![]() |
Ringkasan Khotbah : 24 Februari 2002 Dinamika Iman Ahas Nats: Yesaya 7: 1-17 Pengkhotbah : Ev. Thomy J. Matakupan |
Konteks Yes 7:1-17 adalah ketika Israel telah terpecah menjadi 2 bagian yaitu Yehuda (2 suku) dan Israel (10 suku). Pada waktu itu, Yehuda dikepung oleh gabungan Israel dan Aram hingga semua orang Yehuda terutama sang raja bernama Ahas mengalami ketakutan. Maka ia mulai mencari bantuan perang dan bersedia mengikat perjanjian dengan raja Asyur karena jikalau berperang dengan kekuatannya saja, Yehuda pasti terkalahkan.
Di tengah keadaan seperti itu, Tuhan memilih dan memerintahkan nabi Yesaya untuk menyampaikan kehendakNya atas Yehuda, “Teguhkanlah hatimu dan tinggallah tenang, janganlah takut dan janganlah hatimu kecut karena kedua puntung kayu api yang berasap ini, yaitu kepanasan amarah Rezin dengan Aram dan anak Remalya.” (Yes 7:4) Oleh karena Ia telah memberitahukan akhir peperangan tersebut, “Tidak akan sampai hal itu, dan tidak akan terjadi.” (Yes 7:6) Yes 7:1 juga mengatakan, “…namun mereka tidak dapat mengalahkannya.”
Lalu Tuhan mengijinkan Ahas meminta tanda. Tapi, jawabannya sangat berbeda, “Aku tidak mau meminta, aku tidak mau mencobai Tuhan.” (Yes 7:12) Maka Tuhan berinisiatif memberi tanda yaitu berita Immanuel (arti: Allah beserta kita) yang merupakan fokus atau inti utama berita Yesaya pada Ahas. Berita tersebut hadir dalam suasana tak menentu dan juga disampaikan dengan konteks sangat ironis karena Ahas telah berniat mengambil keputusan untuk meninggalkan Tuhan dan bergabung bersama bangsa Asyur. Yes 7:14 mencatat berita Immanuel sedemikian, “Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Immanuel.”
Sungguh, 2 kondisi yang sangat kontras. Suasana memang genting tapi Alkitab melalui Yesaya mengatakan bahwa hati Ahas dan rakyat sesungguhnya tak perlu gemetar ketakutan seperti pohon hutan bergoyang ditiup angin. Ahas justru menanggapinya dengan hati dingin dan sangat negatif walaupun penampilan luar kelihatan positif karena memang sudah tak berminat lagi. Selain itu, ia tak ingin terlihat salah bertindak meskipun sadar akan kesalahannya. Dengan demikian, ia telah melakukan penipuan iman. Mungkin, ia sebenarnya mengakui kebenaran berita tersebut. Tetapi, keadaan terasa lebih nyata sedangkan Firman dan penggenapannya kelak di kemudian hari karena harus melalui proses cukup lama. Yes 7:2 mencatat, “Aram telah berkemah di wilayah Efraim.” Artinya, mereka berada dalam jarak dekat dan hanya menunggu waktu yang tepat untuk menyerang dan menghabisi Yehuda.
Kalau mau jujur, ada banyak Firman yang ditanggapi dengan sangat dingin oleh orang Kristen. Adapula yang ditanggapi dengan sikap biasa saja karena sudah tahu sebelumnya. Bagi orang berdosa, Firman bukan menjadi standard sikap mereka melainkan dimengerti hanya sebagai ide, input atau alternatif yang baik dan mengandung ajaran moral tinggi. Tapi, mereka tetap bertahan pada keputusan sendiri karena Firman tak sesuai konteks yang dihadapi dan pertimbangan akal. Ada juga yang menanggapinya dengan sinis. Sikap tersebut menunjukkan ketidakpercayaan mereka. Mzm 1:5 mengatakan bahwa orang fasik pasti takkan tenang berada dalam perkumpulan orang benar. Sedangkan bagi orang percaya, ada 2 kemungkinan dalam menanggapi Firman: (1)positif; (2)negatif. Secara positif berarti ia menyambut Firman lalu menjadikannya sebagai bagian hidupnya hingga berbuah limpah. Selain itu, mungkin ia menanggapinya secara netral. Sikap semacam itu tergolong negatif karena tak berdampak apapun. Padahal Alkitab mengatakan bahwa Tuhan dan Firman tak dapat dipisahkan. Di mana Firman berada, di situ Allah ada. Demikian pula sebaliknya, di mana Allah berada, pasti ada Firman yang disampaikan. Tampaknya, pola yang dilakukan oleh orang tak percaya kerapkali diadopsi orang Kristen tanpa memperhatikan bahwa di belakang Firman terdapat kuasa Tuhan yang bekerja dan merubah. Sehingga Firman dimengerti hanya sebagai berita menggentarkan tapi tak berkaitan dengan kehidupan pribadi, sama seperti surat kabar. Firman seharusnya menjadi landasan orang percaya dalam menentukan sikap.
