Ringkasan Khotbah : 29 April 2001

The Sin of Nadab and Abihu

Nats : Imamat 9:22-10:5,8-11

Pengkhotbah : Ev. Thomy J. Matakupan

        Khotbah kali ini akan membahas satu cerita dari Kitab Imamat mengenai dosa Na­dab dan Abihu yang sebenarnya adalah Imam pilihan Allah yang ditahbiskan oleh Mu­sa atas perintah Allah sendiri. Imamat 8 merupakan kisah peralihan dari Musa se­ba­­­gai Imam Besar yang melayani seluruh bangsa Israel kemudian dipegang oleh Harun dan kedua anaknya yaitu Nadab dan Abihu yang diberkati dan diurapi minyak oleh Mu­­­sa sebagai tanda bahwa mereka berhak menjalankan fungsi dan jabatan sebagai Imam yang mewakili Allah dan melayani umat. Upacara keagamaan ini bukan sekedar suatu pe­­­­­­­ristiwa yang biasa saja sehingga dapat dipermainkan, sebab Tuhan hadir dan me­nya­­­ta­­­­­­­­kan kemuliaan serta berkatNya dalam rupa api yang turun dari langit dan membakar ha­­­bis seluruh korban persembahan yang diletakkan di atas mezbah sebagai tanda pen­­­tah­­­­­bisan. Setelah ditahbiskan menjadi Imam Besar pengganti Musa, Harun segera mem­­­­persembahkan korban bakaran bagi pengampunan dosanya sendiri lalu meminta je­­­­­maat untuk melakukan hal yang sama bagi pengampunan dosa mereka. Semua orang yang mengikuti upacara itu menantikan kehadiran api Tuhan dan menerima se­­­­­lu­­­­ruh korban tersebut. Tetapi segera setelah peristiwa itu, Alkitab mengatakan bahwa Na­­­dab dan Abihu yang baru saja ditahbiskan, mengambil perbaraan dan menaruh api asing di atas korban ukupan bagi Tuhan. Tiba-tiba api murka Tuhan turun ke atas Na­­­­dab dan Abihu dan menghanguskan mereka berdua sebagai tanda penolakan dan ku­­­tuk­­­­an Tuhan. Bahkan Musa sendiri mengatakan kepada Harun, “Janganlah kamu be­­­­r­­­ka­­­­­­bung dan janganlah kamu berdukacita, supaya jangan kamu mati” (Im 10:6). Ke­­mu­­di­an ia memanggil Misael dan Elsafan, kedua anak paman Harun, dan berkata, “Datang ke mari, angkatlah saudara-saudaramu ini dari depan tempat kudus ke luar pe­­­­r­­­­­ke­­­­­ma­­h­­­an” (Im 10:4). Sebagai seorang ayah, Harun merasa sedih sekali karena kedua anak­­­­­nya diperlakukan seperti itu. Semua orang yang hadir di sana melihat bagaimana Tuhan ber­­­­­kenan memberkati pentahbisan Imam sekaligus bagaimana Tuhan menyatakan mur­­ka­­­Nya yang bernyala-nyala karena Nadab dan Abihu tidak menghormati dan meng­­­­har­­­­gai kemuliaanNya. Alkitab mengatakan bahwa Tuhan tidak pernah memerintahkan me­­­­re­­­ka untuk mengambil perbaraan dan memberikan korban ukupan karena sebenarnya itu adalah tugas Harun sebagai Imam Besar. Bagaimana pun juga, setiap orang yang me­­­langgar kemuliaan dan kesucian Tuhan akan menerima cambukan murkaNya se­­­ka­­­li­­­­pun ia adalah seorang Imam atau orang pilihan Tuhan. Tapi bukan berarti bahwa Allah Per­­­janjian Lama itu kejam, berbeda dengan Allah Perjanjian Baru yang penuh kasih. Se­­­­sungguhnya hukuman Allah bertujuan untuk menegakkan sifat kesucianNya yang ha­-rus dihormati dan diperhatikan.

