupun sebenarnya berkeinginan. Fakta ini menjadi pembeda yang sangat drastis.

Kekristenan mengenal order (urutan) kebenaran yang dimulai dari Diri Allah lalu diturunkan dengan format headship (kekepalaan). Maka urutan tersebut akan menimbulkan ketaatan karena cinta dimana kualitasnya makin tinggi hingga kembali kepada keanggunan Tuhan sebagai end point (tujuan akhir). Inilah gambaran seluruh totalitas hidup yang terarah kepada Tuhan. Sedangkan kualitas orang dunia makin lama semakin hancur binasa. Kedua format tersebut takkan pernah ketemu karena arahnya berlawanan.

Manusia tak dapat diubah dari luar untuk mampu mencintai lalu taat. Tak ada upaya yang dilakukan oleh pihak luar seperti bujukan atau rayuan dapat membuat seseorang mencintai dengan sungguh. Sebaliknya, cintakasih yang tulus muncul dari dalam hati.

Untuk mengimplikasikan the true love (cintakasih sejati), Tuhan mengatakan, “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran.” (Yoh 14:16-17) Seharusnya, tak dapat digunakan istilah ‘seorang’ karena Roh Kudus bukan manusia. Tapi, bahasa Indonesia tak punya istilah yang tepat. Ialah the Comforter, Helper atau Parakletos (Penolong) sekaligus penguat yang memotivasi hidup orang Kristen dan merubah hati dari dalam. Jadi, tanpa Roh Kudus bekerja di dalam hati, tak mungkin terjadi perubahan yang menjadikan manusia sebagai anak Tuhan sejati. Setelah itu, barulah ia mampu mencintai dengan sungguh lalu taat kepada kehendakNya bukan dengan keterpaksaan tapi sebagai bagian dari natur dan kerinduannya dalam hidup.

Yoh 14 menunjukkan bagaimana doktrin Roh Kudus pertama kali diajarkan. Tapi, bukan berarti Roh Kudus baru muncul di Yoh 14 karena Roh Allah sudah bekerja di tengah dunia sejak Kej 1 hingga Wahyu. Sepanjang sejarah Firman, Roh Kudus adalah Allah yang kekal melampaui waktu. Tapi sebelum Yoh 14, Tuhan tak pernah mengajarkannya pada siapapun. Padahal sepanjang kehidupanNya di dunia, Roh Kudus ikut berperan. Alkitab mencatat bahwa ketika Ia dibaptis, Roh Kudus turun ke dalam DiriNya dengan rupa burung merpati. Selain itu, ketika Ia pergi ke padang gurun untuk dicobai, Roh Kuduslah yang memimpinNya. Namun Tuhan mengatakan, “Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia.” (Yoh 14:17) Jadi, ketika ada orang dunia mengatakan telah melihat Roh Kudus, berarti yang dilihatnya bukanlah Roh Kudus sejati. Dalam hal ini, terjadilah split kondisi menjadi 2 yaitu: (1)mereka yang Tuhan berikan anugerah untuk mengerti dan dipimpin oleh Roh Kudus; (2)mereka yang tak mengerti, melihat apalagi mengenalNya.

Dengan demikian, Tuhan telah memilah antara murid asli dan palsu. Yang asli takkan berpikir secara humanis (dari sudut pandang manusia). Yohanes dan Yakobus dalam Luk 9:54 kelihatan sangat galak tapi dengan 1 tujuan yaitu tak suka nama Tuhan dicemarkan dan dipermainkan. Akibatnya, mereka dibenci dunia tapi dicintai oleh Tuhan. Mereka menyadari siapa yang berhak dicintai dan didengarkan. Sebaliknya, Yudas hanya melihat keinginan dunia. Karena itu, ia dicintai manusia. Tetapi di lain pihak, ia dibuang oleh Tuhan. Akhirnya, ia mati dalam kehancuran. Demikian pula dengan Saul dan Daud. Sebagai raja, Saul hanya memikirkan kepentingan rakyat tanpa mempedulikan kehendak Tuhan. Sedangkan Daud memikirkan kepentingan Tuhan sehingga dipeliharaNya walaupun memiliki kesalahan, kelemahan dan kekurangan. Kejadian yang sama juga dialami oleh Samuel dan anak-anak Imam Eli, Esau dan Yakub, serta Kain dan Habil.

