Ringkasan Khotbah : 15 April 2001

The Love on Calvary

Nats : I Kor 15:1-11

Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno

Setiap hari Paskah, I Kor 15:1-11 ini kembali dibahas karena ayat yang diberitakan oleh Paulus ini merupakan suatu peringatan bagi dunia. Paulus dengan keras dan serius mengingatkan semua orang Kristen di Korintus yang seringkali meragukan prinsip iman Kristen yang paling mendasar dan melakukan tindakan yang tidak mencerminkan Kekristenan yang baik, supaya kembali kepada Injil, memahami kedalamannya, dan teguh berpegang padanya lalu memberitakannya ke tengah dunia. Sebenarnya, Pauluslah yang merintis, mengajar dan membina iman mereka dengan tepat. Namun ternyata jemaat ini belum sungguh-sungguh terbina dan beriman dengan baik. Justru mereka seringkali mempermainkan firman Tuhan dan hidup mereka sendiri sehingga banyak hal yang harus dikoreksi oleh Paulus dan usaha ini tidaklah mudah karena jemaat Korintus terkenal pandai dan suka berdebat secara intelektual. Ironisnya, kepandaian dan ilmu yang mereka miliki bukannya membuat jemaat itu semakin takut, tunduk dan mengerti akan firman Tuhan melainkan justru dimanfaatkan untuk dapat  mempermainkan firman dan doktrin Kekristenan karena telah terpengaruh konsep sekuler, lalu pada akhirnya mereka jatuh ke dalam konsep dasar yang salah yaitu mencurigai kebangkitan Kristus.

Di dalam I Korintus, Paulus berulangkali mengkritik Kekristenan di sana dengan cara mengkontraskan berbagai peristiwa yang terjadi di dalam jemaat dengan pengaruh luar terhadap jemaat. Situasi filosofis kota Korintus yang terkenal sebagai The Ancient Greek Philosophy (Filsafat Yunani Kuno) dengan Corinthian School atau arus pikir filsafat Korintus sangat berpengaruh sekali dan mampu membuat jemaat Korintus menjadi hedonis dan sangat duniawi. Tidak pernah terlintas dalam pikiran mereka untuk mengenal Tuhan dengan tepat, yang sesungguhnya merupakan essensi hidup mereka. Yang dipikirkan hanyalah hidup keseharian saja seperti makanan, ketenaran, penggolongan status sosial, bahasa lidah, talenta, keistimewaan dan sebagainya. Selain itu, mereka sangat menyombongkan dan mempermainkan karunia rohani bahkan perjamuan kudus sekalipun. Padahal ketika mereka mempermainkan, tidak mau kembali dan mengerti essensi kebenaran firman Tuhan sejati, tidak mau mengenal Kristus dengan sungguh-sungguh, tidak takut kepada Tuhan bahkan mencoba meninggalkan Tuhan, pada saat yang sama kehidupan mereka tidak menjadi lebih baik, rohani, bermoral, serta berintegritas dalam pemikiran dan kehidupan. Integritas hidup mereka justru semakin terpecah belah sehingga ketika mereka memikirkan penyelesaian problema dunia, mereka sangat kebingungan. Semenjak abad pertama ketika Paulus mengkritik dengan keras hingga saat ini, 2000 tahun setelah kejadian itu, masalah yang dihadapi umat manusia tetap sama karena essensi yang paling serius dari dunia ini belum terselesaikan.

Paulus menyatakan suatu berita bahwa Kristus telah mati karena dosa manusia tapi berita itu tidak lagi disukai di abad ini. Berita Paskah menjadi kurang populer jika dibandingkan dengan Natal. Sejak abad pertama yaitu jaman Korintus hingga abad 20 ini, dunia terus mencoba untuk menganulir dan melawannya. Karena itu, Paulus perlu memberikan satu argumentasi yang kokoh, rasional dan historis supaya orang Kristen tidak terkecoh oleh pemikiran seperti itu. Alkitab mengatakan bahwa Kristus telah mati karena dosa manusia sesuai dengan Kitab Suci dan Ia telah dibangkitkan pada hari ketiga sesuai dengan Kitab Suci pula. Injil inilah yang harus diajarkan kepada semua orang di dunia berdosa ini yang seringkali menolak Tuhan dan berita kebenaran. Orang dunia mengira bahwa dengan menolak Tuhan maka dia menjadi lebih pandai dan independent (bebas) untuk berkarya dan mengeluarkan ide. Dengan kata lain, jika ingin menjadi seorang ilmuwan yang mampu menciptakan berbagai macam ilmu maka dia harus meninggalkan Tuhan. Pikiran seperti itu sangat bodoh sekali karena pada dasarnya manusia tidak mampu menemukan ilmu sejati dan pemikiran yang berbobot kecuali ia mau percaya kepada Tuhan. Seorang ilmuwan memang mampu menemukan fakta tapi setiap fakta akan berubah menjadi kutuk bagi dunia karena dampak negatifnya jauh lebih besar daripada dampak positifnya kecuali interpretasi dan penggunaannya berdasarkan firman Tuhan. Tanpa kebenaran ini maka rusaklah seluruh sistem di dunia. Sebagai contoh, manusia berhasil menemukan nuklir tapi belum dapat memanfaatkannya dengan baik.