        Perjanjian Baru merupakan suatu babak yang baru dalam kehidupan sebagai orang percaya. Pada Perjanjian Lama, tidak semua orang dapat menduduki jabatan se­ba­­­gai Imam. Namun dalam Perjanjian Baru, setelah melalui penebusan Kristus, semua orang percaya adalah Imamat yang kudus. Dengan kata lain, seluruh umat tebusan ada­­lah Imam-Imam Allah. Karena itu, orang Kristen tidak memerlukan perantara lain un­­tuk dapat berjumpa dengan Allah. Menurut Alkitab, pada saat Kristus wafat di kayu sa­­lib, tirai bait Allah terbelah dari atas ke bawah menjadi 2 bagian. Ini menandakan bahwa ruang maha suci yang biasanya boleh dimasuki hanya oleh Imam Besar setahun sekali, mu­­­­­­lai saat itu semua orang tebusan diperbolehkan masuk dan berjumpa dengan Tuhan se­­­­­­­­tiap saat. Dalam Perjanjian Lama, para Imam mendapatkan penyucian dengan cara me­­­nyembelih domba jantan sebagai tanda pentahbisan. Demikian pula dalam Per­­­jan­­­ji­­­an Baru, setiap Imamat (orang percaya) juga mengalami pengudusan dari dosa melalui da­­­rah Kristus yang tercurah di atas kayu salib. Karena itu, tak seorang pun berhak menga­­­takan dirinya sudah kudus selain bergantung dan berdasar pada kematian Kris­­­tus yang suci dan benar adanya. Di dalam Perjanjian Lama, tak seorang jemaat pun ber­­hak masuk dan melakukan pekerjaan Tuhan dalam Kemah Pertemuan. Bahkan me­­la­­lui Musa, Tuhan mewahyukan perintah yang sangat rinci untuk dilakukan oleh para Imam di dalam Kemah Pertemuan tersebut. Hal ini juga sama dengan Keimamatan orang percaya dalam Perjanjian Baru yaitu bahwa Tuhan memberitahukan bagaimana si­­­­­kap yang layak ketika mendekati, menyembah, melayani dan menghargai ke­­a­­gung­­­an­­Nya. Dengan melihat korban penebusan Kristus yang menguduskan sebagai teladan yang paling agung, barulah orang Kristen mengetahui cara beribadah kepada Allah. Pau­lus berkata kepada Timotius bahwa inilah rahasia agung ibadah orang per­­­ca­­­ya.

        Setelah ditahbiskan menjadi Imam, Nadab dan Abihu sebenarnya tergolong se­bagai orang spesial tapi Tuhan tidak berkenan kepada mereka. Ada beberapa alasan yang mendasari hal ini: (1) mereka mengambil api lain yang tidak diperkenan Tuhan dan bukan atas perintah Allah sendiri; (2) mereka berdua datang dan mem­­per­­­sem­­­bah­­kan korban ukupan di hadapan Tuhan secara bersamaan padahal menurut peraturan, tin­­­dakan itu tidak diperbolehkan. (3) ada kemungkinan mereka berdua telah mabuk oleh ang­­­­gur sebelum melakukan pekerjaan Tuhan tanpa memperdulikan dan mem­­­pe­­­r­­­­­tim­­­­bang­­­­­­kan kesucian Tuhan. Singkatnya, mereka telah melakukan  pelanggaran atas pe­­­­rin­­­tah Tuhan melalui Musa dan sebagai akibatnya Tuhan menghajar mereka karena Ia ti­­dak pernah mengijinkan DiriNya dipermainkan. Sesungguhnya Tuhan tidak tega meng­­­hu­­­kum anak-anakNya tetapi karena kasihNya yang sangat besar pada manusia maka Ia menegur dan menghajar mereka. Kasih Tuhan harus diimbangi dengan keadilan Tu­­­han. Kebaikan hati Tuhan tidak berarti bahwa orang Kristen akan terluput dari murka Allah­­­­ karena kebaikan Tuhan itu juga dapat dinyatakan di dalam murkaNya yang me­­­nya­­­­la-nyala. Jika ingin diperkenan Tuhan maka yang harus diperhatikan adalah ba­­­gai­­­ma­­na menghormati Tuhan di dalam hadiratNya, menghargai kesucianNya dan mem­­per­­­ha­­tikan kesucian diri sendiri. Dalam seluruh bagian Alkitab, Tuhan sangat menekankan ke­­­sucian. Sebagai contoh, dalam Mzm 24:3 dituliskan, “Siapakah yang boleh naik ke atas gunung Tuhan? Siapakah yang boleh berdiri di tempatNya yang kudus? Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada pe­ni­­­­puan.” Sebaliknya, orang yang tangannya kotor dan hatinya penuh dengan ke­mu­­­na­­fik­­­an akan bertemu dengan murka Allah. Dalam Kitab Matius dikatakan bahwa orang yang suci hatinya akan diberkati dan melihat kemuliaan Allah. Kitab II Timotius juga menga­­­takan bahwa Tuhan sangat menghargai dan berkenan memakai orang suci untuk mak­sud yang mulia. Mungkin orang lain tidak akan pernah mengetahui niat yang ter­­­sem­­­­bunyi dalam diri seseorang tapi Tuhan memperhatikan segalanya termasuk semua ke­­­najisan, kebusukan dan kebobrokan yang tidak diperkenan Tuhan. Kepada jemaat Ga­­­latia, Paulus mengatakan bahwa ada 9 buah roh yaitu kasih, sukacita, damai se­­jah­­te­­­­ra, kebaikan, kemurahan, dan seterusnya hingga penguasaan diri, tapi kesucian tidak ter­­­­masuk di dalamnya karena kesucian justru harus ada dan mendasari setiap buah roh se­­­­hingga tak seorang pun berani mengatakan bahwa ia belum mendapat kesucian yang se­­­­harusnya menjadi warna dari Kekristenan. Selanjutnya ada beberapa hal yang meng­­­­ha­­­langi seseorang untuk hidup suci:

