![]() |
Ringkasan Khotbah : 25 Maret 2001
The Assurance of Salvation Ibrani 5:11-14,9:26-28; I Yoh 5:11-13, 3:9, 1:9
Pengkhotbah
:
Ev. Thomy J. Matakupan |
Khotbah kali ini akan membahas tentang hal pertobatan dan keselamatan yang seringkali dipertanyakan oleh kebanyakan orang Kristen. Penulis Kitab Ibrani juga kerap kali menjumpai orang Kristen di Ibrani yang sudah cukup lama mengenal Tuhan Yesus, bahkan hidup dalam kebenaran Tuhan dan menampilkan kesaksian sebagai orang percaya tetapi ternyata kehidupan imannya tidak bertumbuh karena adanya masalah mendasar dalam pengertian akan iman Kristen yaitu hal pertobatan atau keselamatan, kepercayaan kepada Allah, pembaptisan dan segala sesuatunya, seperti yang tertulis dalam Ibrani 6. Walaupun sudah dipergumulkan secara terus menerus namun pengertian yang didapat tidak pernah tuntas dan mereka masih mempertanyakan perihal keselamatan yang mereka miliki setelah percaya kepada Tuhan Yesus hingga tidak mampu melihat hal lain yang lebih besar. Sesungguhnya, yang menjadi problem utama adalah ajaran seorang pendatang yang menyatakan bahwa kepercayaan kepada Tuhan Yesus saja tidaklah cukup tapi harus disertai dengan praktek tradisi ibadah hukum Taurat yang merupakan warisan Musa yang sangat berharga bagi orang Israel. Inilah pengertian dari istilah murtad yang dibahas dalam seluruh bagian Kitab Ibrani yang sebenarnya tidak berkaitan dengan penebusan Kristus atau perihal keselamatan melainkan dengan hal pola ibadah. Setelah menerima korban penebusan Tuhan Yesus, orang Ibrani berpaling dari tujuan hidup ibadah yang sesungguhnya dan kembali pada pola hidup ibadah Perjanjian Lama yang kerap kali melakukan penyembelihan hewan korban persembahan sebagai tanda pengakuan dosa. Karena itulah, penulis Kitab Ibrani menjadi sangat marah dan berkata, “Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar.”
Berkaitan dengan perihal keselamatan, dosa yang kecil sekalipun sudah cukup untuk membawa seseorang masuk ke dalam penghukuman Allah. Karena itu, beberapa orang Kristen mengatakan bahwa perihal dosa telah menempatkan manusia di persimpangan jalan antara Neraka dan Surga, walaupun sudah menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat pribadinya. Sesungguhnya, keselamatan itu bergantung kepada kesempurnaan karya Kristus di kayu salib. Alkitab di seluruh bagiannya, terutama dalam I Yoh 5:11-13 menyatakan suatu prinsip penting yaitu “Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam AnakNya. Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup. Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal” dan keselamatan itu terjadi hanya satu kali dan sempurna serta bersifat kekal dan tidak akan pernah berubah selamanya. Kalau Tuhan Yesus sudah memiliki hidup seseorang maka Alkitab menjanjikan sukacita yang besar baginya yaitu hidup kekal bersama Tuhan di Surga setelah kehidupan di dunia ini. Setiap orang yang percaya kepada Tuhan Yesus harus mengetahui hal ini sebagai jaminan kepastian keselamatan. Darah penebusan tidak tercurah dengan sia-sia melainkan untuk menggenapkan rencana Tuhan Allah dalam hal keselamatan dan penebusan dosa manusia. Dosa yang telah dilakukan setelah menerima dan percaya kepada Tuhan Yesus Kristus tidak akan mempengaruhi hidup keselamatan seseorang sampai kedatangan Tuhan yang kedua kalinya karena Kristus mati di kayu salib hanya satu kali untuk menggenapi tuntutan murka Allah bagi pengampunan dosa, tepat seperti yang tertulis dalam Ibrani 9:26-28 yang mengatakan, “Sebab jika demikian Ia harus berulang-ulang menderita sejak dunia ini dijadikan. Tetapi sekarang Ia hanya satu kali saja menyatakan diriNya, pada zaman akhir untuk menghapuskan dosa oleh korbanNya. Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi, demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diriNya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diriNya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia.”
