Ringkasan Khotbah : 20 Januari 2002

Fokus Hidup

Nats: Yohanes 14: 5-7

Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno

 

Yesus memulai the exclusive teaching dengan mengatakan, “Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ” (Yoh 14:2 & 4). Kalimat ini sangat membingungkan para murid. Maka Tomas bertanya, “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?” (Yoh 14:5). Baginya, jalan dan tempat itu real (nyata). Dengan kata lain, mereka mencoba memahaminya dengan konsep yang sangat dangkal. Mereka tak bersedia menyesuaikan diri dengan pemikiran Tuhan Yesus tapi justru memaksaNya supaya berbicara sesuai konsep me­reka. Lalu Kristus dengan tegas menyatakan, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh 14:6). Filipus langsung berespon, “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami” (Yoh 14:8). Jawab Yesus, “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku?” (Yoh 14:9). Betapa sulit bagi manusia untuk mengerti kebenaran Tuhan karena ia berpikir hanya menurut keinginannya serta memakai cara, indra dan pengalamannya hingga tak bersedia mengerti kehendak Tuhan.

Manusia seringkali bingung dengan agama dan kepercayaannya. Dulu, masih banyak yang mengerti bahwa iman keluar dari diri dan kembali pada sesuatu di luar dirinya. Sejak humanisme berkembang dan semangat empiris yang menghendaki segalanya mesti diinderakan mulai muncul, konsep iman bergeser kembali ke dalam diri. Orang empiris seperti Tomas takkan pernah percaya kecuali sudah mengalaminya sendiri. Padahal setelah terbukti, tak ada lagi yang perlu dipercaya. Itu bukan iman. Pada hakekatnya, orang yang mengatakan ‘saya percaya’ sebenarnya percaya hanya pada diri dan miliknya sendiri. Contohnya, Tomas mengatakan, “Sebelum aku melihat bekas paku pada tanganNya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambungNya, sekali-kali aku tidak akan percaya” (Yoh 20:25). Banyak orang menjerumuskan hidupnya dan tak pernah sadar bahwa dirinya berada dalam kebodohan. Iman sejati justru disingkirkan dan dibuang lalu diganti dengan kepercayaan diri yang terlalu besar. Maka Tuhan Yesus mengatakan, “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (Yoh 20:29). Dengan demikian, untuk mengetahui target dan tujuan terakhir iman, manusia harus melakukan reorientasi jalan yang ultimate (tertinggi) yaitu kembali kepada Allah Bapa di Surga.

Ketika manusia berpikir menurut caranya maka 100 orang memiliki 100 pikiran dan keinginan berbeda dimana setiap orang merasa yang paling benar. Padahal, tak mungkin semuanya benar. Maka terjadilah kerancuan pemikiran yang mengharuskannya untuk mencari kebenaran dan hidup sejati. Inilah yang terjadi di era globalisasi. Dalam iman, the true way (jalan sejati) adalah kembalinya orientasi hidup manusia hanya kepada Kristus. Dengan kata lain, jalan sejati terlepas dari manusia yang pasti bukanlah kebenaran mutlak karena tak pernah hidup secara murni dan sempurna melainkan seringkali berbuat kesalahan meskipun sebelumnya ia menganggap diri yang paling benar. Fakta ini menunjukkan kera­puhan dan keterbatasan manusia.

Setelah mengerti the true way and the only target, hal terpenting yang harus digumulkan adalah proses hidup menuju fokus sehingga seluruh misi kehidupan tak sia-sia. Sebenarnya, manusia seringkali membuat planning duniawi dengan prinsip pertama yaitu set the goal (tetapkan tujuan). Setelah itu, barulah menata rencana kerja step by step (langkah demi langkah) dan strateginya dengan menggunakan berbagai sarana dan metode canggih. Tapi, ketika hendak menetapkan tujuan hidup, ternyata sulit sekali untuk merencanakannya karena terjepit kondisi relatif yang tak mampu diatasi. Berulangkali, perjuangan hidupnya mengalami kegagalan meskipun sasaran sudah diganti. Akhirnya, ia berkesimpulan bahwa hidupnya tak boleh terfokus. Bahkan orang dunia mengajarkan bahwa tujuan hidup tak boleh hanya 1 tapi harus ada cadangannya. Namun banyak pilihan justru membuatnya kebingungan hingga akhirnya tak ada yang tercapai. Maka mereka yang masuk ke sekolah Teologi seharusnya dengan jelas mengetahui tujuan panggilan Tuhan agar seluruh misi terfokus di bawah pimpinanNya. Setiap orang pasti mendapat bagian yang harus dikerjakan dengan sungguh sehingga tercapailah keutuhan yang Tuhan kehendaki. Di tengah orang dunia yang tak pernah mengerti tujuan hidupnya, anak Tuhan dimungkinkan untuk mengetahuinya dengan jelas. Dan fokus tersebut takkan pernah bergeser karena kehendak Tuhan bersifat mutlak. Betapa indahnya hidup yang dikendalikan oleh Tuhan dan bukan diri sendiri apalagi orang lain.

