![]() |
Ringkasan
Khotbah : 19 Agustus 2001 Dinamika Iman Hawa Nats : Roma 10:17; Kej 3:1-6; Ibrani 12:12 Pengkhotbah : Ev. Thomy J. Matakupan |
Roma 10:17 dengan jelas menyatakan bahwa basis iman Kristen sebagai kebenaran sejati adalah Firman Tuhan. Karena itu, tak seorang pun berhak menyatakan diri beriman kokoh berdasarkan pengalamannya sendiri tanpa pemahaman akan kebenaran Firman. Khotbah kali ini akan membahas Kej 3:1-6 mengenai keadaan manusia pertama sebagai ciptaan sempurna yang sangat dekat dengan Allah hingga mampu mengerti maksudNya dengan sempurna, namun terjadi pergeseran dan perubahan pengenalan serta basis iman Hawa yang diwujudkan dalam tindak pelanggaran perintah Tuhan yaitu memakan dan memberikan buah terlarang kepada Adam suaminya yang berakibat kejatuhan dalam dosa.
Padahal Sang Pencipta telah memberikan perintah kepada Adam dan Hawa, “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi” (Kej 1:28). Lalu Tuhan menutup seluruh peristiwa penciptaan dan melihat bahwa segalanya sungguh amat baik. Artinya, mereka telah mendengar, menerima dan hidup seturut dengan Firman dan kehendakNya sebagai perwujudan iman sejati.
Sampai suatu waktu tertentu, Setan datang dalam wujud ular dan berbincang-bincang dengan Hawa mengenai perkataan Allah yang telah dikutipnya namun isinya sangat berbeda walaupun selintas terlihat sama, dengan tujuan untuk mengelabui manusia. Inilah kecerdikan dan kepandaian Setan untuk menghadapi serta menjatuhkan setiap orang Kristen, yaitu dengan menggunakan berbagai macam strategi pendekatan yang hebat dan selalu diperbaharui. Alkitab telah mencatat pembicaraan ular itu dengan Hawa demikian, “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” (Kej 3:1). Dengan kata lain, ular meminta Hawa untuk menjelaskan dan mengoreksi pengertiannya akan perkataan Allah yang telah didengarnya sehingga kesalahpahaman dapat dihindari. Sebenarnya, masalah mulai muncul karena adanya kata ‘bukan’ di akhir pernyataan tersebut yang mengakibatkan suatu kepastian menjadi mengambang. Padahal dalam Kej 2:16 Allah dengan jelas mengatakan, “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas.” Ironisnya, pernyataan Setan tersebut sangat significant bagi Hawa hingga muncul keraguan di dalam hatinya. Inilah awal dari pergeseran fokus iman Hawa.
Seharusnya Hawa menolak ajakan Setan untuk bercakap-cakap. Tetapi Alkitab mencatat bahwa ia menyambutnya, “Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati” (Kej 3:2-3). Kutipan ini kurang sesuai dengan perintah Tuhan dalam Kej 2:16 karena sesungguhnya Allah tidak melarang mereka meraba buah tersebut. Selain itu, ia telah mengganti phrase ‘pastilah engkau mati’ dengan ‘nanti kamu mati’. Sesuatu yang mutlak telah diubah menjadi relatif. Dengan demikian ia mulai berkompromi dan imannya makin menurun. Sebenarnya Hawa bermaksud untuk berdiri di pihak Allah dan berusaha membela serta mempertahankannya dengan me ngatakan pengertian mengenai kehendak Tuhan yang telah diperolehnya untuk melawan Setan. Namun ia malah mengambil alih posisi Allah dengan mengatasnamakan ucapannya sebagai Firman.
Walaupun semua pohon tampak menarik, besar kemungkinan Hawa sangat memperhatikan kedua pohon istimewa di tengah taman, terutama pohon pengetahuan tentang baik dan jahat, hingga menyita pikiran dan keinginannya karena adanya larangan Tuhan untuk memakan buahnya. Karena telah mengetahui segala pikiran, tujuan dan kelemahan manusia termasuk Hawa maka Setan tidak memerlukan banyak waktu dan tenaga untuk menghancurkannya. Ia tidak akan membiarkan mereka terus hidup dalam kebenaan melainkan berupaya untuk merusaknya dengan mengubah dan memutarbalikkan Firman tersebut.
