Ringkasan Khotbah : 5 November 2000

The Great Mysteri (2)

Nats : Ef 5:22-23 (31-33)

Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno

Dua minggu yang lalu kita sudah membicarakan tentang Tuhan yang mencipta lembaga pernikahan dengan tujuan supaya keduanya boleh bersatu menjadi satu daging. Tetapi ketika kalimat tersebut baru dibukakan dalam Perjanjian Lama (Kej 2), disitu tidak ada penjelasan lebih jauh mengapa harus demikian. Disini Allah menyatakan wahyu yang bersifat progresif (progresif revelation), dan ketika Tuhan membuka, Ia terlebih dahulu menuntut kepercayaan kita untuk mengerti dan tekad iman kita kembali pada kebenaranNya. Dan pada akhirnya suatu keadaan yang tertudung (the refieled apocaliptic) dibukakan dalam Efesus, yang mengungkapkan bahwa pernikahan adalah suatu misteri yang sangat agung yang menggambarkan hubungan antara Kristus dengan jemaat. Disini menunjukkan bahwa kita tidak mungkin mengerti kecuali tudung itu dibukakan pada kita. Ini adalah konsep penting di dalam iman kekristenan, yang dimulai dengan saya percaya kepada firman karena disitulah wahyu Allah dinyatakan (“credo ut inteligam” atau “saya percaya maka saya mengerti”).

Iman Kristen tidak percaya bahwa rasio dan pengalaman lebih hebat dari Alkitab sebab Alkitab merupakan wahyu dari Tuhan kepada kita. Namun kita seringkali melakukan kesalahan fatal dengan jatuh kedalam dua ekstrim: pertama, dimana saya beranggapan harus mengerti dahulu baru percaya. Ketika saya percaya pada Alkitab sebagai wahyu Allah, saya percaya kepada Allah yang diungkapkan oleh Alkitab; tetapi itu dapat membuat kita jatuh kepada ekstrim kedua, yaitu kalau saya percaya maka tidak perlu mengerti. Dua ekstrim ini bukanlah iman sejati karena iman sejati adalah dari percaya kemudian membuat kita berpikir dan mengerti secara sejati. Sehingga antara percaya dengan mengerti tidak dapat dipisahkan. Wahyu progresif mengajarkan pada kita bahwa setelah saya percaya maka percaya saya akan membawa saya kepada pengertian, lalu pengertian yang sesungguhnya akan membuat saya semakin percaya dan dengan demikian akan semakin mengerti. Maka ini menjadi satu putaran bola salju yang tambah lama bertambah besar dan menjadi gulungan integritas antara percaya dan mengerti dalam kehidupan kita. Dan ketika kita mengerti hal ini maka kita akan mengerti bagaimana aspek tentang keluarga juga dibuka seperti itu.

Maka seorang yang kembali mengerti kebenaran firman akan memahami nilai dan agungnya sebuah pernikahan, yang akhirnya boleh mengerti semua ekstensi di dalam pernikahan. Di dalam pernikahan memang tidak diperbolehkan adanya perceraian karena hal tersebut tidak wajar dilakukan dan pernikahan bukan dirancang untuk suatu perceraian. Pernikahan justru seharusnya meng­gambarkan satu keindahan. Sehingga ketika manusia gagal mencapai hal tersebut berarti ada sesuatu yang tidak beres dan itu menimbulkan efek terakhir tidak munculnya kebahagiaan yang seharusnya mewarnai sebuah pernikahan. Maka ketika kita mulai melihat bagaimana pernikahan itu digambarkan sebagai the great mystery, hubungan antara Kristus dengan jemaat, kita akan masuk ke dalam beberapa aspek rahasia pernikahan yang dibukakan:

Pertama, pernikahan sebagai representasi kesaksian hidup kita. Ketika Tuhan mencipta pernikahan, Ia menginginkan pernikahan tersebut boleh menjadi kesaksian bagi dunia. Jadi ketika saya menikah, bagaimana itu menggambarkan hubungan antara Kristus dengan jemaat secara konkrit yang menjadi satu perwakilan dimana kesaksian kemuliaan Allah boleh dinyatakan dalam dunia. Mungkin sekali bagi orang yang tidak mengerti tentang hal ini secara tepat, ia akan masuk ke dalam satu konsep mistik dengan menggambarkan Yesus yang bukan sebenarnya. Padahal tidak ada seorangpun yang mengetahui dengan jelas bagaimana wajah Yesus sebenarnya. Sehingga disitu terjadi satu penipuan, satu konklusi mistis akibat ketidakmengertian yang tepat tentang siapa Kristus.

