![]() |
Ringkasan
Khotbah : 18 Maret 2001 Keterbukaan
Seluruh Hati Kepada Allah Nats : Matius 6:5-15 Pengkhotbah
: Rev. Johanes
Lilik |
Khotbah
kali ini akan membahas Matius 6:5-15, terutama ayat 5-8 tentang hal berdoa.
Dalam perikop tersebut, penulis menggambarkan bahwa Allah sangat membenci
kemunafikan, tapi Dia senang bertemu dan berbicara dari hati ke hati dengan umat
tebusanNya, seperti seorang bapa yang sangat mengasihi anaknya, memanggilnya
untuk diajak bicara supaya dapat menikmati Dia. Di dalam buku Katekisasi
Westminster ada sebuah pertanyaan demikian, “Apa tujuan yang terbesar
dan terutama dalam kehidupan manusia?” Dan jawabannya yaitu “Untuk
memuliakan Allah dan menikmati Dia selama-lamanya.” Namun, jemaat Gereja
Protestan pada umumnya sangat pandai dalam hal memuliakan Allah tapi sangat
bodoh sekali di dalam menikmati hadirat
Allah dan persekutuan denganNya, yang sebenarnya merupakan suatu pengalaman
rohani yang penuh berkat, sangat indah dan mendalam. Sebab Dialah Pencipta yang
memiliki kedalaman-kedalaman yang penuh dengan rahasia yang selalu baru, tak
terbatas dan tak terselidiki oleh akal budi manusia dan pemahaman hati yang
terdalam sekalipun. Mereka pandai memperjuangkan kesucian dalam hidup dengan
melakukan segala sesuatu sebaik mungkin dan memberikan persembahan perpuluhan
secara teratur, namun mengabaikan Injil. Sebaliknya, malaikat di Surga tidak
bosan-bosannya berseru-seru memuji dan memuliakan Tuhan karena mereka menikmati
Allah di dalam persekutuan dan puji-pujian kepadaNya.
Dalam
Matius 6:5 dikatakan, “Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti
orang munafik.” Dari penampilan luar, seorang munafik kelihatannya dengan
sepenuh hati bersyukur dan memuji
Tuhan atas berkatNya, namun di dalam hatinya ia memaki-maki Tuhan. Dalam ayat
selanjutnya dikatakan, “Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam
rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat
orang.” Ini bukanlah suatu komunikasi dan doa kepada Tuhan melainkan
kepada orang lain yang sedang lalu lalang. Sebenarnya, ia lebih berfokus pada
dirinya sendiri dan bukan pada Tuhan yang mendengarkan doanya. Berkenaan dengan
ini, Tuhan Yesus berkata, “Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.”
Maka barometer yang mengukur kesungguhan dalam berdoa itu bukan orang lain
tetapi Allah. Sesungguhnya, Tuhan menghendaki orang Kristen berdoa dengan satu
sikap hati yang rindu berkomunikasi dengan Tuhan secara terbuka, jujur dan tulus
di hadapanNya walaupun Tuhan telah mengetahui seluruh isi hati setiap orang.
Seringkali para hamba Tuhan, pengurus Gereja dan jemaat mampu berdoa dengan
lancar tapi tanpa hati. Ketika seorang anak Tuhan berdoa dengan ketulusan hati,
kejujuran dan keterbukaan kepada Tuhan serta menyerahkan semuanya kepada Tuhan,
mengalirlah berkat-berkat Tuhan dari Surga turun kepadanya. Yohanes Calvin
di dalam bukunya mengatakan, “Prinsip hati yang pertama dan terutama pada
waktu berdoa adalah keterbukaan hati yang total di hadapan Allah.”
Berikutnya,
Matius 6:6 mengatakan, “Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam
kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat
tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”
Ayat ini bermaksud bahwa orang Kristen harus menyediakan waktu yang sangat
istimewa untuk berdoa dan mencari Allah dengan segenap hati di tempat tersendiri
karena doa adalah suatu komunikasi pribadi dan personal yang bersifat mendalam
dan merupakan pencurahan seluruh
isi hati kepada Tuhan bahkan dengan tetesan air mata atau gelak tawa. Seringkali,
orang Kristen jarang berdoa dengan air mata demi jiwa yang terhilang. Inilah
kecelakaan atau ketidaknormalan rohani. Setelah ditebus oleh Tuhan dan dibeli
dengan harga termahal yaitu dengan nyawaNya yang paling berharga, Allah ingin
manusia berkomunikasi dan bersekutu dengan Dia lebih dari apapun juga. Dia
memanggil orang-orang tebusanNya, “Bawalah kemari orang-orang yang Kukasihi,
yang mengikat perjanjian dengan Aku berdasarkan korban sembelihan,” (Mzm.
