Ringkasan Khotbah : 16 September 2001

Berdoa Senantiasa

Nats : Efesus 6:18-19

Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno

 

Efesus 6:18-19 hendak menunjukkan bahwa kehidupan Kristen harus dijaga dan dipelihara karena berhadapan dengan kuasa jahat di tengah dunia yang sedang mencoba melawan, merongrong dan merusak iman. Tetapi bagian tersebut tidak termasuk dalam rangkaian perlengkapan senjata Allah. Walaupun demikian, bagian terakhir ini tetap mempunyai signifikansi.

Doa tidak dipakai secara occasional (sewaktu-waktu) melainkan menyangkut seluruh totalitas hidup manusia. Dengan kata lain, doa merupakan bagian dari hidup manusia yaitu kerohaniannya yang dipersiapkan untuk menjadi orang Kristen yang kuat dan bertumbuh dalam iman. Itulah alasan mengapa doa permohonan untuk orang kudus termasuk Paulus, tidak dimasukkan sebagai bagian dari perlengkapan senjata Allah. Doa adalah nafas kehidupan Kristen. Orang beragama di seluruh dunia sadar akan pentingnya doa karena dianggap sebagai relasi inti dan sentral yang hakiki antara manusia dengan Allah. Karena itu, se­tiap agama pasti mempunyai, membicarakan dan sangat menekankan doa dengan berbagai macam modelnya.

Di antara semua agama, orang Yahudi terkenal paling sering berdoa. Namun ketika mereka meminta Tuhan Yesus untuk mengajarkan cara berdoa, Ia tidak berespon atau berkomentar negatif bahkan menghina permintaan tersebut. Ia justru menyatakannya sebagai permintaan yang sangat baik karena sebelumnya mereka telah berdoa secara salah yaitu dengan menyombongkan, membanggakan dan menonjolkan kehebatan diri sebagai orang Israel yang secara egois berhak menyebut Abraham dengan sebutan bapa, hanya untuk membuktikan kesalehan dan ketaatan mereka sebagai umat pilihan Allah yang suci dan bukan orang kafir. Setiap point doa mereka menunjukkan betapa arogannya orang Yahudi. Demikian pula sebagian besar orang beragama di tengah dunia ini telah berdoa secara salah, seperti perumpamaan Tuhan Yesus tentang orang Farisi dan pemungut cukai. Padahal si pemungut cukai sambil memukul dadanya, memohon pengampunan Tuhan atas segala dosa yang telah diperbuatnya. Maka kemudian Ia mengajarkan doa yang benar yaitu doa Bapa Kami. Semua Gereja yang masih mengerti dan menyadari pentingnya doa tersebut, akan mendoakannya setiap Minggu sebagai pattern of prayer (pola doa).

Dalam bagian ini, Paulus mengajarkan kembali tentang doa kepada jemaat Efesus, “Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus” (Ef 6:18). Jika dilakukan secara salah maka doa tidak akan sampai kepada Allah melainkan kuasa lain yaitu Setan yang akan menjawabnya sesuai keperluan si pendoa tetapi bukan dari sumber sejati. Akhirnya, doa itu malah membuatnya tersesat jauh dari Tuhan, makin brutal, liar serta egois. Dengan demikian, doa yang sesat sanggup membawa manusia berdosa pada kebinasaan.

Sebelum mengajarkan doa Bapa Kami, Tuhan Yesus mengkritik orang Yahudi secara keras karena berdoa tidak pada tempat yang seharusnya, “Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang” (Mat 6:5). Dengan demikian, tujuan mereka bukan kepada Allah dan Tuhan Yesus mengatakan, “Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.” Padahal Tuhan menghendaki, “Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi” (Mat 6:6).

Orang Yahudi sanggup berdoa selama berjam-jam dengan kalimat yang indah tetapi hanya untuk menunjukkan betapa rohaninya dia. Doa seperti itu hanyalah pameran kepalsuan religiusitas yang tidak bernilai. Ironisnya, permainan kepalsuan itu seringkali dilakukan oleh orang beragama. Mereka memang berdoa tapi essensi doanya tidak jelas. Ketika berdoa, jangan ada perasaan takut karena tidak mampu menggunakan kalimat indah. Itu bukan essensi doa sejati dan Tuhan sendiri tidak menghendaki demikian. Doa sejati harus kembali pada essensinya yaitu komunikasi dengan Allah.

Tuhan Yesus juga mengkritik mereka yang berdoa dan berpuasa berjam-jam bahkan berhari-hari atau berbulan-bulan hanya untuk memenuhi kepentingan pribadi, misalnya doa kesembuhan. Itulah doa kafir di mana si pendoa datang pada allahnya hanya ketika membutuhkan sesuatu sehingga allah diperalat dan dimanipulasi untuk kepentingannya sendiri. Tuhan Yesus mengatakan, “Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepadaNya” (Mat 6:7-8). Setelah membaca ayat ini, banyak orang Kristen berpikir bahwa doa tidak lagi diperlukan karena Tu­han telah mengetahui permintaannya. Pernyataan ini sangat egois dan duniawi sesuai dengan cara pikir Setan. Kalau manusia menganggap Tuhan tidak mengetahui kebutuhannya hingga perlu diberi penjelasan, berarti ia melecehkan Allah semesta alam. Ternyata banyak orang menyetujui konsep ini dan tentu saja allah palsu mereka berbeda dengan Allah Kristen sejati. Bahkan banyak orang Kristen juga disesatkan dengan prinsip dan cara kerja Setan yang tampak seolah-olah cara kerja Tuhan. Ini bukan prinsip Alkitab. Efesus 6 membukakan konsep doa yang seharusnya berada dalam pikiran orang Kristen yaitu:

