Ringkasan Khotbah : 18 November 2001

Persembahan & Berkat

Nats : Maleakhi 3: 10-12; 2 Korintus 9: 6-8

Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno

 

Khotbah Minggu ini akan membahas aspek terakhir persembahan. Tuhan pasti memberkati setiap umatNya yang setia, taat dan sungguh-sungguh dalam beribadah termasuk memberi persembahan dengan baik. Tapi, kalau persembahan diberikan dengan motivasi untuk mendapat berkat Tuhan maka si pemberi berdosa.

Minggu lalu telah dibahas bahwa persembahan diberikan ke rumah perbendaharaan supaya pengelolaan bait Allah berjalan dengan baik sehingga terpelihara dan tak kekurangan sesuatupun. Setelah itu, Tuhan berjanji, “Ujilah Aku, firman Tuhan semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan. Aku akan menghardik bagimu belalang pelahap, supaya jangan dihabisinya hasil tanahmu dan supaya jangan pohon anggur di padang tidak berbuah bagimu, firman Tuhan semesta alam. Maka segala bangsa akan menyebut kamu berbahagia, sebab kamu ini akan menjadi negeri kesukaan, firman Tuhan semesta alam” (Mal 3:10-12). Inilah anugerahNya setelah perintah persembahan dijalankan. Sesungguhnya, Allah yang berotoritas tidak perlu menjanjikan apapun tetapi berhak menuntut orang Kristen untuk memberi persembahan ke rumahNya karena manusia dan seluruh harta dunia adalah ciptaanNya. Sedangkan manusia tak berhak melawanNya.

Allah yang agung sangat mengasihi manusia. Ironisnya, ketika mendengar janji tersebut, manusia berdosa cenderung bersikap kurang ajar dengan menganggapnya sebagai kesempatan untuk menguji Tuhan sekehendak hati. Padahal, seharusnya anak Tuhan bereaksi takut dan gentar. Memang, sangat sedikit orang Kristen yang mengerti hubungan vertikal ini dengan baik hingga jadi lebih rendah hati dan mawas diri.

Selain itu, janji tersebut juga menunjukkan bahwa Tuhan takkan pernah ingkar karena Ia berdaulat. Janji Tuhan bukanlah konsep sejajar. Maka tak seorang pun berhak mengklaimNya. Tapi, banyak orang Kristen justru berani menuntut Tuhan. Padahal sikap seperti itu termasuk pelecehan, seolah-olah Ia tidak akan memenuhi janjiNya. Kalau Tuhan tidak menepati janji, berarti Ia tak bertanggung jawab. Padahal, perjanjian diberikan oleh Allah demi memelihara umatNya.

Allah tak pernah bermaksud memanipulasi manusia. MotivasiNya sangat murni. Bahkan ketika Ia menuntut setiap orang Kristen untuk menjalankan perintahNya, itu demi kebaikan orang tersebut. God is a Self-Sufficient God (Tuhan adalah Allah yang mencukupkan Diri dalam segala sesuatu). Maka Ia tidak membutuhkan apapun dari manusia. Justru, kemurnian motivasiNya harus dijadikan pelajaran penting dalam Kekristenan. Jangan memakai janjiNya untuk egois materialis melainkan harus diresponi juga dengan kemurnian motivasi.

Seluruh konsep Alkitab mengatakan bahwa ketika Allah memberi janji, pasti ada perintah yang harus dijalankan terlebih dahulu. Takkan pernah terjadi, janji dicetuskan tanpa adanya perintah. Da­lam Mal 3:10 dicatat, “Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumahKu dan ujilah Aku, firman Tuhan semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.” Yoh 15:16 mencatat firman Tuhan, “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap.” Inilah perintah yang harus dikerjakan oleh semua anak Tuhan sebelum mendapatkan janjiNya, “supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam namaKu, diberikanNya kepadamu.” Namun kebanyakan orang berdosa termasuk orang Kristen mengingat hanya ayat b untuk mengklaim janji Tuhan dan melupakan perintahNya. Fakta ini menunjukkan betapa jahat dan egoisnya manusia. Padahal, jikalau perintahNya dikerjakan sebaik mungkin maka tanpa perlu diklaim, Tuhan pasti memenuhi janji. Mat 28:19-20 juga mencatat amanat agung, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.” Selanjutnya, kalimat terakhir menyatakan, “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir jaman.” God of Emmanuel. Allah beserta kita selamanya. Ayat ini seringkali dihafalkan untuk menghadapi kesusahan, ketakutan dan sebagainya. Tapi, perintahNya tak diingat apalagi dijalankan. Orang Kristen sejati seharusnya mengerti bagaimana berurusan dengan janji Tuhan yaitu melalui perintahNya. Jadi, setelah perintah Tuhan dimengerti maka janjiNya dapat dimengerti pula kemudian hubungan antara keduanya pun dapat dipahami. Dengan demikian, komposisi pengertian menjadi tepat.

