Ringkasan Khotbah : 3 Juni 2001

The True Enemy

Nats : Efesus 6:10-17

Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno

 

Khotbah kali ini akan melanjutkan pembahasan Minggu lalu dengan memberi pe­ne­kanan pada Ef 6:12, “Perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, te­­ta­­pi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan peng­­hulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.” Dengan per­­nya­­­taan ini Paulus hendak menegaskan bahwa Kekristenan sedang berada di dalam per­­tempuran serius yang bersifat merusak sehingga setiap anak Tuhan harus selalu was­pada. Meskipun jemaat Efesus telah dibinanya selama 3,5 tahun dan diperlengkapi de­ngan banyak pengajaran, mereka belum sepenuhnya hidup dengan kewaspadaan un­­tuk menghadapi musuh yang sangat jahat. Padahal mereka berada di lingkungan yang bersifat sekuler dan materialistik serta bermoral buruk. Secara filosofis pun me­re­ka mempunyai arus pikir yang sangat duniawi dan mulai bersikap lunak, acuh tak acuh ser­ta terlalu percaya diri setelah menjadi Kristen dan pada saat itu justru imannya tidak ter­-j­a­­­ga dengan baik. Persoalan semacam ini terjadi tidak hanya pada abad pertama tapi te­rus berlanjut hingga saat ini. Banyak orang Kristen terlena di dalam kehidupan iman­nya karena berbagai aspek yang dipikirkannya:

                Pertama, orang Kristen merasa dirinya sedang berada dalam kondisi relatif aman. Posisi aman sebenarnya tidak menguntungkan melainkan membuatnya terlena di dalam kehidupan imannya se­­hingga mudah dirusak dan menjadi korban tipu muslihat Iblis. Dengan kata lain, orang Kristen mulai rusak, hancur dan binasa jika dalam per­­­­tim­bang­­­­­annya muncul ung­­kap­­­­an “tidak apa-apa”. Itulah taktik Setan untuk menghancurkan Ke­kristenan. Kalau hal ini tidak dimengerti dengan baik maka Kekristenan akan berjalan me­­nuju ke­bi­­na­­sa­­an.

                Kedua, orang Kristen seringkali berlindung di belakang doktrin keselamatan yang menyatakan bahwa sekali selamat tetap selamat, dan doktrin Providensia Allah yang menjamin bahwa Allah menjaga, menopang dan memelihara jemaatNya hingga akhir jaman dengan kekuatan kuasaNya, serta tidak membiarkan mereka jatuh ter­ge­­le­­tak. Kedua doktrin ini seringkali disalahgunakan dan dianggap sebagai penyelesaian se­luruh unsur Kekristenan. Padahal pernyataan itu tidak salah melainkan penerapannya sa­­ja yang tidak tepat karena dijadikan sebagai alasan untuk dapat bertindak se­­ke­hen­­dak hati. Seharusnya semua itu didasarkan pada prinsip kesetiaan dan rasa takut akan Al­lah serta pelayanan bagi kemuliaan Tuhan dengan hidup dalam kesucian.

Teologi Reformed mengajarkan 5 prinsip dasar keselamatan yang saling ter­­kait sebagai keutuhan iman Kristen yaitu TULIP: (T)Total depravity (Kerusakan total); (U)Un­­­­­conditional election (Pemilihan tak bersyarat); (L)Limited atonement (Penebusan yang terbatas); (I)Irresistable grace (Anugrah tak terhapuskan); (P) Perseverance of the saint (Ketekunan orang suci). Calvin juga mengatakan bahwa di dalam kehidupan iman Kris­­­­­ten, setiap anak Tuhan akan menjalani progressive sanctification (penyucian pro­­­gre­­­sif) yang mengharuskannya untuk berjuang demi pertumbuhan iman sejati dan ber­te­kun dalam hubungan yang baik dengan Tuhan walaupun mendapat serangan gencar da­ri Iblis. Inilah ajaran Firman Tuhan yang sangat penting.

Sebaiknya orang Kristen tidak tergantung pada perlindungan atau keamanan in­­stitusional yang akhirnya akan menetralkan kewaspadaannya. Dalam Perjanjian La­ma, Israel sebagai satu entity (keutuhan) dipilih, dijaga dan dipelihara oleh Allah sesuai de­­­ngan janjiNya namun belum tentu secara individu karena di dalam entity tersebut ter­­da­pat 2 golongan Israel: 1)Israel sejati yaitu mereka yang taat dan bersyukur atas pe­­me­liharaan dan anugrah Tuhan; (2)Israel tak sejati yaitu mereka yang dapat diperalat oleh setan untuk melawan Tuhan. Hanya mereka yang setia kepada Tuhanlah yang di­ja­ga dan diperkenankan masuk ke tanah perjanjian yaitu Kanaan. Dalam Perjanjian Ba­ru, Gerejalah Israel baru yang Tuhan peliharakan sebagai tubuh Kristus sehingga saling ter­ikat dengan Kristus sebagai kepala. Tapi pernyataan ini tidak mengacu pada tiap pri­­ba­di. Maka Calvin membedakan Gereja menjadi 2 golongan yaitu Visible dan Invisible Church. Tak semua Gereja yang kelihatan termasuk dalam golongan Gereja tak ke­li­hat­an. Bagaimanapun juga, secara entity kedua umat pilihan tersebut, Israel maupun Ge­re­ja, tidak mungkin dilenyapkan dari muka bumi ini karena Tuhan memberikan kekuatan khu­sus untuk bertahan.

