Ringkasan Khotbah : 22 Juli 2001

Berbahagialah Orang yang Menjadi Pelaku Firman

Nats : Yakobus 1:21-25

Pengkhotbah : Ev. Solomon Yo

 

        Hanya mereka yang menjadi pelaku Firman saja yang sungguh-sungguh berbahagia. Gereja Protestan, terlebih-lebih Gereja Reformed demikian memandang penting pengajaran firman. Bahkan Gereja Reformed Injili selain memberikan pengajaran firman yang teliti juga memberikan berbagai sarana pendidikan teologi awam dan seminar, tujuannya ialah supaya umat dapat menyatakan ketuhanan Kristus di dalam kehidupan mereka. Pertanyaannya ialah apakah kebenaran yang dimengerti itu dinyatakan dalam kehidupan Kristen kita. Kritik terhadap kita bahwa terdapat kesenjangan antara pengajaran dan kehidupan harus mendorong kita untuk mengevaluasi diri dengan ketat, supaya tidak jatuh dalam kesalahan orang Farisi dan ahli Taurat. Rasul Paulus memberikan teladan kepada kita, walaupun ia memiliki jaminan iman yang teguh dalam keselamatan Allah, tetapi ia secara ketat menaklukkan dirinya untuk hidup sesuai dengan keyakinannya itu. Biarlah melalui konsistensi hidup Kristen dalam kebenaran yang mereka tegaskan, dunia dapat melihat dan mulai berpikir bahwa kehidupan yang didasarkan pada kebenaran Firman ternyata adalah benar, baik dan jauh lebih indah.

        Friedrich Nietzsche sekali waktu pernah ditanya, apakah yang membuat dia berpikiran demikian negatif terhadap orang Kristen. Dia menjawab, “saya akan percaya kepada pada jalan keselamatan mereka, apabila mereka sedikit lebih terlihat seperti orang yang sudah diselamatkan.” Nietzsche sendiri memiliki hidup yang sangat brengsek, itu urusan dia, tetapi kita akan mendengarkan kritikan dari siapa saja selama itu bisa menolong kita untuk tidak jatuh ke dalam kesalahan dan kehancuran.

        Kenyataan kehidupan banyak orang Kristen yang tidak berbuah dan lebih mirip dengan dunia harus menyadarkan kita bahwa ada permasalahan serius dalam kehidupan Kristen kita. Menurut pola pikir perumpamaan tentang penabur (Mt 13), tampaknya ada kesalahan dalam sikap kita dalam meresponi Firman Tuhan yang kita dengarkan, yaitu banyak orang yang setelah mendengarkan firman, mereka mengabaikan, atau melakukan sesekali, lalu melupakannya. Dengan kata lain, mereka tidak menjadi pelaku Firman.

        Dalam perikop yang kita baca – Yakobus 1:21-27 – ada suatu frase yang harus kita waspadai, yaitu "menipu diri sendiri’ (Yak 1:22 & 26). Seorang bisa merasa dirinya demikian baik dan berkerohanian dengan doktrin yang benar serta berkenan kepada Tuhan, tetapi kenyataannya sangat bertolak belakang. Ada banyak keterkejutan di akhirat nanti, di mana banyak orang yang merasa dirinya melayani Tuhan, di sana baru sadar bahwa mereka ditolak oleh Tuhan. Kita harus waspada terhadap kebodohan “menipu diri sendiri” ini. Sikap menipu diri sendiri diungkapkan dalam beberapa gejala yang akan kita bahas di bawah ini. Kita akan mewaspadainya:

         Pertama, sikap menilai Firman Tuhan secara rendah dan salah. Orang mempunyai penilaian yang rendah terhadap firman akan berakibat mereka mempunyai sikap yang negatif terhadap firman, antara lain dianggap tidak relevan dan membatasi kehidupan mereka. Mereka lebih menghargai kepandaian, kekayaan dan sebagainya hingga tidak mampu melihat keindahan Firman Tuhan. Mzm 119, pasal terpanjang dalam seluruh Alkitab secara khusus memuji keindahan Firman Tuhan dan menunjukkan kecintaan, kerinduan serta kesukaan akan Taurat Tuhan yang lebih berharga daripada segala macam harta dunia karena Firman itu berkuasa untuk merubah dan membentuk hidup manusia menjadi lebih beriman walaupun dengan memakai sarana manusia yang terbatas. Bagaimanapun juga, setiap orang Kristen harus bersikap kritis ketika mendengarkan khotbah untuk menghindari pengajaran yang salah tapi tetap disertai dengan sikap hormat dan bersedia menerima pengajaran yang benar dengan rendah hati.

