![]() |
Ringkasan
Khotbah : 13 Mei 2001 Be
Strong in the Lord! Nats : Efesus 6:10-13 Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno |
Dalam rangkaian pembahasan Kitab Efesus, khotbah kali ini telah sampai pada bagian terakhir dari pengajaran Paulus yang merupakan kesimpulan mendasar terpenting di dalam implikasi kehidupan Kristen sejati di tengah dunia ini. Seringkali, tanpa pengertian yang benar, orang tidak akan pernah mau merubah konsep hidupnya karena adanya kecenderungan untuk mempertahankan kondisi status quo (kemapanan). Setelah memperoleh pengertian bahwa perubahan itu akan membawa kebaikan bagi kehidupannya, barulah ia bersedia untuk berubah.
Demikian pula dengan Kekristenan. Paulus meminta semua orang Kristen untuk memahaminya agar mampu menyadari kesalahan diri sendiri dan mau berubah. Memang sulit untuk merubah konsep apalagi dengan memakai cara dan konsep Kristen. Namun sebenarnya banyak jemaat yang memahami ajaran Kristen sejati tapi tetap melakukan perbuatan yang tidak mencerminkan Kekristenan dan tidak mau berubah karena adanya satu ikatan melampaui teori yang membuatnya tidak dapat berhenti berbuat dosa. Karena itu Paulus mengatakan, “Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasaNya.” (Efesus 6:10)
Untuk dapat berubah, yang dibutuhkan bukan sekedar “tahu” tapi “tahu” itu mendasari perubahan sehingga tidak salah arah. Kemudian dibutuhkan aspek kedua yaitu suatu kekuatan dinamis di dalam Tuhan untuk mendobrak keluar sesuai dengan kehendakNya. Dengan kata lain, Kekristenan tidak pernah mengajarkan perubahan itu semudah dan sesederhana yang diajarkan oleh Thomas Aquinas dan Armenianisme yaitu bahwa suatu perubahan disebabkan oleh pengertian sehingga pilihan untuk mengikut Tuhan atau tidak, merupakan kebebasan semua orang.
Jadi, sekedar “tahu” belum dapat membuat seseorang berubah karena masih membutuhkan unsur kedua yaitu suatu kekuatan titik pijak untuk dapat keluar dari jebakan yang membelenggu. Ada 3 alasan yang mendasari penyataan tersebut:
Pertama,
Kekristenan tidak berada di dalam kondisi netral.
Seringkali orang salah mengerti dan memprotes doktrin predestinasi karena
dihubungkan dengan kondisi netral. Seolah-olah manusia berada di antara 2
pilihan yaitu antara mau mengikut Tuhan atau tidak. Kalau mau mengikut Tuhan
maka ia akan diselamatkan, kalau tidak maka ia akan dibuang ke neraka selamanya.
Jika demikian, Tuhan kelihatan sangat kejam karena telah mempermainkan manusia.
Alkitab tidak pernah mengajar seperti itu. Menurut Alkitab, predestinasi
dimengerti justru dari kondisi di mana semua orang telah jatuh ke dalam
cengkeraman dosa dan sangat sulit untuk dapat keluar dari sana. Ini membuktikan
bahwa dunia ini tidak netral dan hidup manusia tidak berada di dalam kondisi
netral. Manusia telah terjerumus ke dalam suatu posisi yang condong kepada
kondisi tertentu yaitu di bawah kuasa kegelapan.
Kedua,
Kekristenan tidak berada di dalam kondisi pasif, enak atau mapan
melainkan di dalam kondisi peperangan. Alkitab mengatakan bahwa di dunia ini manusia sedang berada di dalam
suatu kondisi yang mengharuskannya untuk selalu waspada dan tidak gegabah dalam
bertindak karena sedang berhadapan dengan musuh di medan pertempuran. Karena itu
Efesus 6:11 mengatakan, “Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata
Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis.” Di
dalam medan pertempuran, jika ia bergerak tanpa pertimbangan yang tepat maka
resikonya adalah mati. Ini merupakan bukti bahwa di dalam peperangan, seseorang
tidak mungkin berada di dalam posisi netral. Jika bukan dia yang mati maka
lawannyalah yang mati. Kadangkala di dalam kondisi tertentu diperlukan sikap
diam. Namun sikap diam dan tidak bergerak bukan berarti pasif melainkan dalam
kondisi sangat aktif yaitu waspada dan siap untuk menyerang setiap saat ketika
waktunya telah tiba. Itulah kondisi Kekristenan. Bahayanya, musuh yang dihadapi
oleh orang Kristen bukanlah musuh yang biasa dan kelihatan melainkan penguasa
kerajaan angkasa dan penghulu udara. Alkitab mengatakan bahwa manusia telah
jatuh ke dalam cengkeraman setan sebagai aktor invisible (tak kelihatan). Karena
itu, tidaklah mudah baginya untuk berubah walaupun ia tahu doktrin dan teorinya.
Inilah tugas orang Kristen yang harus dipikirkan dengan baik.
Ketiga,
Kekristenan berada di dalam suatu perjuangan yang menuntut bukan
sekedar survive (selamat) melainkan harus mendatangkan berkat bagi orang lain
dalam tingkatan kualitas yang melampaui pengertian dunia.