Orang Kristen seharusnya hidup untuk menjalankan perintah Bapa sehingga segala pekerjaan tak sia-sia melainkan jadi sangat bermakna. Pdt. Stephen Tong pernah mengatakan bahwa dirinya selalu 25 tahun lebih lambat daripada orang lain. Tapi, ketika beliau mulai melangkah, pimpinan Tuhan jelas adanya. Namun Tuhan tak pernah memaksa manusia, baik di dunia Teologi maupun di semua bidang kehidupan. Yang dibutuhkan adalah komitmen dan ke­sungguhan untuk kembali kepada kehendak Tuhan.

Ketika mulai mengerti tentang jalan dan arah, moment tersebut tak terjadi secara otomatis. Tuhanlah yang menarik setiap anakNya dan mengarahkannya kembali pada jalan kebenaran. Tetapi, Ia juga menghendaki orang Kristen secara aktif bergumul dekat dan mempelajari Firman serta mengerjakannya dengan kesungguhan hati setiap hari. Seringkali manusia de­ngan serius mengejar hal duniawi tapi meremehkan pergumulan iman Kristen. Padahal belajar iman Kristen seminggu sekali di kebaktian saja tak cukup. Mengerti fokus bukan hanya sekedar spekulasi dan tak tergantung pada IQ yang tajam dan hebat melainkan karena kedekatan dengan Tuhan.

Petrus termasuk tokoh utama dengan posisi sebagai kepala di antara semua murid Tuhan Yesus. Berulangkali ia menyatakan diri sebagai juru bicara yang sangat significant. Ia selalu berada di posisi terdekat dengan Kristus (inner circle). Tapi, justru sebagai leader (pemimpin), ketika Kristus sedang diadili, ia malah menyangkalNya. Setelah kebangkitan Tuhan, ia mengeluarkan kalimat yang sangat duniawi. Setibanya di tepi danau Tiberias, ia mengatakan pada semua murid, “Aku pergi menangkap ikan” (Yoh 21:3). Mereka yang telah dibina oleh Tuhan Yesus selama 3,5 tahun dan diharapkan dapat dipakai untuk menjalankan misiNya, malah diajak kembali menangkap ikan oleh Petrus. Padahal Ia telah menarik mereka dari pekerjaan sebagai penjala ikan menjadi penjala manusia. Yoh 21:3 mencatat, “Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa.” Ketika hari mulai siang, Tuhan Yesus datang dan berkata, “Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk pauk?” Jawab mereka: “Tidak ada.” Maka kata Yesus kepada mereka: “Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh” (Yoh 21:5-6). Yoh 21:11 mencatat bahwa mereka berhasil menangkap 153 ekor ikan. Lalu mereka sarapan bersama. Setelah itu, Tuhan bertanya pada Petrus, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini? Gembalakanlah domba-dombaKu” (Yoh 21:15). 

Iman Kristen sebagai fokus hidup tak dimulai dengan aktivitas dan segala macam kesibukan melainkan kedekatan serta cinta manusia kepada Tuhan. Ironisnya, banyak orang Kristen hidup secara kamuflase (menipu diri dengan memakai topeng). Kelihatannya setiap Minggu rajin ke Gereja dan bertingkah seolah-olah saleh tapi hidupnya sangat duniawi serta sulit diajar untuk mengerti kebenaran. Mereka lebih rela menjalankan sesuatu yang akhirnya membinasakan dan merusak hidup. Padahal ada 1 jalan kepada Bapa di Surga dalam Kristus.

Orang dunia seringkali hesitate (enggan) ketika diajar untuk cinta Tuhan. Mereka malah memilih yang lebih rendah dan tak berarti. Maka mereka memerlukan perubahan hidup sejati. Setiap orang yang Tuhan beri anugerah, akan mampu mengerti perjuangan hidup sejati. Berbahagialah orang tersebut. Dengan demikian, orang Kristen seharusnya sangat bersyukur karena Tuhan menganugerahkan kemungkinan untuk mengerti dan bergumul dalam kebenaran yang tak diberikan pada semua orang. Banyak orang sungguh menginginkannya tapi tak pernah mendapat kesempatan. Maka ketika Tuhan memberi kemungkinan anugerah, janganlah disia-siakan melainkan harus diperjuangkan dengan penuh semangat hingga titik akhir kehidupan. Orang Kristen seharusnya berjalan menuju fokus yang jelas. Setelah matipun, ia akan tetap menuju ke fokus yang sama. Sedangkan orang dunia setelah mati akan langsung ke Neraka dan tak punya pilihan lain. The ultimate point hanya ada 2 yaitu kembali kepada Bapa sebagai kebenaran sejati atau menolakNya. Dan setiap kali manusia beroleh anugerah, Tuhan menghendakinya bertanggungjawab. Amin.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)