Ringkasan Khotbah : 09 Desember 2001

Undangan Sejahtera Yesus & Hambatan dari Diri yang Harus Diatasi

Nats: Matius 11: 25-30

Pengkhotbah : Ev. Solomon Yo

 

Musuh terbesar setiap orang adalah dirinya sendiri. Artinya, dalam diri kita ada sesuatu yang buruk, suatu kuasa destruktif yang berusaha kuat untuk merusak kita. Inilah yang diamati oleh Blaise Pascal, manusia itu makhluk yang aneh, bahkan cenderung kacau, makhluk yang penuh dengan kontradiksi-diri (self-contradiction) dan bersifat self-destructive. Manusia begitu mengasihi dirinya dan melakukan segala sesuatu untuk mendatangkan kebahagiaan bagi dirinya, tetapi yang ia lakukan justru hal-hal yang melawan dan menghalangi tujuan dan sasaran yang hendak ia capai itu. Orang ingin bahagia, tetapi yang dilakukan justru hal-hal yang menjauhkan dia dari kebahagiaan yang ia dambakan. Orang ingin dicintai dan dihormati, tetapi yang ia lakukan justru hal-hal yang membuat dirinya dihina. Sungguh ironis, dorongan yang positif itu kini telah berubah menjadi sesuatu yang negatif.

Karena itu usaha yang salah itu gagal memberikan kebahagiaan kepadanya, maka sekarang ia masuk ke dalam ilusi (dunia fantasi), ia menciptakan dunia semu, di mana ia dapat dengan seketika memperoleh kebahagiaan  yang ia inginkan tanpa membayar apa-apa: tanpa usaha dan tanpa disiplin. Ia tidak menyadari bahwa kesenangan instan yang ia kejar itu justru harus dibayar lebih mahal, yaitu kehancuran dirinya. Inilah yang banyak dilakukan orang, ketika dalam kesulitan, mereka tidak berusaha mengatasinya dan menunaikan tugas hidup mereka dengan penuh tanggung jawab, dan melarikan diri ke dalam obat bius, aktivitas menyenangkan (umumnya adalah hiburan) yang tidak relevan dan bermanfaat bagi perjuangan makna hidupnya.  Ketika ia sadar kembali akan keadaan dirinya yang masih di dalam masalah, maka ia akan meningkatkan usaha pelarian diri itu, dan dalam prosesnya maka masalahnya semakin menumpuk. Dan karena manusia tidak bisa terus menerus hidup di luar realita, maka kesadaran akan keadaannya yang bermasalah itu, yang saat-saat tertentu akan muncul dalam kesadarannya, akan membuat dia semakin merasa susah dan putus asa. Setelah semua kesenangan palsu itu telah dicoba, ia sadar bahwa kebahagiaan sejati itu bukan saja semakin jauh, tetapi mungkin tidak akan pernah diraihnya.

Akhirnya, ia menjadi kelelahan, lelah bukan karena kerja fisik, tetapi hatinya yang cape, letih lesu, karena mendapati dirinya di jalan buntu, terperangkap dalam keputusasaan, tidak tahu lagi untuk apa hidupnya. Banyak orang di masa sekarang yang hidup dalam keadaan demikian. Orang-orang yang oleh Alkitab dikatakan “letih lesu dan berbeban berat..” Itulah sebabnya orang-orang masa kini demikian membutuhkan hiburan, untuk menjadi pelarian dari permasalahan eksistensial mereka, sebab walaupun hiburan tidak memberikan makna dan kebahagiaan kepada mereka, setidaknya menolong mereka untuk sejenak melupakan penderitaan mereka. Kepada orang-orang demikian, Yesus memberikan undangan: ”Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan ber­beban berat” (Mat 11:28). Yesuslah satu-satunya yang dapat memberi jawaban atas permasalahan kita.

Dalam ayat 27, Yesus menyatakan hu­bungan exclusive yang dimilikiNya dengan Allah Bapa, dan yang tidak mungkin dimiliki siapapun. Orang dapat mengenal Bapa, hanya melalui penyataan Anak kepadanya. Hanya melalui Yesus, orang berdosa dapat datang kepada Allah dan diselamatkan. Jadi di sini Yesus menegaskan mengenai identitas, status, otoritas, dan kuasaNya. Jadi yang menjanjikan “kelegaan kepadamu” adalah Juruselamat yang memiliki otoritas dan kuasa ilahi untuk menolong kita.

