Ringkasan Khotbah : 6 Mei 2001

Tuan dan Hamba

Nats : Efesus 6:8-9

Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno

 

Khotbah pada Minggu ini kembali melanjutkan pembahasan tentang relasi an­ta­­­­­­­­­ra hamba dan tuan dalam hubungannya dengan keadilan Allah yang sesungguhnya mam­­­­­pu merubah se­­­­­­luruh etos kerja. Namun pada kenyataaannya, ketika berelasi de­­­ngan tuannya, seorang hamba seringkali ber­­­­a­­­sum­­­si bahwa ia selalu mengalami pe­­nin­­­da­­­­s­­­­­­­­­­­­an dan menjadi korban eksploitasi. Akibatnya, ia ti­­­­­dak pernah mencapai kepuasan di dalam kehidupannya dan mulai muncullah suatu ke­cenderungan untuk memberontak. Se­­­­­­baliknya, sang tuan atau pemilik hamba ter­­se­but seringkali merasa tidak puas de­­ngan hambanya itu, yang dianggap tidak mampu menger­­jakan segala sesuatu sesuai de­­­­­­ngan keinginannya. Karena ketidakpuasan itu, akhir­­­nya ia menjadi marah dan meng­­­in­­­­timidasi bahkan membunuh hambanya.

Peristiwa se­­­macam itu seringkali terjadi di antara orang dunia yang telah di­­ceng­­­­­­keram oleh dosa be­rupa penolakan terhadap Tuhan dan kebenaranNya yang se­­­ha­­­­­­­­rusnya menjadi re­fe­­ren­­­­si mutlak dalam kehidupan setiap orang. Akibatnya, manusia ke­­­­­­­­­hilangan kendali ke­­hi­­dupan hingga terjadi kekalutan di tengah dunia karena setiap orang berpikir dari sudut pan­­dangnya sendiri dan mengutamakan kepentingannya saja se­­­­hingga semua orang saling mencurigai dan menyikut. Se­­­­lanjutnya, secara per­la­­­han-la­­­han dunia kehilangan pengharapan karena melihat ke­­­­han­­­­curan terjadi di ber­­­­ba­gai bi­dang kehidupan.

Alkitab menga­takan bahwa dalam kondisi demikian, manusia telah kehilangan kon­­­­­­sep keadilan Allah mutlak yang sebenarnya adalah kunci dari relasi kerja dan sum­­­ber berkat, peng­­harapan, kekuatan serta seluruh etos kerja bagi orang percaya yang  se­­­­­­tia pada kebenaran Firman. Namun keadilan Tuhan juga da­­­­­pat menjadi sa­­­­ngat me­­­­na­­kut­­­­kan bagi orang berdosa karena keadilan Allah juga ter­­­­kait dengan mur­­­­ka Allah.

Karena itu, relasi antara tuan dan hamba harus dikembalikan pa­­­­­da kebenaran Tu­­­­­­­­­han sebagai referensi mutlak dan kedua pihak harus ber­­­tang­­­gung­­ja­­wab secara lang­­­­­sung kepadaNya. Dengan demikian mereka akan berinisiatif untuk me­­la­­­­kukan yang ter­­­­baik demi Tuhan semata, sesuai dengan Efesus 6:8 yang mengatakan, “Kamu tahu, bah­­­­­­­wa se­­­tiap orang, baik hamba, maupun orang merdeka, kalau ia telah berbuat se­­­sua­­-tu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan.”

Bagaimanapun juga, keadilan Tuhan sebagai tingkat keadilan yang pa­­­­­­ling sem­­­­­­­purna, tidak ditentukan oleh baik buruknya pekerjaan seseorang di mata pim­­­pin­­­­­­an me­­­­­­­­lainkan ketepatan, motivasi dan nilai kerja yang direferensikan dengan nilai ke­­a­­­­­­dil­­­an­­­­Nya yang mu­­tlak dan tak terusik oleh penilaian orang lain lalu balasan yang se­­­tim­­­pal akan diberikan. Mungkin seorang hamba dapat membohongi tuannya dengan pe­­­nam­­­pil­­­an luar yang baik tapi ia tidak dapat membohongi Tuhan dan dirinya sendiri ka­­­re­­­na Ia me­­nge­­­tahui segala yang tersembunyi dan semua realita akan terbuka di ha­­dap­­­an­­­­Nya.

