Ringkasan Khotbah : 27 Mei 2001

Put on the Whole Armor of God!

Nats : Ef 6:10-17

Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno

Melanjutkan pembahasan pada Minggu lalu mengenai “Be strong in the Lord”, khotbah kali ini akan menjelaskan tentang cara untuk merealisasikannya. Alkitab mengatakan, “Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah” (Ef 6:11). Yang dimaksud dengan perlengkapan senjata adalah seperti kelengkapan seorang tentara Romawi yang siap berperang. Pada masa itu, Efesus berada di bawah kekuasaan Romawi yang terkenal sebagai kekaisaran berkekuatan tentara yang sangat tangguh dan disiplin. Dengan kon­teks tersebut, Paulus hendak menyadarkan jemaat Efesus bahwa mereka sedang berada di suatu medan pertempuran di mana setiap anak Tuhan harus berjuang untuk menyatakan kebenaran walaupun musuh menghadang dan siap menghancurkannya. Selanjutnya, di dalam Ef 6:14-17 dicatat, “Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah.”  Dari ilustrasi tersebut, terdapat beberapa hal yang perlu diketahui dan dipelajari:

Pertama, tidak semua orang sanggup memakai perlengkapan senjata tentara Romawi karena terlalu berat sehingga memerlukan fisik yang kuat. Demikian pula halnya dengan perlengkapan senjata rohani yang disebutkan di dalam Efesus 6:14-17. Alkitab mengatakan bahwa tidaklah mudah untuk mengenakan semua perlengkapan tersebut sehingga diperlukan suatu latihan dengan kedisiplinan rohani untuk memperoleh kekuatan di dalam Tuhan. Pada kenyataannya, banyak orang Kristen tidak bersedia meluangkan waktu untuk melatih kekuatan spiritualitasnya hingga layak dipakai oleh Tuhan. Akibatnya, ia tidak mampu menggunakan semua kekayaan iman Kristen karena tidak adanya kesiapan hati dan kesediaan untuk memperlengkapi diri sebagai benteng pertahanan. Jika hal ini terus berlanjut, berarti Kekristenan sedang berjalan menuju kehancuran dan kebinasaan.

Kedua, ketrampilan iman Kristen memerlukan latihan di dalam hidup setiap anak Tuhan. Ironisnya, orang Kristen justru sangat lemah dalam hal ini sehingga seringkali mengalami kesulitan ketika harus menghadapi dunia yang sangat licik, jahat dan menipu. Akhirnya, orang Kristen memilih untuk hidup secara eksklusif karena takut tercemar oleh filsafat dunia ketika bertemu dengan orang lain. Karena itu, Paulus mengatakan, “Put on the whole armor of God ” (Ef 6:11). Karl Barth, seorang teolog yang sa­ngat serius dalam menggumulkan latar belakang kebudayaan, mengatakan bahwa sa­lah satu aspek yang ditonjolkan dalam ketentaraan Romawi adalah kondisi keanggunan de­­ngan kedisiplinan dan rasa percaya diri yang tinggi hingga mampu membuat musuh me­­rasa takut sebelum berperang. Kondisi seperti ini disebut sebagai peperangan psi­ko­lo­­gis. Namun dalam Kekristenan, rasa percaya diri tidak dapat diandalkan karena ma­­nu­­­­sia itu lemah dan berdosa. Alkitab mengatakan, “Hendaklah kamu kuat di dalam Tu­­han, di dalam kekuatan kuasaNya” (Ef 6:10) karena Kekristenan sedang berhadapan de­­­ngan musuh di 2 realm sekaligus: (1) realm dunia atau fisik yang terlihat oleh mata; (2) penghulu dan penguasa kerajaan angkasa serta roh jahat di udara yang tidak nam­pak namun mampu membinasakannya. Paulus mengatakan bahwa setiap anak Tuhan se­harusnya berani menunjukkan perbedaannya dengan dunia karena ia berjalan sesuai de­ngan kehendak dan kebenaran Tuhan. Jika orang Kristen mempunyai dignity tinggi atau me­mi­liki kekuatan kuasa rohani maka orang dunia akan merasa segan ter­ha­dap­nya ka­re­na integritasnya sebagai anak Tuhan telah dinyatakan di tengah dunia. Untuk itu di­per­­lu­kan suatu kesungguhan dan keseriusan sebagai anak Tuhan.               