Yesus mengundang bukan orang yang hidupnya lancar dan puas diri karena orang-orang seperti ini tidak merasa membutuhkan Tuhan. Ia mengundang justru orang yang sakit, berdosa, yang bersedih, dan meratap, yang hatinya hancur, putus asa dan tiada pengharapan, yaitu “semua yang letih lesu dan berbeban berat” (Mat 11:28). Mereka adalah orang-orang yang dalam pencarian mereka telah menya­dari kekosongan dalam uang, seks dan ketenaran ataupun segala prestasi.

Kepada mereka inilah Yesus berkata: “Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Hanya mereka yang menyadari siapa diri mereka yang sebenarnya, yaitu bahwa dirinya berada dalam keadaan yang sangat mengasihankan, yang akan menghargai anugerah Allah.

Tetapi ketika Yesus, satu-satunya Pribadi yang dapat memberikan kedamaian itu mengundang kita untuk menerima anugerahNya, apakah setiap orang mau menerimanya? Jawabannya: Belum Tentu! Sebab dosa telah mengakibatkan kita menjadi bodoh dan menipu diri sendiri, sehingga kita cenderung memilih apa yang salah dan meninggalkan yang baik; menukarkan kemuliaan dengan kehinaan. Kita menginginkan anugerah tapi tetap berpegang pada sifat kita yang berdosa. Kita menginginkan damai, tetapi menolak Sumber damai itu. Dosa yang merusak telah meninggalkan suatu permasalahan yang serius dalam kehidupan kita.

Agama tidak dapat memperbaiki kekacauan di dalam diri manusia, semua pengajaran agama tidak dapat membebaskan manusia dari belunggu dosa, itu hanya dapat dikerjakan oleh kuasa darah Yesus. Itulah sebabnya, Yesus berkata, “jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah” (Yoh 3:3). Itulah alasan mengapa Allah harus datang ke dunia menjadi manusia, untuk mati menebus kita dari kuasa dosa dan Iblis.

Yesus yang menjanjikan kelegaan kepada kita, melanjutkan dengan berkata, “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu” (Mat 11:29). Allah tahu kebutuhan kita yang paling mendasar, bahwa sebelum dapat menerima anugerahNya hati kita harus terlebih dahulu diperbaharui. Karena selama hati kita masih liar tak terkendali tidak ada suatu berkat Tuhan yang akan membuat kita berbahagia, hanya setelah hati kita dibentuk oleh Tuhan baru kita akan mengalami berkat sejati.

“Kuk” adalah lambang perbudakan dan pelayanan, dan inilah yang akan Yesus pasang ke atas diri kita. Ini bukan kuk pilihan kita sendiri, tetapi yang diberikan Tuhan kepada kita. Dalam hal ketaatan maupun pelayanan orang suka memilih-milih apa yang ia sukai, bukannya apa yang Tuhan kehendaki. Akibatnya, kehidupan rohani kita hanyalah permainan keinginan kita sendiri. Manusia rohani harus belajar menerima kuk yang dipasang oleh Tuhan ke atas diri kita. Ketika kita menerima program pendidikan yang ditetapkan Allah bagi kita, disiplin rohani sejati baru terjadi, walaupun seringkali ini hal yang terpaksa kita terima.

Joni Eareckson Tada mengalami kecelakaan yang melumpuhkan dia dari leher ke bawah sehingga menjadikan seorang yang tidak berdaya dan tergantung kepada orang lain. Keadaan ini sungguh tak tertahankan olehnya, sia-sia saja ia memberontak.. Dalam keputusasaannya, akhirnya ia harus belajar menerima keadaannya dan mulai mencari maksud Tuhan di balik pengalamannya itu, setelah itu, hidupnya diubahkan secara luar biasa, dan sisa hidupnya menjadi suatu berkat bagi jutaan orang lain. Kehidupannya menjadi begitu indah dan mulia setelah ia menerima didikan Tuhan. Ia mengatakan, “Aku bersyukur aku lumpuh. Kalau tidak, saya akan hidup dengan ceria, lancar dan bebas seperti orang lain. Namun saya akan kehilangan hal terindah yang dapat saya miliki.“ 

Demikian juga halnya dengan Musa. Sebelum ia dapat menjadi salah seorang pemimpin  agama paling besar yang pernah ada, ia harus mengalami penghancuran ego secara total, dan setelah dibentuk oleh Tuhan baru ia dapat dipakai secara luar biasa. Inilah pengalaman rohani semua orang yang dipakai Tuhan. Hanya setelah mereka belajar rendah hati dari Tuhan, baru mereka dapat dipakai secara luar biasa. Tuhan sendiri yang menentukan pelajaran apa yang terbaik bagi setiap anakNya, memang ketika diberikan kita sulit menerimanya, namun setelah kita bersedia menerimanya, rela dihancurkan dan dibentukNya, kita akan dimunculkan dalam kemuliaan. Orang-orang Kristen yang menolak kuk dari Tuhan, dan terus menolak disiplin Tuhan tidak akan mendapatkan hal terbaik yang disediakan Tuhan bagi mereka.