Alkitab mengatakan bahwa dosa telah membuat manusia terbelenggu dan penyelesaiannya adalah keluar dari dosa. Jika ingin memiliki hidup yang teratur di hadapan Tuhan, mampu menanggulangi segala situasi yang buruk, maka penyelesaiannya hanya satu yaitu keluar dari dosa. Namun tak ada yang dapat dilakukan oleh manusia dan tak ada satu kekuasaan pun yang mampu mengeluarkan manusia dari dosa. Alkitab mengatakan bahwa hanya ada satu cara untuk dapat keluar dari dosa yaitu kembali kepada Kristus dan menerima penebusan Kristus. Kalau anugrah uluran tangan Tuhan ini tidak disambut dengan baik maka manusia akan semakin tenggelam dalam dosa. Dunia perlu disadarkan bahwa Paskah itu sangat bermakna. Kristus mati di kayu salib merupakan satu hal yang sangat serius dan bukan sekedar jalan keluar bagi orang Kristen atau sekedar suatu contoh yang sangat hebat dan patut dibanggakan karena Kristus sudah menang dari maut dengan bangkit dari kematian, tetapi kebangkitan Kristus itu merupakan satu-satunya kesempatan atau kemungkinan bagi manusia untuk dapat keluar dari jerat dosa yang mencengkeram hidupnya.

Problema dosa merupakan masalah bagi setiap manusia tanpa kecuali. Alkitab mengatakan jika seseorang berani mengklaim dirinya tidak berdosa, dialah orang yang tersombong di dunia dan dia justru sedang membuktikan bahwa dia berdosa dan sedang mempertaruhkan kebinasaan dirinya sendiri. Karena itu, berita Paskah harus dinyatakan ke tengah dunia karena mampu menyelesaikan masalah manusia yang terbesar yaitu problema dosa. Kristus adalah satu-satunya Allah yang menjelma menjadi manusia sejati yang tidak tersentuh dosa sedikit pun di tengah dunia berdosa ini. Sehingga ketika Ia menang melawan dosa, kemenangan itu bukan untuk menebus diriNya sendiri tapi kemenangan itu dapat membawa manusia berdosa kembali kepada kemenangan. Padahal Ia sendiri merasa ngeri ketika murka Allah yang sangat dahsyat atas dosa umat manusia harus ditanggungNya. Sungguh manusia tidak akan mungkin mengerti makna dari Allah yang dipisahkan dari Allah karena dosa yang menyebabkan kematian. Ketika Allah Bapa dan Allah Anak yang sangat dekat dan merupakan satu kesatuan Tritunggal yang tidak terpecahkan, tiba-tiba harus direnggut karena dosa manusia. Penderitaan yang berat harus ditanggung oleh Kristus demi umat kesayanganNya dan untuk itu pula Ia rela mati. Ketika maut mencoba merenggut Kristus lalu dengan kekuatan yang besar Kristus keluar dari maut. Itulah kemenangan tuntas yang tidak mungkin terulang lagi sepanjang sejarah manusia. I Kor 15:55 mengatakan, “Hai maut, di manakah sengatmu?” Kristus telah diterkam oleh maut namun Ia berhasil mematahkan dan menghancurkan kuasa kematian. Kemenangan Kristus itulah yang dibutuhkan oleh dunia dan tanpa itu dunia ini tidak berpengharapan lagi.

Berita Paskah merupakan suatu jawaban bagi orang-orang yang sedang putus asa dan kecewa terhadap dunia yang telah dicengkram oleh dosa. Kebangkitan Kristus akan memberikan kuasa untuk mendobrak segala kuasa kematian dan dosa lalu pada akhirnya akan berdampak pada kebangkitan manusia. Jikalau Kristus tidak bangkit maka seluruh Kekristenan menjadi sia-sia. Paulus sendiri menyadari bahwa jika Tuhan tidak mengeluarkan dia dari jerat dosa maka dia telah mati. Sesungguhnya, tidaklah mudah bagi Paulus untuk bertobat dan merubah cara berpikirnya. Hanya ada satu kuasa yang mampu merubah dan menyadarkan Paulus bahwa berita Paskah adalah berita terpenting bagi hidupnya. Setelah bertobat, dia berjuang keras, tapi tidak lagi dengan kekuatannya sendiri melainkan dengan kasih karunia Tuhan.

Dari sudut pandang Kekristenan, pengertian dari perubahan adalah bangkitnya seseorang dari paradigma dosa menjadi paradigma kebenaran. Namun paradigma dosa itu tidak dapat berubah tanpa kuasa Kristus mendobrak dan merubahnya dari akar terdalam hidup manusia. Dengan kata lain, orang yang mengalami perubahan itu akan bertobat secara total dan bukan hanya di level permukaan saja tapi dari hati yang terdalam karena adanya keinginan untuk menyenangkan hati Tuhan. Maka hidupnya bukan lagi bagi kepentingannya sendiri melainkan untuk melayani Tuhan dan mulai menggumulkan kehendak Tuhan. Dunia ini bermasalah karena setiap orang hanya mengutamakan kepentingannya sendiri. Inilah ide humanis yang sedang tersebar di tengah dunia. Makin seseorang mementingkan dirinya sendiri maka dia semakin merugikan orang lain. Setiap orang Kristen seharusnya berjiwa melayani dan mau memikirkan kehendak Tuhan serta berusaha untuk selalu menjadi berkat bagi orang lain di manapun ia berada. Kalau dunia ini dipenuhi dengan orang-orang seperti itu maka tidak akan pernah terjadi kasus Sampit, Ambon, dan sebagainya. Jika seseorang mampu berubah, berarti dia telah terlepas dari konsep humanisme dan materialisme yang bersifat merusak dan hanya bisa diselesaikan dengan kebangkitan Kristus. Amin. ?

 (Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)