![]() |
Ringkasan
Khotbah : 14 Oktober 2001 Menang Atas Ketakutan Untuk Dapat Menjadi Pelaku Kehendak Allah Nats : Mat 10:26-31; Ams 29:25; Why 21:8 Pengkhotbah : Ev. Solomon Yo |
Perasaan takut merupakan pengalaman universal setiap orang, walaupun alasan yang menimbulkan rasa takut itu berbeda antara yang satu dengan lainnya. Perasaan takut adalah reaksi mental yang normal ketika seseorang merasa dirinya terancam. Reaksi kita dalam menghadapi situasi yang menimbulkan rasa takut itu dapat berupa: (1) respon yang bersifat amoral (bukan immoral) artinya tidak berkenaan dengan masalah moralitas, misalnya takut kepada cecak, tikus, kalajengking, ular, semua ini lebih berkenaan dengan masalah psikologi; (2) respon yang bermuatan moral, misalnya karena takut kepada ancaman atasan, kita melakukan kebohongan atau kecurangan atau perbuatan yang merugikan masyarakat demi perusahaan. Inilah ketakutan yang membawa kepada kejahatan. Ams 29:25 mengatakan, “Takut kepada orang mendatangkan jerat. Banyak orang yang berada dalam situasi demikian lalu menyerah kepada kejahatan. Karena takut kepada rakyat Saul berdosa Allah. Kini kita mengerti mengapa orang penakut tergolong dalam orang-orang yang binasa (Why 21:8. “Tetapi orang-orang penakut,… akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang.”
Ketika menghadapi tekanan situasi yang sulit, kita seakan-akan tidak ada pilihan lain kecuali menyerah untuk menyelamatkan diri. Tetapi menyerah terhadap kejahatan bukanlah pilihan umat Allah. Tuhan Yesus menunjukkan bahwa dengan memiliki takut kepada Allah kita dapat mengalahkan rasa takut kepada manusia yang mendorong kita berdosa: “janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka” (Mat 10:28).
Janji pemeliharaan yang demikian khusus kepada kita, “Namun seekor burung pipit pun tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit” (Mat 10:29 & 31), bukan berarti di dunia ini kita tidak akan mengalami kesulitan, penyakit, bencana, aniaya, dan kematian. Kondisi perfect ini baru kita miliki di Surga nanti. Apa yang dijanjikan Tuhan ialah bahkan dalam situasi terburuk sekalipun, pemeliharaan Tuhan tetap menyertai kita sehingga kita dapat menjalani suatu kehidupan yang penuh kemenaganan seperti halnya Dia sendiri telah menang atas penderitaanNya.
Dalam kisah berikut ini, kita akan melihat kehidupan seorang Kristen yang mengalahkan tekanan dan rasa takut yang ia hadapi dan melaksanakan kehendak Allah dengan setia. Dia adalah Tom, tokoh utama di dalam novel Harriet Beecher Stowe, Uncle Tom’s Cabin. Tom adalah seorang budak negro. Sejak kecil ia sudah menjadi budak di keluarga Shelby yang memperlakukan dia dengan baik dan mendidik dia secara Kristen, sehingga ia bertumbuh menjadi Kristen yang saleh dan cakap bekerja. Karena kesulitan keuangan, tuannya terpaksa menjual Tom kepada seorang pedagang budak. Untungnya ia dibeli oleh Mr. St. Claire yang juga memperlakukan dia dengan baik. Terdorong oleh kesalehan putrinya yang mati muda, Mr. St.Claire bermaksud membebaskan Tom. Tetapi kematiannya yang mendadak merubah nasib Tom. Istrinya yang berwatak buruk menjual Tom kepada pemilik ladang kapas yang kejam bernama Simon Legree.
Sejak pertama kali melihat Tom yang berperilaku baik dan seorang Kristen yang saleh, sudah timbul rasa tidak suka Legree, ia bertekad untuk mengikis habis iman Tom. Bersama budak lain, Tom dipekerjakan di ladang kapas. Setiap hari mereka ditarget mencapai hasil kerja tertentu. Ketika melihat budak perempuan yang sakit tidak mampu mencapai targetnya Tom memberikan sebagian hasil kerjanya. Hal ini dilihat oleh mandor dan dilaporkan kepada tuannya.
