Ringkasan Khotbah : 11 November 2001

Persembahan & Perpuluhan

Nats : Kejadian 14: 18-20; Ibrani 7: 1-3; Maleakhi 3: 8-12

Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno

 

Perpuluhan baru berkembang menjadi topik sentral dan significant yang dipertanyakan dan dibahas dalam Gereja sejak abad 20. Inilah pentingnya mempelajari sejarah Teologi supaya tidak terkecoh oleh banyak isu sebagai produk filsafat, budaya dan permainan dunia yang menyusup lalu mengacaukan Kekristenan. Karena banyaknya pembicaraan tentang perpuluhan, jemaat menjadi bingung hingga beberapa pertanyaan muncul dalam pemikiran mereka: (1)Perlukah memberi perpuluhan? Padahal, di sepanjang Perjanjian Baru tidak terdapat perintah tersebut. Hanya Perjanjian Lama yang membicarakannya. Sepanjang Perjanjian Baru, istilah ‘perpuluhan’ disinggung hanya di Ibrani namun sebenarnya Paulus hendak membicarakan tentang Kristologi dalam diri Melkisedek. (2)Lalu perpuluhan jemaat digunakan untuk apa? Seringkali perpuluhan masuk ke kantong pendeta hingga semakin kaya. Sedangkan konsepnya diputarbalikkan untuk memancing jemaat agar memberi perpuluhan dengan setia namun bukan karena ketulusan hati melainkan jiwa materialistis. Maka kelak si pemberi mungkin akan mengalami banyak masalah hingga bangkrut. (3)Betulkah konsep yang mengatakan bahwa dengan memberi perpuluhan, si pemberi akan mendapat berkat?

Pertama kali istilah ’perpuluhan’ disebutkan di Perjanjian Lama yaitu dalam Kej 14:18-20 oleh Abram sebelum menjadi Abraham dan diberikan pada Melkisedek yang sangat unik dan misterius. Kej 14:18 mencatat, “Melkisedek, raja Salem, membawa roti dan anggur; ia seorang imam Allah yang Mahatinggi.” Kalau pembaca Perjanjian Lama tidak mengacu pada Perjanjian Baru maka ungkapan ‘membawa roti dan anggur’ jadi tak bermakna. Padahal dalam konteks Perjanjian Baru, ungkapan tersebut berarti bukan sekedar makanan melainkan mempunyai makna khusus yang tampak dalam diri Tuhan Yesus.

Selanjutnya, tercatat bahwa Melkisedek memberkati Abram lalu Abraham memberi perpuluhan sebagai respon. Seringkali Kej 14:18-20 dipakai sebagai dasar pemberian perpuluhan oleh sebelas suku Israel kepada orang Lewi. Selain itu, ayat tersebut juga dijadikan alasan perpuluhan diberikan pada hamba Tuhan. Jikalau jemaat hanya membaca Perjanjian Lama maka langsung terjebak ke dalam pemikiran dan interpretasi yang sesat. Sebenarnya, hakekat perpuluhan telah diungkapkan di Kej 14 namun para pembaca sulit menangkap artinya, kecuali telah memahami Ibr 7. Dalam Kej 14:18 dinyatakan bahwa Melkisedek memiliki 3 jabatan sekaligus: (1)raja Salem atau penguasa dunia sekuler, (2)imam yang bertugas mewakili jemaat untuk menghadap Tuhan, (3)nabi atau wakil Tuhan yang membawa berita pada manusia. Jabatan ketiga ini tidak disebutkan tetapi dilakukan, “Lalu ia memberkati Abram” (Kej 14:19). Karena ia adalah manifestasi Kristus di Perjanjian Lama maka Abram memberi perpuluhan kepadanya. Artinya, perpuluhan hanya dipersembahkan bagi Tuhan. Tak seorangpun mampu mencakup ketiga jabatan tersebut sekaligus. Di sepanjang sejarah, hanya 1 pribadi yang berhasil mencakup ketiganya dengan sempurna total yaitu Kristus.

Tanpa membaca Ibr 7:1-3, orang Kristen tidak akan pernah mengerti perihal Melkisedek yang sangat misterius hingga dikatakan, “Ia tidak berbapa, tidak beribu, tidak bersilsilah, harinya tidak berawal dan hidupnya tidak berkesudahan, dan karena ia dijadikan sama dengan Anak Allah.” Setelah memahami Melkisedek sebagai gambaran Kristus, barulah dimengerti bahwa roti dan anggur merupakan figurasi tubuh dan darah Tuhan yang dicurahkan demi penebusan dosa. Maka hingga hari ini, semua orang Kristen memperingati Perjamuan Kudus dengan roti dan anggur.

