![]() |
Ringkasan Khotbah : 03 Maret 2002 Love & Obey Nats: Yohanes 14: 15-17, 21 Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno |
Sesungguhnya, surat Yohanes yang asli tak dipisahkan dengan judul, pasal dan ayat. Sehingga konteks Yoh 14:14 & 15 tak terpisahkan dan seharusnya tak boleh dipotong menjadi 2 bagian. Tapi demi mempermudah jemaat dalam mempelajari Firman, Lembaga Alkitab memberi judul, pasal dan ayat. Di lain pihak, terdapat dampak negatif yaitu ketika jemaat lupa bahwa penafsiran Alkitab seharusnya secara kontekstual dimana seluruhnya dimengerti secara total dan integrated. Akibatnya, penafsirannya menyesatkan karena studi yang kurang cermat dan akurat.
Yoh 14:15 merupakan ayat pengunci Yoh 14:12-14 yaitu, “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintahKu.” Dalam Yoh 14:21, ayat tersebut dibalik, “Barangsiapa memegang perintahKu dan melakukanNya, dialah yang mengasihi Aku.” Dengan kata lain, bagaimana orang Kristen mencintai Tuhan tak terlepas dari bagaimana ia taat melakukan semua perintahNya. Maka, orang yang tak melakukannya dengan alasan apapun berarti tak cinta Tuhan. Jikalau ia melakukan semua perintahNya, pasti tak mungkin meminta hal-hal negatif. Maka hanya orang yang cinta dan percaya Tuhan berhak meminta kepadaNya. Dengan demikian, kaitan antara ayat 14 & 15 tak dapat diselewengkan dan dipermainkan.
Inti iman Kristen justru terdapat dalam Yoh 14:15 & 21. Christianity is the religion of love (Kekristenan adalah agama cintakasih). Inilah statement umum. Bahkan orang non-Kristen pun mengakuinya. Seluruh hukum Kristen tak dapat dimengerti seperti yang dunia mengerti. Kedua konsep hukum tersebut sangat berbeda. Orang dunia mengerti hukum sebagai tuntutan, tekanan dan ikatan atau aturan yang mengunci serta membatasi hingga sangat dibenci. Sedangkan hukum Kristen berkaitan dengan kasih. Law is love (Hukum adalah kasih). Walaupun sudah membaca seluruh Perjanjian Lama, orang Yahudi tetap tak mampu memahaminya. Padahal Tuhan telah membukakan konsep bahwa Allah adalah kasih. Dunia memang tak mampu menangkap essensi tersebut. Akhirnya, orang Yahudi terjerumus ke dalam hukum Taurat dan Farisi yang menjepit seluruh kehidupan mereka dengan deretan aturan.
Karena merasa sebagai ahli hukum, orang Farisi berusaha menjebak Tuhan dengan pertanyaan, “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” (Mat 22:36) Mereka mengira Ia akan memilih salah satu dari 10 hukum. Padahal setiap hukum termasuk penting dan tak dapat dilepaskan satu sama lain. Ternyata, jawaban Tuhan tak seperti pemikiran mereka, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Mat 22:36-40) Maka orang Kristen harus mengerti bahwa akar Kekristenan adalah love (kasih). Dengan kata lain, Kekristenan menegakkan konsepnya di atas kasih.
Namun, di dalam kasih telah terjadi penyelewengan isi karena ternyata manusia tak mampu memahaminya secara tepat walaupun sebenarnya menyadari bahwa ia sangat membutuhkannya dan tak dapat hidup tanpa kasih. Berita yang paling disukai oleh orang dunia adalah tentang kasih. Fakta tersebut menunjukkan betapa mereka haus akan kasih. Abraham Maslow mengatakan bahwa salah satu kebutuhan terpenting di dunia adalah dikasihi dan mengasihi. Hidup memang tak terlepas dari kasih. Namun kasih yang ada di dunia telah mengalami distorsi dosa dan tak lagi berasal dari Sumber kasih. Maka orang Kristen perlu kembali pada definisi kasih sejati yang sanggup merubah seluruh hidup.
