Ringkasan Khotbah : 10 Februari 2002

The Spirit behind the Reality

Nats: Yohanes 14: 8-14

Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno

 

Ketika mengetahui prinsip pelayanan dan management Kristen, orang dunia menilainya sebagai yang terbaik namun ia tak mampu menjalankan, kecuali bertobat terlebih dahulu. Jikalau orang tak bertobat menyusup ke dalam pelayanan, ia pasti merusak segalanya. Memang, pelayanan Kristen seharusnya dijalankan oleh para anak Tuhan sejati yang setia dan taat pada pimpinan Kristus, lalu porsi kerohanian semestinya menjadi inti seluruh pekerjaan Tuhan dimana setiap jemaat harus dipertumbuhkan. Calvin dengan tegas menyatakan bahwa mereka yang berani merusak pelayanan harus dihukum. Jikalau Gereja melibatkan atau membiarkan orang tak rohani mendapat hak terutama berpendapat dalam pelayanan, tindakan itu akan menghancurkan Gereja.

Yoh 13:31 hingga Yoh 16 merupakan pengajaran Kristus yang sangat exclusive. Jikalau murid palsu atau orang non-rohani mempelajari bagian tersebut yang mengajarkan essensi iman Kristen terdalam maka: (1)ia tak mungkin mengerti secara tepat; (2) pasti terjadi ekses negatif dan kekacauan. Ia takkan mampu memahaminya tanpa Tuhan beranugerah karena pengajaran tersebut mengandung inti yang tinggi, agung, mulia, kudus dan benar hingga sangat berlawanan total dengan pemikiran dunia serta sifat manusia berdosa yang materialis, egois dan humanis. Sebelumnya, tak ada konsep tentang kehidupan kekal.

Tuhan Yesus datang ke dunia dan melayani cukup lama. Para murid dan orang awam mendengar pengajaranNya, antara lain etika, jiwa pelayanan, teladan hidup dan sebagainya. Selain itu, Ia melakukan banyak mukjizat seperti menyembuhkan orang sakit. Tapi, hanya para murid sejati yang akhirnya mengetahui bahwa kedatanganNya untuk menebus do­sa lalu kembali ke rumah Bapa dan menyediakan tempat, kemudian suatu saat kembali lagi ke dunia dan mengangkat umat pilihanNya ke sana. Tak semua orang berhak menerima keselamatan kekal melainkan hanya bagi mereka yang percaya kepada Kristus sebagai satu-satunya jalan, kebenaran dan hidup. Ketika mendengarnya, orang berdosa pasti marah dan tak suka, kecuali Tuhan telah menyentuh hati dan menyadarkannya.

Dalam Yoh 15, Tuhan mengajarkan mistical union (kesatuan mistis) yang sangat indah bersamaNya. Ketika mendengarnya, orang non-percaya langsung menggunakan konsep duniawi yaitu pantheisme karena sebenarnya memang tak dapat bersatu dengan Kristus secara utuh. Ketika bersekutu denganNya, Tuhan menuntut orang Kristen sejati harus menghasilkan banyak buah rohani bagi orang lain.

Yoh 14:12-13 mencatat, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepadaKu, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa; dan apa juga yang kamu minta dalam namaKu, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak.” Inilah doktrin providensia (pemeliharaan) Allah. Ketika dengan taat menjalankan pekerjaan Bapa, orang Kristen tak perlu takut karena adanya jaminan bahwa semua keperluan pasti Tuhan sediakan. Tetapi oleh orang dunia, pernyataan tersebut malah dijadikan alat egoisme untuk memanipulasi Tuhan.

Ketika mempelajari bagian yang sangat exclusive ini, biarlah Tuhan memakai dan merubah kehidupan orang Kristen hingga menjadi anak Tuhan sejati. Dunia telah memproses manusia menuju kebinasaan. Sedangkan anak Tuhan telah dibukakan kebenaran sejati.

Dalam Yoh 14:8-14 terdapat perbandingan antara pemikiran dunia dan Kekristenan. Ketika Kristus hendak membukakan kebenaran yang sangat sulit, diperlukan sikap rohani. Tapi, para murid justru baru belajar dari konsep dunia masuk ke konsep anak Tuhan. Maka Filipus yang pragmatis berkata, “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami” (Yoh 14:8). Tuhan Yesus menjawab, “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa. Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diriKu sendiri, tetapi Bapa, yang diam di da­lam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaanNya.” (Yoh 14:9-10).

Beberapa commentary membahas pernyataan Filipus yang menunjukkan who a man is (siapa manusia itu sesungguhnya). Mungkin, pernyataan tersebut juga muncul dalam diri banyak orang. Prinsip, filsafat dan cara berpikir dunia telah merusak manusia sehingga ketika hendak mengajarkan kebenaran, Kristus mengalami kesulitan. Filipus yang sangat empiris sebenarnya tak pernah mengerti Bapa sebagai Allah rohani. Demikian pula Tomas dan mungkin semua murid. Kemungkinan, ia membayangkan Bapa sebagai orangtua berumur sekitar 80 tahun karena Tuhan Yesus sendiri berusia 33 tahun. Konsep Tuhan dan para murid sangat berlawanan namun mereka tetap bertahan bahkan mencoba mempengaruhiNya. Inilah jiwa keagamaan palsu yaitu empirical religion (jiwa religiusitas yang bersifat empiris atau menuntut bukti).