Sorenya ketika budak perempuan itu menyerahkan hasil kerjanya, tanpa ditimbang ia langsung dinyatakan tidak mencapai target. Sedangkan Tom segera ditawari posisi mandor, dan tugasnya yang pertama ialah mencambuki perempuan itu. Tentu saja Tom tidak mau melakukan perbuatan yang berlawanan dengan imannya. Penolakan Tom ini memancing kemarahan Legree, yang segera memberikan pukulan bertubi-tubi kepadanya. “Bukankah Alkitabmu mengatakan kamu harus mentaati tuanmu! Saya telah membelimu. Jadi, kamu adalah milikku, baik jiwa dan ragamu.” Teriak Legree dengan penuh kemarahan. “Tuan dapat memperlakukan saya dengan sesuka hati. Tapi, jiwaku adalah milikku dan kau tidak dapat mengambilnya.” Jawaban Tom ini membuat Legree semakin marah, sehingga ia memerintahkan kedua mandornya untuk mencambuki Tom.
Setelah didera dengan kejam, Tom dibiarkan tergeletak di luar dengan seluruh tubuh bersimbah darah. Hanya Miss Cassy, satu-satunya orang di sana yang berani memberi Tom minum, dialah rupa memiliki suatu rahasia Legree sehingga berani menentang Legree. Ia menasihati Tom supaya menyerah saja karena Legree akan selalu menang. Tapi Tom tetap tidak mau menyerah kepada kejahatan Legree. Ia berkata, “Saya telah kehilangan semua yang kumiliki istri, anak, rumah dan tuan yang hendak memberinya kebebasan. Karena itu, ia tidak mau kehilangan lagi Sorga, satu-satunya yang ia miliki.
Lalu Tom meminta Miss Cassy untuk membacakan baginya kisah penyaliban Yesus yang telah sering dibacanya itu. Cassy demikian terharu ketika ia sampai pada bagian yang berkata, “Ampunilah mereka, Bapa, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Tom berkata kepadanya, “Kau lihat, missis, walaupun mereka melempari Dia dengan batu di jalan, tapi Ia tidak berhenti dan menyerah karena Ia tahu apa yang dilakukanNya adalah benar. Kita harus selalu mempercayai apa yang benar dan berpegang kepadanya.”
Sejak saat itu, Tom bersahabat baik dengan Miss Cassy. Kehadirannya mengakibatkan perubahan dalam diri budak-budak di situ. Mereka menjadi kurang kejam dan Tom melihat telah timbul suatu harapan baru dalam diri mereka. Inilah yang membuat Tom bersukacita, walaupun ia tahu bahwa sangat mungkin ia akan mati di sana.
Suatu saat, Cassy dan temannya melarikan diri dan bersembunyi di suatu tempat. Ketika Legree tidak menemukan mereka dan berpikir Tom tahu di mana mereka menyembunyikan diri, ia memaksa Tom untuk membuka mulut. Namun Tom tidak bersedia memberitahukannya walaupun diancam akan dibunuh. Hal ini membuat kemarahan Legree mencapai puncaknya, sehingga ia memukul Tom sejadi-jadinya. Tom dipukul, ditendang, dan tampaknya nyawanya telah tercabut darinya ketika ketika ia jatuh ke lantai. Saat itu, dengan pelan Tom membuka matanya dengan pelan, dan berkata: “Kau orang yang patut dikasihani. Kini tidak ada lagi yang dapat kau lakukan kepadaku. Dengan segenap hatiku, aku mengampuni kau.”
Perkataan itu membuat mereka yang menyaksikan penderitaannya, melihat kebaikan hatinya yang telah mengalahkan kejahatan. Kedua mandor yang sangat kejam, saling berpandangan dan menangis menyesali perbuatan mereka. Kemudian salah seorang dari mereka mencoba menolongnya sambil meminta maaf. Lalu Tom menjawab, “Saya memaafkanmu dan Yesus juga mengampunimu jika kamu minta kepadaNya.”
Dua hari kemudian, George Shelby datang dari Kentucky di mana istri dan anak Tom tinggal. Ketika sadar dan melihat tuan muda itu, Tom berkata sambil tersenyum, “Saya tahu mereka tidak pernah melupakanku. Terimakasih, Tuhan. Sekarang saya dapat mati bahagia. Tuan yang baru telah membeli jiwaku dan sekarang juga Dia akan membawaku pergi bersamaNya. Surga lebih baik daripada Kentucky. Adalah sesuatu yang indah menjadi orang Kristen.” Setelah itu, Tom meninggal.
