Ringkasan Khotbah : 4 Maret 2001

Hak dan Kewajiban

Nats : Efesus 6:5-9

Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno

Setelah pembahasan tentang relasi antara orangtua dan anak, kali ini kita akan membahas mengenai masalah penting yang kedua yaitu relasi antara tuan dan ham­ba. Berkenaan dengan relasi ini, Alkitab mengatakan, “Hai hamba-hamba, taatilah tuan­mu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti ka­mu taat kepada Kristus.” Di jaman modern seperti sekarang, ayat ini harus dipahami de­ngan lebih tajam karena konteks pembicaraan Paulus pada waktu itu berkaitan dengan bu­­dak. Bagi dunia, ayat diatas dianggap tidak cocok dan melanggar hak asasi manusia. Pa­dahal Paulus dengan eksplisit menyatakan bahwa seorang hamba harus mentaati tuan­nya di dalam kondisi bagaimanapun. Bahkan kepada jemaat di Roma ia juga me­nya­takan bahwa seorang warga negara harus taat kepada pemerintahnya, sekalipun sa­at itu di dalam konteks masa penjajahan.

Pada dasarnya, pengajaran tentang hak asasi manusia tidak sesuai dengan ajar­an Firman Tuhan. Dunia memperjuangkan hak asasi manusia disebabkan adanya hal-hal tertentu yang melandasi dan merusak konsep serta mempengaruhi manusia hing­­ga memperjuangkan hal yang salah. Jika diperhatikan dengan cermat, di dalam Efesus 5:22-6:9, Alkitab tidak pernah membahas tentang per­juangan hak asasi ma­nu­sia, yang ada hanyalah tentang kewajiban antara suami-istri, orangtua-anak mau­pun tuan-hamba. Ini merupakan bukti bahwa Alkitab se­ca­ra serius menolak per­ju­angan hak asasi manusia dan mengajarkan kewajiban asasi ma­nusia. Namun, bukan ber­arti bah­wa hak manusia itu tidak penting dan manusia bo­leh ditindas. Menurut Alkitab, hak me­ru­pakan hasil/sesuatu yang diterima dan bukan di­upa­yakan. Per­juangan orang Kristen ada­lah memperjuangkan kewajiban, barulah hak da­pat di­te­rima karena hak itu bukan milik manusia. Dalam pembahasan tentang hak dan ke­wajib­an, ada 3 tema penting yang harus dijelaskan agar dapat memahami apa yang dikata­kan Alkitab, yaitu relasi an­tara kedaulatan Allah dan tanggung jawab ma­nu­sia, keadilan Allah dan hak manusia, ser­ta cintakasih-integritas melawan balas dendam.

Berdasarkan kenyataan yang terjadi, ada beberapa  alasan yang mendasari pe­nolakan dunia terhadap konsep Alkitab yang menekankan pada kewajiban, yang meng­gantinya dengan hak asasi manusia:

Pertama, motivasi egoisme. Secara jujur, sebagian besar orang yang masih ter­cemar dosa tentu lebih suka memilih hak daripada kewajiban karena adanya sifat men­­­cintai diri dan materi (2 Tim 3). Inilah yang memotivasi manusia untuk menjadi egois. Ketika seseorang mulai menuntut haknya, maka yang dipikirkannya hanyalah ke­pen­­­tingan dan keuntungan diri tanpa menghiraukan hak orang lain, dan ini me­nunjuk­kan betapa egoisnya dia. Kalaupun dia mempunyai keinginan untuk memperhatikan orang lain, itupun demi kepentingannya. Maka jikalau ada pegawai yang terus menerus mem­per­juangkan haknya, sebaiknya pimpinan perusahaan itu segera memecatnya ka­re­na pegawai seperti itu kelak akan menghancurkan perusahaan. Namun sebaliknya, jika­lau ada pe­gawai yang sangat berdedikasi memperjuangkan perusahaan, ia layak un­tuk diper­ta­han­kan dan diberi hak sebanyak-banyaknya. Perusahaan yang pandai dan baik tentu akan menjaga pegawai-pegawai yang berdedikasi. Kalau seorang pimpinan ga­gal me­melihara mereka, ia harus mengevaluasi diri.

Kedua, jiwa pemberontakan. Seseorang mulai memikirkan haknya karena ia mau mendapatkan semuanya namun tidak mau dirugikan, ditundukkan dan dikalahkan oleh siapapun. Ini menunjukkan sifat pemberontakan yang mendorong seseorang untuk  berjuang bahkan berkelahi hanya demi mencapai haknya dan gagal mempunyai jiwa ke­­taatan. Oleh sebab itu, Alkitab menyatakan tiga konsep penting diatas dimana di­da­lam ketiga aspek tersebut yang menjadi kunci pertama adalah jiwa pe­layanan se­orang ham­ba. Allah menciptakan manusia dengan tujuan untuk melayani Allah dan de­mi ke­mu­liaan Allah. Karena itu, selayaknyalah manusia mengakui ke­dau­lat­an Allah dan men­jalan­kan kewajibannya terhadap Tuhan. Ketika Allah berdaulat, manusia hanya bi­sa taat. Dan inilah jiwa pelayanan (servant­hood) yang ditanamkan oleh Tuhan kepada se­ti­ap orang sesuai dengan gam­bar dan rupa Dia.

