![]() |
Ringkasan Khotbah : 13 Januari 2002 The Lost of Religious Orientation Nats: Yohanes 14: 4-14 Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno |
Yoh 14:4-14 merupakan bagian yang lebih exclusive daripada ayat sebelumnya. Kekristenan saat ini perlu kembali pada originality (keaslian) dan keunikan yang seharusnya tak boleh tercemar dan dikompromikan. Maka Yoh 14 mengoreksi, mengintrospeksi dan mendidik jemaat untuk kembali pada essensi iman Kristen.
Ketika Petrus mempergunjingkan nasib para murid setelah kepergianNya maka Tuhan Yesus memberi assurance (keyakinan) yang sangat solid dan kokoh. Ayat jaminan tersebut yang menjadi inti Injil yaitu “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh 14:6). Perspektifnya (sudut pandang) perlu dimengerti bahwa ayat tersebut tak dapat diterima oleh dan untuk semua orang. Maka konsep universalisme yang mengatakan bahwa Teologi Kristen mengajarkan semua orang diselamatkan itu sangat nonsense karena Tuhan Yesus mendoakan hanya mereka yang berhak mendapatkan janjiNya, “Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepadaKu, sebab mereka adalah milikMu” (Yoh 17:9).
Penekanan Yoh 14 adalah the way (jalan). Tuhan Yesus memulai dengan menjawab kesulitan Petrus, “Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempatKu, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada” (Yoh 14:3). Kekristenan sebenarnya berada dalam proses tarikan antara kekinian dan kekekalan atau masa mendatang yang menjamin pengharapan kehidupan dalam diri Kristus. Selain itu, Ia juga mengatakan, “Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ” (Yoh 14:4).
Tapi, kalimat tersebut justru mendapat reaksi aneh. Tomas adalah orang yang sangat terbuka dan sincere. Ketika tak memahami sesuatu, ia pasti mengatakannya saat itu juga tanpa mempedulikan pendapat orang lain tentang dirinya karena ia hanya membutuhkan penjelasan tuntas. Ialah orang empiris murni. Untuk membuatnya percaya, segala sesuatu harus clear (terbukti) melalui proses ujicoba secara inderawi. Setelah itu, ia tak membutuhkan rasa percaya lagi. Maka ia langsung bertanya, “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?” (Yoh 14:5). Pertanyaan tersebut logis namun pandangannya sangat duniawi dan materialistis. Inilah kelemahan empirisme. Sebagai anak Tuhan, empirisme mutlak harus dihancurkan. Orang empiris sulit mengerti adanya jalan yang bukan seperti rute Yerusalem-Damaskus ataupun tempat yang bukan tempat serta penglihatan yang tak dapat dilihat.
Bahayanya, mereka yang berpendidikan akademis selalu empiris. Sebenarnya, orang semacam itu takkan mampu mempercayai karena tak ada yang dipercaya. Maka seumur hidup, ia takkan pernah beriman melainkan humanis murni yang percaya hanya pada diri sendiri. Padahal ia hidup dalam penipuan yang sangat mengerikan karena sebenarnya 90 % kepercayaan di dunia tak pernah terbukti. Belajar di sekolah pun memakai kepercayaan. Buktinya, tanpa pengertian iman yang benar, disesatkan pun ia tak menyadarinya. Jikalau selalu menuntut bukti, ia takkan pernah belajar karena skeptical (ragu-ragu) terhadap kemampuan sekolah dan guru. Bahkan mungkin ia meragukan kualitas buku dan hasil research sekalipun. Akibatnya, ia sulit diajar iman Kristen untuk menerobos jebakan empirisme.
Semua orang bertujuan untuk hidup bahagia di Surga walaupun belum mengerti kondisinya. Mengenai caranya, setiap agama memberi option (pilihan) yang sangat banyak. Namun tak seorang pun mengerti how to reach the way (bagaimana mencapai jalan itu). Walaupun memiliki tujuan yang tepat, tapi jikalau cara untuk mencapainya salah maka manusia takkan pernah sampai ke sana.