Pada kenyataannya, di dunia ini terdapat 3 macam standard: (1) di bawah
standard, (2) sejajar standard, (3) di atas standard. Sebagai contoh, format
yang dipakai oleh Tuhan Yesus di dalam Matius 5. Jika seseorang ditampar sekali
lalu ia membalasnya sepuluh kali maka itulah kehidupan di bawah standard. Jika
balasannya hanya sekali maka itulah kehidupan sesuai standard kewajaran yang
dipakai oleh dunia. Namun jika ia tidak membalas bahkan memberikan pipinya yang
lain untuk ditampar maka itulah kehidupan di atas standard, sesuai dengan
tuntutan Alkitab sebagai dasar kualitas Kristen yang disetarakan dengan tuntutan
Allah. Dengan kekuatan manusia saja, memang sulit untuk dapat mencapai standard
Kekristenan yang dituntut oleh Tuhan. Maka Paulus mengatakan, “Hendaklah
kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasaNya.” Inilah berita penghiburan yang sangat serius supaya orang Kristen tidak
jatuh ke dalam kondisi hopeless (tak berpengharapan) di tengah dunia yang sudah mengalami pengrusakan
essensi secara total.
Orang Kristen yang jeli dalam melihat realita dunia ini tentu mengalami kekecewaan yang mendalam dan putus asa karena realita itu menunjukkan suatu kegagalan dalam perjuangan iman hingga tiada lagi yang dapat dilakukan selain bersikap pasrah. Karena itu Alkitab memberikan kunci untuk menghadapinya yaitu “Be strong in the Lord.” Kalau orang Kristen memandang dunia ini dengan menggunakan kacamata dan format dunia maka ia akan ikut hancur karena realita, kondisi masa depan dan musuh di dunia ini terlalu berat untuk dihadapi dengan kekuatannya sendiri. Padahal sesungguhnya orang Kristen masih memiliki Tuhan yang lebih kuat daripada kondisi dunia ini.
Selain itu, ada pula orang Kristen yang tiba-tiba beridealisme utopia atau mimpi ideal setelah melihat kondisi dunia yang parah dan sangat mengecewakan ini. Ironisnya, mimpi idealnya itu tidak tepat bahkan justru sangat berbahaya. Menurut konsep berpikirnya, ia berkewajiban untuk merombak dan merubah dunia yang celaka, berdosa dan rusak ini. Idealisme ini akan menjadi lebih berbahaya lagi bila Efesus 6:10 digunakan secara tidak tepat sehingga usaha perombakan dunia itu mengatasnamakan Tuhan sebagai kekuatan pendukung untuk memanipulasi dunia. Padahal Tuhan tidak pernah mengajarkan perihal manipulasi seperti itu. Alkitab hanya mengatakan bahwa sejarah dunia ini akan terus berjalan menuju pengrusakan dan kehancuran karena dosa hingga pada akhirnya layak untuk dibuang ke neraka. Di dalam kondisi seperti itu justru Tuhan mau memakai sebagian orang Kristen untuk menunjukkan bahwa di dunia ini masih ada jalur yang berbeda, sesuai dengan kehendakNya. Ketika Kekristenan mulai mengambil posisi melawan arus maka strateginya harus dipikirkan dengan tepat dan Alkitab hanya menyarankan, “Be strong in the Lord” karena orang Kristen akan memperoleh kekuatan yang luar biasa untuk menghadapi segala macam tantangan, sejauh berada di dalam hubungan dengan Tuan di atas segala tuan (“in the Lord”, bukan “in Christ”). Jika tidak maka Kekristenanlah yang akan mengalami kehancuran. Jadi, perjuangan Kekristenan harus sungguh-sungguh berada di dalam pimpinan Tuhan dan bukan karena ambisi pribadi sehingga segalanya tidak menjadi sia-sia.
Ketika orang Kristen mulai berjuang untuk menyatakan kebenaran Firman ke tengah dunia dan sungguh-sungguh hidup di dalam Tuhan maka satu kondisi yang akan dihadapi adalah kesepian dan tersendiri karena tak seorang pun mengerti akan dirinya. Dalam kondisi lonely (kesepian) seperti itu, yang dirasakan hanyalah kekecewaan dan keputusasaan. Namun Alkitab mengatakan, “Be strong in the Lord” karena relasi dengan Tuhan adalah kunci kekuatan dari Kekristenan. Ketika berusaha menjalankan kebenaran di dunia, Tuhan Yesus pun mengalami kesepian di tengah orang banyak. Puncaknya, pada saat Ia harus naik ke kayu salib, semua pengikutNya termasuk keduabelas rasulNya pergi meninggalkanNya sendirian. Ketika diusir, Daud pun mengalami kesepian karena semua orang menjauhinya namun ia hanya mengatakan, “Tuhan, Engkaulah perlindunganku, sumber kekuatanku, gembalaku dan batu karangku.” Ia terus dikejar-kejar untuk dibunuh namun ia tetap taat pada Tuhan karena Ia percaya bahwa Tuhan masih berpihak kepadanya. Jadi, kuncinya adalah tidak menjadi tawar hati walaupun kesepian namun tetap kuat di dalam Tuhan sehingga hidup Kekristenan di tengah dunia ini masih boleh menjadi suatu alternatif. Mungkin saat ini dunia tidak dapat mengerti namun suatu saat mereka akan melihat dampak atau hasil perjuangan orang Kristen lalu mengakui bahwa Kekristenanlah yang terbaik. Amin.?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)