        Kedua, sikap masa bodoh terhadap kesejahteraan diri sendiri. Sikap ini sesungguhnya sangat bertentangan dengan natur manusia yang cenderung untuk merawat dan mengasihi diri; ia cenderung menghindari bahaya dan mengarahkan dirinya kepada kesuksesan, kebaikan dan kebahagiaannya. Orang yang mendengarkan Firman Tuhan mendapatkan pencerahan akal budi yang memampukan dia untuk mengenal dirinya sendiri di hadapan Tuhan secara lebih jelas karena Firman itu dapat mengungkapkan dan menghakimi secara jujur, jelas dan tegas segala keburukan, kesalahan, kejahatan dan dosa manusia yang tersembunyi sekalipun. Selain itu, Firman sebagai kasih karunia Tuhan juga dapat menyembuhkan dan memulihkan sekaligus membangun dan memperbaharui manusia. Namun dalam kehidupan rohani seringkali manusia tidak bersedia melaksanakan Firman Tuhan untuk merubah dan memperbaiki keburukannya demi keindahan dan kehormatannya sendiri karena adanya kontradiksi antara Firman itu dengan dirinya sendiri. Sangat ironis, banyak orang yang sebenarnya tidak mengasihi dirinya sendiri, ia hanya memanjakan diri, yang akhirnya justru merusak dirinya sendiri.

        Ketiga, sikap tidak membiarkan Firman Tuhan merubah totalitas pribadinya. Jonathan Edwards, seorang tokoh Reformed penting dalam bukunya ‘Religious Affection” mengungkapkan bahwa agama sejati terutama tidak terletak pada emosi, pikiran atau tindakan, tetapi di dalam afeksi yang kudus. Itulah totalitas diri manusia yang mencakup di dalamnya pemahaman akan kebenaran (pikiran) dan  mengasihi kebenaran (emosi) sehingga mendorong dia untuk bertindak dan mengasihi dengan benar terutama mencintai dan melakukan kehendak Tuhan. Pengajaran Firman tidak pernah dimaksudkan hanya untuk dimengerti (berhenti di otak) melainkan secara aktif, kreatif dan konstrusktif diwujdukan dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapat menjadi berkat.

        Keempat, sikap mempermainkan diri dengan agama ‘aku-isme’. Di jaman sekarang ini banyak orang aktif beragama hanya karena kebutuhan dari kesadaran bahwa materi dan teknologi tidak dapat memberikan kepuasan dan kelegaan dalam hidup yang semakin berat. Ia sadar ia memerlukan sesuatu yang lebih besar untuk menopang hidupnya. Tapi ketika manusia kembali kepada Allah, ia tidak rela untuk tunduk kepada otoritas Allah, ia tetap berpegang pada sifat dosa lama yaitu menjadikan dirinya sebagai tuhan atas hidupnya. Inilah suatu bentuk dari agama ‘aku-isme’. Terhadap fenomena dekadensi moralitas yang bertolak belakang dengan meningkatnya gairah dan aktivitas agama Charles Colson menjelaskan, “Hal ini terjadi karena mereka yang mengakui dirinya Kristen, menerima iman Kristen menurut kehendak hati mereka sendiri, Kekristenan yang tanpa suatu tuntutan apapun dalam tingkah laku hidup mereka. Ketika diri menjadi otoritas tertinggi maka tidak ada lagi otoritas yang lebih tinggi dari kita yang memberikan tuntutan kepada kita. Maka kelompok orang beragama hanya menjadi komunitas orang-orang otonom yang memilih untuk berkumpul bersama karena kepentingan diri sendiri atau kebutuhan emosi masing-masing.”  Ini merupakan sikap menipu diri sendiri, karena sebagai makhluk yang lemah manusia membutuhkan Allah untuk membimbingnya dan memberikan apa yang ia tak mampu dapatkan. Manusia yang tidak memilki komitmen total atau kemantapan hati dan pikiran untuk mengikut Tuhan akan selalu merasa bimbang dan ragu serta tidak pernah merasakan ketenangan hidup. Jika ia terus dituntut untuk berkomitmen kepada Tuhan maka ia akan memberikan pengabdian atau ketaatan dengan substitusi atau tingkah laku agama yang palsu. Mungkin juga ia akan memakai cara rasionalisasi yaitu dengan menjelaskan bahwa Firman Tuhan itu sulit bahkan tidak mungkin dapat dilaksanakan. Dengan demikian ia bisa tenang dan menganggap diri sudah rohani tapi di hadapan Tuhan, ia belum menjadi pelaku Firman dengan segala konsekuensinya. Seorang anak Tuhan dapat menjadi pelaku Firman jika:

        (1)tunduk dan takluk kepada prinsip kebenaran Firman Tuhan yang berfungsi sebagai hukum yang sempurna dan memerdekakan (Yak 1:25) serta sebagai jalan hidup. Yes 57:20-21 mengungkapkan, “Tetapi orang-orang fasik adalah seperti laut yang berombak-ombak sebab tidak dapat tetap tenang, dan arusnya menimbulkan sampah dan lumpur. Tiada damai bagi orang-orang fasik itu,” firman Allahku.”  Artinya, manusia tidak statis atau abstain. Ia harus berpihak kepada Tuhan atau tidak sama sekali. Tapi di luar kebenaran tidak ada damai sejahtera dan kebahagiaan melainkan kehancuran (Yes­ 32:17). Rasul Paulus dalam 2 Kor 13:8 mengungkapkan suatu prinsip yang sangat indah, “Karena kami tidak dapat berbuat apa-apa melawan kebenaran; yang dapat kami perbuat ialah untuk kebenaran.” Biarlah hati nurani setiap orang Kristen diikat oleh kebenaran, seperti Daniel yang telah memenangkan perjalanan hidupnya walaupun orang lain menyalahgunakan kejujuran dan ketulusannya. Dalam Mzm 119:30 dikatakan, “Aku telah memilih jalan kebenaran, telah menempatkan hukum-hukumMu di hadapanku.” Biarlah pernyataan pemazmur ini juga menjadi seruan dan keputusan setiap anak Tuhan.

        (2)menemukan kesukaan dalam menjalankan Perintah Tuhan. Mzm 40:9 mengatakan, “Aku suka melakukan kehendakMu, ya Allahku; TauratMu ada dalam dadaku.” Akibatnya, tidak akan ada lagi pertentangan batin. Orang yang berbuat dosa akan menjalani hidupnya seperti seorang pelarian yang terus berusaha untuk bersembunyi agar kesalahannya tidak terungkap. Sedangkan orang yang meninggalkan segala dosa, kejahatan dan kenajisan akan mengecap kebahagiaan dan kesejahteraan tanpa dibayangi oleh rasa takut. Jika setiap orang Kristen dapat menemukan keindahan dan kebahagiaan dalam Tuhan maka hal melakukan kehendak Tuhan menjadi mudah dan penuh sukacita.

        (3)menyimpan Firman Tuhan dalam hati, merenungkannya secara mendalam setiap hari dan menjalankannya. Mzm 1:2 mengatakan, “Tetapi yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.”  Jika setiap orang Kristen semakin taat pada Firman Tuhan maka ia akan semakin memahaminya.

        (4)komitmen mutlak untuk melakukan Firman Tuhan. Dalam buku yang berjudul Screwtape Letters oleh C. S. Lewis dikisahkan, Setan senior sedang memberikan nasihat kepada Setan junior, “Yang penting adalah mencegah petobat baru Kristen untuk melakukan sesuatu. Selama ia tidak menunjukkan pertobatannya itu dengan tindakan maka tidak menjadi soal sejauh mana ia berpikir tentang pertobatan baru ini. Biarlah ia asyik bermain dengan pertobatannya itu. Biarkan dia jika berminat menulis sebuah buku tentang pertobatan. Seringkali hal itu menjadi suatu cara yang sangat baik untuk mensterilkan benih-benih yang ditanam oleh Musuh [Tuhan] di dalam jiwa seseorang. Biarkan ia melakukan sesuatu kecuali mempraktekkan kebenaran yang diketahuinya. Tidak ada kesalehan di dalam imajinasinya dan afeksinya yang akan membahayakan kita. Jika kita dapat mencegah agar tidak menyentuh kemauannya seperti yang pernah dikatakan seseorang. Kebiasaan-kebiasaan aktif diperkuat dengan pengulangan tetapi kebiasaan-kebiasaan pasif justru akan diperlemah. Semakin sering ia merasakan tanpa bertindak, semakin berkurang kemampuannya untuk bertindak dan pada jangka panjang, semakin berkurang kemampuannya untuk merasakan.” Maka setiap anak Tuhan harus selalu waspada dan tetap memberi kesaksian hidup Kristennya di tengah dunia. Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)