Pertanyaan Tomas dalam Yoh 14:4 sangat tepat, tulus dan jujur sesuai dengan pergumulannya. Maka ia layak mendapat point. Sedangkan murid lain yang juga tak tahu, hanya berdiam diri. Tetapi, kejujuran tersebut menunjukkan bahwa selama 3,5 tahun mengikut Kristus, mereka belum mengerti essensi iman Kristen sejati. Padahal itulah saat terakhir sebelum Tuhan Yesus naik ke Golgota. Hingga ketika Kristus bangkit pun, ia tetap tak mampu beriman bahwa Yesuslah satu-satunya kehidupan di mana ia dapat mempercayakan dirinya. Yoh 20:25 mencatat, “Tetapi Tomas berkata kepada mereka: “Sebelum aku melihat bekas paku pada tanganNya dan sebelum aku mencucukan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambungNya, sekali-kali aku tidak akan percaya.” Berarti, ia hanya mau menikmati ajaran, kuasa dan berkat Yesus tanpa harus terpengaruh. Ia sebenarnya tak mempercayai kebangkitan Kristus melainkan hanya dirinya sendiri.
Berdasarkan struktur kalimat dalam bahasa Yunani, Yoh 14:6 diterjemahkan, “I am the way to the Father through the truth and the life.” Dengan kata lain, jalan yang adalah Yesus, berisi kebenaran dan hidup. Lalu Yoh 14:7 mengatakan, “Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal BapaKu.” Tomas makin kebingungan dan demikian pula Filipus. Mereka sungguh tak mengerti caranya pergi kepada Bapa. Maka Yoh 14:8 mencatat, “Kata Filipus kepadaNya: “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.” Tuhan Yesus menjawab, “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa.” Ia berusaha menjelaskan namun para muridNya justru makin bingung karena berpikir secara duniawi.
Ketika manusia yang berpikiran konvensional duniawi mulai diajak masuk ke dalam essensi pengajaran Kristen, ia pasti kebingungan dan sulit disadarkan. Demikian juga dengan Nikodemus. Ketika Yesus mengajarkan, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah” (Yoh 3:3), ia malah bertanya, “Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?” (Yoh 3:4). Contoh konkret, tradisi Tionghoa yaitu Confusianism, terutama konsep perkabungan. Ketika salah seorang anggota keluarga meninggal maka yang masih hidup harus membakar uang baginya agar tak jatuh miskin di akhirat. Lalu dibuatkan rumah dengan bahan kertas kemudian dibakar. Tradisi semacam itu sebenarnya hanya sekedar cetusan keinginan keluarga yang ditinggalkan. Mereka mencoba memproyeksi kondisi orang yang meninggal namun gagal menerobos hingga akhirnya menganggap di Surga sama seperti di dunia. Ketika orang Kristen mencoba menjelaskan, mereka malah marah. Tao, Lao Tze dan Confusius juga sangat serius menggumulkan serta mengerti pentingnya the way namun gagal menemukan jalan sejati. Lalu ketika merasa telah mendapatkannya, jalan itu mereka pegang walaupun sebenarnya salah dan menyesatkan. Akibatnya, mereka tak pernah sanggup menerima yang sejati karena telah terjebak oleh jalan duniawi. Apa yang Kristus ajarkan tentang jalan?
