![]() |
Ringkasan Khotbah : 6 Januari 2002 Time & Hope Nats: Yohanes 14: 1-3 Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno |
Kali ini akan dibahas pernyataan Tuhan Yesus sekaligus janji pengharapan Allah akan kehidupan kekal setelah menggumulkan Yoh 13:31 hingga Yoh 16 sebagai the exclusive teaching of Christ yang diajarkanNya hanya pada 11 murid sejati. Sesudah Yudas pergi, barulah Ia memberi pengajaran inti tentang iman Kristen secara mendalam hingga tak mungkin diterima, dinikmati, dirasakan dan dilakukan oleh murid palsu yang bertindak seolah-olah seperti anak Tuhan sejati (the true Christian).
Yudas kelihatannya juga termasuk sebagai murid Tuhan Yesus yang senantiasa mengikutiNya dan bergaul cukup dekat denganNya hingga mendapat kuasa mengusir Setan, membawa orang lain kepada Tuhan serta diutus berdua-dua untuk memberitakan kebenaran Injil. Dari segi karakter, mungkin Yakobus tampak lebih buruk daripada Yudas yang sangat lembut dan empati. Luk 9:54 mencatat, “Ketika dua muridNya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata: “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” Bahkan ia disebut sebagai anak guruh yang selalu menginginkan murka Tuhan tiba. Sebaliknya, Yoh 12:4-5 mencatat, “Tetapi Yudas Iskariot, seorang dari murid-murid Yesus, yang akan segera menyerahkan Dia, berkata: “Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?” Pernyataan tersebut terkesan sangat rohani dan pengertian akan kesusahan dan penderitaan orang lain. Tak ada yang menyadari bahwa ialah penjahat sekaligus pengkhianat paling berbahaya karena di antara para murid, ia tampak memiliki keunikan hingga dipercaya sebagai bendahara. Yoh 12:6 mencatat, “Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya.”
Orang Kristen perlu menggumulkan bagaimana membedakan keaslian dan kepalsuan secara tepat di tengah semua gejala. Terkadang memang sulit untuk menetapkannya dalam sesaat. Ketika segalanya berjalan lancar dan enak, orang beriman tak dapat dibedakan dengan yang tak beriman. Tetapi, ketika tantangan, kesulitan, penyakit, masalah dan godaan dunia mulai ada maka timbullah 2 macam reaksi antara anak Tuhan sejati dan palsu. Iman sejati pasti menimbulkan reaksi yang tepat seperti Firman Allah dalam Alkitab.
Situasi, tantangan, filsafat, cara dan pandangan hidup 100 tahun lalu maupun yang akan datang, berbeda dengan sekarang. Di jaman ini, semua orang hidup sesuka hati dan takkan ada yang peduli. Sedangkan dulu, kontrol sosial sangat ketat serta tuntutan kesucian lebih tegas dan nyata hingga setiap orang berusaha hidup benar. Dunia memang tak pernah menjanjikan kebaikan melainkan ketakutan karena membuat manusia makin dekat dengan Neraka. Dunia juga menekan orang Kristen untuk terus hidup dalam dosa hingga addicted (kecanduan). Setelah mendapat kepuasan, ia menuntut porsi lebih besar lagi hingga akhirnya makin terjerumus ke dalam kerusakan hidup. Maka ketika para murid mengetahui bahwa Tuhan hendak pergi, mereka berkata, “Tuhan, ke manakah Engkau pergi? Mengapa aku tidak dapat mengikuti Engkau sekarang?” (Yoh 13:36-37). Tetapi, justru Ia mengajarkan prinsip yang indah.
lahirkannya. Maka setiap orang Kristen harus dengan serius menggumulkan kehendak Tuhan walaupun seringkali menjadi victim (korban) dari seluruh kejahatan dunia karena terkenal penuh cintakasih dan takkan membalas kejahatan. Paulus mengatakan, “Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hakKu. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan” (Rm 12:19). Orang dunia tak mengerti konsep ini.