Progressive Revelation (Wahyu progresif) tentang perpuluhan mencapai klimaks di Kitab Maleakhi sebagai bagian terakhir Perjanjian Lama. Dalam Mal 3, Tuhan membicarakan essensi perpuluhan dan Mal 3:8-9 merupakan motivasi mengapa Ia harus menjelaskan konsep tersebut. Mal 3:8 mencatat bagaimana Tuhan dengan keras mengkritik motivasi orang Kristen sebagai anakNya, pekerja dan pelayanNya yang tak sesuai kehendakNya, “Bolehkah manusia menipu Allah? Namun kamu menipu Aku. Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami menipu Engkau?” Mengenai persembahan persepuluhan dan persembahan khusus!” Kitab Maleakhi ditulis setelah pembuangan Israel di Babel. Jadi, pada saat itu bangsa Israel sangat takut untuk mempermainkan aturan Tuhan bahkan tidak berani menyembah ilah lain atau berhala karena Tuhan adalah Allah yang murka. Tetapi, mereka tidak sungguh bertobat melainkan hanya memiliki konsep duniawi yang sangat materialistis dan bersifat aturan (law system) hukum Taurat. Yang ada dalam pemikiran mereka ialah Tuhan yang ingin selalu ditaati dan dihormati. Maka mereka sangat setia menjalankan persembahan korban setiap hari. Ironisnya, hidup mereka sangat liar, mulai dari para imam yang melayani Tuhan hingga kaum awam. Dengan demikian, para imam telah mencemarkan seluruh pelayanan dan ibadah yang dijalankan secara rutin di bait Allah hingga tak ada lagi jiwa pelayanan yang jujur, tulus dan takut akan Tuhan. Sedangkan umat Israel mempermainkan kehidupan iman Kristen dengan kawin campur dan kawin cerai. Karena itu, Tuhan murka, “Kamu telah kena kutuk, tetapi kamu masih menipu Aku!” (Mal 3:9).

Ada 1 ayat yang merupakan cetusan visi hati Tuhan dan jiwa seluruh pengajaran tentang perpuluhan yaitu Mal 1:6, “Seorang anak menghormati bapanya dan seorang hamba menghormati tuannya. Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepadaKu itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepadaKu itu? Firman Tuhan semesta alam kepada kamu, hai para imam yang menghina namaKu. Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami menghina namaMu?” Ayat tersebut menunjukkan bahwa orang Yahudi pada jaman itu tidak takut dan hormat kepada Tuhan. Maka Ia menuntut, “Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan” (Mal 3:10). Perpuluhan harus didasarkan pada konsep Covenant Theology, seperti raja kecil yang telah ditundukkan, memberi upeti terbaik pada raja besar yang menaklukkannya. Covenant adalah perjanjian antara 2 pihak tak sejajar, dari atasan pada bawahan. Ketika raja besar mengadakan covenant dengan raja kecil maka selama raja kecil taat, perjanjian dirancangnya untuk menolong serta menjadi berkat kesejahteraan dan perlindungan bagi keberadaan raja kecil. Sedangkan raja kecil tidak berhak mengatur segalanya bahkan menyatakan setuju atau tidak. Maka pihak luar yang hendak menyerang raja kecil menjadi musuh raja besar. Ia segera mengirim pasukan untuk melawan musuh dan tidak akan membiarkan raja kecil dihancurkan. Ketika raja kecil mengalami krisis ekonomi atau kelaparan, ia akan mengirim makanan dan bantuan ekonomi. Dalam Kekristenan, prinsip Covenant menjadi sangat sentral dan terus dijalankan dari Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru sebagai hubungan antara Allah yang berdaulat dan umatNya. Sebagai simbol penundukkan diri mutlak, orang Kristen mempersembahkan perpuluhan kepada Allah supaya seluruh pekerjaanNya dapat dijalankan di tengah dunia demi kemuliaanNya.

