Ringkasan Khotbah : 26 Agustus 2001

Ketopong Keselamatan

Nats : Efesus 6:17; Yohanes 10:27-30

Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno

 

Bagian kelima dari perlengkapan senjata Allah ialah ketopong keselamatan atau Soteriologi dan pedang roh yaitu Firman yang secara ekslusif merupakan kekuatan dasar iman Kristen sejati. Namun Kekristenan yang tidak kembali pada Firman telah membuat jemaatnya terus menerus merasa ketakutan dalam hidup di tengah dunia ini hingga tidak berdaya lagi untuk melayani Tuhan dan sesama demi kemuliaanNya karena keselamatan yang tak terjamin. Sebaliknya, pemikiran mereka secara keseluruhan dipusatkan pada kepentingan diri sendiri. Akhirnya, seluruh hidup dihabiskan secara egois yaitu hanya untuk mengejar keselamatan pribadi. Bahkan setelah matipun orang lain terutama keluarga dan kerabat masih dituntut untuk mendoakan rohnya agar dapat masuk ke Surga. Alkitab mengatakan bahwa inilah cara Setan untuk mempengaruhi dan memperalat manusia bagi seluruh proyeksi pekerjaannya. Jadi, kepercayaan itu tidak datang secara mendadak begitu saja dan juga bukan sebagai hasil daya usaha, perjuangan serta kehebatan kekuatan manusia melainkan ditanamkan di dalam diri seseorang oleh Iblis yang ingin menipu atau Allah yang hendak menguatkannya.

Alkitab mengatakan bahwa iman Kristen sejati justru merupakan landasan kokoh untuk berpijak sehingga seorang anak Tuhan dapat hidup mempermuliakan Sang Pencipta sekaligus menjadi berkat bagi sesamanya. Dengan kata lain, intensitas kehidupannya tertuju pada Tuhan dan sesama. Cara berpikir seperti ini terbalik total dengan ajaran dunia. Sudah selayaknyalah jika Tuhan memakai orang Kristen sebagai pemberita cintakasihNya dan pemberi harapan serta kekuatan di tengah dunia. Selain itu, Allah juga menghendaki semua orang mengasihiNya dengan segenap hati, jiwa, pikiran, akal budi dan kekuatan serta mengasihi sesama seperti dirinya sendiri.

Bagi Kekristenan, keselamatan bukanlah tujuan terakhir melainkan titik pijak pertama dalam kehidupan beriman. Karena itu, penginjilan bertujuan untuk menyadarkan dan merubah orang berdosa yang seharusnya binasa, supaya bertobat lalu kembali berdiri di atas keselamatan serta rela berkorban demi kemuliaan Tuhan yang telah menebusnya karena ia adalah milikNya. Maka orang Kristen sejati justru harus mengalami banyak masalah yang sebenarnya adalah sarana Tuhan untuk mendidik imannya. Jika ia sungguh-sungguh beriman kepada Allah maka segala peristiwa dan serangan Iblis tidak akan mempengaruhi imannya hingga mulai bergeming. Satu hal yang perlu diberi penekanan adalah bahwa penginjilan itu bersifat sangat serius karena dapat menyesatkan dan menyelewengkan kebenaran Firman sehingga perlu dikembalikan pada essensi Injil sejati. Bagaimanapun juga, manusia tidak dapat bertobat dengan kekuatannya kecuali Tuhan bersedia untuk memilih, menggerakkan dan merubah hatinya karena pemberitaan Injil itu sendiri terlalu sulit diterima secara logika. Inilah yang disebut dengan Soteria.

Dalam Yoh 10:27-30 dikatakan, “Domba-dombaKu mendengarkan suaraKu dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tanganKu. BapaKu, yang memberikan mereka kepadaKu, lebih besar dari pada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan

Bapa. Aku dan Bapa adalah satu.” Maka tak seorangpun dapat datang kepada Kristus kalau tidak diutus oleh Bapa. Setelah itu, hidupnya akan diarahkan menjadi hambaNya yang taat mutlak dan berada dalam penjagaan Kristus. Dengan demikian ia telah kembali pada naturnya sebagai manusia sejati.

