![]() |
Ringkasan
Khotbah : 17 Juni 2001 Kristus: Jalan Menuju Kerajaan Allah Nats : Yohanes 6:32-40 Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno |
Dalam Kebaktian Penginjilan kali ini, perikop yang akan dibahas adalah mengenai kesaksian Tuhan Yesus sendiri sebagai “Roti hidup”. Ketika Yesus tiba di seberang laut, orang banyak menyambutNya, “Rabi, bilamana Engkau tiba di sini?” (Yoh 6:25). Namun Ia mengetahui maksud dan tujuan mereka. Maka Ia menjawab, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang” (Yohanes 6:26). Ini menandakan bahwa konsep religiusitas bangsa itu sedang bermasalah karena “the upside down world makes the upside down worship” (konsep dunia terbalik akan menciptakan konsep keagamaan yang terbalik juga).
Bangsa Yahudi terkenal rajin beribadah yaitu 7 kali sehari dan akan sangat tersinggung jika dianggap tidak religius. Namun ketika berdoa, yang dipikirkan hanyalah perihal makanan dan tindakan mereka justru menunjukkan religiusitas terbalik hingga dalam Yoh 6:32 dicatat, “Maka kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari sorga, melainkan BapaKu yang memberikan kamu roti yang benar dari sorga.” Pernyataan Yesus yang tegas ini disebabkan karena mereka telah menggeser posisi Tuhan sebagai Pemberi berkat dan menciptakan religiusitas humanistik. Dalam permainan religiusitas, mereka tetap mengaku percaya kepada Allah namun memiliki anggapan bahwa manna yang menjadi makanan sehari-hari itu bukanlah anugrah Tuhan melainkan jasa Musa yang telah berdoa kepada Tuhan di sorga dan meminta makanan bagi bangsa itu. Sebenarnya mereka mengerti bahwa yang dimakan adalah roti yang turun dari sorga tapi tidak pernah memandang kepada Sumbernya, bahkan lebih mendekatkan diri kepada Musa. Tindakan itu menandakan bahwa agama bagi mereka adalah bagaimana manusia kembali pada manusia untuk mewujudkan keinginannya dan posisi Tuhan hanya sebagai pelengkap kebutuhan manusia. Kemudian yang dianggap berjasa adalah orang yang berhasil mewujudkan keinginan bangsa itu. Maka Yesus harus bertindak untuk mengembalikan religiusitas pada posisinya yang benar. Pernyataan Yesus di atas hendak menunjukkan bahwa jikalau Bapa tidak bersedia maka mereka tidak akan pernah makan roti tersebut walaupun Musa sudah berdoa dan memohon kepadaNya karena ia dipakai Tuhan sebagai saluran berkat. Sehingga yang berperanan penting justru adalah Allah Bapa dan hanya kepada Dialah jemaatNya harus mengarahkan diri.
Demikian pula pandangan mereka terhadap Tuhan Yesus. Mereka menganggap Tuhan Yesus telah berjasa karena membuat mereka kenyang. Jadi, menurut konsep mereka agama itu berkaitan erat dengan perihal makanan. Konsep inilah yang dikecam oleh Tuhan Yesus. Kekristenan memang perlu memperhatikan orang yang kelaparan, tetapi itu bukanlah hal yang utama apalagi dijadikan sebagai inti religiusitas hingga membentuk social gospel yaitu Injil yang lebih memperdulikan perihal makanan sebagai akibat masuknya ide humanistik.
Ketika memperoleh roti, ribuan orang Yahudi yang mengikuti Yesus menjadi lupa akan seluruh khotbah yang telah disampaikanNya. Bahkan pada bagian terakhir dari Yoh 6 dikisahkan bahwa mereka tidak berterimakasih atas makanan yang diperoleh melainkan berusaha untuk membunuhNya dengan alasan bahwa Ia telah melawan konsep pemikiran mereka. Walaupun mendengarkan khotbah tapi mereka tidak bersedia menerima konsep kebenaran yang ditawarkanNya karena yang dipikirkan hanyalah roti yang mengenyangkan. Karena itulah mereka hendak menjadikan Yesus sebagai raja. Namun Ia yang telah mengetahui isi hati mereka, menolak untuk menjadi raja bagi bangsa itu dan penolakan ini mengakibatkan kemarahan hingga menimbulkan keinginan untuk membunuhNya.
