![]() |
Ringkasan Khotbah
: 18 Februari 2001
Orangtua
yang Bertanggung Jawab Nats :
Efesus 6:4; Kolose 3:21; Amsal 13:24 Pengkhotbah
: Rev.
Sutjipto Subeno |
Topik kali ini adalah bagaimana sikap orangtua di dalam mendidik anak. Pada
zaman sekarang, Efesus 6:4 (“Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah
di dalam hati anak-anakmu”) ini seringkali dipakai oleh banyak anak sebagai
alasan untuk mempersalahkan orangtuanya, seolah-olah orangtua tidak boleh
membuat mereka marah. Tetapi mereka melupakan ketiga ayat di atasnya dimana
anak-anak dituntut untuk taat dan hormat kepada orangtua di dalam Tuhan. Kedua
hal ini merupakan keseimbangan yang penting. Di satu pihak, orangtua
mempunyai batasan dalam mendidik anaknya, yaitu tidak boleh mendidik sampai
membuat anaknya marah, sakit hati dan tawar hati. Mendidik bukan sembarang
mendidik, tetapi mendidik di dalam nasihat dan ajaran Tuhan. Tapi di lain
pihak, seorang anak dituntut untuk taat dan hormat kepada orangtua di dalam
Tuhan. Inilah keseimbangan pertama.
Keseimbangan
kedua, ayat ini juga seringkali disalahartikan. Di satu pihak, golongan
tertentu memakai ayat ini sebagai patokan, seolah-olah pendidikan tidak perlu
menggunakan hukuman fisik. Para orangtua pun tidak boleh memarahi anaknya.
Tapi di lain pihak, sebagian orang menggunakan Amsal 13 (“Siapa tidak
menggunakan tongkat, benci kepada anaknya”) sebagai alasan bagi orangtua
untuk diperbolehkan memukuli dan menganiaya anaknya dengan begitu kejamnya.
Dalam hal pendidikan anak, orangtua harus mendidik anak dengan keras. Jikalau
memang diperlukan, mereka boleh menggunakan tongkat dan rotan namun tanpa
membangkitkan amarah anaknya. Dua hal ini bukannya dipertentangkan namun
harus dikomplementasikan.
Cara
orangtua mendidik anak sangat menentukan perkembangan anak. Jika mereka gagal
mendidik anak dengan tepat, maka anak ini nantinya akan berpotensi menjadi
anak yang sulit untuk dipegang, dan lebih buruk lagi, dia akan menjadi calon penjahat
dan perusak masyarakat. Karena itu, pendidikan anak merupakan satu hal yang
perlu dipikirkan secara serius dan tidak boleh diabaikan. Kalau anak-anak dididik
dengan baik dan benar, mereka akan menjadi pemimpin-pemimpin masa depan
yang bermoral, yang mempunyai cara hidup yang sangat integratif. Alkitab dengan
ketat mengajarkan konsep ini, ”Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan
amarah di dalam hati anak-anakmu.” Kolose mengatakan, “Hai bapa-bapa,
janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.”
Dalam
aspek pendidikan anak, Alkitab memberikan penekanan lebih serius kepada
bapa-bapa. Ada 3 alasan yang mendasari penekanan ini: Pertama, Alkitab memberikan
penekanan yang berbeda dengan apa yang dunia sedang mengerti. Dunia
sudah mengerti secara teoritik, fakta dan realita bahwa ibu banyak berperan
dalam perkembangan anaknya karena dia mempunyai lebih banyak waktu untuk
mendidik anaknya. Dengan kata lain, pendidikan anak merupakan tugas ibu dan
bukan tugas bapak. Justru menjadi aneh jika ibu tidak mendidik dan membesarkan
anaknya dengan baik. Asumsi seperti ini terlalu ekstrim dan perlu dibereskan.
Alkitab justru mengatakan bahwa pendidikan anak adalah tugas ayah, “Dan kamu,
bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah
mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” Seorang ayah tidak bisa
meninggalkan tanggung jawab pendidikan anak dan menyerahkan seluruh aspek
pendidikan kepada ibu karena dia sendiri berperanan sebagai wakil Allah
dalam keluarga. Alkitab secara konsisten dari Perjanjian Lama sampai
Perjanjian Baru tidak pernah mengabaikan peranan ayah dalam mendidik anak.
Sementara saat ini, kebanyakan para ayah tidak mau bertanggung jawab dalam
pendidikan anaknya. Inilah satu sikap yang dengan sengaja melawan
kebenaran firman Tuhan.
Kedua, anak belajar mengenal Allah melalui figur ayah. Kalau seorang anak
mempunyai konsep yang salah tentang ayahnya, maka konsepnya tentang Allah pun
salah. Jadi, kalau dia tahu papanya kejam sekali, maka dia akan punya gambaran
tentang Allah yang kejam. Di saat seperti itu sebetulnya dia gagal mengerti
Allah yang sesungguhnya. Kecuali jika anak ini bertobat, mengenal Tuhan dan
dididik dengan Firman, perlahan-lahan konsepnya akan berubah. Namun proses
mengubah konsep yang salah itu sangat sulit karena sudah berakar di kepala.