Ketika Yesaya mengatakan, “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda” (Yes 7:14), Ahas hanya diam karena hatinya tertuju pada bangsa Asyur. Tuhan dengan jelas mengetahui keadaan Yehuda hingga berfirman pada Yesaya, “Baiklah engkau keluar menemui Ahas” (Yes 7:3) dan langsung bersikap tepat pada waktunya di tengah kegalauan anakNya. Tetapi, Ahas justru bukannya berharap kepada Firman melainkan pada janji raja Asyur yang tak kenal Tuhan. Inilah yang membuat Tuhan sangat marah. Dalam Kitab Yesaya pasal selanjutnya dicatat bahwa Tuhan akan menghancurkan Asyur, Israel dan Aram. Hanya Yehuda yang Tuhan pelihara.
Banyak orang Kristen juga memiliki dinamika iman Ahas ketika berhadapan dengan masalah yang menuntut keputusan segera. Mungkin, mereka akan mencari alternatif lain dan mengabaikan Tuhan. Justru orang lain yang dapat memberi keteduhan hati dan bukan kehadiran Tuhan sebagai Immanuel. Dengan demikian, berita tersebut tak lagi menggembirakan. Mereka memang tak mengatakan kalimat negatif tapi hati telah terpaut pada ‘allah’ lain yang dianggap mampu menyelesaikan semua problem. Dan tiap reaksi merupakan manipulasi untuk menutupi keadaan sebenarnya.
Ahas pasti bukanlah orang bodoh. Ia mengetahui tujuan Yesaya datang dan mengatakan demikian. Pasti ada kesalahan yang telah diperbuatnya. Lalu ia mencoba menutupinya dengan mengambil langkah rohani (Yes 7:12) karena sadar bahwa dirinya sedang berhadapan dengan abdi Allah. Namun ia justru menanggapi Firman dengan iman bengkok. Padahal Yesaya berusaha memperingatkannya untuk menjaga hati dan waspada terhadap segala penyelewengan. Maka ketika mendengar berita tersebut, mungkin ia terkejut sekali karena bertolak belakang dengan keputusannya. Kehadiran Yesaya dianggap sebagai musuh, penghalang besar dan pengganggu otoritasnya. Berarti, ia telah menolak Firman sekaligus menolak Tuhan.
Prinsip tersebut juga dinyatakan ketika Tuhan pertama kali mempertobatkan Paulus, “Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?” (Kis 9:4) Padahal kenyataannya ia tak pernah menganiaya Tuhan. Tetapi, Ia mengidentikkan Diri dengan umatNya. Sehingga menganiaya anak Tuhan sama dengan menganiaya Allah.
Orang yang menganggap pembawa Firman sebagai ancaman, biasanya takut pergi ke Gereja karena tak bersedia dibongkar hatinya oleh Tuhan. Inilah sikap orang belum bertobat. Adapula anak Tuhan yang takut mendengarkan Firman karena harus berhadapan dengan tuntutan perubahan dan tanggung jawab dari Tuhan bahkan mungkin harus membuang semua kesenangan yang tak berkenan kepadaNya. Sikap tersebut merupakan perspektif dan apriori negatif. Padahal Tuhan kelak pasti menggantinya dengan yang baru dan lebih baik. Ketika dituntut oleh Tuhan untuk membuang kebiasaan buruk yang sungguh disukai dan dinikmatinya, seringkali manusia tak rela.
