![]() |
Ringkasan
Khotbah : 30 September 2001 Kesempurnaan Kasih Nats : 1 Korintus 13:1-13 Pengkhotbah : Rev. Johannes Aurelius W |
Secara khusus, cintakasih Tuhan merupakan dasar seluruh persekutuan hidup orang percaya, terutama persekutuan kekal di Sorga kelak setelah meninggalkan dunia ini. Dahulu, Yohanes dikenal sebagai rasul kasih yang secara pribadi berhubungan sangat dekat dengan Sang Guru agung yaitu Tuhan Yesus Kristus dan telah menyatakan cinta kasihNya dalam Yoh 3:16, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Selain itu, ia juga menganjurkan untuk saling mengasihi. Petrus pun pernah menganjurkan dalam suratnya agar jemaat memahami hidup persaudaraan dengan cintakasih. Walaupun Paulus memiliki latar belakang buruk yaitu menganiaya, membunuh dan membinasakan orang Kristen, tetapi setelah dipertobatkan oleh Tuhan, ia juga memberitakan kasih kepada jemaat Korintus yang mempunyai lebih banyak masalah daripada jemaat lain hingga ia ikut menangis bersama mereka. Seorang penulis buku sindiran pernah mengatakan bahwa walaupun dunia mempunyai banyak agama tetapi akhirnya tidak mampu membentuk masyarakat yang saling mengasihi melainkan saling membenci dengan ekstrim dan fundamen masing-masing. Maka seharusnya Gereja berperan dengan sebaik mungkin di tengah situasi seperti ini.
Dalam I Kor 13 tercatat beberapa prinsip kesempurnaan kasih yang memperkaya. Ayat 1-3 diawali dengan, “Sekalipun aku…” Artinya, sekalipun mempunyai banyak karunia, hikmat, materi dan berbagai hal yang layak dipersembahkan bagi pekerjaan Tuhan seperti jemaat Korintus, tetapi tanpa kasih maka semuanya sia-sia belaka dan tidak berguna karena tak ada lagi yang dapat dibanggakan selain diri sendiri. Sedangkan egoisme hanya akan menimbulkan kompetisi tak sehat yang sangat berbahaya dan tidak memuliakan Tuhan.
Paulus mengatakan, “Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing” (I Kor 13:1). Dalam I Kor 12 dan 14, ia membahas betapa banyaknya jemaat yang berbahasa roh. Namun dalam I Kor 14:23 secara khusus ia mengkritik, “Jadi, kalau seluruh Jemaat berkumpul bersama-sama dan tiap-tiap orang berkata-kata dengan bahasa roh, lalu masuklah orang-orang luar atau orang-orang yang tidak beriman, tidakkah akan mereka katakan, bahwa kamu gila?” Pemakaian bahasa tersebut justru membuat keributan dan bukan keteraturan dalam ibadah. Kadangkala, bahasa roh juga dimanipulasi dan direkayasa sedemikian rupa. Padahal Paulus telah menegaskan, “Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu. Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendakiNya. Karena itu siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia harus berdoa, supaya kepadanya diberikan juga karunia untuk menafsirkannya” (I Kor 12:10-11; 14:13). Ayat inipun seringkali disalahartikan. Akibatnya, terjadi pemalsuan karena orang yang berbahasa roh sekaligus menterjemahkannya. Kekristenan percaya bahwa bahasa tersebut ada tetapi tidak mudah mempercayai mereka yang mengaku memilikinya karena Yohanes pernah mengatakan, “Saudara- saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah” (I Yoh 4:1). Paulus juga memberikan pengertian yang benar tentang bahasa roh karena jemaat Korintus memiliki tendency untuk melebih-lebihkan karunia tersebut. Selain itu, mereka cenderung menganggap diri lebih rohani daripada orang lain. Maka terjadilah perpecahan, “Yang aku maksudkan ialah, bahwa kamu masing-masing berkata: Aku dari golongan Paulus. Atau aku dari golongan Apolos. Atau aku dari golongan Kefas. Atau aku dari golongan Kristus” (I Kor 1:12).