Ketiga, melalui Ef 6:11 Paulus hendak menekankan bahwa peperangan yang se­dang dihadapi oleh Kekristenan tidaklah sederhana melainkan sangat kompleks hing­­ga memerlukan berbagai macam sikap. Jika sedang berhadapan dengan musuh yang sa­ngat mudah dikalahkan maka tidak diperlukan kekuatan persenjataan yang terlalu leng­kap. Jika seluruh kekuatan harus dikerahkan dengan persenjataan lengkap, berarti kon­­disi yang dihadapi sangat serius dengan musuh yang sangat tangguh. Karena itu, di­t­untut suatu kewaspadaan dan kecermatan tinggi. Saat ini, Kekristenan tidak cukup pe­ka dan waspada dengan kondisi sekelilingnya karena sangat meremehkan musuh se­hingga mudah terjerumus dan jatuh ke dalam dosa dan kebinasaan. Bahkan ketika di­susupi filsafat humanisme materialisme, orang Kristen tidak menyadarinya. Semua ini di­karenakan mereka tidak cukup belajar dan mendalami iman Kristen sehingga tidak mam­pu mengenakan semua perlengkapan senjata Allah untuk bertahan dalam meng­ha­dapi filsafat dunia yang terus berkembang

Keempat, tujuan mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah tercantum di dalam Ef 6:11 & 13 yaitu “supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat iblis” dan “supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap ber­diri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu.”  Dengan kata lain, Kekristenan mem­punyai 2 aspek sekaligus: (1) defensive atau bertahan dalam menghadapi se­rang­an musuh; (2) offensive supaya dapat mengadakan perlawanan untuk mengalahkan mu­suh. Iman Kristen tidak hanya bersifat defensive tapi juga harus bersifat offensive agar mampu menyadarkan dan meyakinkan orang dunia bahwa konsep kebenaran Fir­man Allah itu bernilai tinggi sehingga mereka mau kembali pada kebenaran sejati.

Sehubungan dengan tindakan defensive dan offensive, teladan terbaik adalah Tu­­han Yesus. Ketika Ia mulai melayani, Ia pergi ke padang gurun dan berpuasa selama 40 hari. Setelah itu, Iblis mulai menyerang dan menggodaNya, “Jika Engkau Anak Allah, pe­­­rintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti” (Mat 4:3). Tuhan segera menjawab, “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar da­­­­­ri mulut Allah” (Mat 4:4). Jawaban itu masih ber­si­fat defensive. Serangan kedua yaitu “Ji­­­ka Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diriMu ke ba­wah (dari bubungan Bait Allah), se­bab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan me­me­rin­tahkan malaikat-malaikatNya dan me­reka akan menatang Engkau di atas tangannya, su­paya kakiMu jangan terantuk ke­pa­da batu” (Mat 4:6). Tuhan menjawab, “Ada pula ter­tulis: Janganlah engkau mencobai Tu­han, Allahmu!” (Mat 4:7). Jawaban itupun masih te­tap bersifat defensive. Akhirnya, Iblis melanjutkan dengan serangan ketiga, “Semua itu (ke­rajaan dunia dengan ke­me­gah­­annya) akan kuberikan kepadaMu, jika Engkau sujud me­nyembah aku” (Mat 4:9). Se­gera Tuhan mengatakan dengan tegas, “Enyahlah, Iblis! Se­­bab ada tertulis: Engkau ha­rus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sa­jalah engkau berbakti” (Mat 4:10). Jawaban tersebut tidak lagi bersifat defensive me­lainkan offensive karena Iblis tidak putus asa dalam mencobai Dia.

Selain itu, Tuhan Yesus juga pernah dicobai dengan menggunakan seorang pe­rempuan berzinah. Para ahli Taurat dan orang Farisi menjebakNya dengan me­nga­ta­­kan, “Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-pe­rem­­puan yang demikian. Apakah pendapatMu tentang hal itu?” (Yoh 8:5). Pada mu­la­nya Yesus bersikap defensive dengan berdiam diri. Namun ketika mereka terus men­de­sak­­Nya maka Yesus segera memberikan jawaban offensive, “Barangsiapa di antara ka­mu ti­dak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu” (Yoh 8:7).

Tuhan Yesus pun pernah secara eksplisit bersikap offensive terhadap orang Ya­hudi yang mencelaNya, “Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan ke­inginan-keinginan bapamu. Tetapi karena Aku mengatakan kebenaran kepadamu, ka­mu tidak percaya kepadaKu. Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku be­rbuat dosa? Apabila Aku mengatakan kebenaran, mengapakah kamu tidak percaya ke­padaKu?” (Yoh 8:44 & 45-46). Ketika Tuhan Yesus menyatakan suatu kebenaran dan ke­adilan, justru pada saat itu orang Yahudi tidak bersedia mendengarkanNya karena di­ang­gap terlalu tajam. Seharusnya inilah tugas Kekristenan yaitu mengerti posisinya di me­dan pertempuran yang harus dimenangkannya. Jika seorang anak Tuhan sanggup me­nyatakan kebenaran maka ia berhasil menjadi garam dan terang dunia. Alkitab me­nga­takan, “Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gu­nanya selain dibuang dan diinjak orang” (Mat 5:13). Dengan kata lain, jika seseorang ber­sedia menjadi Kristen, berarti ia mau kembali kepada kehendak Tuhan. Amin.

?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)