        Pertama, egosentris atau menjadikan diri sendiri sebagai pusat segalanya dan penonjolan diri sendiri. Nadab dan Abihu mempersembahkan korban secara ber­sa­­­ma­­­an padahal itu merupakan tugas Harun sebagai Imam Besar. Tindakan ini me­­­nan­­­­da­­­kan bahwa mereka saling bersaing untuk menunjukkan fungsi dan jabatannya sebagai Imam. Selain itu, mereka pun muncul dan memberikan persembahan itu bukan pada wak­­­tu yang ditentukan Allah. Alkitab mengatakan bahwa korban ukupan itu diberikan ha­­­nya dua kali dalam sehari yaitu pada pagi dan petang. Mereka melanggar peraturan Tu­­­­han bukan karena tidak mengerti melainkan suatu kesengajaan demi penonjolan diri me­­­­reka sendiri. Seharusnya mereka mengikuti perintah Tuhan melalui Musa sehingga Tu­­­­hanlah yang dipermuliakan dalam pelayanan mereka.

         Kedua, bertindak berdasarkan pertimbangan kebenaran sendiri. Nadab dan Abi­hu mengambil api yang lain untuk mempersembahkan korban ukupan bagi Tuhan pa­­dahal Tuhan tidak pernah memerintahkan hal itu. Mereka telah bertindak ber­­­­da­­­sar­­­­kan kebenaran dan pertimbangan mereka sendiri tanpa memperdulikan pertimbangan dan ketetapan Tuhan.

        Ketiga, dosa-dosa yang disenangi. Kemungkinan Nadab dan Abihu telah ma­buk oleh anggur sebelum mempersembahkan korban bagi Tuhan dan kemungkinan ju­­­ga, sebelum ditahbiskan menjadi Imam, Nadab dan Abihu adalah pemabuk dan ke­bia­­­­­sa­an itu terus menerus dilakukan hingga saat mereka sudah menjadi Imam karena ada­­­­nya kenikmatan yang dapat dirasakan walau sejenak. Karena itu, Musa melalui Ha­­­run me­­netapkan peraturan bahwa sebelum melayani Tuhan, Imam dilarang minum ang­­gur hing­­­ga mabuk. Namun tidak berarti bahwa minum anggur itu dilarang. Paulus justru menga­­­njurkan kepada Timotius untuk minum sedikit anggur karena sangat baik bagi pen­­­­cer­­­­na­­­an.

        Keempat, motivasi yang tidak murni untuk melayani Tuhan. Di satu pihak, pengor­banan dilakukan demi kecintaannya pada Tuhan namun di lain pihak, mencari ke­­­untungan yang dapat diperoleh karena kecintaan pada diri sendiri. Orang Kristen yang bermotivasi salah seperti ini tidak akan mendapatkan berkat Tuhan dan suatu hari ia pasti keluar dari Kekristenan karena merasa tidak mendapatkan sesuatu bagi dirinya sen­­­diri. Padahal Alkitab mengatakan bahwa hal beribadah kepada Allah adalah hal mem­­­­­persembahkan sesuatu bagi Tuhan. Amin. ?

 (Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)