Menurut Alkitab, love is to love your God and neighbors (cinta adalah mencintai Allah sekaligus sesama). Kasih adalah hukum yang dapat memotivasi seluruh hidup. Dengan demikian, kasih bukanlah sekedar luapan emosi, slogan, lip-service (ucapan manis di bibir saja), nyanyian merdu atau tampilan sesaat.
Dalam buku berjudul ‘Religious Affection’, Jonathan Edwards mengkritik konsep kasih dunia. Menurut pemikirannya, kasih sejati harus keluar dari hati yang telah diperbaharui oleh Tuhan. Itulah inti kasih sesungguhnya. Dengan demikian, kasih merupakan keberadaan seluruh hidup.
Kasih yang essensial akan membentuk keutuhan. Kasih tersebut mencakup 2 aspek yang harus dijalankan dan digabungkan secara essensial juga yaitu bagaimana manusia mencintai Allah yang kemudian dimanifestasikan dengan mengasihi sesama. Seseorang yang mengasihi Allah tak mungkin merugikan dan memanipulasi orang lain. Demikian pula sebaliknya, orang yang mencintai sesama tak mungkin melawan prinsip Tuhan, melecehkan dan mempermainkan FirmanNya. Ketika mengasihi sesama, saat itu merupakan manifestasi ketaatannya kepada Tuhan. Maka hubungannya harus muncul dari kasih terhadap Allah.
Kasih dunia seringkali memanifestasikan egoisme yang sangat berlawanan dengan konsep Alkitab. Sebenarnya, ia tak mencintai Tuhan dan sesama melainkan diri sendiri. Kalaupun menyatakan cinta, tindakan itu hanya untuk memuaskan keinginannya. Dengan demikian, ia telah memanipulasi kata ‘cinta’ hingga menjadi sangat kosong karena tak ada lagi kesungguhan untuk rela berkorban. Yang dipikirkan hanyalah keuntungan dan kenikmatan diri.
Tuhan Yesus telah memberi teladan bagaimana Ia sangat mencintai orang berdosa hingga rela turun dari Surga dan menanggalkan segala kemuliaanNya. Ia juga tak melakukan apapun dari DiriNya sendiri melainkan tunduk kepada perintah dan kehendak Bapa. Bahkan ia rela mencurahkan darah dan mati di kayu salib demi menebus manusia yang sangat jahat hingga layak dibenci serta dibinasakan karena telah menyakitiNya. Dengan demikian, Ia bukan sekedar menunjukkan teori kasih melainkan juga memanifestasikannya dalam kehidupanNya di dunia. Ia sangat mengasihi manusia karena cintaNya kepada Bapa. Sesungguhnya, tak ada alasan bagiNya untuk mencintai orang berdosa. Namun, cinta dapat menimbulkan ketaatan untuk melakukan semua kehendak BapaNya di Surga.
Orang dunia tak mungkin melakukan hal tersebut. Maka Tuhan mengatakan, “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya yaitu Roh Kebenaran.” (Yoh 14:16-17) Ialah yang membimbing, mengajar dan membentuk hati setiap orang Kristen. Kemudian Tuhan melanjutkan, “Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.” Pengajaran tentang Roh Kudus tak pernah diberikan oleh Kristus sebelum ayat tersebut karena sangat berbahaya dan dapat dimanipulasi. Hingga saat ini, doktrin tersebut telah dirusak oleh banyak orang Kristen karena tak bersedia belajar dan taat kepada Firman.
Kekuatan kasih sejati tak mungkin muncul dari manusia melainkan Roh Kudus. Barulah orang Kristen mampu mengasihi Allah dengan benar, tepat dan sungguh. Tiap agama boleh mengaku mencintai Tuhan. Tapi setelah dilihat manifestasinya, dapat disimpulkan bahwa itu bukan cinta Tuhan sejati karena tuntutanNya untuk menyangkal diri lalu mencintai Allah dan sesama tak pernah terjadi. Hanya kuasa Roh Kudus yang mampu membentuk dari dalam diri dan membuat manusia mengerti cinta Tuhan sangat besar. Perubahan konsep seperti itu merupakan anugerah Tuhan bagi setiap anakNya. Orang yang mampu mencintai dengan sungguh akan menyadarinya sebagai anugerah terlalu besar. Maka ia akan terus menerus berlimpah kasih walaupun mungkin dihancurkan dan menjadi korban orang lain.