Biarpun secara teori dia bisa mengemukakan teori Kristen yang baik tentang
Allah yang tepat, tapi di dalam hatinya yang paling dalam dan pikirannya tetap
dia mempunyai konsep Allah seperti ayahnya. Maka Alkitab mengajar para ayah
untuk mendidik anak dengan baik. Disinilah keindah-annya jika seorang anak
boleh dilahirkan di keluarga Kristen dimana orangtua mendidiknya di
dalam iman Kristen. Inilah warisan dan anugerah yang terlalu besar yang tidak
mungkin dimiliki jika anak itu dilahirkan di dalam keluarga non-Kristen. Namun
dalam kenyataannya ada pula anak yang dilahirkan dalam keluarga Kristen
tetapi orangtuanya tidak menjalankan tugas untuk memberikan anugerah
tersebut kepada anaknya. Karena itu, di Reformed, kita menjalankan
baptisan anak dan orangtuanyalah yang dikatekisasi dan dituntut untuk
berjanji di hadapan Tuhan dan jemaat bahwa mereka akan mendidik anaknya di
dalam Tuhan. Seorang anak adalah titipan Tuhan, tapi tetap menjadi tanggung
jawab orangtua untuk mendidik.
Ketiga,
yang seringkali membuat anak marah dan sakit hati adalah ayah. Tentu saja
tidak semua ayah berbuat demikian. Tetapi di dalam fakta statistik, yang paling
sering menganiaya anak adalah ayah. Karena itulah Alkitab mengatakan, “Hai
bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu.” Itulah ketiga alasan mengapa Alkitab
memberi penekanan lebih serius pada peranan ayah dalam pendidikan anak.
Alkitab
mengatakan dalam Amsal 13: “Siapa tidak menggunakan tongkat, benci
kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya.”
Ada beberapa hal yang harus orangtua pikirkan dalam hal ini: Pertama, motivasi
orangtua ketika memukul atau menghajar anak. Kunci pertama yang terpenting
di dalam mendidik anak adalah bagaimana saya mulai dengan motivasi mengasihi
anak. Yang seringkali menjadi ke-salahan orangtua adalah justru pada saat
mencintai anak, mereka tidak dapat menggunakan tongkat, dan pada saat membenci
anak, tongkatlah yang menjadi alat pelampiasan. Dan satu hal yang juga perlu
dipertimbangkan adalah jika sang anak masih dalam usia ingin mengaktifkan motoriknya.
Seringkali orangtua tidak mendidik anak karena mencintainya tetapi karena merasa
jengkel dan dirugikan oleh anak. Ketika sedang jengkel, orangtua harus meneduhkan
diri dan memikirkan baik-baik apakah ia layak untuk memukul dan sejauh mana kesalahan
anak itu. Dan barulah ia memutuskan apa yang harus dilakukan terhadap anak.
Sebab jikalau kita sedang marah karena jengkel, kita dapat memukul anak tanpa
batas dan keadilan. Ini merupakan kejahatan dan kekejian di hadapan Tuhan
yang dilampiaskan kepada orang yang tidak berdaya. Menurut konsep yang tepat,
cintalah yang mengharuskan orangtua memukul anaknya demi kebaikannya. Seorang
pendeta mengatakan, “Pukullah anakmu dengan air mata.” Ketika memukul
anak, biarlah orangtua memukul dengan menangis karena sebenarnya mereka tidak
suka memukulnya. Ketika anak tahu, papanya pukul dia dengan keras tetapi bukan
karena benci melainkan karena mencintainya, anak itu akan tahu bahwa ia dihukum
keras dan mulai belajar keadilan namun ia tidak menjadi marah dan benci.
Kedua,
prinsip atau orientasi yang harus dipertimbangkan ketika memukul anak.
Pertimbangan pertama adalah bukan pada diri orangtua tetapi pada diri anak yaitu
pikirannya, pergumulannya dan pertimbangannya. Dan pertimbangan kedua adalah
besar-kecil kesalahannya dan hukuman yang pantas. Ketika menghukum, orientasi
orangtua haruslah pada anak karena tujuan pendidikan adalah demi anak kembali
pada jalur Tuhan dan mengerti nasihat dan ajaran Tuhan.
Ketiga,
cara orangtua mendidik anak. Ketika menghukum anak, orangtua harus tahu
bagaimana caranya membuat dia mengerti kesalahannya dan bagaimana menghukum
dia atas kesalahan itu dengan dasar keadilan dan cintakasih. Seorang anak harus
dihukum karena kesalahannya, agar tidak mengulangi kesalahan yang sama atau
membuat kesalahan yang lebih besar lagi. Ketika melakukan tindakan penghukuman,
orangtua harus memperhatikan tempat penghukuman. Jangan sampai kita memukul
anak di bagian kepala karena dapat mengakibatkan radang otak. Demikian juga
dengan punggung tangan anak yang dapat putus atau terkilir. Maka bagian terbaik
untuk memukul adalah di telapak tangan dan di pantat.
Keempat, hasil didikannya. Efesus 6 mengatakan bahwa didikan orangtua yang benar akan menghasilkan anak-anak yang terdidik di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. Mereka akan mengerti tentang firman dan ajaran Tuhan. Karena itu, setelah penghukuman, orangtua harus memperhatikan adakah pertobatan dan perubahan da-lam diri anaknya. Pendeta Stephen Tong mengajarkan dalam Arsitek Jiwa, bahwa setelah menghajar anak, bukannya anak menjadi benci kepada orangtua, tetapi dia menjadi sungkan namun terus mencari mereka. Inilah paradoksikal pendidikan yang sukses. Untuk mencapainya, orangtua harus mampu menjalankan kasih dan keadilan secara seimbang sesuai dengan figur Allah yang tepat. Tuhan mengasihi tapi juga sekaligus menghukum. Maka saat itu cinta dan keadilan tidak didualismekan tetapi justru digabungkan.
Di tengah dunia ini, sangat sulit bagi orangtua untuk selalu menjaga anaknya karena terlalu banyak pengaruh luar yang mencoba mempengaruhinya. Oleh karena itu, orangtua harus memberikan bekal kebenaran yang secukupnya sehingga dia mempu-nyai kekuatan untuk bertahan di dalam segala macam situasi. Amin.?
(Ringkasan khotbah ini
belum diperiksa oleh pengkhotbah)