Untuk meneguhkan berita tersebut, Yesaya berkata, “Mintalah suatu pertanda dari Tuhan, Allahmu.” (Yes 7:10) Tuhan mengetahui bahwa Ahas sedang mengalami kegoncangan dan problem iman hingga membutuhkan tanda yang kasat mata.
Banyak kalimat rohani seperti pernyataan Ahas dalam Yes 7:12, kerapkali diungkapkan oleh orang Kristen untuk menjaga supaya penampilan tetap rohani. Padahal hati telah bengkok. Orang lain bahkan hamba Tuhan sekalipun mungkin takkan pernah mengetahuinya. Yang tahu hanyalah Tuhan dan diri sendiri.
Jikalau Ahas bersedia minta tanda dari Tuhan maka ia harus konsisten. Maksudnya, ia harus meninggalkan Asyur dan kembali bergantung kepada Tuhan. Padahal menurut pemikirannya, ia telah mendapat pegangan yang kuat yaitu Asyur.
Pada jaman itu yang tergolong masa Perjanjian Lama, minta tanda harus dilakukan karena prinsip pengertian, pengaturan dan jalan Tuhan yaitu Alkitab belum ada. Selain itu, tindakan tersebut merupakan perintah Tuhan sendiri. Tetapi pada masa kini, Alkitab telah diberikan secara lengkap dan sempurna sebagai prinsip untuk mengetahui kehendak Tuhan sehingga tak diperlukan adanya tanda lain, kecuali Ia sendiri yang memerintahkan.
Memang, dalam Perjanjian Lama terdapat prinsip tak boleh mencobai Tuhan. Tetapi, perkataan Ahas muncul dari hati yang bengkok serta tanpa kesediaan untuk berubah. Orang Kristen juga seringkali menolak Tuhan dengan memakai Firman. Dengan kata lain, Alkitab dipakai untuk melawan Tuhan. Contohnya, ketika anak Tuhan sulit melawan dosa maka kalimat yang dipakai adalah, “Roh memang penurut tapi daging lemah” untuk meminta Tuhan memaklumi.
Setelah tanda diberikan maka Ahas harus merubah keputusan. Tindakan tersebut bermasalah baginya karena ia merasa tak berpengharapan tanpa Asyur dan semua perlengkapan perangnya. Memang, Tuhan tak pernah bekerja tanpa tuntutan bahwa umatNya harus menyelaraskan hati sesuai kehendakNya.
Alkitab berulangkali mengatakan, “Lalu diberitahukanlah kepada keluarga Daud…” (Yes 7:2) dan “Baiklah dengarkan, hai keluarga Daud!” (Yes 7:13). Yesaya harus memakai sebutan tersebut sebagai sindiran keras terhadap Ahas karena Tuhan sangat setia pada perjanjianNya dengan Daud dan semua keturunannya. Tetapi, Ahas tak merasakannya. Yang dipikirkannya hanyalah musuh yang siap menyerang. Sehingga semua janji Tuhan pada Daud dan keluarganya tak lagi dipandang sebagai harta besar.
Secara natur, orang berdosa memang tak suka bergaul dengan Allah dan Firman. Bahkan Tuhan tak pernah diijinkan terlibat dalam kehidupannya. Padahal Firman seharusnya menjadi cermin yang jelas serta sarana untuk mengukur diri secara jujur dan terbuka. Adapula orang yang mencoba menenangkan hati dengan memenuhi semua tuntutan dan kewajiban keberagamaan. Misalnya, tiap Minggu datang kebaktian dan berusaha memberi persembahan. Kalau mau jujur, orang Kristen seringkali menipu diri. Ada juga orang yang menjalankan hidup keberagamaan dengan membius dan memaksa diri untuk sering berdoa, membaca Alkitab dan berpuasa. Tapi, sebenarnya bukan untuk Tuhan. Tindakan semacam itu sama dengan orang Farisi dan ahli Taurat dimana hidup keberagamaan hanya untuk diri sendiri. Jikalau bagi Tuhan maka yang harus dipikirkan adalah Dia dan segala tindakanNya dalam diri manusia. Ketika datang, Firman takkan kembali dengan sia-sia melainkan akan terus memperingatkan dan mungkin bertindak keras. Amin.
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)