Orang empiris tak pernah berpikir untuk kem­bali kepada Allah sejati karena tak bersedia menghancurkan pemikirannya dan mulai mendengarkan Firman serta belajar mengerti kehendakNya. Maka orang yang berperilaku religius belum tentu beragama sejati melainkan masuk ke dalam humanisme. Dengan kata lain, hanya untuk memenuhi tuntutan keagamaan dalam dirinya. Tiap orang pasti memiliki sense of divinity (perasaan keagamaan) yang memang Tuhan tanamkan. Tapi, dosa telah mencengkeramnya hingga sulit dikembalikan pada konsep pengenalan Allah yang sejati. Sebaliknya, ia telah terjebak dalam format duniawi hingga seluruh orientasinya bukan kepada Tuhan melainkan kembali ke diri sendiri.

Untuk memiliki kerohanian sejati, anak Tuhan selalu mengalami banyak kesulitan karena diperlukan adanya pendobrakan konsep berpikir. Ini merupakan masalah besar karena adanya pemahaman yang sangat sulit antara masuk ke nuansa rohani dan terjebaknya manusia dalam realita yang tak dapat ditangkap dengan pengertian tepat. Ia mengalami kesulitan dalam memahami penafsiran realita dengan tepat. Itulah the problem of knowledge (problematik pengetahuan).

Rm 1:18-23 menggambarkan orang rohani sejati diperbandingkan dengan orang berdosa yang merasa rohani. Manusia mampu mengerti karena Allah menyatakannya dan bukan dengan pikirannya sendiri. Namun Filipus dan para murid justru menolak pemikiran dan pengajaranNya. Akibatnya, pemikiran terbuang sia-sia dan hati mereka mulai tertutup dan menjadi gelap. Mereka tak menyadari kebodohan diri. Sebaliknya, mereka justru merasa penuh hikmat.

Dunia sebenarnya dipenuhi dengan kebodohan walaupun banyak orang berpendidikan dan bergelar tinggi, kecuali mereka bersedia kembali kepada Tuhan. Ketika mendengar pernyataan ini, mereka pasti marah dan tindakan tersebut membuktikan kebodohan. Dulu, kepandaian ditentukan oleh IQ (Intelligence Quotient). Kemudian, ditentukan oleh EQ (Emotional Quotient). Ternyata, keduanya tak membuktikan apapun maka diganti dengan SQ (Spiritual Quotient). Orang dunia sungguh tak mengerti bahwa the problem of knowledge is to understand the reality. Maka Alkitab mengatakan bahwa kriteria dasar pengetahuan adalah takut akan Tuhan.

Paulus mengatakan bahwa semakin merasa pandai dan bijaksana, manusia malah menunjukkan kebodohannya. Ketika baru bertobat, ia menyadari kebodohannya dengan menyiksa dan membunuh banyak orang Kristen. Maka ia menulis, “Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepadaNya. Sebaliknya, pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh” (Rm 1:21-22). Manusia yang mengaku diri pandai malah merusak dunia dan spiritualitasnya, kecuali para anak Tuhan sejati ikut mengatur dan memimpin. Puncak kebodohan manusia tertulis dalam Rm 1:23, “Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar.” Dunia iman telah diubah dari essensi realita sejati menjadi realita yang diisi dengan interpretasi palsu. Problemnya adalah pikiran manusia yang tak ditundukkan dalam kondisi kerohanian.

Filipus dan Tomas mengalami kesulitan dalam memahami kebenaran karena sebenarnya mereka hanya menginginkan segala yang bersifat fenomena. Padahal, Mat 16:24 mencatat, “Lalu Yesus berkata kepada murid-muridNya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” Inilah standard kerohanian sejati yang seharusnya sanggup mempertobatkan manusia. 

Pdt. Stephen Tong berulangkali menegaskan bahwa orang Kristen sejati adalah mereka yang telah mati terhadap pujian dan kritik. Ketika ia merasa diri nothing maka Tuhan menjadi something. Tapi, orang yang anti pujian adalah paranoid dan mereka yang tak bersedia menerima kritik adalah sombong. Yang mati sebenarnya adalah sikap dan keberadaannya. Jadi, kepribadiannya tak mudah tersentuh oleh pujian. Orang yang mati terhadap pujian hanya dapat menerima data atau fakta aktual dan objektif. Setelah itu, ia mampu mempergunakan kelebihannya sesuai kehendak Tuhan. Demikian pula dengan kritik tak membuatnya terganggu dan bergeming. Kritik harus dipelajari kebenarannya. Setelah itu, ia harus berusaha memperbaiki diri. Orang yang merasa diri hebat biasanya mudah tersinggung oleh kritik. Ia akan sulit belajar menjadi rohani. Jikalau ikut dalam pelayanan, yang dilayaninya bukanlah Tuhan melainkan hanya diri sendiri.

Orang Kristen tak mungkin dapat mengerti kebenaran sejati kalau masih occupied (sibuk) dengan diri sendiri. Orang keras kepala juga sulit untuk diberi pengajaran. Dalam banyak hal, manusia seringkali tidak teachable di hadapan Tuhan. Maka kualitas rohani dimulai dengan penyangkalan diri. Setelah itu, barulah berhak melayani Tuhan.

Setelah penyangkalan diri, Tuhan menghendaki orang Kristen berani dan rela berkorban menanggung resiko, kesulitan serta dunia berdosa. Dunia membutuhkan orang yang kembali berpegang pada prinsip Tuhan dan melayaniNya dengan sungguh. Orang dunia selalu tak dapat menerima konsep ini. Memang mudah sekali menjalankan segala yang cocok dengan dunia. Dan agama yang selalu mengabulkan permintaan jemaatnya pastilah high demanded.

Standard terakhir kerohanian sejati adalah jiwa yang tunduk mutlak mengikut Tuhan secara terus-menerus, konsistent dan tanpa syarat. Sedangkan arti dari phrase ‘mengikut Aku’ yang pertama adalah sebagai pilihan bertanggung jawab yang tak dapat diganti. Amin.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)