Dalam Perjanjian Lama, perbedaan sikap seperti itu ditunjukkan hanya sebagai fenomena. Tapi di Perjanjian Baru, dibukakan dengan jelas bahwa perbedaan tersebut muncul dari dalam hati (Yoh 14:16-17). Maka ketika manusia memperoleh kesempatan untuk diubah oleh Tuhan secara pribadi, itu merupakan anugerah yang terlalu besar. Ironisnya, orang Kristen seringkali tak menyadari akan perubahan tersebut.

Roh Kudus merupakan salah satu Pribadi atau bagian dari Allah Tritunggal. Setelah mempelajari Yoh 14:16, orang Kristen seharusnya langsung memiliki keseimbangan paradoksikal tentang Kristus.

Sepanjang Alkitab, istilah ‘parakletos’ tak pernah dipakai selain untuk Kristus dan Roh Kudus yang adalah Oknum Allah. Istilah ‘pengantara’ dalam I Yoh 2:1 juga menggunakan ‘parakletos’. Sebenarnya, bagian tersebut bukan membicarakan tentang pengantara (mediator) tetapi seseorang yang mendoakan, menolong dan support orang lain. Sedangkan istilah ‘adil’ dalam teks aslinya tertulis ‘dikaiosune’ yang berarti ‘righteous’ (benar yang adil). Sungguh, Tuhan memakai istilah yang sangat teliti untuk menyatakan Allah Tritunggal. Kristus sebagai Penolong meminta Penolong yang lain. Kalimat tersebut menunjukkan kesejajaran atau kesetaraan. Dengan kata lain, tak ada yang lebih tinggi. Maka Kristus dan Roh Kudus memiliki kesamaan natur yaitu Pribadi Allah.

Dalam Yoh 14:16, struktur Pribadi Tritunggal baru dijelaskan secara riil dan total, “Aku (Kristus) akan minta kepada Bapa (the Father), dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain (the other Comforter).” Dengan demikian, ketiga Pribadi tersebut berbeda satu sama lain tapi memiliki satu essensi yaitu Allah. Tiga Pribadi dapat menjadi satu entity (keutuhan) karena berada dalam dimensi kekekalan yang melampaui waktu.

Sabellianisme mengajarkan bahwa Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus sebenarnya hanya satu pribadi tapi penampilan atau statusNya berganti-ganti. Akibatnya, ketika Allah turun berinkarnasi ke tengah dunia sebagai Yesus Kristus, Surga menjadi kosong. Jadi, ketika Tuhan kembali ke Surga, Ia hanya berganti model selama 10 hari lalu turun lagi ke dunia dalam rupa Roh Kudus dan masuk ke hati orang percaya. Ajaran semacam ini sesat.

Walaupun memiliki natur yang sama, ketiga Pribadi tersebut mempunyai cara kerja dan tugas berbeda. Saat bekerja, muncullah tingkatan di antara ketiganya yang tak dapat dibalik. Anak minta kepada Bapa supaya mengirimkan Roh Kudus karena Ia tak dapat melakukannya secara langsung. Lalu Yoh 14:26 mengatakan, “tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam namaKu.” Jadi, Bapa tak dapat mengutus Roh Kudus kecuali dalam nama Yesus atau melalui Kristus. Anak tak melakukan apapun dari DiriNya kecuali Bapa memberi perintah. Maka ketaatan Anak kepada Bapa bersifat mutlak. Di lain pihak, dalam doa di taman Getsemani, Anak menyatakan kehendakNya, “Ya BapaKu, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu daripadaKu, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” (Mat 26:39) Lalu Yoh 16:13-14 mencatat, “Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diriNya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengarNya itulah yang akan dikatakanNya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku (Kristus), sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimaNya daripadaKu.” Maka Roh Kudus tunduk kepada Kristus yang tunduk kepada Bapa. Urutan tersebut menjadikan seluruh garis kebenaran tak dapat teracak. Tiga Pribadi boleh memiliki 3 pikiran, kehendak dan emosi tapi tak boleh split hingga terjadi inconsistency (ketidakserasian) karena garis otoritasnya hanya satu. Maka tak mungkin terjadi kontradiksi antara ajaran Roh Kudus dan Kristus. Demikian pula antara Anak dan Bapa.

John Calvin, pendiri Reformed Theology, dengan tegas mengatakan, “We should understand that the Holy Spirit is the Magister of truth.” Ialah Pengajar yang sangat kokoh dan menguasai dalam hal kebenaran. Amin.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)