Dengan prinsip se­­­perti ini ma­­ka setiap pekerjaan tidak akan menjadi beban yang sangat sulit dan mem­­be­­­­ratkan te­­tapi menjadi tugas kepercayaan yang diberikan oleh Tuhan. Pdt. Ste­­phen Tong juga memberikan satu konsep yang penting yaitu “Al­­­ways keep available (di da­­­­lam se­ga­­la hal, selalu bersedia hati).” Seringkali seorang ham­­­­­­­ba cenderung untuk mengun­­­­ci dan mempersempit wilayah, kapasitas dan etos ker­­­­ja­­­­­­­­­nya sendiri ketika sang tuan mem­be­rikan kemungkinan untuk mengembangkannya. Aki­­­­­­­­batnya, pe­­­nge­­­­­ta­hu­­­an­­­nya menjadi ter­­batas padahal seharusnya ia mampu menger­­­­ja­­­kan hal-hal yang lebih besar lagi.

Karena banyaknya orang yang berprinsip seperti itu, di tengah dunia mun­cul­­lah suatu kiat “berpikir secara lateral (berpikir menerobos wilayah).” Alkitab mengatakan bah­wa ketika kiat ini dijalankan, yang penting adalah kerelaan untuk mengerjakan ke­­hen­­­dak Tuhan dengan sebaik mungkin dan dengan pertanggungjawaban penuh kepada ke­­­­­a­­­dilan Tuhan serta kerelaan untuk membuka diri agar Tuhan dapat mengembangkan wi­­­layah kerja orang pilihanNya.

Dengan prinsip tersebut, seorang hamba yang tergolong sebagai anak Tuhan pa­­­da jaman Paulus maupun di abad 21 ini akan memiliki cara berpikir, sikap dan cara ker­­­ja yang berbeda dengan nilai kerja yang lebih tinggi dari mereka yang berada di luar Kris­­­­­tus. Ia akan selalu menonjol seperti Yusuf, yang selama di Mesir, ia bekerja dengan baik, bertanggungjawab, jujur dan tulus sehingga posisinya semakin meningkat dan akhir­­­­­­nya seluruh urusan rumah tangga Potifar berada di tangannya. Selain itu, hamba se­­­­­macam ini akan bekerja tanpa syarat dan tidak tergantung pada orang lain. Tanpa mem­­perhatikan absen tidaknya atasan di kantor, ia tetap bekerja dengan giat karena ra­sa takutnya akan Tuhan yang adil. Sebagai balasannya, segala sesuatu yang di­ker­­ja­­kan­­­­­­nya tidak akan sia-sia.

Seringkali di dalam berbagai aspek kehidupan termasuk pekerjaan dan relasi in­­­terpersonal, orang Kristen cenderung menempatkan dirinya pada posisi yang salah ka­­­­rena merasa tidak berpengharapan lagi untuk dapat menjalankan kebenaran. Pa­­da­hal meskipun berada di dalam ketidakbenaran dunia, jika orang Kristen tetap berpegang pa­­­da kebenaran maka pengharapan itu tetap ada karena nilai yang diperjuangkan di­­ten­­­­­­­tukan oleh keadilan Tuhan yang tidak dapat dipermainkan.

Oleh karena itu, motivasi kerja harus dimurnikan sehingga tujuan kerja bukan un­­­tuk mencari perhatian pimpinan. Jika tidak demikian maka ketika pimpinan berbuat se­­­­­suatu yang tidak disukai oleh para karyawannya, mereka akan merasa jengkel dan mem­­­­bencinya karena mereka beranggapan bahwa kebaikan mereka dibalas dengan ke­­­tidakbaikan. Padahal Alkitab mengatakan bahwa Tuhan tidak memandang muka da­lam menjalankan keadilanNya. Karena itu, pekerjaan yang kurang baik harus segera di­per­­­baiki sedangkan pekerjaan yang sudah baik harus dikembangkan sehingga per­kem­bang­­­­an hidup akan menjadi lebih padat dan serius di tengah dunia ini.