John Donne adalah orang mengerti kegunaan disiplin Tuhan, seperti yang ia ungkapkan dalam puisinya: Holy Sonnet, dalam bagian yang diberi judul “Batter My Heart.”, yang terjemahannya kira-kira demikian: Hancurkanlah hatiku, ya Allah Tritunggal, demi DiriMu. Dan bukannya dengan mengetuk pelan, atau memberi polesan yang halus, atau perbaikan kecil; Supaya aku bisa bangkit dan berdiri tegak, lemparkanlah aku [ke dalam perapianMu], hancurkan dan bakarlah aku dan jadikan aku baru; Aku bagaikan kota yang terkepung oleh musuh; yang berusaha mengakui Engkau, dan mencintai Engkau, tetapi sia-sia; ada kebusukan dalam diriku yang akhirnya membuat aku terperangkap, karena ternyata aku sangat lemah (weak) dan tidak benar (untrue)… Lepaskanlah aku dari tangan musuhMu. Bawalah aku ke kepadaMu, penjarakanlah aku; karena tanpa Engkau mengekang aku, tak pernah aku bebas merdeka.” Inilah paradoks yang harus kita mengerti,  kemerdekaan sejati diperoleh justru ketika kita terikat sepenuhnya oleh Tuhan; kedamaian dan kebahagiaan diperoleh ketika kita menyerahkan segala keinginan kita kepada Tuhan, dan hidup kebangkitan Kristus baru dapat kita miliki jika kita mati bersama Dia. 

Yesus meneruskan, “Belajarlah padaKu” (Mat 11:29). Transformasi menyeluruh harus terjadi dalam diri kita. Ada banyak hal yang tidak benar (untrue) dalam diri kita, karena itu, kita tidak bisa tetap seperti semula. Betapa banyak orang yang hancur karena kesalahan mereka sendiri, dan betapa sering kita, seperti kata Martin Luther, menjadi pelacur rohani. Sedikit kesenangan, kenikmatan atau ancaman telah membuat kita mengkhianati Tuhan. Banyak hal dalam diri kita yang harus diperbaiki: pikiran, paradigma, nilai-nilai hidup, sikap batin, dan kelakuan setiap hari. Kita demikian lemah dan mudah tertipu dan menjual diri kepada Iblis. Kita perlu mengalami tranformasi setiap hari, yaitu dengan belajar dari Yesus dan mengikuti teladanNya.

Orang Kristen adalah umatNya yang ditebus denan harga yang sangat mahal yaitu darah Yesus Kristus, tujuannya bukan untuk menghasilkan manusia yang remeh dan hina. Tujuan Allah ialah membawa anak-anakNya kembali ke dalam kemuliaan. 2Kor 3:18 menegaskan bahwa “from glory to glory, He is changing me.” Allah terus berkarya dalam diri kita untuk membawa kita ke dalam kemuliaan. Betapa mulianya manusia. Tapi, justru kita sendirilah yang menghina diri kita sendiri dengan cara pandang dan cara hidup kita yang hina. Ketika orang lain menghina kita, kita marah, benci, bahkan dapat membunuhnya. Tetapi sungguh ironis, justru kita sendiri yang paling merusak diri kita sendiri.

Di dalam ayat selanjutnya (29), Tuhan Yesus mengatakan, “Dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” Suatu pengulangan dari ayat 27 (“kelegaan”) sebagai penekanan. Ketenangan terjadi ketika manusia telah rela untuk diubah oleh Tuhan. Sebelum bejana hati kita dibentuk oleh Tuhan tidak akan ada damai sejahtera. Inilah ironisnya manusia, ia tega-teganya menjual diri ke dalam kesenangan yang sementara untuk menghancurkan kebahagiaannya yang kekal. Itulah sebabnya untuk membawa manusia ke dalam kemuliaan, Ia pertama-tama membawanya ke dalam kehinaan yang paling dalam. Dan Yesus sendiri yang memberikan teladan ini. Filipi 2:5-11 mengatakan bahwa Ia yang setara dengan Bapa datang ke dalam dunia, dihina dan diperlakukan lebih rendah dari manusia yang paling hina (budak). Tetapi,  lihatlah setelah sengsaraNya, Anak Manusia ditinggikan lebih dari siapa pun. Suatu teladan telah diberikan untuk kita ikuti. Amin.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)