Ringkasan Khotbah : 17 Februari 2002

The Greater Works than Christ's

Nats: Yohanes 14: 10-14; matius 7: 21-23; Amsal 22: 29

Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno

 

Kembali kepada Firman merupakan anugerah tak ternilai karena pikiran orang Kristen dibuka hingga mampu mengerti serta menerima the truth lalu tunduk di bawah kebenaran yang diaplikasikan dalam hidup. Kalau tidak, ia akan makin rusak karena terjadi manipulasi tiap kali kebenaran diberitakan.

Salah satu bagian yang paling sering dimengerti secara salah adalah Yoh 14:10, “Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diriKu sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaanNya.” Contohnya, ada orang Kristen yang beranggapan bahwa dengan iman, segala penyakit termasuk terparah sekalipun pasti dapat disembuhkan. Adapula yang beranggapan bahwa Tuhan ada dalam dirinya maka tiap perkataannya merupakan kehendak Tuhan sendiri. Jadi, ia menganggap dirinya sebagai Tuhan. Inilah kekacauan yang terjadi ketika ayat exclusive ditangkap oleh orang belum bertobat.

Kemudian Tuhan mengatakan, “Percayalah kepadaKu, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepadaKu, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa.” (Yoh 14:11-12) Ayat tersebut dapat pula diselewengkan hingga muncul persepsi bahwa manusia lebih hebat daripada Tuhan.

Maka Tuhan mengatakan dalam Mat 7:21-23, “Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi namaMu, dan mengusir setan demi namaMu, dan mengatakan banyak mujizat namaMu juga?” Dengan kata lain, mereka mempertanyakan mengapa akhirnya masuk Neraka. Ia melanjutkan, “Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu. Enyahlah daripadaKu, kamu sekalian pembuat kejahatan.” Bahayanya, banyak orang Kristen terkecoh ketika melihat seseorang melakukan pekerjaan ‘besar’. Inilah yang terjadi ketika ayat exclusive tak dimengerti dengan perspektif tepat. Akibatnya, timbul penyelewengan iman sebagai manifestasi ego manusia.

Dalam Yoh 14:13-14, Tuhan mengatakan, “Dan apa juga yang kamu minta dalam namaKu, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepadaKu dalam namaKu, Aku akan melakukannya.” Ayat tersebut juga dipegang oleh orang tak bertanggung jawab tapi perspektif atau sudut pandang yang sesungguhnya telah digeser.

Dalam Yoh 14:10-14, Tuhan mengajak umatNya untuk melihat konsep iman secara tepat yang kemudian dimanifestasikan dalam pekerjaan. Ia telah memberi beberapa pengertian bagi orang Kristen untuk melihat pekerjaan yang tepat dalam kehidupan. Dalam Yoh 14:10 tampak adanya close relation atau keutuhan antara Kristus dan Bapa dimana apa yang Tuhan kerjakan merupakan manifestasi murni dari pekerjaan Bapa. Dengan kata lain, Kristus telah meniadakan Diri.

Manusia dicipta menurut gambar dan rupa Allah maka seharusnya memanifestasikan kehendak Tuhan dalam natur pribadinya. Alkitab mengungkapkan bahwa Allah bekerja, berkarya, mencipta, memelihara, menopang, menyelamatkan dan menyempurnakan, yang menunjukkan bahwa Allah aktif. Maka orang Kristen semestinya tak mengikut konsep dunia dimana Allah bersifat reaktif. Jadi, Ia hanya menjawab saat diperlukan. Dengan kata lain, manusia acting (bertindak) sedangkan Allah reacting (merespon). Itulah ciri atau aspek keagamaan paling mayoritas. Banyak orang Kristen juga masih beranggapan demikian. Akibatnya, konsep keselamatan menjadi terbalik. Manusia harus datang kepada Tuhan, barulah Ia menyambutnya. Demikian pula dengan konsep berkat. Manusia harus memancing dengan perpuluhan, barulah Tuhan memberkatinya. Jikalau ia tak minta dengan jelas maka Tuhan takkan memberi karena tak mengerti. Padahal manusia itu keras kepala dan tegar tengkuk. Maka Tuhan mesti beranugerah untuk mempertobatkannya sehingga sanggup hidup taat dan tunduk kepada kehendakNya. Dengan demikian, Tuhan memberi dan manusia menjawab. Inilah prinsip Alkitab.

Seluruh aktivititas dunia selalu dimulai dan bersumber kepada Allah. Manusia seharusnya menyadari bahwa ia tetap tak mampu melawan banyak aspek yang melampaui kekuatan dan kemampuannya meskipun telah memiliki segala daya upaya. Contohnya, tak seorangpun dapat memilih di mana ia dilahirkan dan siapa yang melahirkannya. Seringkali manusia baru beriman dan takut akan Tuhan ketika mengalami kesulitan, keputusasaan dan kekecewaan yang menghancurkan. Tapi, ketika kondisi membaik, ia langsung melupakannya. Ketika Ia aktif, ada 2 kemungkinan. Ketika Tuhan dan manusia aktif maka akan terjadi benturan kehendak. Hal itu dapat dihindari dengan kondisi dimana Tuhan aktif dan manusia reaktif.

The true spirituality is the true concept of following Christ. Kerohanian sejati adalah ketaatan mutlak untuk mengikut (Jawa: ngintil) Tuhan. Artinya, mengikut Dia di belakangNya secara terus menerus dan konsisten tanpa syarat atau mempertanyakan alasannya. Inilah cara terbaik dan aman. Tak peduli Tuhan menuntun ke kanan atau kiri. Yang penting, tak pernah lepas daripadaNya. Jikalau Tuhan berjalan ke kanan lalu orang Kristen juga aktif berjalan ke kiri maka celakalah ia karena akan tertinggal.