Dengan berpegang pada keadilan Tuhan, setiap orang Kristen dapat hidup de­­­ngan tenang dan stabil sekaligus memberi kesaksian pada orang lain. Akibatnya, na­­ma Tuhanlah yang dipermuliakan. Maka seharusnya orang Kristen mempunyai citra ker­­­ja sedemikian sehingga orang dunia berkeinginan untuk menirunya. 

Ketika orang Kristen bekerja di dalam kebenaran firman Tuhan maka akan ter­­capai suatu kualitas yang tidak dapat dicapai oleh dunia bahkan di dalam semua kon­­sep agama karena referensi yang digunakan adalah lingkungan yang bersifat si­tua­sio­nal tanpa memperhitungkan adanya referensi vertikal. Karena itu etos kerja dunia pasti akan mengalami masalah. Di sinilah keadilan Tuhan di dalam kebenaran dan kesucian men­­­jadi nilai lebih dari Kekristenan. Pada kenyataannya, ada 3 level orang Kristen: (1)orang Kristen yang bertindak lebih huruk daripada orang dunia; (2)orang Kristen yang bertindak sama dengan orang dunia; (3)orang Kristen yang bertindak lebih baik da­­ripada orang dunia. Level ketiga inilah yang Tuhan tuntut pada setiap orang Kristen se­­­­suai dengan standard kebaikanNya.

Setelah pembahasan dari sudut pandang seorang hamba, bagaimana dengan su­­dut pandang sang tuan? Seorang tuan berbeda dengan seorang bos yang me­­­mi­­­­kir­kan kesejahteraan pegawainya sesuai dengan hukum perburuhan. Seorang tuan me­­ru­pa­­kan pemilik mutlak dari para budak beliannya. Inilah konteks yang dipakai di dalam Efe­­­sus 6. Secara hukum, tuan memiliki hak penuh untuk memperlakukan budaknya se­suai dengan keinginannya sendiri bahkan menganiaya dan membunuhnya sekalipun. Oleh sebab itu, Paulus memberikan peringatan keras kepada para tuan, “Dan kamu tuan-tuan, perbuatlah demikian juga terhadap mereka dan jauhkanlah ancaman. Ingat­lah, bahwa Tuhan mereka dan Tuhan kamu ada di sorga dan Ia tidak memandang mu­ka.”(Efesus 6:9) Artinya, seorang tuan tidak boleh mempunyai referensi yang berbeda de­­­ngan hambanya. Kalau hambanya dituntut untuk berbuat baik dan menggenapkan ke­­inginan tuannya maka demikian pula dengan sang tuan harus  menggenapkan ke­hen­­­dak Tuhan karena keduanya adalah pekerja di hadapan Tuhan yang  tidak dapat me­­lepaskan diri dari pertanggungjawaban kepada Tuhan.

Kekristenan tidak melawan perbudakan tapi Alkitab tidak mau menerima kon­sep perbudakan seperti yang dunia ajarkan. Perbudakan seharusnya dikerjakan dengan tin­dak kebajikan Tuhan karena setiap orang Kristen sebenarnya adalah budak dan tidak me­miliki hak sama sekali di hadapan Tuhan. Dunia tidak dapat menerima konsep ini dan seolah-olah meniadakan perbudakan tapi justru membiarkan terjadinya penindasan an­tara tuan dan hamba karena ordo dan motivasi menjadi tidak jelas. Dunia hanya me­nge­nal tuan yang kejam, tidak bermoral dan berperikemanusiaan, tidak takut pada Tu­han tetapi Tuhan sendiri tidak seperti itu. Maka Tuhan menuntut para tuan untuk men­ja­di teladan dalam kebaikan, sama seperti Tuhan sebagai Tuan tertinggi di dalam seluruh re­­lasi. Tuhan tidak melarang perbudakan tetapi Ia menuntut para tuan untuk ber­tang­gung jawab dengan basis keadilan Tuhan yang tidak memandang muka tapi melihat se­ti­ap perbuatan baik. Seorang hamba harus mengerti bahwa tuan adalah atasan yang me­­milikinya sehingga ia harus bekerja dengan sebaik mungkin demi tuannya tapi ke­­tika be­­­relasi, sang tuan harus merepresentasikan Tuhan sebagai Tuan di atas segala tuan. Amin.?

 (Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)