Selanjutnya, Paulus mengatakan dalam I Kor 13:2, “Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.” Sebagai contoh, Nabi Yunus yang diutus oleh Tuhan, “Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka” (Yun 1:2). Tapi ia malah melarikan diri hingga akhirnya ditelan oleh ikan besar. Kemudian datanglah firman Tuhan kedua kalinya dan ia segera pergi ke Niniwe untuk memberitakan nubuatNya tentang masa depan yang akan terjadi jikalau mereka tidak bertobat. Setelah itu, ia duduk menunggu dan sementara itu, tumbuhlah pohon jarak menaungi kepalanya dari sengatan matahari sehingga ia merasa senang, tenang serta sejuk. Tetapi keesokkan harinya, ketika fajar menyingsing, atas penentuan Allah datanglah seekor ulat menggerek pohon itu hingga layu dan ia sangat menyesalinya. Dalam Yun 4:10-11 dicatat, “Lalu Allah berfirman: “Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikitpun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula. Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri?” Paulus pernah menjelaskan kepada Timotius bahwa nubuat berkaitan dengan pengertian akan Firman dan kemampuan menyampaikan kebenaranNya. Namun nubuat tanpa kasih hanya akan menimbulkan dengki dan kesombongan hingga tega menghina orang lain. Demikian pula pengalaman iman seringkali dimanipulasi di kalangan Gereja tertentu, misalnya untuk kesembuhan, kekayaan, keberhasilan dan sebagainya. Jikalau permohonan tidak terkabul maka terjadilah saling menyalahkan.
Ayat berikutnya, Paulus mengatakan, “Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku” (I Kor 13:3). Tanpa kasih, pengorbanan demi agama, kesucian dan kebenaran justru menimbulkan sinisme. Peristiwa ini pernah terjadi dalam sejarah Gereja pada abad 8-9 yaitu perang salib di Timur Tengah yang sangat memalukan karena berakibat munculnya sinisme di kalangan orang Arab hingga akhirnya tidak bersedia percaya kepada Kristus. Pada waktu itu, Gereja ikut berpolitik demi mengembangkan Kerajaan Allah. Dengan demikian, Kerajaan Allah disamakan dengan kerajaan duniawi.
I Kor 13:4-7 menyatakan bahwa kasih itu bersifat membangun jemaat, sama dengan tujuan talenta karunia Tuhan pada setiap orang. Bahkan dalam Ef 4:11-14 dikatakan, “Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran.” Tapi, kasih itu sendiri bukan talenta karunia. Ada 3 aspek yang dipaparkan oleh Paulus dalam I Kor 13:4-8:
Pertama, kasih membangun kualitas dan kualifikasi orang Kristen secara pribadi hingga memancarkan kasih Kristus. Kasih yang pertama adalah cintakasih Kristus yang menyentuh hati dan kehidupan manusia. Paulus menegaskan, “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.” Namun dunia yang semakin materialis, egois dan individual telah menurunkan kadar kasih Kristen. Paulus pernah mengingatkan tentang keadaan manusia pada akhir jaman dalam 2 Tim 3:2, “Manusia akan mencintai dirinya sendiri.” Jikalau Gereja tidak memperhatikan dengan baik maka tanpa disadari telah menggenapinya.
Kedua, kasih membangun kualitas relasi dengan sesama antara lain sikap, interaksi dan komunikasi. Paulus mengajarkan, “Ia tidak melakukan yang tidak sopan”. Selama bersosialisasi, setiap orang Kristen seharusnya berusaha agar ucapannya tidak terkesan kasar dan latar belakang karakternya tidak boleh dijadikan alasan untuk membenarkan diri. Sebaliknya, ia harus mengerti perasaan sesamanya sehingga komunitas Kristen tidak saling menjatuhkan melainkan mendukung karena, “Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.”
Ketiga, kasih membangun kualitas penyelesaian masalah. Paulus mengajarkan, “Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.” Hidup menggereja pasti ada masalah hingga menimbulkan cekcok karena manusia memiliki kelemahan. Maka pihak yang bertengkar harus dipertemukan untuk mencari solusi. Setelah saling mengakui dan memaafkan, mereka diharapkan untuk tidak mengungkitnya kembali agar tidak berkembang hingga menghancurkan Gereja. Memang lidah tak bertulang tapi dapat dikendalikan oleh kasih.
Keempat, kasih itu kekal. Paulus mengatakan, “Nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.” Sedangkan kasih adalah pola kehidupan surgawi. Karena itu, ia melanjutkan, “Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal” (I Kor 13:12). Dengan kata lain, di hadapan Tuhan tak ada yang tersembunyi dan semua orang akan saling terbuka.
Seorang penafsir Alkitab, gembala sekaligus pengkhotbah dengan preaching yang mantap bernama Warren William W. mengatakan: (1)Tritunggal adalah dasar kehidupan Gereja; (2)Firman adalah makanan rohani umat Tuhan; (3)doa adalah nafas hidup Gereja; (4)cintakasih adalah peredaran darah dalam tubuh Kristus. Dengan kata lain, kasih adalah fellowship yang menghangatkan suasana Gereja.
Jemaat Efesus pernah dibina oleh para tokoh besar seperti Paulus, Yohanes dan Timotius. Mereka telah menyelidiki Firman dengan tepat bahkan Tuhan memujinya dalam Why 2:2, “Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta. Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula” (Why 2:4). Maka diharapkan jemaat Reformed tidak seperti mereka yang telah meninggalkan kasih mula-mula. Amin.
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)