Dalam 2 Kor, Paulus menjelaskan pengertian berkat Tuhan, “Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga” (2 Kor 9:6). Prinsip ini sangat logis dan wajar. Maka dalam 2 Kor 9:7 ia memerintahkan, “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.” Setelah perintah ini dijalankan, barulah janji diberikan, “Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan” (2 Kor 9:8). Dengan kata lain, Paulus menginginkan semua orang Kristen memahami berkat Tuhan, bukan hanya sekedar secara aspek material tetapi ia ingin mereka mengerti akan kebaikanNya melalui anugerah berlimpah dalam konsep yang lebih holistik, meluas dan menyatu ke seluruh hidup. Persembahan sebenarnya dapat membangun hati yang puas dan bersyukur kepada Tuhan. Orang yang tak pernah puas akan menyengsarakan hidupnya sendiri dan juga orang di sekitarnya di manapun ia berada.

Salah satu hal yang indah dalam persembahan adalah kesadaran bahwa Tuhan telah menganugerahkan kecukupan hingga manusia mampu memberi persembahan kepadaNya. Perkataan Paulus yang sangat mengesankan yaitu, “Aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan” (Flp 4:11-12). Kecukupan dalam Kristus bukan berarti pasif dan tak berjuang karena perjuangan dan hasil merupakan 2 aspek yang seharusnya dapat memberi kepuasan. Orang Kristen yang hidup dalam Tuhan akan mengerti bahwa berkat diterima bukan dari manusia melainkan Tuhan. Orang dunia tak mampu memahami konsep ini. Akibatnya, mereka sering menggerutu hingga merusak dirinya sendiri. Ketika orang Kristen sangat bersyukur kepada Tuhan, di manapun ia akan menjadi berkat bagi orang lain.

Kebanyakan orang berpikir bahwa ketika memiliki banyak uang dan harta maka pada saat itu Tuhan memeliharanya. Padahal banyak orang kaya dipelihara bukan oleh Tuhan melainkan setan. Akibatnya, uang yang sangat banyak itu digunakan dengan sia-sia dan tanpa tanggung jawab. Tapi, bukan berarti bahwa Tuhan tidak memperbolehkan orang Kristen menjadi kaya. Justru, ketika seseorang merasakan kekurangan, barulah ia mulai belajar the God of providence (Allah yang memelihara). Pada saat ia membutuhkan uang, Tuhan pasti melimpahkan kecukupan dengan perantaraan orang lain. Maka orang Kristen seharusnya tak perlu mengkuatirkan segala sesuatu selama ia taat kepadaNya.

Ketika orang Kristen diperbolehkan belajar memberi persembahan dengan baik, Tuhan sedang melatihnya untuk mengerti penatalayanan uangNya. Dan kesadaran akan Tuhan yang mencukupkan merupakan anugerah besar. Setiap orang Kristen seharusnya menyadari bahwa Tu­han mengetahui apa yang dilakukannya. Maka memberi persembahan dengan jujur sesuai dengan a­nugerah yang diterima akan membuat semua relasi juga lebih jujur. Dengan demikian, jujur di hadapan Tuhan menjadi kunci persembahan.

Alkitab mengajarkan bahwa orang Kristen boleh menjadi kaya seperti Abraham yang mampu menguasai seluruh kekayaannya. Banyak orang kaya malah terjebak hingga menjadi budak uang. Akibatnya, ia tetap merasa kurang puas. Alkitab mencatat, “Adapun Abram sangat kaya, banyak ternak, perak dan emasnya. Juga Lot, yang ikut bersama-sama dengan Abram, mempunyai domba dan lembu dan kemah. Tetapi negeri itu tidak cukup luas bagi mereka untuk diam bersama-sama, sebab harta milik mereka amat banyak, sehingga mereka tidak dapat diam bersama-sama. Karena itu terjadilah perkelahian antara para gembala Abram dan para gembala Lot. Maka berkatalah Abram kepada Lot: 

 “Janganlah kiranya ada perkelahian antara aku dan engkau, dan antara para gembalaku dan para gembalamu, sebab kita ini kerabat. Bukankah seluruh negeri ini terbuka untuk engkau? Baiklah pisahkan dirimu dari padaku; jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan, jika engkau ke kanan, maka aku ke kiri. Lalu Lot melayangkan pandangnya dan dilihatnyalah, bahwa seluruh Lembah Yordan banyak airnya, seperti taman Tuhan. Sebab itu Lot memilih baginya seluruh Lembah Yordan itu” (Kej 13:2, 5-11). Walaupun demikian, Abraham tidak marah terhadap kemenakannya yang kurang ajar. Padahal, sebenarnya ia berhak menggerutu karena kecewa. Namun ia tetap tenang meskipun hartanya diambil sebagian. Demikian pula Ayub. Ketika seluruh harta kekayaannya habis lenyap, yang kebingungan justru adalah istrinya. Ayub dengan tenang mengatakan, “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!” (Ayb 1:21). Dengan demikian, ia tidak lagi terikat oleh kekayaannya. Maka Tuhanlah yang bertindak karena prihatin. Alkitab mencatat, “Setelah Lot berpisah dari pada Abram, berfirmanlah Tuhan kepada Abram: “Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan, sebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya “ (Kej 13:14). Kalau seseorang sungguh setia dan mampu menjadi orang kaya yang tak mudah terpengaruh oleh materi maka prinsip Tuhan, “Barangsiapa setia dengan perkara kecil, ia akan diberi hak untuk perkara lebih besar.” Kalau tidak mampu, Ia akan mengambil kembali semuanya. Amin.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)