Ringkasan Khotbah : 28 Oktober 2001

Persembahan & Ibadah

Nats : Roma 11:36; Roma 12:1

Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno

 

Khotbah Minggu ini akan membahas aspek iman Kristen dan persembahan. Sebelum kantong persembahan dijalankan, seringkali Pdt. Stephen Tong mengatakan, “Silahkan, mari kita memberikan persembahan. Bagi Anda yang belum Kristen dan juga belum mengerti persembahan, silahkan tidak memberikan persembahan.” Kalimat ini terkesan aneh dan mengejutkan bagi mereka (termasuk beberapa orang Kristen) yang belum memahami konsep persembahan Kristen secara tepat. Kebanyakan orang menganggap persembahan sebagai iuran wajib dengan jumlah yang tidak ditentukan bagi mereka yang mengikuti Kebaktian. Padahal menurut Alkitab, tak semua orang boleh memberi persembahan.

Di sepanjang Alkitab, konsep persembahan dalam Perjanjian Baru mulai masuk pada intinya, jika dibandingkan dengan Perjanjian Lama yang tampaknya lebih menekankan pada hukum dan peraturan. Namun dengan banyak aturan, seringkali Kekristenan melupakan inti persembahan. Sedangkan dalam Perjanjian Baru tidak terdapat aturan persembahan, bahkan dalam I Korintus yang sering membicarakannya. Yang dibahas justru mengenai motivasi atau jiwa (spirit) persembahan. Inilah konsep Alkitab tentang progressive revelation (penjelasan Firman dimulai dari Perjanjian Lama yang sederhana hingga semakin jelas di Perjanjian Baru). Dalam I Korintus ditulis bahwa tanpa Perjanjian Baru sebagai starting point, essensi Perjanjian Lama tidak mungkin dapat dipahami.

Rm 11:36-12:1 seringkali dipisahkan dalam pentafsiran dan pengertiannya. Padahal dalam Surat Roma yang asli ditulis oleh Paulus tidak terdapat pemisahan pasal, ayat dan judul karena semua itu memang hanyalah tambahan dari LAI. Rm 12:1 dimulai dengan kata sambung “Karena itu, saudara-saudara.” Berarti ada penyebabnya yaitu pada kalimat sebelumnya. Sedangkan kalimat yang mengikutinya adalah akibatnya.

Dalam Rm 12:1, Paulus menekankan the spirit of worship (prinsip ibadah) yang dimulai dengan jiwa persembahan, “Demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Maka setiap anak Tuhan seharusnya memiliki jiwa sacrifice sebagai korban yang hidup bagi Tuhan. Inilah dasar persembahan Kristen.

Pada umumnya, ketika memberi berbagai macam persembahan (kolekte, ucapan syukur, perpuluhan dan sebagainya), banyak motivasi muncul dalam pikiran tiap orang Kristen. Mungkin, persembahan dilakukan secara terpaksa karena perasaan sungkan atau takut dianggap sebagai jemaat yang buruk. Padahal Alkitab mengajarkan bahwa pemberian hendaknya dilakukan dengan sukacita dan kerelaan. Kemungkinan kedua, persembahan dilakukan untuk buang sial. Kadang, motivasi seperti ini justru dimanfaatkan oleh Gereja tertentu supaya jemaat merasa takut bila tidak memberikan persembahan. Dengan demikian, persembahan menjadi ‘amplop’ buat Tuhan agar tidak marah dan selalu bersikap baik. Padahal, Tuhan tidaklah miskin hingga membutuhkan sumbangan jemaatNya. Kemungkinan ketiga, persembahan dimotivasi oleh sistem pancing. Jikalau Minggu ini memberi persembahan sebesar Rp 1.000,- maka sebagai balasannya akan diperoleh berkat sebesar Rp10.000,-. Motivasi ini dapat digambarkan dengan ilustrasi ‘Umpan teri dipakai untuk memancing ikan kakap’. Semakin besar umpannya maka hasilnya juga makin banyak. Alkitab memang mengajarkan bahwa memberi persembahan merupakan suatu kesempatan. Ironisnya, kesempatan itu seringkali disalahgunakan menjadi format business. Konsep materialisme dunia semacam ini dapat mempengaruhi Gereja dan agama lainnya hingga mewarnai hampir semua orang dalam beribadah dan memberi persembahan. Tiga motivasi di atas adalah yang terbanyak dilakukan oleh orang beragama tapi harus dikoreksi. Sedangkan atheist tidak mengenal persembahan karena tidak mempercayai adanya Tuhan.

Rm 12:1 mengatakan, “Demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Penyebabnya ialah “Segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” (Rm 11:36). Lalu apa yang menjadi motivasi persembahan, terutama yang terbesar yaitu seluruh tubuh sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah?

Pertama, persembahan diberikan dengan kesadaran bahwa segala sesuatu diperoleh dari, oleh dan kepada Dia. Motivasi persembahan terpenting yang membedakan semua konsep agama dengan iman Kristen yaitu kesadaran bahwa semua yang ada di dunia ini adalah milik Tuhan yang dipercayakan kepada manusia. Maka tak seorang pun berhak mengambil walau hanya sebagian kecil dari seluruh hakekat hidup dan keberadaan dirinya. Sesungguhnya, konsep Rm 11:36 telah dimengerti dan dipegang oleh Ayub yang jauh lebih tua dari penulis Kitab Kejadian yaitu Musa. Walaupun manusia memiliki keahlian, ilmu, kepandaian, ketrampilan, tenaga dan kesempatan hingga mampu bekerja, semua itu bukanlah hasil usaha serta kehebatannya sendiri melainkan anugerah Tuhan.