Contohnya, David Livingstone, misionari yang menerobos masuk ke pedalaman Afrika yang belum pernah terjamah. Di sana, ia diperlakukan dengan sangat jahat karena dianggap mengganggu keuntungan para pedagang budak. Ia masuk ke tengah penduduk Afrika untuk mendidik mereka hingga menjadi Kristen dan mengerti akan harkatnya sehingga perbudakan dapat dihentikan. Akibatnya, ia dimusuhi dan dilawan. Namun, cintanya kepada Tuhan dan bangsa membuatnya terus berjuang, melayani dan memberitakan Injil hingga mati walaupun pernah diajak pergi meninggalkan Afrika. Jiwa seperti ini tak mungkin terjadi kecuali cinta Tuhan membakarnya.
Bagi orang dunia, pengorbanan Kristus demi menebus dosa manusia terkesan sangat tak masuk akal karena ia memang tak mau dirugikan. Alkitab mengatakan bahwa demi orang baik mungkin masih ada yang bersedia mati. Tapi demi orang benar, tindakan tersebut sangat sulit dijalankan.
Kasih sejati kepada Tuhan harus dimanifestasikan dengan mutlak mentaati segala perintahNya. Maka love adalah keinginan untuk melakukan yang terbaik bagi orang tercinta. Dengan kata lain, kasih tanpa ketaatan adalah omong kosong belaka.
Ada sebuah lagu yang sangat indah dan menyentuh sekaligus menggentarkan hati, “Aku mengasihi Engkau, Yesus, dengan segenap hatiku. Aku mengasihi Engkau, Yesus, dengan segenap jiwaku. Kurenungkan FirmanMu siang dan malam. Kupegang perintahMu dan kulakukan. Engkau tahu ya Tuhan, tujuan hidupku hanyalah untuk menyenangkan hatiMu.” Mungkin, suratkabar, majalah, internet, komik dan sebagainya lebih disukai daripada merenungkan Firman. Seringkali yang dilakukan hanyalah ambisi, keinginan dan nafsu diri. Sehingga seluruh tindakan dan keputusan tak berkaitan dengan kehendakNya. Terkadang, orang Kristen dapat menaikkan pujian dengan suara yang indah, tapi tanpa makna mendalam karena cinta yang tak lagi murni kepada Tuhan. Hendaknya lagu tersebut dapat dijadikan sebagai komitmen yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapanNya. Dengan demikian, mencintai Tuhan tidaklah sederhana melainkan membutuhkan komitmen, ketaatan, belajar mengerti Firman dan peka akan kehendakNya lalu menjalankan tugas dengan tepat.
Mencintai Tuhan adalah cinta sesungguhnya yang keluar dari Diri kasih itu sendiri. Iman Kristen mampu mengerti essensi kasih lebih jauh daripada semua agama dan filsafat. Mereka hanya mengerti bahwa Allah memiliki sifat kasih dan mengasihi. Tapi, Alkitab mengatakan bahwa Allah adalah Pribadi kasih dan God loves merupakan implikasinya. Maka kasih sejati adalah Diri Allah sendiri dan bukan sekedar sifat atau tindakan. Sehingga kasih sejati tak terlepas dari natur Allah karena merupakan keterikatan denganNya. Jadi ketika mengasihi, tindakan tersebut adalah manifestasi integritas seluruh sifat dan atribusi Allah antara lain: benar, suci, kudus, agung, mulia, adil, indah dan anggun. Sekali lagi ditekankan bahwa inti kasih berada dalam Diri Allah. Dengan demikian, Kekristenan jangan sampai dicemari oleh cinta duniawi karena Tuhan yang adalah kasih juga menyediakan Neraka bagi mereka yang tak bersedia kembali pada kebenaran Firman. Amin.
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)