Dengan demikian seharusnya kita akan mendapatkan gambaran yang konkrit bagaimana Kristus berhubungan dengan jemaat dengan melihat bagaimana seorang suami yang mengasihi isterinya. Dan juga sebaliknya, kita dapat melihat bagaimana sikap jemaat terhadap Kristus melalui bagaimana seorang isteri bersikap terhadap suami. Kehidupan keluarga bukan sekedar bagi keluarga tersebut tetapi seharusnya menjadi kesaksian bagi orang lain sehingga mereka tahu bagaimana Kristus menjadi kepala dan jemaat sebagai tubuhNya, dalam persekutuan yang indah, penuh cinta kasih dan berbahagia. Namun sangat disayangkan kalau seringkali gereja kurang mendidik dengan prinsip-prinsip yang tajam di dalam bagaimana menjalankan kehidupan penikahan sejak mereka belum menikah. Masalah di dalam keluarga seringkali bukan terjadi begitu saja tetapi bisa tertarik mundur sampai ketika masih pacaran, yang apabila pacaran itu dimulai dengan cara yang salah, maka pertumbuhan perjalanannya akan salah dan ketika menikah akan terus mengalami ke­sulitan. Ini menjadi satu perjuangan yang sangat berat yang harus dikerjakan oleh setiap kita dimana setiap keluarga harus menunjukkan kesaksiannya yang indah. Sehingga disini kita tahu betapa besar tugas kita sebagai seorang duta besar Allah.

Kedua, sebagai relasi yang vertikal dan horizontal (paradoksikal/ cross patern) pola salib di dalam relasi kita. pernikahan merupakan rahasia besar karena mempunyai unsur yang sangat unik, yang tidak mungkin kita mengerti kecuali kembali melihat pernikahan secara esensial yaitu hubungan Kristus dengan jemaat. Ini menjadi satu gambaran yang begitu indah untuk kita mengerti pernikahan! Pernikahan adalah satu relasi yang bersifat horizontal dan sekaligus vertikal, dimana Allah Tritunggal mencipta manusia menurut gambar dan rupaNya sehingga manusia itu menjadi dwitunggal (diturunkan secara kualitatif/ derifasinya). Oleh sebab itu dikatakan bahwa seorang laki-laki harus meninggalkan ayah serta ibunya dan bersatu dengan isterinya sehingga keduanya menjadi satu daging (dwitunggal/ dua menjadi satu). Allah Bapa, Allah Putra dan Allah Roh Kudus di dalam relasi secara internal (antar Allah) begitu intim dan erat, sehingga ketika Ia mencipta manusia dengan format dwitunggal, merekapun seharusnya mampu berelasi seperti itu. Di dalam Tritunggal (Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus) kita melihat tidak ada perbedaan status (natur sebagai Allah), maka hal itu juga berlaku kalau kita melihat hubungan antara suami dan isteri dimana keduanya adalah manusia dan setara. Sehingga seorang pria tidak diperkenankan melecehkan wanita dan demikian pula sebaliknya. Ini merupakan satu prinsip penting di dalam konsep kekristenan yang melatih kita memikirkan bahwa tidak boleh terjadi penindasan, penganiayaan, pelecehan atau penghinaan isteri sehingga isteri dianggap rendah dan diperlakukan tidak seharusnya.

Gambaran kedua, pernikahan juga menggambarkan hubungan antara Allah dengan manusia. Dalam konsep kekristenan kita melihat bahwa antara Allah dan manusia berelasi secara paradoksikal, yaitu hubungan yang bukan sekedar terjalin secara horizontal antara pria dan wanita melainkan juga menggambarkan antara Kristus dengan jemaat (antara kepala dengan tubuh­Nya). Disatu pihak suami dan isteri di hadapan Tuhan dihargai secara sama sebagai manusia, tetapi di dalam ordo relasi pria adalah kepala wanita dan Kristus adalah kepala pria. Sehingga wanita harus tunduk kepada pria dan pria harus tunduk kepada Kristus, dan itu yang digambarkan sebagai the cross patern (pola salib). Disini memperlihatkan bahwa hubungan vertikal harus lebih tinggi dan hubungan horizontal menggabungkan keduanya. Maka keluarga sejati adalah menggabungkan antara kondisi vertikal (pertanggung-jawaban secara ordo dijalankan) dengan kondisi horizontal, dimana relasi saling keterkaitan dan keberhargaan setiap pribadi dihargai. Banyak manusia yang tidak mengerti konsep ini terjebak dalam ekstrim pelecehan wanita sehingga para wanita harus menghadapi tekanan dari suami, padahal penundukan sejati tidak pernah perlu dipaksakan. Tetapi kalau sampai terjadi hal demikian maka pria tersebut telah gagal dalam menjalankan tugas menjadi pria dalam keluarga dan sebagai kepala yang harusnya mendapatkan respek. Inilah yang justru mengakibatkan kepincangan dan ketimpangan situasional di dalam keluarga dan akhirnya keluarga tidak mampu memuliakan Tuhan dan mencapai bahagia.