Ketika memahami hakekat sejarah sesungguhnya, adalah wajar jikalau manusia merasa gentar. Kalau sebaliknya, sikap itu merupakan ignorance dan kebebalan. Tapi, ketakutan justru memicu Yudas untuk berbuat brutal karena berjalan menurut strategi pemikirannya sendiri lalu memakai cara dunia untuk menyelesaikannya. Ketika tak mampu menghadapi kesulitan terlalu besar maka jalan terakhir ialah bunuh diri. Lalu bagaimana Kekristenan memandang hal ini?
Pertama, Tuhan Yesus mengajarkan, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepadaKu” (Yoh 14:1). Perjalanan waktu mengharuskan manusia untuk kembali menghubungkan hidupnya dengan Allah sebagai Oknum yang tepat. Jikalau kepercayaan diarahkan pada dirinya ataupun figur fiktif maka iman itu hanyalah bayangan kosong. Banyak orang berpikir telah memiliki iman. Tapi, seringkali mereka mengatur dirinya sendiri dan tak membiarkan Tuhan melakukannya. Dengan kata lain, Tuhan hanyalah ilusi proyeksi (gambaran dalam pikirannya yang diproyeksikan). Jikalau pimpinan Tuhan menyusahkan hidupnya maka ia meninggalkanNya dan mencari ‘allah’ lain. Dengan demikian, ‘allah’ menjadi tempat pelarian untuk mencari apa yang cocok dengan keinginannya. Hanya the true faith (iman sejati) yang mampu membuat manusia hidup secara riil dalam moment.
Dalam perjalanannya, Gereja Reformed Injili Surabaya mengalami banyak kesulitan. Ketika telah mencapai 150 jemaat, Gereja ini pernah tiba-tiba merosot hingga tinggal 20 orang. Sebagian besar orang mungkin berpendapat bahwa sebaiknya Gereja ini ditutup. Demikian pula dengan Persekutuan dan Pembinaan Pemuda GRII-Andhika. Mulai dari 5-10 orang berdoa hingga mengembang jadi 80 lebih orang kemudian terkena fitnah dan merosot tinggal 12 orang. Saat itulah iman sedang diuji. Sejauh orang Kristen percaya kepada Allah, mereka memulainya bukan dengan ambisi manusia melainkan pimpinan Tuhan yang sejati dan terbaik. Memang sulit mencari orang yang bersedia melayani. Tapi demi pekerjaanNya, Ia pasti mengirim orang.
Kedua, Yoh 14:2 mengatakan, “Di rumah BapaKu banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.” Perjalanan iman Kristen tak berhenti pada moment tertentu yang statis melainkan justru satu moment secara dinamis menuntun ke moment berikut dan seterusnya dimana semua itu mengarah pada the final moment atau tujuan terakhir seluruh kehidupan. Westminster Shorter Catechism mengatakan bahwa tugas, pelayanan dan hidup orang Kristen barulah mendapat makna tertinggi ketika ia memuliakan dan menikmati anugerah Allah seumur hidup. Kata ‘menikmati’ langsung ditangkap oleh orang dunia dengan semangat sekuler hingga menjadi kedagingan yang merusak. Kenikmatan seperti itu takkan pernah memuaskan. Puncak kenikmatan sejati ialah diperbolehkannya orang Kristen tinggal bersama dengan Kristus. Orang tak berpengharapan malah menikmati dunia berdosa sehingga masa depannya makin gelap. Ketika orang lain memperingatkan dan mencoba membimbing di jalan kebenaran Firman, ia tetap tak mau mendengarnya. Kalau Tuhan tak beranugerah maka ia pasti binasa.