Pertama, “Berdoalah setiap waktu di dalam Roh.”  Dengan kata lain, doa Kristen harus dipimpin, dibimbing serta dicerahkan oleh Roh Kudus dan bukannya sesuka hati. Orang Kristen seharusnya berdoa demi kepentingan Roh, sesuai dengan sifat Roh dan menjalankan semua natur pribadiNya di dalam diri si pendoa. Alkitab mengatakan bahwa justru karena Tuhan yang tinggal di dalam diri manusia, telah mengetahui segala kebutuhannya maka ia harus berdoa sesuai dengan kehendakNya. Dengan demikian, doa Kristen berbeda secara total dengan semua konsep doa di dunia. Jikalau orang Kristen belum mampu melihat perbedaan ini, berarti ia belum berdoa secara Kristen.

Ketika anak Tuhan berdoa, seluruh Tritunggal akan terlibat di dalamnya. Tuhan Yesus mengajarkan bahwa orang Kristen harus berdoa kepada Allah Bapa di Surga, dalam nama Allah Anak yaitu Yesus Kristus. Perintah itu menunjukkan struktur Allah Tritunggal yang memposisikan Allah Oknum Kedua sebagai mediator dalam seluruh doa Kristen. Karena itu, tanpa melalui Kristus, tak ada doa yang sampai kepada Bapa. Mengenai peranan Roh Kudus, Ro­ma 8:26 mengatakan, “Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.” Inilah rumusan sah dan lengkap serta harus dilakukan karena Tuhan sendiri yang menetapkannya. Ketika orang Kristen berdoa, pimpinan Roh Kudus dalam dirinya mengajar sehingga ia tahu apa yang harus didoakan dan peka terhadap kehendakNya. Pengaplikasian struktur ini harus secara tepat dan tidak boleh diputarbalikkan karena inilah identitas doa Kristen yang dapat dipertanggungjawabkan.

Kedua, “Berdoalah setiap waktu.” Doa Kristen sejati berbeda dengan kebanyakan agama di dunia ini yang berdoa secara sequential atau bahkan occasional. Seluruh kehidupan Kristen sejati sesungguhnya merupakan jaringan hubungan komunikasi dengan Allah. Itulah doa sejati yang menjadi kekuatan spiritualitas Kekristenan. Namun doa Kristen bukan sekedar ritual agama melainkan hubungan Roh antara satu pribadi dengan pribadi lain. Banyak orang ingin mengetahui dan mengerti kehendak Tuhan tapi seringkali tidak bersedia menjalin hubungan erat denganNya. Selain itu, doa Kristen tidak perlu menunggu hingga tiba saatnya untuk berbakti di Gereja melainkan di mana saja dan kapan saja karena komunikasi dengan Allah dilakukan secara Roh dan kebenaran.

Ketiga, “Berdoalah tidak putus-putusnya untuk semua orang Kudus.” Yang dimaksud dengan orang Kudus dalam konteks ini adalah setiap anak Tuhan. Doa seperti ini disebut syafaat, yang merupakan hak istimewa dan panggilan imamat di mana seorang pendoa syafaat terpanggil menjadi imam di hadapan Allah untuk mewakili semua orang Kudus. Inilah fungsi imam yang Tuhan berikan pada orang Kristen. Sesungguhnya manusia tidak berhak untuk mendoakan diri sendiri karena Tuhan sudah mengetahui segala kebutuhannya. Selain itu, Tuhan tidak akan melupakan janjiNya dan pasti memenuhinya karena memang itu adalah hakNya. Jikalau tidak bersedia mengabulkannya, itupun adalah hak dan kedaulatanNya. Alkitab mengajarkan bahwa yang terbaik adalah berdoa dan bergumul dengan kesungguhan hati demi kepentingan orang Kudus antara lain pertumbuhan iman dan penggenapan rencana Allah dalam diri mereka. Dengan kata lain, semua anak Tuhan sebaiknya saling mendoakan. Akibatnya, akan terjadi saling memperhatikan dan memikirkan apa yang terbaik bagi sesama hingga membangun cintakasih. Itulah caranya membangun kesatuan tubuh Kristus. Kalau setiap anak Tuhan hanya mempedulikan diri sendiri maka akhirnya mereka akan menjadi kepingan pecahan yang tidak berhubungan. Padahal doa sejati merupakan teladan Tuhan Yesus sebagai juru syafaat di sebelah kanan Bapa yang selalu berdoa bagi setiap jemaat. Ketika banyak konsep agama dan filsafat dunia mengajarkan doa yang egois, Alkitab justru mengajarkan doa syafaat dan doa bagi penginjilan di seluruh dunia terutama suku di daerah terpencil.

Keempat, “… juga untuk aku (Paulus), supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil.” Dalam konteks ini, Paulus tidak minta didoakan untuk kepentingannya sendiri. Ia memang mengalami banyak kesulitan, penganiayaan dan penderitaan serta sering keluar masuk penjara. Namun ia memiliki jiwa yang memikirkan kehendak Allah. Itulah doa sejati di mana si pendoa rindu untuk mewujudkan isi hati Tuhan dalam kehidupannya di tengah dunia ini hingga terjadi kesamaan visi antara Bapa di Surga dengan dirinya. Paulus mengatakan demikian karena ia merasa belum sempurna, khususnya kegentarannya selama berada di dalam penjara. Namun doa sejati sanggup menghadirkan Kerajaan Allah di tengah dunia. Amin.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)