Pertama, Kristus mengatakan, “You know the way to the Father.” Kalimat ini menghancurkan konsep jalan yang salah di tengah dunia. Jalan tersebut melampaui satu dimensi dari yang dipercaya oleh dunia karena bersifat rohani. Ketika manusia memiliki konsep agama maka yang pertama kali perlu ditegaskan yaitu orientasi religius, antara lain tujuan, jalan dan pengharapan. Ketika orang beragama kehilangan orientasi tersebut, sebenarnya ia sedang mematikan kerohaniannya. Kristus mengetahui bahwa di tengah kehidupan Yahudi, jebakan Taurat telah mencengkeram hingga menimbulkan disorientasi religius. Sebagai orang Yahudi, yang dipentingkan hanyalah memelihara hari Sabat serta mentaati seluruh perintah Taurat yang terdiri dari 300 lebih ‘jangan’ dan 200 lebih ‘harus’. Tuhan mengatakan bahwa seluruh perintah itu hanya berlaku di dunia. Maka mereka hanya sekedar pengikut Taurat namun belum rohani karena orientasi religius seharusnya mengarahkan tujuan, mengetahui jalan yang melampaui semua orientasi duniawi lalu menerobos ke Surga. Sedangkan mereka yang tak menjalankan peraturan, jelas bukan Kristen meskipun mungkin memakai label Kristen seperti di Eropa. Tapi, mereka bersedia pergi ke Gereja hanya pada saat marriage dan meninggal. Dengan demikian, orientasi religius mereka telah mengalami totally destructed.
Tuhan meminta Tomas, Filipus dan 9 murid lainnya untuk mulai memperhatikan dengan sungguh pemikiran mereka selama ini. Ironisnya, konsep mereka mudah rusak. Buktinya, setelah Tuhan Yesus pergi, sebagian orang berhenti memikirkan Kekristenan. Petrus berpikir bahwa segmen hidupnya telah selesai. Maka ia kembali menjadi nelayan. Dengan kata lain, orientasinya totally kembali pada hal duniawi. Sebenarnya, mereka belum berubah menjadi religius selama ikut Kristus.
Kedua, Kristus tak mungkin menyatakan DiriNya sebagai jalan, kebenaran dan hidup kecuali ada bukti yang tak dapat dilawan. Jalan yang tepat harus memenuhi 2 kriteria: 1) menyatakan kebenaran, 2) memberi kehidupan. Di tengah dunia, banyak hal membawa manusia pada kebinasaan, termasuk yang menjanjikan jalan. Setan pun sanggup mengabulkan segala permintaan manusia. Lalu secara duniawi mungkin orang akan berpikir bahwa Tuhan lebih jahat dan kikir daripada Setan. Mazmur 73 menggambarkan bahwa mereka yang mengikut Tuhan akan mengalami banyak kesulitan dan kesengsaraan, sedangkan pengikut Setan kelihatannya sangat sukses dan enak hingga menyombongkan diri. Setan menawarkan lebih banyak hal duniawi daripada yang Tuhan mau berikan. Tapi, ketika ia memberikan segalanya maka pada saat itu manusia telah kehilangan the main and most costly thing (hal yang terutama dan termahal) yaitu hidupnya karena diambil oleh Setan. Ketika dipancing dengan uang dan segala kenikmatan duniawi, orang Kristen seharusnya berhati-hati karena semua akan berakhir dengan kebinasaan tanpa ada option lain. Itulah cara kerja Setan. Luk 4:1-13 mencatat bahwa Setan menawarkan segala kuasa dan kemuliaan kepada Tuhan Yesus dengan syarat Ia harus bersedia menyembahnya.
Jalan sejati harus membawa manusia pada truth yang mengandung 2 unsur utama yaitu keadilan dan etika. Kebenaran tak boleh tidak bermoral tinggi karena logically keduanya kontradiksi. Jalan sejati telah Tuhan buktikan dan jalankan serta bukan sekedar teori. Reformed Teology berupaya keras untuk kembali ke jalan tersebut karena dunia mudah terjebak dan tertipu, terutama oleh slogan ‘peluang bisnis’ yang sangat diminati banyak orang termasuk Kekristenan. Namun setiap orang yang hidupnya tak terpaut mutlak dengan Kristus, ia tak mungkin beriman Kristen dan keagamaannya palsu. Amin.
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)