Di tengah dunia pun, jiwa pelayanan telah menjadi tuntutan profesi, terutama di perusahaan jasa seperti bank, hotel, rumah sakit, sekolah, dan sebagainya. Tetapi sifat pelayanan dunia berbeda dengan yang diajarkan oleh Kekristenan. Pada umum­nya, tujuan pelayanan para pegawai di perusahaan jasa adalah untuk mendapatkan ma­­teri sebanyak mungkin. Karena itu, sifat pelayanan seperti ini tidak murni lagi, bah­kan lebih cenderung pada mencari keuntungan diri. Jika materi yang diterima tidak se­ban­ding dengan pelayanan yang telah dilakukan, maka kemungkinan besar mereka akan pindah ke tempat lain. Alkitab tidak mengajarkan pelayanan yang seperti ini. Pe­la­yan­an seharusnya tidak tergantung pada pamrih, tapi merupakan semangat yang ke­luar dari dalam hati. Bagaimanapun juga, di dunia ini masih ada pelayanan yang de­ngan tu­lus dilakukan oleh orang non-Kristen, seperti di dalam relasi suami-istri, di mana pela­yan­an didasari oleh rasa cintakasih dan tanpa pamrih. Inilah pelayanan yang dike­hen­daki Alkitab, yaitu yang didasari oleh jiwa cintakasih.

Selain itu, Tuhan juga menginginkan manusia untuk melayani Dia melalui pe-kerjaannya. Kejatuhan manusia dalam dosa telah merusak sistem pelayanan sejati yang terjadi sebelumnya. Tuhan menghendaki Adam dan Hawa untuk saling melayani dan menggarap taman Eden demi kemuliaan nama Tuhan. Maka Adam melayani se­baik mungkin. Tiba-tiba setan datang dalam rupa seekor ular dan berusaha merusak sis­­tem pelayanan sejati yang telah Adam lakukan. Jiwa ketaatan dan pelayanan Adam mu­­­lai digeser oleh setan dan diganti dengan jiwa pemberontakan. Seharusnya, jika Adam mengerti kedaulatan Allah dan menyadari bahwa dia adalah ciptaan Tuhan, ma­ka dia tidak akan berkompromi dengan setan. Dari pengalaman Adam tersebut dapat di­­simpulkan bahwa ketika manusia mulai merasa dirinya lebih hebat, pandai dan me­ngerti banyak hal, saat itulah dia mulai rusak. Karena itu, sifat servanthood harus de­ngan keras ditegakkan.

Manusia bukan hanya diciptakan oleh Allah, tetapi juga dicipta ulang di dalam Kristus. Dalam 2 Kor 5:17 dikatakan, “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” Dunia yang jatuh dalam dosa ini akan penuh dengan pemberontakan, kekerasan dan perjuan­gan hak asasi manusia. Namun, Kekristenan tidak berjuang dengan cara seperti itu. Orang Kristen harus dicipta ulang di dalam Kristus dengan teladan terbaik dan sem­purna. Kristus menjadi yang sulung dan Adam kedua karena Adam pertama telah ga­gal. Dia telah menunjukkan figur manusia sejati dan contoh terpenting yaitu jiwa servant­­hood yang dicatat dalam Mat 20:28, “sama seperti Anak Manusia datang bukan un­tuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi te­bus­an bagi banyak orang,” di mana jiwa seperti ini tidak dimiliki oleh pemimpin dan to­koh agama manapun. Kristus datang bukan untuk menuntut hakNya. Dia adalah Allah, Pe­­milik alam semesta dan Dia mengosongkan diri, turun menjadi manusia dan me­ngam­bil rupa seorang budak sampai mati di kayu salib, bukan karena dosa­Nya, tapi ka­re­na mau melayani dan menebus umat Allah. Inilah suatu perendahan diri yang sangat he­bat! Dia tidak mengerjakan apapun dari diriNya sendiri, tetapi apa yang Allah pe­rin­tah­kan. Itulah teladan Kristus yang diberikan kepada semua orang.

Dunia mengajarkan untuk mengejar hak, tetapi Alkitab mengajarkan untuk me­ngerjakan kewajiban karena hak itu bukan milik manusia melainkan milik Allah. Se­sungguhnya Yesuspun tidak menyukai sengsara yang harus ditanggungNya. Di taman Getsemani, Ia berdoa dengan gentar, “Ya BapaKu, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu daripadaKu.” Namun, itulah perintah Bapa yang harus ditaatiNya, maka Ia berkata, “Ya BapaKu jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku memi­num­Nya, jadilah kehendakMu.” Disitu Ia menyadari bahwa itu bukan hakNya melainkan ke­wajibanNya. Itulah hamba yang sejati!

Ketika seseorang mengerjakan kewajibannya, bukan berarti haknya telah di­buang dan sama sekali tidak diberikan. Filipi 2 mengatakan bahwa ketika Kristus se­dang menjalankan kewajiban dan tanggung jawab yang sangat berat dan serius se­ba­gai seorang hamba hingga mati di kayu salib, Allah mengaruniakan kepadaNya se­gala hor­mat dan kemuliaan. Semua lidah akan mengaku bahwa Dialah Tuhan, dan se­mua lu­tut akan bertelut di hadapanNya. Jadi, hak adalah hasil dan respek yang akan mun­cul jika manusia mau menyerahkan hak itu kembali kepada Tuhan. Di dalam Roma dika­ta­kan, walaupun kita dirugikan, dianiaya, dan difitnah namun pembalasan bukanlah hak ma­nu­sia melainkan hak Tuhan. Dunia mengajarkan balas dendam, namun jikalau ke­jahat­an dibalas dengan kejahatan, maka Kekristenan tidak berbeda dengan dunia. Ini­lah konsep kasih-integritas dan balas dendam.

Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa seorang hamba hanya boleh taat pa­da tuan yang baik saja. Seorang hamba harus taat, takut dan gentar pada tuannya walaupun tuannya tidak baik. Sifat ketaatanlah yang harus muncul dari dasar hati seorang ham­ba. Amin.?

 (Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)