Yang dimaksud dengan perpuluhan adalah 10% dari hasil yang diterima atas perkenanNya. Maka perpuluhan merupakan nilai yang Tuhan kehendaki untuk dikembalikan kepadaNya dengan motivasi murni. Ironisnya, orang Kristen jaman ini seringkali melakukan tindak penipuan terhadap Tuhan, misalnya meminta berkat lebih banyak dengan dalih agar dapat memberi perpuluhan lebih besar lagi. Atau, menganggap persentase perpuluhan terlalu besar dan berharap dapat diperkecil. Jadi, hasil semakin banyak tapi persentase makin diperkecil karena tidak rela. Padahal, ketika Tuhan memberi gaji sebesar Rp 1.000.000,-, hanya Rp 100.000,- saja yang dikembalikan kepadaNya, sedangkan Rp 900.000,- boleh dinikmati oleh si penerima gaji. Akan lebih baik lagi jika persentase perpuluhan dinaikkan. Itulah alasan Perjanjian Baru tidak membicarakan persentase perpuluhan melainkan jiwa, sikap dan komitmen kepada Tuhan. Jadi, perlukah perpuluhan tetap dijalankan? Ada 2 alasan penting yang perlu dipertimbangkan:

Pertama, problem motivasi: hendak memberikan lebih atau kurang dari 10%? Manifestasi ibadah terlihat dari sikap ketika memberi persembahan. Orang Kristen yang takut dan hormat pada Tuhan, akan memberi persembahan terbaik dan melayani dengan sungguh karena ia berani berkorban tanpa pamrih serta tidak merasa dirugikan. Persentase perpuluhan telah diatur oleh Tuhan sedemikian rupa sehingga tidak terlalu besar atau kecil bagi seluruh jemaat. Selain perpuluhan, Alkitab mencatat adanya persembahan khusus. Jadi, perpuluhan bukanlah persembahan maksimum.

Kedua, konsep di Alkitab adalah kontinyuitas dan diskontinyuitas yang berjalan bersamaan serta tidak akan pernah berubah. Dalam konsep kontinyuitas terdapat praktek diskontinyu (berhenti lalu berubah). Misalnya, Perjanjian Lama mencatat adanya persembahan korban namun dalam Perjanjian Baru, seluruhnya dihentikan lalu diganti dengan pengorbanan Kristus di kayu salib sebagai domba Paskah terakhir dan kekal. Tapi, dalam konsep diskontinyuitas juga terdapat kontinyuitas yaitu prinsip yang dijalankan di Perjanjian Lama dan Baru, ‘Setiap orang berdosa harus ditebus dengan darah.’ Alkitab menjelaskan, ketika suatu konsep didiskontinyu maka pasti muncul ayat yang menegaskan bahwa praktek itu dihentikan lalu diganti dengan model baru. Demikian pula perpuluhan. Meskipun Perjanjian Baru tak memberi penjelasan tapi juga tidak ada diskontinyuitas perpuluhan. Dengan kata lain, perpuluhan tetap dijalankan sebagai kriteria minimal tapi harus dengan motivasi yang tepat.

Mal 3:10 mencatat bahwa perpuluhan di jaman itu tidak diberikan pada orang Lewi melainkan ke rumah perbendaharaan supaya tidak terjadi penyelewengan penggunaan karena 12 suku Israel telah bubar, 10 suku menjadi orang Samaria dan 2 suku masih setia. Dahulu, suku Lewi sebagai penerima persembahan ditugaskan untuk mengerjakan pekerjaan Tuhan saja. Karena itu, mereka ditunjang oleh 11 saudaranya dimana 2 suku kecil bergabung jadi 1 sehingga jumlah keseluruhan menjadi 10 suku yang memberi perpuluhan. Dengan demikian, mereka menerima 100% dikurangi dengan perpuluhan sehingga pendapatannya menjadi 90%, sama dengan saudara yang lain. Artinya, pelayan Tuhan tidak akan dirugikan ataupun dilewatkan karena prinsip Tuhan tidak merugikan siapapun. Pendeta akan mendapat jaminan hidup yang setara dengan rata-rata dari seluruh kondisi ekonomi jemaatnya. Karena jumlah jemaat tidak stabil maka perpuluhan diberikan ke rumah perbendaharaan supaya ada persediaan makanan di rumah Tuhan (Mal 3:10) dan sebagian lagi dapat disalurkan pada mereka yang membutuhkan, seperti sekolah Teologi, hamba Tuhan pedesaan, misi penginjilan di pelosok, pembukaan pos PI dan sebagainya. Namun pengelolaan uang persembahan dan pemeliharaan keberadaan rumah perbendaharaan merupakan tanggung jawab seluruh jemaat sehingga tidak terjadi penyelewengan. Jikalau telah diketahui bahwa uang persembahan akan dimanipulasi oleh phak tertentu maka sebaiknya tidak diberikan karena bagaimanapun juga, persembahan adalah uang Tuhan. Kalau si pemberi tidak mau tahu tentang hal itu maka ia telah berbuat dosa ignorance. Sedangkan pihak Gereja perlu menata sistem supaya penyelewengan dapat dihindari. Amin.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)