Seringkali ketakutan melumpuhkan orang Kristen hingga tidak memungkinan untuk dapat melakukan kehendak Allah. Bagaimana anak Tuhan dapat menang atas ketakutan hingga akhirnya berhasil menjadi pelaku kehendakNya?
Pertama, memiliki visi bahwa panggilan hidup Kristen ialah melakukan kehendak Allah di manapun kita ditempatkan. Inilah salah satu alasan mengapa orang Kristen menghadapi kesulitan. Ketika kita mau melakukan kehendak Allah, konsekuensinya, mungkin kita akan dibenci, dianiaya dan dibunuh karena menjadi ancaman bagi si jahat. Ketika kita mau melakukan kehendak Tuhan apakah kita siap dengan kesulitan yang pasti mendatangi kita? Orang yang berani adalah orang melakukan kehendak Allah dan menanggung segala konsekuensinya dengan tabah. Bonhoeffer berkata, “Jikalau fragmen kehidupan kita terintegrasi dan merupakan bagian dari panggilan Tuhan bagi kita maka walaupun ditempatkan di daerah terpencil, tidak menjadi masalah baginya.” Hal ini senada yang dikatakan oleh Francis Schaffer, No little people, no little place. Ketika seseorang melakukan kehendak Allah walaupun ia sederhana dan berada di tempat yang terpencil ia sangat berarti dalam pandangan Tuhan Orang menjalankan panggilan Tuhan atas diri adalah orang yang besar. Tanpa visi, tidak mungkin ada keberanian untuk mengatasi segala macam ancaman dan kesulitan.
Kedua, menjadi prajurit Kristus yang setia dalam peperangan rohani yang suci. Peperangan rohani merupakan realita yang harus selalu berada dalam pemikiran Kristen karena Setan berusaha mengganggu dan menghancurkan kita. Ketika semua budak lain telah dipengaruhi oleh Simon Legree sehingga kehilangan pengharapan dan menjadi orang yang kejam dan tidak segan-segan untuk mengorbankan orang lain demi keselamatan diri sendiri, Tom menaburkan benih kasih dan pengharapan kepada mereka. Ia tidak dikalahkan oleh kejahatan, sebaliknya mengalahkan kejahatan dengan kasih dan kebenaran. Inilah doa Santo Fransiscus dari Asisi, “Di mana aku berada, biarlah aku menabur kasih dan pengampunan bukan kebencian, biarlah menguatkan yang lemah.”.
Ketiga, dalam situasi yang paling menakutkan sekalipun, kita bertanggung jawab penuh atas respon yang kita berikan. Walaupun Simon Legree memiliki kuasa penuh atas dirinya untuk memperlakukan apa saja kepadanya, tetapi Tom tidak menyerahkan jiwa, hati dan kepribadiannya kepada kejahatan yang diinginkan Simon Legree. Memang ini tidak mudah, karena ada harga yang harus dibayar.
Keempat, dalam posisi tertekan bahkan dibunuh, orang Kristen dapat keluar sebagai pemenang. Tanpa iman kepada Tuhan, tidak mungkin ada kekuatan untuk menjalankan hidup yang penuh kemenangan. Orang Kristen seharusnya tidak takut mati karena kuasa maut telah dikalahkan dan juga tidak takut akan kemiskinan karena ia adalah orang kaya di hadapan Tuhan. Selain itu, Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan. Festo Kivengere mengatakan, “Bila seseorang telah hidup bagi Allah, memberitakan Injil tanpa gentar, menentang kekejaman, ketidakadilan dan tindasan dengan berani, serta menyampaikan kebenaran dengan anggun dan penuh kasih, lalu memeteraikan kesaksiannya dengan darahnya sendiri, ini bukan tragedi melainkan kemenangan.”
Kelima, takut kepada Allah mengalahkan semua ketakutan lain. Martin Luther mengatakan bahwa Tuhan lebih menakutkan daripada Setan karena Ia berkuasa membinasakan kita tanpa seorang pun yang dapat menolong kita. Takut akan Dia adalah sumber kerohanian sejati. Polikarpus mengatakan, “Anda membakar saya dengan api yang menyala hanya satu jam, tetapi ada api tidak terpadamkan yang akan membakar Anda jika tidak bertobat kepada Allah.” Menyangkal diri dari keinginan untuk berdosa dapat mendatangkan kebahagiaan yang lebih besar dan berarti. Amin.