Kehidupan Paulus sebelum dan sesudah bertobat sangat berbeda. Sebelum bertobat, ia sangat menikmati kekuasaan dan kejayaan duniawinya. Setelah bertobat, nama ‘Saulus, si besar’ langsung diganti dengan ‘Paulus, si kecil’. Bahkan, ketika dipenjarakan pun, ia masih sanggup bernyanyi. Orang di luar Kristus akan merasa sangat bingung ketika melihatnya. Inilah the exclusive teaching. Walaupun ada keinginan, orang yang bukan anak Tuhan takkan mampu menikmatinya, kecuali bertobat dengan sungguh, minta ampun kepada Tuhan lalu biarkan Ia sebagai Juruselamat masuk ke dalam hati dan mengusahakan perubahan.
Banyak khotbah memperkenalkan Jesus as a Man of Sorrow (Yesus sebagai Manusia yang menggambarkan penderitaan). Alkitab memang tak pernah mencatat tentang Tuhan Yesus sedang tertawa terbahak-bahak. Tapi, Ia tak kehilangan sukacita. Yoh 15:10-11 mengatakan, “Jikalau kamu menuruti perintahKu, kamu akan tinggal di dalam kasihKu, seperti Aku menuruti perintah BapaKu dan tinggal di dalam kasihNya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacitaKu ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.“ Manusia seringkali mengidentifikasikan sukacita dengan tertawa. Padahal yang ditertawakan seringkali justru hal buruk dan negatif seperti kejelekan dan kebusukan orang lain.
Kenikmatan Kristen tergantung pada jaminan pengharapan Tuhan bahwa perjalanan hidupnya takkan sia-sia melainkan Kristus pasti membawanya serta ke dalam kemuliaan. Ironisnya, manusia seringkali mengalami the lost of hope (kehilangan pengharapan di masa depan). Dengan kata lain, ia telah gagal mengaitkan antara moment dan masa depan. Maka hidupnya hanya di masa kini. Di era postmodern, orang Kristen justru ditarik ke arah konsep tersebut. Namun Alkitab mengatakan bahwa orang Kristen memiliki masa kini dan juga masa depan yang tak dimiliki oleh orang dunia karena mereka takut memikirkannya. Maka cara terbaik adalah forget about tomorrow. Itulah filsafat Hedonisme.
Ketiga, Yoh 14:3 menyatakan, “Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempatKu, supaya di tempat Aku berada, kamupun berada. “ Inilah the final point (titik terakhir) dari seluruh perjalanan pelayanan Kristus. Istilah ‘menyediakan tempat’ hanyalah figurasi dan bukan berarti kavling karena tubuh kemuliaan tak dapat dibatasi oleh ruang dan waktu melainkan beyond (melampaui) space and time. Adapula yang berpikir bahwa di Sorga, semuanya terbuat dari emas murni. Orang semacam ini hanya memikirkan keinginannya di dunia lalu diproyeksikan ke Surga.
Tuhan Yesuspun merasa gentar ketika harus mengalami kematian sejati. Saat itu, Allah Bapa meninggalkanNya. Maka Ia berteriak dari salib, “Eli, Eli, lama sabakhtani?” (Mat 27:46). Ketika menggumulkannya, semua penafsir mengatakan bahwa inilah penderitaan yang tak seorang pun mampu mengerti artinya “Allah dipisahkan dari Allah.” Ketika manusia hidup terpisah dari Allah, itulah kecelakaan terbesar.
Hidup Kristen adalah accomplishing (menggenapkan) proses menuju ke final point. Setiap orang berada dalam satu segmen waktu, mulai dari titik alfa yaitu kelahiran hingga titik omega yaitu kematian. Setiap orang juga tak berhak menentukan apapun pada diri orang lain karena Tuhan telah memberikan hak untuk memilih antara taat dan melawan lalu orang itu harus mempertanggungjawabkan pilihannya dan menanggung resikonya. Semakin tua seseorang, makin pendek waktunya. Maka Pemazmur mengatakan, “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana” (Mzm 90:12). Amin.
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)