Ringkasan Khotbah : 7 Oktober 2001

Dinamika Iman Kepala Pasukan

Nats : Lukas 23: 44-47

Pengkhotbah : Ev. Thomy J. Matakupan

 

Lukas 23:47 mencatat, “Ketika kepala pasukan melihat apa yang terjadi, ia memuliakan Allah, katanya: “Sungguh, orang ini adalah orang benar!” Kesimpulan ini merupakan puncak penebusan Kristus yang diucapkan justru oleh orang tak percaya. Pada saat itu, ia sedang menyaksikan puncak manifestasi dosa yang menggerogoti semesta.

Peristiwa pada malam sebelumnya hingga menuju ke Kalvari termasuk sangat mengerikan. Moment penting tersebut dimulai pada malam Paskah ketika Kristus merayakannya bersama para murid. Dan pada saat itu juga Ia bersaksi, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku” (Yoh 12:21). Kemudian Alkitab mencatat, “Murid-murid itu memandang seorang kepada yang lain, mereka ragu-ragu siapa yang dimaksudkanNya” (Yoh 12:22). Sedangkan Mrk 14:19 menuliskan, “Maka sedihlah hati mereka dan seorang demi seorang berkata kepadaNya: “Bukan aku, ya Tuhan?” Bahkan Mat 26:25 mengatakan, “Yudas, yang hendak menyerahkan Dia itu menjawab, katanya: “Bukan aku, ya Rabi?” Perkataan itu sangat menyakitkan karena sebenarnya Tuhan Yesus telah mengetahui kejahatan yang direncanakannya. Namun Ia malah mengatakan, “Apa yang hendak kau perbuat, perbuatlah dengan segera” (Yoh 13:27). Setelah itu, menurut Alkitab, “Yudas menerima roti itu lalu segera pergi” (Yoh 13:30). Itulah terakhir kalinya ia berhubungan pribadi secara khusus dengan Sang Guru. Dalam Mat 27:9 ditegaskan, “Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia: “Mereka menerima tiga puluh uang perak, yaitu harga yang ditetapkan untuk seorang menurut penilaian yang berlaku di antara orang Israel.”

Malam itu juga, Tuhan Yesus harus berhadapan dengan berbagai macam pengadilan manusia hingga akhirnya berurusan dengan Pilatus. Alkitab mencatat, “Pilatus bertanya kepada mereka: “Jika begitu, apakah yang harus kuperbuat dengan orang yang kamu sebut raja orang Yahudi ini?” (Mrk 15:12) Kata Pilatus kepada imam-imam kepala dan seluruh orang banyak itu: “Aku tidak mendapati kesalahan apa pun pada orang ini” (Luk 23:4). Tetapi ia tidak berani mengambil langkah selanjutnya karena tekanan massa yaitu orang Yahudi yang terus berteriak dengan keras, “Salibkanlah Dia!” Bahkan Mat 27:19 menuliskan, “Ketika Pilatus sedang duduk di kursi pengadilan, isterinya mengirim pesan kepadanya: “Jangan engkau mencampuri perkara orang benar itu, sebab karena Dia aku sangat menderita dalam mimpi tadi malam.” Akhirnya, ia menyerahkanNya pada pengadilan massa yang berseru, “Biarlah darahNya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!” (Mat 27:25) Seruan ini merupakan puncak pemberontakan manusia yang sengaja diucapkan serta ditujukan kepadaNya. Dan yang paling menyakitkan adalah Petrus yang bersumpah, “Aku tidak kenal orang itu” (Mat 26:72). Dengan demikian, pengadilan menjatuhkan hukuman mati di atas kayu salib dan Kristus telah ditolak dengan keras.

Kepala pasukan itu yang harus menjalankan semua keputusan mahkamah agama bangsa Yahudi, merasa tertegun dan terperangah setelah menyaksikan peristiwa penyaliban Tuhan Yesus menuju kematian tragis. Ialah yang mengamankan, memperhatikan dan mengawasi jalannya proses tersebut. Ia juga mengikuti dengan cermat setiap perkataanNya dan melihat perubahan alam yang terjadi sebagai puncak murka Allah. Alkitab mengatakan, “Ketika itu hari sudah kira-kira jam dua belas, lalu kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga, sebab matahari tidak bersinar” (Luk 23:44-45). Padahal ini bukanlah pengalaman baru baginya melainkan sudah menjadi profesi dan tugasnya. Karena itu, ia pasti berkepribadian sangat kokoh, keras dan teguh.

Peristiwa penyaliban Kristus ini sangat berbeda serta belum pernah terjadi sebelumnya karena banyak orang terutama para wanita menangis dan bersimpati kepadaNya. Ada pula yang berteriak mengungkapkan kebencian mendalam. Namun yang terpenting adalah sebuah mahkota duri yang ditancapkan dengan sangat kuat di kepalaNya. Kedua tanganNya yang penuh kasih dan biasa membelai anak kecil harus merasakan kesakitan karena ditembusi paku. Demikian pula kakiNya yang selalu mencari orang berdosa, ditancapkan di kayu salib. Dan lambungNya ditikam akibat dosa. Padahal, umumnya ketika seorang pemberontak disalibkan maka semua orang bersukacita.

Ketika memperhatikan perkataan Kristus yang memohon pengampunan Allah Bapa bagi mereka yang membenciNya, kepala pasukan itu melihat perbedaanNya dengan para penjahat yang biasanya mencaci maki. Perkataan yang keluar dari mulutNya merupakan cetusan ungkapan hati dan cinta Tuhan.

