Ringkasan Khotbah : 02 Desember 2001

Kasih Sejati

Nats: Yohanes 13: 34-35

Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno

 

Yoh 13: 34-35 merupakan perintah pertama Kristus bagi para muridNya yang sejati, “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi.” Sesungguhnya, inti iman Kristen adalah kasih. Orang dunia sebenarnya menyadari bahwa cinta tak boleh hilang dari hidup manusia. Tanpa cinta, ia pasti mengalami kesusahan dan berubah menjadi orang yang tak sehat secara kepribadian karena tidak mampu mengasihi dan dikasihi. Padahal Tuhan menciptakan manusia dalam relasi kasih. Namun dunia tak pernah mengerti essensi dan sumber kasih. Iman Kristen mengatakan bahwa Allah tidak hanya mengajarkan kasih tetapi Allah adalah kasih. Jadi, orang Kristen yang mengenal Allah, seharusnya juga mengenal dan hidup dalam kasih.

Kasih yang dimengerti secara umum sebenarnya sudah mengalami distorsi, pencemaran dan pergeseran arti. Maka Yoh 13:34 mengatakan, “…supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu.” Inilah kriteria pertama. Kedua, “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-muridKu, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yoh 13:35). Dengan kata lain, kasih harus dimanifestasikan secara unik hingga semua orang mengenalnya sebagai ciri murid Kristus. Kedua kualifikasi tersebut yang distandardkan kepada Kristus, membedakan kasih yang dijalankan oleh orang Kristen dan non-Kristen. Maka setiap anak Tuhan seharusnya menggumulkan arti dan kualitas kasih sejati.

Perintah Yesus tentang kasih justru berada di antara 2 berita yang menunjukkan ketiadaan cintakasih sejati yaitu didahului oleh pengkhianatan Yudas dan disertai dengan penyangkalan Petrus. Padahal sebagai murid Kristus, mereka seharusnya sangat memahami kasih. Maka presupposisi yang mendasari perintah tersebut harus dinyatakan dengan tegas, antara lain:

Pertama, orang Kristen belum tentu hidup dan memiliki kasih seperti tuntutan Tuhan. Maka perintah kasih sangat berarti dan significant karena anak Tuhan belum secara sempurna menjalankan kasih sejati serta masih perlu berproses dan diubah. Tuhan menuntut setiap anakNya untuk mengintrospeksi dan menguji diri.

Kedua, kasih seharusnya menjadi the target of life. Dengan demikian, kasih seharusnya mengisi pemikiran atau paradigma terdalam orang Kristen. Banyak aspek, bidang dan pertimbangan dalam hidup manusia namun justru kasih seringkali terlewatkan.

Ketiga, perintah kasih tak boleh dipermainkan karena diberikan dengan keras oleh Tuhan Yesus. Jikalau orang Kristen tidak memanifestasikan kasih maka Kekristenannya perlu dipertanyakan karena justru melalui kasihlah kesaksian Kristen dinyatakan.

Kasih Kristus bersifat murni dan keluar dari hati terdalam (the depth of His heart) atau kedalaman essensi diriNya serta tak mengandung maksud lain, semangat yang sangat ambiguous dan sikap tricky. Maka orang Kristen harus memahami kedalaman essensi kasih karena dunia telah memanipulasinya menjadi kasih yang hanya tampil di permukaan. Inilah salah satu kesulitan besar karena dunia sangat prejudice (berprasangka negatif) terhadap orang yang tulus murni dan menganggap ketulusan, kejujuran dan kemurnian adalah kebodohan. Dengan kata lain, dunia mengajarkan agar semua orang menjadi tricky, mampu menggunakan tipu muslihat dan berstrategi negatif. Akibatnya, orang dunia terlatih untuk memiliki hati yang tak murni. Justru Kristus mengajarkan the true love. Alkitab juga mengajarkan, “…hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati“ (Mat 10:16).

Kasih tidak bersifat fenomenal. Justru orang Kristen seringkali terjebak karena tak suka format dasar tersebut masuk ke dalam essensi hidupnya dan mencoba mengkamuflase atau menutupi essensi hidup yang tak benar dan murni. Sementara hanya permukaannya yang diperbaiki. Banyak Gereja mengajarkan fenomena saling mengasihi yaitu hanya dengan senyuman, bersalaman, berbuat baik, sabar atau tak mudah marah dan saling memperhatikan (fellowship) dalam persekutuan antar pribadi (interpersonal relationship). Tapi, akar inti masalah tak terselesaikan. Sebaliknya, teknik tipu muslihat semakin berkembang. Dengan demikian, Kekristenan ikut memformat jemaat untuk tidak mau mengerti kasih sejati.

