![]() |
Ringkasan
Khotbah : 20 Mei 2001 The
Lessons from the Tower of Babel Nats : Kejadian 11:1-9; 16-19 Pengkhotbah
: Ev. Thomy J.
Matakupan |
Melalui keturunan Nuh dari jalur Sem, Kejadian 11
ini memberikan suatu pengajaran penting yang sangat berkesinambungan dengan
pasal 9, 10 dan 12 sebagai kesatuan rencana Allah yang utuh. Kisah menara Babel
sebenarnya tidak terlepas dari keseluruhan kisah kehidupan Nuh tapi justru
menunjukkan suatu signifikansi penting. Di dalam Kej. 10:21-22, 24-25 dikatakan,
“Lahirlah juga anak-anak bagi Sem, bapa semua anak Eber serta abang Yafet.
Keturunan Sem ialah Elam, Asyur, Arpakhsad, Lud dan Aram. Arpakhsad
memperanakkan Selah, dan Selah memperanakkan Eber. Bagi Eber lahir dua anak
laki-laki; nama yang seorang ialah Peleg, sebab dalam zamannya bumi terbagi, dan
nama adiknya ialah Yoktan.” Namun setelah peristiwa menara Babel, di dalam Kej.
11:10-26 hanya dicatat keturunan Eber secara khusus dari jalur Peleg karena
Tuhan telah memberhentikan dan mencabut satu generasi dari silsilah keturunan
Sem yaitu Yoktan dan keturunannya yang bersepakat untuk memberontak melawan
Tuhan dengan mendirikan suatu kota dan menara yang menjulang tinggi hingga ke
langit. Tindakan ini sesuai dengan janji Tuhan kepada Adam dan Hawa, Nuh dan
Abraham yaitu bahwa hanya mereka yang taat dan takluk kepada Tuhanlah yang akan
menerima berkatNya. Karena motivasi yang salah, menara Babel menjadi kutukan
Tuhan karena kedegilan dan keberdosaan hati manusia.
Selain itu, pendirian menara Babel juga
mengungkapkan penolakan manusia terhadap Tuhan dengan mendirikan suatu sistem
baru di dalam sekularisme dan humanisme serta mulai menegakkan self-dependence (kebebasan
dari keterikatan dengan Tuhan). Tindakan penolakan ini dilakukan dengan
memanipulasi sifat keberagamaan supaya tidak terlalu menyolok. Namun
bagaimanapun juga, inti dari segala usaha tersebut adalah pemberontakan terhadap
Allah. Akar pemberontakan itu diawali semenjak manusia jatuh ke dalam dosa pada
peristiwa penciptaan (Kej. 3) hingga berakhir pada peristiwa menara Babel.
Di dalam Kejadian 11:4 dicatat, “Juga kata mereka:
marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya
sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke
seluruh bumi.” Dari pernyataan “sebuah menara yang puncaknya sampai ke
langit” dapat diketahui bahwa sebenarnya menara Babel didirikan untuk fungsi
keberagamaan karena pada masa itu pengertian langit adalah tempat Tuhan berada.
Karena itu, pendirian menara Babel sesungguhnya merupakan cetusan sifat
keberagamaan yang Tuhan berikan di dalam diri setiap orang namun telah
dimanipulasi karena manusia tidak bersedia dipimpin dan diarahkan oleh Tuhan.
Setelah itu, di dalam Kejadian 12:2 dicatat suatu permulaan perjanjian baru
antara Allah dan manusia melalui Abraham, “Aku akan membuat engkau menjadi
bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan
engkau akan menjadi berkat.” Ini merupakan jalur baru bagi mereka yang taat
kepadaNya.
Di dalam peristiwa penciptaan, penetapan dan peraturan Tuhanlah yang diutamakan tetapi di dalam peristiwa Babel justru sebaliknya, penetapan manusialah yang dijalankan. Alkitab mengatakan, “Mulai dari sekarang apapun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana.” (Kej 11:6) Karena itu, penghakiman dan penghukuman Tuhan dijalankan pada masa itu. Dengan kata lain, menara Babel menyimpan sebuah kisah tentang manusia yang hidup di dalam dosa di mana pengertian dosa bukan sekedar pemberontakan terhadap Allah saja tetapi dosa yang diwujudkan dalam bentuk sikap yang menular kepada semua orang di dalam suatu society (masyarakat). Di jaman inipun, kalau tidak berhati-hati maka tanpa disadari, orang Kristen dapat mendirikan menara Babel di dalam hidupnya.
Semenjak peristiwa penciptaan hingga pendirian menara Babel, terdapat 2 golongan masyarakat: sekelompok orang yang taat kepada Allah dan sekelompok lain yang memberontak terhadap Allah. Dua golongan masyarakat ini akan terus mewarnai dunia hingga kedatangan Tuhan yang kedua kali. Mereka yang tetap menegakkan kebenaran diri sendiri dan tidak mau taat kepada Tuhan bukan berarti bahwa mereka bebas melainkan tanpa disadari sedang menghancurkan diri sendiri. Di lain pihak, mereka yang taat dan tunduk kepada Tuhan akan berakhir di tanah perjanjian.
