![]() |
Ringkasan
Khotbah : 2 September 2001 The Return of the Prodigal Son Nats : Lukas 15:11-32 Pengkhotbah : Ev. Solomon Yo |
Perumpamaan Tuhan Yesus dalam Luk 15:11-32 ini dapat juga disebut “perumpamaan tentang anak-anak terhilang.” Karena bukan hanya si bungsu saja yang terhilang dalam kehidupan yang badung, tetapi juga si sulung yang terhilang dalam ketaatan yang tanpa kasih dan persekutuan dengan bapanya. Masing-masing terhilang dalam caranya sendiri-sendiri. Si bungsu terhilang dalam kehidupan yang mengejar kesenangan dosa dan berakhir dalam kehancuran dan penderitaan; sedangkan si sulung terhilang dalam keagamaan dangkal yang penuh beban berat, kedengkian dan kepahitan.
Jelas si bungsu adalah rujukan kepada orang-orang berdosa di sekeliling Tuhan Yesus, sedangkan si sulung menunjukkan kepada para ahli Taurat dan orang Farisi. Dua macam orang ini dapat kita temukan pada masa kini: pertama, orang yang mengabaikan Allah dan hidup dalam kesenangan dosa; kedua, orang yang terlibat aktif dalam kegiatan agama, tapi haus akan kasih karunia. Kepada kedua macam orang ini, Allah mengulurkan tangan kasih-Nya untuk membawa mereka dalam kebahagiaan persekutuan yang hidup denganNya. Ketika melihat si bungsu yang telah hancur, si bapa berlari keluar untuk menyambut kembali sebagai anakNya. Demikian pula ketika si sulung ngambek, si bapa keluar untuk mengajaknya masuk ke rumah dan menikmati perjamuan dan sukacita bersama-sama dia.
Dari dua macam kehidupan ini – si bungsu dan si sulung – kita akan belajar beberapa pelajaran rohani yang penting:.
Pertama, seringkali orang harus melewati perjalanan yang panjang dan menyakitkan untuk sampai kembali ke rumah Bapa. Inilah pelajaran penting yang diperlihatkan dalam kehidupan si bungsu. Dilimpahi begitu banyak anugerah tidak menjadikan dia berbahagia. Tidak puas dengan kehidupan di rumah bapanya, ia pergi ke negeri yang jauh untuk memuaskan segala nafsu dan keinginannya dengan sebebas-bebasnya. Tetapi sungguh ironis, tindakannya itu justru membawa dia dalam penderitaan dan kehinaan.
Keinginan untuk mencapai kebahagiaan tertinggi bukanlah motivasi yang salah, tetapi membiarkan keinginan tersebut dicemari oleh dosa dan kebodohan itu yang menjadi masalah. Keinginan akan kebahagiaan yang berdosa itu mendorong dia melakukan apa saja yang menyenangkan hatinya tidak peduli semua itu justru membawa dia ke dalam kehancuran. Motivasi untuk mencari kebahagiaan, seharusnya mendorong kita untuk mendekatkan diri kepada Allah, sumber berkat sejati, dan bukannya justru menjauhkan diri daripadaNya.
Kebahagiaan yang didambakan si bungsu selama ini telah tersedia baginya di rumah Bapa, hanya tidak pernah ia sadari sebelumnya. Dan untuk sampai ke situ, ia harus melalui suatu perjalanan yang penuh bahaya dan dan menyakitkan.Tampaknya ini juga yang dipelajari oleh Rembrandt (1606-1669). Setelah melalui perjalanan hidup yang panjang dan menyakitkan ia belajar bahwa kebahagiaan sejati hanya bisa didapatkan di dalam Allah, dan mendapatkan perkenanan-Nya adalah apa yang paling utama dalam kehidupan manusia.
Ketika melukis The Return of the Prodigal Son di akhir hidupnya, Rembrandt mengungkapkan kebenaran rohani yang ia alami sendiri. Dialah si bungsu yang telah menjalani kehidupan badung yang mengakibatkan kehancuran diri sendiri, dan hanya dengan kembali ke pangkuan Bapa sorgawi saja, ia mendapatkan kelegaan dan kebahagiaan yang sejati.
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)