Orang yang mengasihi dengan sungguh masih memungkinkan untuk marah. Contoh konkret, Tuhan Yesus sangat marah ketika rumah ibadah diperlakukan secara tak wajar. Namun Ia tak bertendency negatif atau bersikap jahat melainkan membuka essensi sesungguhnya. Ketika Kristus memberitakan kebenaran, ada yang bertobat, seperti Nikodemus. Ia mulai mengerti dan menyadari bahwa ada sesuatu yang salah dengan dirinya. Maka ia berkesempatan untuk dibongkar dan diubah oleh Tuhan, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah” (Yoh 3:3).

Tuhan menghendaki setiap orang Kristen memiliki kasih yang murni (the true love). Kasih tersebut dapat dideteksi, antara lain:

Pertama, dalam kasih sejati terdapat kemurnian dimana setiap hal dikerjakan tanpa pamrih dan dengan kesungguhan yang tulus. Sedangkan kasih dunia bersifat manipulatif, jahat, sengaja merusak dan menghancurkan orang lain.

Kedua, kasih Kristus rela menggumulkan demi kebaikan orang lain walaupun terkadang tak diterima oleh orang yang seharusnya mendapat berkat. Kristus datang ke dunia untuk menyelamatkan manusia. Yoh 1:11 mengatakan, “Ia datang kepada milik kepunyaanNya, tetapi orang-orang kepunyaanNya itu tidak menerimaNya.” Walau demikian, Kristus tak mundur selangkahpun melainkan tetap mengasihi dengan kasih altruistik.

Sedangkan dunia mengenal 2 sikap yang tak berhubungan dengan agama melainkan filsafat, yaitu egois dan altruis. Egois adalah seluruh tindakan, pikiran dan essensi kehidupan didasarkan pada kepentingan diri. Maka dunia mengerti bahwa alangkah lebih baik jika semua orang bersikap altruis yaitu mulai memikirkan, mempertimbangkan dan bertindak demi kepentingan orang lain. Mat 2:8 juga mengajarkan hukum kedua, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Namun manusia berdosa justru mengasihi dirinya sejak masih kecil. Bahkan dunia mengajarkan bahwa mengasihi orang lain harus didahului dengan mengasihi diri sendiri. Dengan demikian, mereka bersedia berbuat baik selama tak dirugikan. Namun orang egois dapat berubah jikalau bersedia menyangkal diri.

Cinta sejati selalu membutuhkan objek. Kristus datang ke dunia untuk mati demi penebusan dosa seluruh umat manusia. Namun tak seorangpun berterimakasih kepadaNya. Sebaliknya, banyak orang mencaci maki dan mengkritikNya, “Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, selamatkanlah diriMu, jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu!” (Mat 27:40). Tuhan justru mengatakan, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34). Terkadang, manusia bisa lelah ketika mendapat respon yang tak sesuai dengan harapan. Tetapi, Tuhan tidak demikian.

Ketiga, kasih Kristus rela berkorban, menyerahkan nyawa, bersedia menghancurkan diri untuk objek yang dikasihi. Jikalau kasih sejati dijalankan di antara sesama anak Tuhan sebagai saudara seiman, justru betapa indahnya. Sebaliknya, seandainya Tuhan Yesus memakai cara dunia dalam mengasihi maka semua orang harus mati dan dibuang ke Neraka karena tak seorangpun cukup baik di hadapanNya. Semua manusia telah melawan Tuhan dan tak pernah menjalankan kehendakNya dengan sungguh. Maka setiap orang adalah musuh dan pemberontak terhadap Tuhan. Tapi, Tuhan justru mencurahkan darahNya supaya orang percaya boleh mendapatkan penebusan dan pengampunan. Ia justru menjadi perisai bagi murka Allah Bapa yang seharusnya ditimpakan pada manusia.

Keempat, kasih Kristus bersifat konsisten. Ia melakukan tugas kasih sejak kelahiranNya hingga mati di kayu salib. Seluruh inkarnasi hingga penyaliban merupakan tindakan kasih. Dalam occasion tertentu, tiap orang Kristen tampak mampu mengasihi. Tapi, sepanjang hidup, ia belum tentu mampu. Padahal seharusnya kasih menjadi attitude dan paradigma hidup yang muncul dari dalam hati. Memang tidaklah mudah untuk menjalankan kasih semacam ini karena sebenarnya masih ada sifat satanic yaitu kebencian yang ditanamkan oleh Setan ke dalam diri manusia berdosa. Jikalau tidak berhati-hati, ketika salah bersikap maka kebencian itu mendapat kesempatan untuk tumbuh, mempengaruhi dan menghancurkan seluruh hidup manusia. Karena itu, Tuhan mengingatkan agar setiap anakNya mencabut akar kebencian dalam diri. Ketika Habel memberikan persembahan dengan baik, Kain mulai membencinya. Kej 4:6 mencatat, “Firman Tuhan kepada Kain, “Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.” Sayangnya, Kain tak bertobat hingga akhirnya kebencian itu berbuah kebinasaan kekal. Padahal, tak seorangpun berhak membenci sesamanya walaupun dunia menganggapnya wajar. Orang Kristen seharusnya selalu berhati-hati ketika mendengar pernyataan yang memancing kebencian. Amin.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)