Yoh 14:10 hendak mengatakan bahwa Kristus adalah teladan manusia sejati. Selain itu, juga mengajarkan konsep obedience (ketaatan mutlak). Tapi, tak berarti bahwa ketika Tuhan aktif, manusia menjadi pasif karena sikap tersebut merupakan perlawanan terhadap gerakan Allah. Contohnya, ketika Tuhan memerintahkan untuk menjalankan sesuatu, ia malah diam saja. Dengan demikian, orang tak bekerja atau melayani telah berdosa terhadapNya. That’s the sin of ignorance (dosa karena tak bersedia mengerti dan melakukan).

Tuhan mencipta manusia untuk bekerja sebagai manifestasi naturNya. Bekerja memang melelahkan karena ia telah berdosa (Kej 3:17-19). Tapi, antara bekerja dan istirahat harus seimbang agar tak menghancurkan seluruh hidup. Maka tiap minggu terdiri dari 6 hari kerja dan 1 hari libur untuk beribadah kepada Tuhan.

Ketika bekerja, yang harus diperhatikan antara lain porsi, etos dan pelaksanaan kerja. Prinsip kerja Kristen tercatat dalam Yoh 14:10. Sedangkan etos kerja Kristen bukan untuk mencari uang atau aktualisasi diri melainkan merupakan tindakan reaktif manusia terhadap perintah Tuhan karena segala potensi dan kesempatan kerja termasuk pemberianNya. Ketika Allah memanggil seseorang untuk bekerja di perusahaan maka ia harus mengerjakannya. Dengan kata lain, ia telah menerima SPK (Surat Perintah Kerja) dari Tuhan. Setelah selesai, Tuhan pasti memberi hasilnya berupa makanan, perlengkapan dan kekuatan supaya ia dapat bekerja tiap hari. Jadi, orang Kristen bekerja bukan untuk memanipulasi dan mencari kepentingan diri melainkan agar dapat memperoleh berkat Tuhan kemudian mempersembahkannya ke Gereja bagi pekerjaanNya. Dengan demikian, seluruh hidupnya dapat mempermuliakan nama Tuhan. Ironisnya, manusia seringkali memutarbalikkan fakta tersebut. Akibatnya, seluruh etos kerja rusak. Ketika sukses, ia menjadi sangat sombong. Sebaliknya ketika gagal, ia sangat kecewa lalu memaki Tuhan. Tindakan tersebut menunjukkan kejahatan manusia.

Di dunia yang makin hancur, pekerjaan akan jauh lebih sulit. Tiap orang tak memungkinkan untuk mencari kepentingan sendiri. Seharusnya, ia mencari pimpinanNya sehingga Tuhan pelihara seluruh hidup. Saat itu, ia menjadi alat pekerjaanNya yang terus diperkembangkan dan Tuhan pasti provide (menyediakan) semua keperluan. Dalam perumpamaan talenta (Mat 25) terdapat konsep anugerah berdasarkan tugas dan ketaatan. Yoh 15:16 mencatat, “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam namaKu, diberikanNya kepadamu.” Janji Tuhan tersebut seringkali dipegang oleh manusia berdosa tapi perintah pada bagian sebelumnya dilupakan.

Maksud Yoh 14:12 adalah bahwa manusia tetap lebih kecil daripada Tuhan tapi pekerjaannya lebih banyak. Prinsip pekerjaan Tuhan tak pernah statis atau berhenti di posisi tertentu melainkan expanded. Banyak orang berpikir, jikalau mendapat hanya 1 talenta maka tak bersedia bekerja lebih. Padahal ada kemungkinan Tuhan akan memberinya 2 talenta atau lebih. Memang, tiap orang mulai dengan 1 talenta. Tapi ketika ia setia menjalankan pekerjaan kecil dengan baik dan tanggung jawab, Tuhan pasti mempercayakan yang lebih besar lagi.

Mat 25 mencatat bahwa hamba yang memperoleh hanya 1 talenta malah memendamnya di tanah. Dengan kata lain, ia malas. Maka Tuhan marah dan mengambil 1 talenta tersebut lalu memberikannya pada hamba dengan 10 talenta. Pimpinan yang bijaksana pasti memberikan tugas tambahan pada pekerja yang paling tanggung jawab. Ams 22:29 mengatakan, “Pernahkah engkau melihat orang yang cakap dalam pekerjaannya? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri, bukan di hadapan orang-orang yang hina.” Artinya, ia dipakai oleh Tuhan hingga memperoleh nilai dignity hidup.

Jikalau orang Kristen telah bekerja dengan prinsip tepat, seharusnya antara pekerjaan dan pelayanannya sinkron karena tujuan akhirnya sama yaitu kembali ke tangan Tuhan. Maka, etos kerja Kristen akan membangun etos pelayanan sejati. Dan pertanggungjawaban kerja merupakan tuntutan Tuhan yang tak dapat diabaikan. Terkadang, Setan memancing dan berjuang keras untuk merusak orang Kristen hingga tak pernah mengerti konsep pelayanan yang benar. Akibatnya, muncul banyak pemberotak hingga Gereja menjadi lumpuh dan jiwa kesaksiannya rusak.

Banyak orang Kristen berpikir, lebih baik menjadi anggota Gereja yang pasif agar tak mengetahui kekacauan pelayanan. Ketika tak melayani, ia tak mungkin jadi lebih baik. Maka semua cabang GRII harus kembali mendorong jiwa spiritualitas jemaatnya lalu menuntut disiplin pelayanan. Kerajaan Allah dimulai dari biji sesawi yang terus tumbuh hingga menjadi pohon besar dimana semua burung dapat bernaung. Amin.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)