Paulus mengatakan bahwa ketika orang Kristen tidak waspada atau tanpa bi­jak­sana dan kecermatan sejati maka seringkali ia bersikap bukan sebagai anak Tuhan yang menjalankan kehendakNya melainkan sesungguhnya ia sedang mengikuti ke­inginan Iblis. Satu pergumulan dalam Kekristenan sebenarnya adalah sejauh mana se­tiap anak Tuhan dapat keluar dari jebakan Iblis. Itu tergantung pada pengertian akan sia­pa sesungguhnya yang menjadi musuh Kekristenan.

Paulus juga mengatakan bahwa setiap anak Tuhan harus selalu waspada ka­re­­na sedang berhadapan dengan musuh yang sangat tangguh dan membahayakan hi­dup­­nya yaitu pemerintah, penguasa, penghulu kegelapan dan roh jahat yang ada di uda­ra atau berada dalam nuansa rohani. Empat istilah itu dipakai oleh Paulus secara pa­ralel untuk menunjuk pada satu oknum yang telah disebutkan sebelumnya yaitu pada Ef 6:11, “supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis.” Karena itu, tidak ada alasan bagi Kekristenan untuk tidak waspada dan tetap bermain-main karena ke­­ti­­ka sedang lengah maka musuh telah siap untuk menghancurkannya. Ada 4 aspek yang ha­­rus dipertimbangkan dengan baik:

                Pertama, musuh Kekristenan bersifat rohani. Seringkali anak Tuhan mudah ter­jebak dan dirusak karena mata yang hanya dapat melihat visible enemy tanpa mem­per­­timbangkan invisible enemy dan memiliki kecenderungan lebih takut terhadap mu­­suh duniawi. Padahal musuh yang sebenarnya adalah spiritual evil yang sanggup meng­hancurkan kerohaniannya.

Menurut Plato, seluruh hidup manusia dimulai dari aspek spiritual menuju ke as­pek realita. Dengan kata lain, semua fenomena merupakan ekstensi atau perluasan  da­ri nomena. Ide merupakan inti dari materi. Jika ide tidak terwujud maka tidak akan ada materi. Semua aktivitas di dunia riil bersumber dari ide yang berada di dunia roh yang tak terlihat dan terjamah. Dengan demikian Plato secara mendasar telah me­­ma­­­hami bahwa dunia ide mempengaruhi dunia riil. Dunia ide yang buruk akan merusak du­­nia riil. Inilah prinsip Plato yang non-Kristen.

Alkitab juga memandang spiritual condition itu sebagai hal yang sangat serius di dalam Kekristenan karena semua aspek tingkah laku tergantung pada 2 unsur yaitu do­sa atau kebenaran. Maka setiap anak Tuhan harus mengalami pembaharuan akal bu­di untuk dapat merubah seluruh tingkah lakunya. Ironisnya, seringkali orang Kristen ti­dak menyadari ketika konsep pemikirannya disusupi dengan jiwa sekularisme dan ma­te­­­rialisme yang sebenarnya adalah musuh rohani yang sangat berbahaya.

                Kedua, Kekristenan sedang berhadapan dengan penguasa, pemerintah ke­ra­­­ja­­an angkasa dan penghulu kosmis yang perlu ditakuti karena sanggup  menyerang dan me­n­­­­cengkeram aspek kerohanian dengan menggunakan intrik internal. Sebagai karya Roh Kudus, Kekristenan ti­dak mung­kin dapat dihancurkan dengan serangan eksternal, se­perti pembunuhan para mar­­­tir. Gereja akan mulai rusak jika te­­­lah di­mapankan se­hing­ga kehilangan dinamika dan tantangan dari luar. Pada saat se­per­­­­ti itu, Setan akan mu­lai menyerang dari dalam Gereja itu sendiri dengan berbagai ma­­cam in­trik yang licik dan memperalat orang Kristen yang tidak mau memperlengkapi di­­rinya de­ngan pe­nga­jar­an yang ketat. Untuk mencegahnya, setiap perencanaan dan pe­­­­­­­la­yan­­­an harus ber­a­da dalam satu keutuhan dan arah yang tepat dan dapat di­­­per­tang­gung­­j­a­wab­kan.

                Ketiga, setan menghancurkan Kekristenan dengan menggunakan otoritas ting­gi. Dia adalah pemerintah dan penguasa yang berada di atas posisi manusia. Ka­­­re­­­na itu, Alkitab mengatakan bahwa seorang anak Tuhan harus tulus seperti merpati tapi cer­dik seperti ular. Untuk menghadapi Setan, Alkitab menganjurkan untuk memakai bi­jak­sana dan kekuatan Tuhan melalui FirmanNya. Maka Ef 6:11 mengatakan, “Ke­na­kan­lah seluruh perlengkapan senjata Allah.”

Keempat, Kekristenan sedang berhadapan dengan musuh yang sangat licik. Pe­mikiran Tuhan seringkali tidak dapat dimengerti dan diterima oleh dunia berdosa. Na­mun seharusnya anak Tuhan mengerti logika setan sehingga tidak mudah disesatkan ka­rena adanya pertahanan yang cukup untuk menghadapinya. Sepanjang hidupNya, Tu­han Yesus tidak pernah bertindak licik tapi juga tidak mau dibodohi. Berkali-kali Ia di­go­da, dicobai dan diatur oleh orang Yahudi yang hendak menjebakNya. Namun Ia se­la­lu menjawab dengan tepat tanpa harus bersikap licik dan menipu. Prinsip yang penting ada­lah bahwa semua cara yang licik pasti akan menghancurkan orang lain, diri sendiri dan seluruh umat manusia. Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)