Agama di Babel sebenarnya tidak bersifat theosentris melainkan anthroposentris (berpusat pada diri manusia). Walaupun seseorang sudah dibaptis dan mengaku percaya kepada Tuhan tapi masih ada kemungkinan bahwa keberagamaannya bersifat anthroposentris. Orang yang demikian, mengira dirinya mampu membangun nilai kerohaniannya sendiri. Ketika beribadah dan menyembah allah ciptaannya, sesungguhnya pada saat yang sama, ia sedang menyembah dirinya sendiri. Dengan demikian ia dapat berbuat seenaknya terhadap allah ciptaanya itu. Bila allah itu masih dapat memberikan segala sesuatu yang diinginkannya maka ia akan tetap memperlakukannya sebagai allah. Jika tidak maka ia dapat membuangnya dan menciptakan allah lain. Inilah manipulasi sifat keberagamaan! Ada kemungkinan hal ini terjadi di dalam Kekristenan namun caranya tidak akan sevulgar itu. Sebagai contoh, Tuhan Yesus akan dijadikan sebagai Tuhan dan Juruselamat tiap pribadi jika Ia mau mendengar dan mengabulkan setiap permohonan. Di satu pihak, orang Kristen mengaku bahwa ia takut akan Tuhan tapi di lain pihak ia berani melawan kehendak Tuhan.
Jika diperhatikan dengan cermat, ada beberapa pelajaran yang dapat diperoleh dari peristiwa menara Babel:
Pertama, semua rencana manusia tidak akan
pernah bisa menginterupsi, mengganggu dan menggagalkan rencana Tuhan. Seluruh
keturunan Yoktan mengatakan, “Marilah kita cari nama, supaya kita jangan
terserak ke seluruh bumi.” (Kej. 11:4) Padahal sebelumnya, Allah memerintahkan
nabi Nuh, “Beranakcuculah dan bertambah banyaklah serta penuhilah bumi.”
(Kej.9:1) Ini menunjukkan perlawanan manusia terhadap rencana Tuhan namun pada
akhirnya rencana manusia tidak akan pernah berhasil dan rencana Tuhanlah yang
tetap terlaksana. Salah satu prinsip dalam mengikuti pimpinan Tuhan adalah
prinsip pintu terbuka dan tertutup. Kalau rencana manusia itu berkenan kepada
Tuhan maka Ia pasti membuka jalan. Jika tidak maka Tuhan akan menutup semua
pintu. Selain itu, ada beberapa tanda yang dapat dikenali jika jalan yang
ditempuh tidak sesuai dengan perintah Tuhan: (1) pada saat kehendak Tuhan tidak
lagi diperdulikan dan dipertimbangkan di dalam setiap pergumulan; (2) pada saat
kehendak Tuhan dengan sengaja dilanggar padahal telah diketahui sebelumnya; (3)
pada saat kepentingan pribadi lebih diutamakan. Bagaimanapun juga, dengan
melanggar perintah Tuhan bukan berarti rencana Tuhan dapat digagalkan begitu
saja. Rencana Tuhan akan tetap berjalan sesuai dengan kehendakNya dan ia pasti
menegur mereka yang melanggar namun Ia tetap memberi kesempatan untuk bertobat
karena kasihNya yang amat besar kepada manusia.
Kedua, adanya sifat keberagamaan yang
supervisial (telah dimanipulasi oleh manusia), yang pada akhirnya akan
menghasilkan hidup yang sangat tidak berarti. Sifat keberagamaan semacam ini
sebenarnya merupakan kedok untuk menyembunyikan keberdosaan diri sendiri dengan
cara aktif membangun sesuatu yang nampaknya saja bersifat rohani namun tanpa
memperhitungkan kehendak Tuhan.
Ketiga, peranan Firman Tuhan sebenarnya
sangat menolong dalam mengarahkan setiap orang yang taat dan memperhatikan janji
Tuhan di dalam FirmanNya sehingga pada akhirnya mendapatkan perteduhan sejati
bagi jiwanya karena di sanalah akan diperoleh iman sejati. Di Babel, semua orang
tidak sungguh-sungguh memperhatikan Tuhan dan FirmanNya. Ini ditunjukkan dengan
sikap memberontak dan sengaja mencemooh serta meremehkan janji Tuhan. Orang
semacam ini tidak akan pernah memiliki iman yang teguh sebab iman sejati hanya
dapat diperoleh melalui ketaatan pada kebenaran Tuhan. Kesimpulannya, seseorang
itu sungguh-sungguh beriman atau tidak, akan nampak ketika ia menghadapi
kesulitan yang sangat menghimpitnya. Jika ia sungguh-sungguh beriman maka ia
akan memiliki kestabilan dan keteguhan jiwa.
Keempat, pendirian menara Babel pribadi menunjukkan
adanya Insecurity (ketidakamanan) di dalam diri. Akibatnya, Firman Tuhan
tidak lagi dipertimbangkan. Mereka tetap beribadah kepada Tuhan tapi bukan
karena rasa cinta akan Tuhan melainkan karena takut membangkitkan amarah Tuhan.
Itulah sikap insecurtity.
Kelima, Allah tetap konsisten pada prinsipNya bahwa Ia akan memberkati semua orang yang taat dan memakai mereka sebagai alat kemuliaanNya. Pada peristiwa Babel, Allah menghentikan jalur Yoktan tapi memberi peluang pada jalur Peleg. Ia juga akan menunjukkan kutuk dan hukuman bagi semua orang yang melawanNya. Prinsip ini tidak akan pernah lapuk oleh jaman karena Allah tidak akan membiarkan diriNya dipermainkan dan dimanipulasi. Amin.?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)