50:5) karena Ia mau menyatakan kasihNya. Orang Yahudi ultra Ortodoks memiliki
aturan Taurat yang harus dilakukan untuk bisa masuk ke Surga, yaitu
berdoa kepada Tuhan dan menikmati Taurat Tuhan dalam waktu yang
dikhususkan sebanyak 7 kali sehari, tepat seperti yang dikatakan dalam Mzm.
119:164, “Tujuh kali dalam sehari aku memuji-muji Engkau, karena
hukum-hukumMu yang adil.” Tapi bukan berarti semua orang Kristen harus
berdoa dan menikmati FirmanNya sebanyak 7 kali sehari seperti itu. Dalam satu
hari sudah selayaknya disediakan waktu yang khusus untuk berjumpa dengan Tuhan
dalam doa, seperti Tuhan Yesus yang sekalipun Dia adalah Anak Allah dan Dia
dapat berbicara kepada BapaNya setiap saat, tetapi Yesus mengambil waktu yang
khusus di malam hari sebelum tidur dan di pagi hari sebelum semua orang mulai
bekerja atau mungkin murid-muridNya masih tidur, untuk berdiam diri, berdoa,
bersekutu dan menikmati hadirat Allah BapaNya. Firman Tuhan mengatakan, “Di
hadapanMu, ya Allah, ada sukacita dan nikmat yang berlimpah-limpah senantiasa.”
Tuhan mampu memberikan cintakasih yang luar biasa berlimpah dan
mampu membangun kerohanian seseorang.
Selanjutnya dalam Matius 6:7 dikatakan, “Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan.” Tuhan tidak akan pernah bertele-tele jika hendak memberitahukan maksudNya. Maka dalam doa pun, orang Kristen tidak perlu bertele-tele karena Dia telah mengetahui apa yang mau disampaikan. Janganlah memakai suatu kebiasaan atau formula rohani yang palsu seperti bahasa Roh palsu yang sekarang sering dipakai, yang sebenarnya tidak bertatabahasa dan juga tidak bermakna.
Matius
6:8 mengatakan, “Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui
apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepadaNya.” Ayat ini masih
berhubungan dengan Yakobus 4:2-3, “Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak
memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai
tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa,
karena kamu tidak berdoa. Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima
apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu
habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.” Jadi, walaupun manusia berupaya
semaksimal mungkin namun tanpa doa, maka dia tidak akan mendapatkan apa yang
diinginkannya karena ada beberapa hal khusus yang akan diberikan hanya melalui
doa kepada Allah. Ada pula beberapa hal lain yang pasti Tuhan berikan dan
sediakan tanpa perlu diminta melalui doa, seperti makanan, kesehatan, keturunan,
dan sebagainya. Sebagai contoh, Hana dan Penina berdoa dengan susah payah
meminta keturunan namun Tuhan tidak segera memberikannya. Pada akhirnya, barulah
Tuhan memberikan keturunan yang diminta. Anak yang diberikan Allah sebagai hasil
pergumulan doa itu adalah anak yang khusus dan spesial karena doa membuat segala
sesuatu berasal dari tangan Tuhan secara spesial. Karena itu, doa disebut
sebagai means of grace (alat anugrah yang spesial dalam Kristus). Orang yang
banyak berdoa akan menerima banyak hal yang khusus dan spesial dari Tuhan.
Sebaliknya, orang yang tidak pernah berdoa, tidak
akan menerima hal yang spesial. Setelah berdoa selama bertahun-tahun,
Hana dan Penina dikaruniai seorang anak bernama Samuel yang akan mengurapi 2
raja yaitu Raja Saul dan raja terbesar dari bangsa Israel, Raja Daud. Tuhan
Yesus mengajarkan
agar semua orang Kristen berdoa dengan tidak jemu-jemu. Amin.?
(Ringkasan
khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)