Setelah mendapatkan kepastian keselamatan, masalah selanjutnya adalah kemungkinan bagi orang Kristen yang sudah percaya kepada Tuhan Yesus untuk berbuat dosa dan pengaruhnya terhadap keselamatan. Dalam I Yoh 3:9 dikatakan, “Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah.” Orang yang sudah percaya kepada Tuhan Yesus tidak akan terus menerus berada di dalam dosa karena dia berkemampuan untuk menghindari dosa, tapi bukan berarti dia tidak mungkin berbuat dosa. I Yoh 1:8 mengatakan, “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka berarti kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita.” Sebaliknya orang yang belum menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat pribadinya, tidak mempunyai kemampuan untuk tidak berbuat dosa. Bagi orang percaya, dosa yang telah dibuatnya tidak akan berpengaruh pada keselamatan yang diberikan oleh Tuhan karena keselamatan itu bersifat posisi sehingga ketika Tuhan menyelamatkan seseorang maka menurut Kolose dia sudah berpindah posisi dari kuasa kegelapan menuju kepada Terang Kerajaan Tuhan yang ajaib. Dengan demikian hubungannya dengan Tuhan sebagai anak Allah bersifat kekal dan tidak akan pernah berubah namun persekutuannya dengan Tuhan bisa rusak ketika berbuat dosa. Cara menyelesaikan masalah dan memulihkan persekutuan dengan Tuhan tertulis dalam I Yoh 1:9, “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” Dengan kata lain, ayat ini mengatakan bahwa jika ada pengakuan maka pengampunan akan diberikan.
Pengakuan dosa bukan berarti Tuhan tidak mengetahui dosa yang telah dilakukan, tapi menunjukkan suatu kerendahan hati untuk mengatakan dosa adalah dosa dengan tulus, jujur dan terbuka serta tidak mencoba untuk berdalih dengan Tuhan untuk membela diri. Selain itu, pengakuan dosa tidak melihat jumlah dosa yang telah dilakukan dan tingkat kesengajaan pelakunya. Dalam pengakuan dosa juga harus disertai dengan pengucapan syukur atas anugerah dan pengampunan yang telah Tuhan berikan. Jikalau Tuhan berkenan menegur orang yang berbuat dosa, seharusnya dia bersyukur karena itu berarti bahwa Tuhan masih menyayanginya dan menghendaki dia segera bertobat.
Ada 2 macam pertobatan yaitu pertobatan di awal hidup percaya dan pertobatan yang terjadi di dalam hidup beriman. Pertobatan di awal hidup percaya dilakukan hanya satu kali dan selamanya serta menyucikan dan mengubah status seseorang menjadi anak Allah. Sementara pertobatan dalam hidup beriman terjadi berulang kali untuk menyucikan diri dari dosa yang telah diperbuat hingga semakin menyerupai teladan Kristus namun tidak akan pernah mengubah statusnya sebagai anak Allah.
Kalau pengertian tentang hal pertobatan dan keselamatan ini sudah dipahami secara tuntas maka setiap orang Kristen akan mempunyai keberanian untuk terus berjalan menuju kepada pengalaman iman yang lebih limpah lagi bersama Tuhan. Pengertian tentang kedua hal tersebut sudah memberikan suatu penghiburan dan kepastian yang kokoh serta menjadi modal awal dan dasar pijak untuk masuk ke dalam pengalaman yang lebih limpah dengan Tuhan. Oleh karena itu, orang Kristen tidak perlu lagi mencari keselamatan yang lain, sebaliknya harus mengucap syukur dan mengaplikasikan hidup imannya. Orang Kristen tidak memerlukan berbagai macam ramalan karena pimpinan Tuhan sudah cukup adanya. Kepastian akan keselamatan ini mampu membawa seseorang masuk ke dalam kelimpahan pergaulan intim dengan Tuhan dan memberikan keberanian untuk bertemu dengan Dia. Amin. ?
(Ringkasan
khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)