Ketiga, bersifat kekal. Alkitab tidak menghendaki perceraian karena itu memang hal yang tidak wajar. Dan seharusnya bagi orang yang tahu konsep ini tidak akan mungkin mengharapkan suatu perceraian dalam keluarga mereka. Pernikahan merupakan representasi hubungan Kristus dengan jemaat, sehingga itu merupakan satu hubungan yang lifetime (sepanjang hidup kita) dan terikat hingga dipisahkan oleh kematian. Suatu hubungan yang bukan hanya di dalam satu termen waktu tertentu melainkan berjalan terus. Sama halnya ketika digambarkan hubungan antara kepala dengan tubuhnya, maka itu merupakan satu hal yang tidak mungkin dipisahkan, yang didalamnya terdapat satu ikatan yang sungguh-sungguh indah karena menghasilkan satu keharmonisan, dimana kepala mengatur seluruh tubuh. Sehingga apabila kepala itu dipisahkan dari tubuh akan mengakibatkan ketidakwajaran atau kematian.

Keempat, bersifat eksklusif dan monolitik. Alkitab menegaskan bahwa hanya ada satu suami dan satu isteri, karena ini bukan sekedar antara dua orang yang menikah melainkan hubungan Kristus dengan jemaat, dimana didalamnya ada satu keutuhan yang tidak boleh tercampur oleh unsur ketiga. Ketika suatu pernikahan sudah tercemar oleh unsur ketiga maka itu menjadi perzinahan/ berhala (perzinahan rohani ataupun secara jasmani). Relasi Kristus dengan jemaat menjadikan kita tidak boleh  bermain-main dengan pernikahan! Dalam hal ini seringkali kita tanpa sadar membiarkan keluarga kita condong kepada seseorang, dimana kita lebih mempercayai orang ketiga daripada suami atau isteri kita, dan itu berarti kita sudah mengeser kepercayaan kita pada orang ketiga yang akan berdampak besar di kemudian hari.

Menurut statistik para psikolog, terdapat lima hal yang paling banyak menimbulkan kehancuran atau kerusakan keluarga: 1). Orang tua dan mertua. Ini katagori yang sangat perlu diwaspadai!  Sehingga sebagai orang tua kita harus sadar hingga seberapa jauh kita berhak memberikan dukungan atau usulan pada anak kita. Sekalipun kita merasa keluarga anak kita tidak seharusnya demikian, maka yang perlu kita lakukan adalah menyerahkannya dengan berdoa pada Tuhan. Jangan akhirnya disebabkan oleh pembicaraan saudara, itu justru membuat keluarga tersebut bertengkar, karena itu bukan cara yang tepat di dalam hidup berkeluarga. 2). Teman dekat suami ataupun isteri (khususnya ketika sebelum menikah). Ketika sebelum menikah, kita mungkin mempunyai teman yang sangat dekat (adik/ kakak/ sahabat), tetapi setelah kita menikah, maka mereka akan mengalami kecemburuan tanpa sadar karena waktu-waktu dulu yang menjadi milik dia sekarang direnggut dan seolah hilang. 3). Pembantu rumah tangga/ orang yang tinggal serumah dengan kita. 4). Teman kantor atau teman yang seringkali membantu memberikan pendapat, sehingga seringkali kita lebih mempercayainya. 5). Orang-orang yang sengaja melakukannya karena defiasi seksual. Di jaman sekarang banyak muncul orang yang terkena defiasi seksual, dimana banyak gadis atau perjaka justru suka pada orang yang sudah beristeri atau bersuami. Orang-orang tersebut masuk dalam struktur statistik karena mereka melakukannya dengan sengaja dan dengan tujuan merusak keluarga. Dan bahkan beberapa diantaranya mengingini hingga menikahinya tetapi sebagian lagi hanya puas setelah keluarga tersebut hancur.

Biarlah melalui firman hari ini saya harap kita boleh semakin mengerti bagaimana menggarap struktur keluarga kita dengan tepat dan bagaimana kita boleh menyatakan rahasia besar, hubungan antara Kristus dengan jemaat sehingga ini boleh tampil di dalam hidup kita. Empat hal diatas merupakan kunci untuk mengerti bagaimana keluarga yang memuliakan Allah dibangun, yang ak­hirnya boleh membawa dampak kebahagiaan bagi hidup kita. Amin.?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)