Konsep mandat budaya Kristen mengajarkan tidak hanya preserve the world seperti konsep New Age melainkan preserve and develop the world (memelihara dan mengusahakan dunia). Sedangkan dunia mengajarkan untuk menghancurkan dan mengatur segala sesuatu sesuka hati. Namun mereka tidak mampu melakukannya karena sejak pertama kali dunia diciptakan, Tuhan telah menatanya dengan sangat indah. Dengan bijaksanaNya, Ia tidak berkenan menciptakan manusia pada hari pertama karena keadaan dunia masih chaos dan kemungkinan belum ada oksigen. Tiga hari pertama, Ia menata seluruh alam semesta dengan sangat rapi. Setelah itu, Ia menciptakan binatang dan tumbuhan. Lalu yang terakhir barulah manusia.

Konsep perpuluhan Kristen mengajarkan bahwa manusia menerima berkat Tuhan terlebih dahulu kemudian harus mengembalikan sebagian dari berkat itu kepadaNya. Tanpa berkat Tuhan sedikitpun, tak ada yang dapat dipersembahkan. Selain itu, Perjanjian Baru tidak pernah mengatakan berapa persen persembahan karena yang terpenting adalah jiwa, semangat dan kesadaran akan anugerah Tuhan hingga rela mempersembahkan seluruh tubuh sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepadaNya.

Kedua, Rm 11:36-12:1 merupakan salah satu aspek yang membedakan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Menurut Perjanjian Lama, persembahan diwujudkan dalam bentuk binatang yang dikorbankan. Namun sebenarnya itu bukanlah persembahan yang asli karena hanya mengacu pada pengorbanan Kristus. Ketika berada dalam dosa, manusia harus mati dan tidak mampu berbuat sesuatu karena telah menjadi budak dosa. Setelah korban dosa ditebus oleh Kristus dengan kematianNya di kayu salib maka orang Kristen dapat melakukan persembahan sejati yaitu tubuhnya sendiri yang telah diperbaharui sebagai persembahan yang hidup dan lambang pengabdian hidup kepadaNya. Itulah alasan mengapa Tuhan menghendaki hanya orang-orang ‘hidup’ (secara spiritual) yang memberikan persembahan.

Kalau setiap anak Tuhan hidup mengabdi dan melayani dengan baik, jiwanya akan penuh dengan pengertian persembahan karena sudah belajar menyerahkan hidupnya. Itulah alasan mengapa Pdt. Stephen Tong tidak menyukai persembahan dari orang tak percaya karena mereka mengira telah mendukung pekerjaan Tuhan dan tanpa dukungan itu, Gereja tidak akan dapat berkembang. Di desa, setiap jemaat merasa ikut bertanggung jawab atas rumah Tuhan. Karena itu, mereka bekerja sama membangunnya dengan pengabdian seluruh hidup. Motivasi, sikap, sifat dan jiwa mereka sangat baik. Kalau di kota, biasanya jemaat mengumpulkan dana bagi pekerjaan Tuhan. Namun motivasinya harus tetap dipertahankan dan tidak boleh bergeser dari yang seharusnya.

Konsep persembahan Reformed start dari kedaulatan Allah (Rm 11:36) dan bukan kebutuhan manusia. Maka konsep persembahan telah diproporsikan secara tepat, baik dari Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru. Jiwa ini telah ditunjukkan oleh Abraham ketika pertama kali memberikan kata ‘perpuluhan’ kepada Melkisedek sebagai figurasi Kristus. Dengan demikian, Abraham telah memandang ibadah sejati dalam Kristus.

Ketiga, Alkitab mengajarkan bahwa persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Tuhan merupakan ibadah sejati (the true worship). Sedangkan kebaktian adalah salah satu format ibadah dimana semua orang Kristen datang menyembah dan mendengarkan Firman Tuhan lalu bersekutu, berkomitmen serta ‘membungkukkan diri’ (ibadah = abodah = to bow down) yang menggambarkan ketaatan hati, penyerahan dan penaklukkan diri pada kehendak Tuhan secara mutlak dengan kerelaan. Sedangkan ibadah sejati mencakup seluruh totalitas hidup dan keberadaan manusia. Maka persembahan menjadi tanda penundukkan diri orang Kristen kepada Tuhan. Dengan demikian, hidupnya akan penuh ketaatan melalui persembahan.

Kadang, Pdt. Stephen Tong mengatakan bahwa di dunia ini terdapat filsafat ‘Di mana uangmu berada, di situ hatimu berada’. Hal ini akan terjadi bila manusia mulai mengejar uang. Yang benar justru sebaliknya, ‘Di mana hatimu berada, biarlah uang dan seluruh tubuhmu juga ke sana’. Persembahan Kristen harus diarahkan dalam visi dan motivasi yang berhubungan dengan Tuhan serta seluruh hidup seharusnya dipakai untuk mempermuliakanNya. Soli Deo Gloria (Rm 11:36). Dengan konsep ini, seluruh sikap dan perjalanan pelayanan persembahan Kristen akan sampai pada implikasinya dan tepat seperti yang Tuhan kehendaki. Ia menginginkan setiap anakNya dipakai untuk mengatur dan mengelola setiap hal yang dimiliki. Dengan jiwa seperti ini, orang Kristen akan mampu bekerja secara teliti, intens dan serius serta mempertanggungjawabkannya dengan baik. Ketika mengerjakan pelayanan bagi Tuhan, diharapkan tidak sekedar bekerja melainkan sesuai dengan tuntutan kualitas yang sangat tinggi dan motivasi, “I do it for God”. Spirit ini membuat semua pelayanan Tuhan dikerjakan dengan hasil terbaik. Maka dalam Kol 2:7 dikatakan, “Hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.” Inilah keinginan untuk mempermuliakan Tuhan dan memberikan yang terbaik bagiNya. Amin.

 

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)