Bagi bangsa Israel yang sangat materialistik, prioritas hidup mereka adalah roti yang mengenyangkan. Dalam Kel 16:4-5 dikisahkan, “Lalu berfirmanlah Tuhan kepada Musa: “Sesungguhnya Aku akan menurunkan dari langit hujan roti bagimu; maka bangsa itu akan keluar dan memungut tiap-tiap hari sebanyak yang perlu untuk sehari, supaya mereka Kucoba, apakah mereka hidup menurut hukumKu atau tidak. Dan pada hari yang keenam, apabila mereka memasak yang dibawa mereka pulang, maka yang dibawa itu akan terdapat dua kali lipat banyaknya dari apa yang dipungut mereka sehari-hari.” Kemudian dalam Kel 16:20 dikisahkan, “Tetapi ada yang tidak mendengarkan Musa dan meninggalkan daripadanya sampai pagi, lalu berulat dan berbau busuk. Maka Musa menjadi marah kepada mereka.” Peristiwa ini menunjukkan betapa serakahnya manusia, sekaligus mencurigai Tuhan akan melupakan kebutuhan mereka.
Manusia memang membutuhkan roti untuk hidup di dunia ini, sesuai dengan perkataan Yesus dalam Yoh 6:33, “Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia.” Mendengar perihal makanan, orang-orang Yahudi itu langsung berkata, ”Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.” (Yohanes 6:34) Ini menunjukkan bahwa mereka tidak memperdulikan siapakah Tuhannya. Yang dipentingkan hanyalah perihal makanan.
Lalu Yesus mengajarkan, “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepadaKu, ia tidak akan haus lagi.” (Yoh 6:35) Mereka tidak dapat mengerti hal ini karena tidak sesuai dengan filosofi yang dianut. Lalu Ia melanjutkan pengajaranNya dalam Yoh 6:49 & 51, “Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan mereka telah mati. Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.” Dengan demikian Ia hendak menawarkan satu nilai yang lebih tinggi daripada sekedar makanan jasmani yaitu pengampunan dosa dan keselamatan kekal. Selain itu Ia juga mengajarkan bahwa aspek penting dari suatu ibadah dan keagamaan adalah membawa manusia kembali pada berita terpenting yaitu problema dosa yang berakibat kebinasaan hidup manusia, dan mencari solusinya.
Tuhan Yesus juga menjelaskan dalam Yoh 6:38 & 40, “Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendakKu, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku. Sebab inilah kehendak BapaKu, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.” Inilah berita mengenai roti rohani untuk mencapai nilai tertinggi. Ironisnya, penjelasan ini pun tidak dapat diterima oleh orang Yahudi dan akhirnya mereka pergi meninggalkan Tuhan Yesus. Semua ini disebabkan karena mereka memiliki konsep keagamaan terbalik.
Orang Kristen di jaman ini juga seringkali menjalani hidup yang sama seperti orang Farisi dan ahli Taurat bangsa Yahudi. Mereka tetap percaya dan beribadah kepada Tuhan namun tanpa makna karena sebenarnya mereka sedang mengejar hal duniawi dan gagal memahami inti Kekristenan. Seringkali pula orang Kristen gagal mengerti kehendak Tuhan atas hidupnya karena telah tertanam suatu konsep pemikiran yang tidak bersedia menerima konsep lain. Padahal sesungguhnya mereka mengetahui bahwa konsep kebenaran Firman bernilai lebih tinggi dari konsep apapun namun dengan sengaja menolaknya dan terus mengejar hal sekunder. Inilah problem religiusitas yang sudah menjadi masalah bagi setiap manusia di dunia ini. Hanya Firman, anugrah dan kekuatan Tuhanlah yang sanggup menyadarkan dan merubah pola berpikir setiap orang Kristen yang gagal memprioritaskan hal yang paling bermutu bagi kehidupannya.
Ketika Tuhan mulai membawa setiap anakNya kepada kebenaran sejati tapi dunia justru menyesatkan mereka menuju ke hal yang tidak benar. Karena itu, Tuhan Yesus berusaha untuk meluruskan konsep pemikiran mereka. Ketika di padang gurun, bangsa Israel sesungguhnya mengerti bahwa manna yang dimakan itu berasal dari Tuhan. Namun ketika sejarah ini mulai diceritakan secara turun temurun, maknanya mulai bergeser. Mereka menganggap bahwa Musalah yang berjasa karena ia adalah bapa orang Yahudi yang patut dibanggakan. Maka sejak itu kepentingan kebenaran Allah mulai digeser dan dimanipulasi menjadi kepentingan kebenaran suku. Padahal sumber kebenaran sejati adalah Allah Yahwe. Namun bagi bangsa Yahudi tidaklah demikian. Mereka merasa bahwa sikap dan tindakan Tuhan Yesus sangat berbahaya bagi kebudayaan bangsa Israel. Buktinya, dalam Yoh 11:48 dikisahkan bahwa imam kepala, orang Farisi dan Mahkamah Agama bersepakat, “Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepadaNya dan orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa kita.”
Di dunia ini memang sulit bagi kebenaran untuk mendapat tempat yang selayaknya. Kebenaran sejati yang seharusnya menjadi titik tolak, justru dilawan supaya banyak orang percaya kepada kebenaran palsu walaupun sesungguhnya mereka mengerti bahwa manusia tidak dapat menjadi sumber kebenaran. Amin. ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)