Setelah memahami doktrin Soteriologi secara tepat barulah fungsi ketopong keselamatan dapat dimengerti. Dalam peperangan Romawi, perlengkapan senjata ini sangat berperanan yaitu untuk melindungi kepala yang merupakan bagian tubuh terpenting. Apalagi mereka berhasil menciptakan struktur ketopong yang sangat kokoh. Maka Paulus menyatakan bahwa ketopong merupakan keselamatan yang tidak perlu dilindungi melainkan justru menjadi perlindungan bagi orang Kristen. Dengan kata lain, keselamatan Kristen dianugerahkan dan dijamin oleh Tuhan sendiri untuk melindungi jemaatnya dari berbagai macam kesulitan. Karena itu, keselamatan Kristen jadi bersifat non-conditional, baik dalam sukacita maupun dukacita bahkan tidak tergantung pada perasaan manusia. Orang Kristen yang tidak beriman kokoh kadang-kadang merasa jauh dari Tuhan dan gejala seperti itu menandakan hilangnya keselamatan. Hal ini tidak dapat dibenarkan karena ketika manusia berada dalam anugerah keselamatan Tuhan maka hidupnya jadi berlimpah sesuai dengan kehendakNya. Seharusnya iman Kristen tidak boleh diinterpretasikan sesuka hati. Paulus sendiri berpendapat bahwa hidupnya hanya bagi Kristus sedangkan mati adalah keuntungan karena dapat bertemu denganNya. Inilah Soteriologi Kristen yang harus dipahami dengan tepat agar dapat terbebas dari segala macam ketakutan terutama terhadap kuasa kematian.

Memang, Soteriologi Kristen dijamin oleh Tuhan sendiri dengan providensia kuasa Allah. Namun bukan berarti bahwa orang percaya dapat bertindak sekehendak hati setelah diselamatkan karena beranggapan tindakan dosa tidak akan mempengaruhi keselamatan yang telah diperolehnya. Ironisnya, banyak orang Kristen disesatkan oleh ajaran dunia yang sudah tercemar oleh prinsip humanis. Bahkan Alkitab pun mulai dipaksakan dan dimanipulasi agar mengikuti filsafat dunia yang bersifat merusak konsep pemikiran manusia. Karena itu, semua orang terutama anak Tuhan harus kembali pada Soteriologi yang benar yaitu kembali kepada Allah dan hidup bagi kemuliaanNya karena segala sesuatu berasal dari Dia, oleh dan bagiNya kemuliaan selamanya. Setelah itu, barulah hidupnya dijamin dengan double protections yaitu perlindungan Kristus dan Bapa di mana keduanya adalah satu. Dan Kristus menjamin barangsiapa hidup di dalam Dia takkan terlepas dan binasa. Dengan kata lain, sekali diselamatkan, selamanya terselamatkan karena dasarnya adalah kuasa kebangkitan Kristus yang menang atas kematian.

Setiap manusia di dunia ini pasti mati suatu hari kelak namun umur seseorang tidak dapat ditentukan dan tak seorangpun dapat mengetahui dan menolaknya. Dan setelah kematian, hanya ada 2 kemungkinan yang muncul yaitu tetap terbelenggu dalam kematian kekal atau keluar dari jebakan tersebut. Pada kenyataannya, tak seorang pun mampu keluar dari kuasa maut dengan menggunakan kekuatannya sendiri. Bahkan Lazarus yang pernah dibangkitkan, tetap harus mati lagi. Maka diperlukan kuasa yang dapat mengalahkan kematian yaitu Tuhan Yesus yang sanggup menerima kematian di atas kayu salib untuk menanggung dosa seluruh umat manusia lalu bangkit pada hari ketiga. Karena itu, tidak ada possibility bagi orang tak percaya untuk dapat lolos dari masalah ini walaupun sudah berjuang dan banyak berkorban.

Pada akhirnya, Soteriologi yang tepat sanggup merubah seluruh kehidupan orang Kristen sejati terutama arah, tujuan dan motivasi hidupnya. Di tengah dunia ini, manusia memang tidak akan pernah mencapai kesempurnaan. Namun pertobatan seorang Kristen sejati ditandai dengan perubahan arah hidupnya. Kalau dulu ia hidup untuk dunia maka setelah bertobat, ia bersedia menjalankan kehendak Tuhan secara total. Dahulu ia sangat menikmati dosa namun setelah diselamatkan, ia akan merasakan sakit hati yang mendalam ketika berbuat dosa. Perubahan hidup yang dialami telah menjadikannya memiliki sikap hati tidak rela untuk kembali pada kehidupan lama karena hidup Kristiani lebih indah dan berbahagia. Semakin lama mempelajari Kekristenan maka seharusnya ajaran tersebut semakin berakar dalam kehidupannya dan ia jadi makin bersyukur tanpa penyesalan sedikitpun karena ajaran Kristen sejati jauh lebih tinggi dan integratif konsepnya serta lebih kokoh fondasinya daripada ajaran dunia yang tidak mempunyai tuntutan moralitas, kesucian, keanggunan serta keagungan melampaui Alkitab. Ajaran dengan tingkat moralitas tinggi berarti semakin mendekati kebenaran karena moralitas rusak tidak dapat diintegrasikan dengan kebenaran sejati. Ketika dampak keselamatan yaitu perubahan rohani terjadi dalam diri manusia maka seharusnya ia menjadi semakin kokoh di dalam Tuhan. Amin. 

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)