Kepala pasukan itu mungkin juga mengikuti proses pengadilan Kristus bahkan pernah melihat Pontius Pilatus membasuh tangannya sambil berkata, “Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!” (Mat 27:24). Kemungkinan, ia juga memperhatikan para muridNya yang mengasihi dan mencoba mendekat tetapi tidak memiliki keberanian. Namun kesimpulannya berbeda dengan para tokoh agama dan mereka yang mengaku pernah dekat tetapi kemudian mengkhianatiNya. Kesimpulan tersebut merupakan isi hatinya yang mengungkapkan pengertian akan Tuhan.

Dalam Mzm 118:24 dituliskan, “Inilah hari yang dijadikan Tuhan, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya!” Dan ayat selanjutnya menceritakan perihal persembahan korban penebusan dosa. Maka ‘hari’ dalam konteks tersebut mengacu hanya pada 1 hari saja yaitu ketika Tuhan Yesus disalibkan. Walaupun harus menghadapi kengerian mendalam, Kristus sendiri bersukacita dan memuliakan Allah Bapa karena berhasil menggenapkan seluruh tuntutan rencana keadilan serta tujuan kekalNya untuk menebus dosa manusia. Namun ketetapan Sang Pencipta ini tidak ada campur tangan manusia, tidak dimotivasi oleh tindakannya dan tidak dicetuskan karena kegagalannya. Padahal Allah tidak berkewajiban untuk menyelamatkan umat manusia tapi cintaNya lebih besar daripada dosa. Menurut Ibrani 10:7, “Lalu Aku berkata; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang Aku untuk melakukan kehendakMu, ya AllahKu.” Dalam Alkitab hanya ada 1 catatan yang menunjukkan Tuhan Yesus bernyanyi bersama para muridNya yaitu Mrk 14:26, “Sesudah mereka menyanyikan nyanyian pujian, pergilah mereka ke Bukit Zaitun.” Menurut tafsiran Keil & Delitszh, Ia menyanyikan Mzm 118:24. Tapi, mengapa Ia harus mati di kayu salib?

Pertama, Tuhan Yesus mati dengan tujuan untuk menggantikan posisi semua orang berdosa. Alkitab menegaskan bahwa upah dosa adalah maut. Karena itu, semua pendosa harus mati dan masuk Neraka. Namun berkat kematian Kristus di kayu salib, manusia yang seharusnya mati, dapat tetap hidup. Sebagai gantinya, Ia yang semestinya tidak mati, menjadi harus mati. Maka diharapkan agar semua orang Kristen menganggap salib di mana Kristus tergantung, berbeda dengan semua salib yang pernah ada karena beban dosa seluruh umat manusia ditanggung di sana. Dengan demikian, fokus murka Allah tertuju kepada Kristus dan inilah satu-satunya jalan terbaik dalam sudut pandangNya karena tak seorang pun mampu memenuhi tuntutan murkaNya. Walaupun caci maki, cela dan murka ditujukan kepadaNya, Dialah satu-satunya yang sanggup mengatakan, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34). Selain itu, Ia juga masih mengingat ibuNya, Maria, dan meminta Yohanes untuk menjaganya. Tanpa salib Kristus, manusia tidak memiliki pengharapan dan tetap bergumul dengan dosa serta menantikan murka Allah yang tak dapat dihindari.

Bangsa Yahudi memiliki upacara peringatan pembebasan dari tanah Mesir yaitu Paskah. Ketika merayakannya, semua keluarga Israel diliputi dengan sukacita karena memperingati Allah yang meluputkan keturunan mereka dari malaikat maut yang menjemput. Alkitab menceritakan bahwa pada hari itu, orang Israel harus membubuhkan darah anak domba pada daun pintu rumah karena ketika malam tiba, malaikat maut datang dan mencari rumah yang tidak dibubuhi darah lalu mencabut nyawa setiap anak sulung termasuk anak Firaun. Maka hari itu merupakan kedukaan bagi seluruh negeri Mesir.

Setelah Tuhan Yesus mencurahkan darah penebusan di kayu salib, Paskah menjadi pass over (meluputkan) dari kematian kekal bagi semua orang percaya. Dengan demikian, Allah yang dikenal dalam diri Kristus, tidak hanya memberikan ajaran hidup moral tinggi tetapi justru menyediakan Juruselamat. Sehingga hidup manusia menjadi  bernilai di hadapanNya tapi dosa tetap mempunyai kuasa mencengkeram dengan sangat kuat hingga sulit untuk dilepaskan kecuali kuasa Kristus yang sanggup membebaskan.

Kedua, kematian Kristus bersifat menebus. Artinya, Ia membeli kembali orang berdosa dan membayar hutang mereka kepada Allah Bapa sebagai Pemilik sekaligus Penguasa semesta sesuai dengan I Ptr 1:18-19, “Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang bernoda dan tak bercacat.” Dengan demikian, kematianNya bukanlah kegagalan dalam melaksanakan misi Tuhan Allah. Kematian itu juga bukan karena kekuatan manusia untuk menghukumNya. Dan kematian tersebut bukan pula sebagai pemicu teladan etika manusia. Maksudnya, agar kematian itu tidak sia-sia maka manusia bersedia mempercayaiNya. Yang terpenting, kematian Kristus tidak ditujukan untuk mengundang simpati manusia, seperti sejumlah besar perempuan Yerusalem yang mengikuti, menangisi dan meratapiNya. Tuhan Yesus malah mengatakan, “Hai puteri-puteri Yerusalem, janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu!” (Luk 23:28). KematianNya bersifat sempurna maka penebusanNya pun sempurna adanya yaitu untuk memperdamaikan Allah Bapa dengan semua orang  berdosa. Amin.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)