Setelah menawarkan sesuatu, Setan membuat situasi jadi mengambang dan membiarkan manusia mengambil keputusan. Pada ayat selanjutnya dikisahkan, “Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya” (Kej 3:6). Tindakan Hawa ini disebabkan karena sebelumnya ular telah mengatakan, “Sekali-kali kamu tidak akan mati” (Kej 3:4). Dengan kata lain, telah terjadi pergeseran kebenaran perintah Allah. Manusia telah mereduksi kebenaran tersebut sedangkan Setan membaliknya.
Kemudian Setan melanjutkan, “tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” Mendengar penjelasan tersebut, Hawa mungkin berpikir bahwa Allah tidak menghendaki adanya pribadi lain yang berkualitas sama dan sejajar denganNya. Hal kedua yang mungkin juga timbul dalam pikirannya adalah bahwa rupanya ada satu tingkat hidup yang lebih tinggi, sempurna dan limpah. Selain itu, kemungkinan ketiga ialah bahwa Allah itu negatif. Padahal larangan Allah tersebut tidak jelek bagi dirinya karena Ia tidak pernah merancang kejahatan melainkan demi kebaikan yaitu untuk menghindari kecelakaan. Dengan kata lain, Ia adalah Pribadi yang berusaha melindungi dan mengayomi sehingga semua orang percaya dapat memperoleh sukacita dan damai sejahtera. Dengan demikian, Hawa telah jatuh ke dalam dosa secara potensial. Sedangkan tindakan mengambil dan makan buah terlarang hanya merupakan konfirmasi dari konsepnya yang salah tentang Allah.
Dosa masuk melalui proses dengan arah yang jelas. Pertama kali mendengar bisikan Setan, Hawa masih memiliki rasa takut akan Tuhan. Namun tawaran Setan sangat manis, enak dan menggiurkan karena dosa memang indah, menyenangkan serta seolah-olah memberi pengharapan. Walaupun demikian, dalam Kitab Ibrani dicatat bahwa Musa lebih memilih untuk meninggalkan istana Firaun daripada menikmati manisnya dosa di sana karena adanya konsekuensi dosa. Perlu diingat bahwa Allah tidak berkompromi dengan dosa. Namun Hawa lebih memilih untuk memakan buah terlarang itu karena ia berpikir bahwa keuntungan yang akan diperoleh lebih besar daripada konsekuensinya yaitu pola hidup yang lebih tinggi dan bermakna.
Lalu di manakah Adam berada selama percakapan antara Hawa dan ular? Kej 3:6 mencatat, “…dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya.” Ada 2 penafsiran yang muncul. Pertama, percakapan itu terjadi hanya antara Hawa dan ular. Lalu ia pergi ke tengah taman dan bertemu dengan Adam di sana. Kedua, Adam juga mengikuti percakapan tersebut namun hanya berdiam diri saja. Penafsiran kedua ini lebih mendekati apa yang tertulis dalam Alkitab.
Dosa kedua yang tanpa disadari telah dilakukan oleh Hawa adalah rusaknya the order of creation (urutan penciptaan) secara umum yaitu: (1)Allah, (2)manusia dan (3)ciptaan lain. Dengan kata lain, Kej 3 hendak menunjukkan bahwa manusia ingin mengambil alih posisi Allah namun pada saat yang sama, posisi mereka turun ke bawah karena telah mendengarkan perkataan ular. Selain itu, mereka juga telah merusak ordo antara Allah, laki-laki dan perempuan karena Hawa telah mengambil alih posisi Adam dengan mendominasi pembicaraan dan mengatur segalanya. Sedangkan Adam hanya mengikuti perkataan Hawa. Setelah menyaksikan Hawa yang tidak mati akibat makan buah terlarang maka Adam juga ikut memakannya. Karena itu, keadilan Allah langsung menjatuhkan hukuman kepada mereka yaitu putus hubungan denganNya dan mengusir mereka keluar dari taman Eden. Lalu ditempatkanNyalah beberapa kerub dengan pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar, untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan (Kej 3:24). Ini merupakan hukuman yang sangat menyedihkan bagi mereka berdua. Selain itu, mereka juga harus menanggung hukuman yang lain yaitu sebagai laki-laki, Adam harus bersusah payah mencari rezeki seumur hidupnya, sedangkan Hawa akan bersusah payah mengandung dan melahirkan anaknya dengan kesakitan sebagai harga yang harus dibayar.
Setan dekat sekali dengan Kekristenan. Alkitab mengatakan di mana Firman ditaburkan, di sanalah si jahat datang dan mencoba untuk memakannya agar tidak berbuah di dalam hidup manusia. Padahal dalam Ibr 12:1-2 Paulus mengatakan, “Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba, dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.” Amin.
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)